Wednesday, January 17, 2018

NUSANTARA... TANAH GARUDA!



NUSANTARA... TANAH GARUDA!


Indonesia,
Sabang-Merauke.
Lebih jauh dari pada London di Inggris ke Ankara di Turki.
Sama jauhnya dengan Pantai Barat hingga Pantai Timur Amerika Serikat.
Namun, baru di 3-4 pulaunya saja aku berkendara.
Begitu kaya, sekaligus begitu nelangsa...
Indonesia.
 
Gunung Merapi, Yogyakarta, Pulau Jawa
Andalas...
Pada ujung selatanmu aku pernah berdoa,
memohon Tuhan mengaruniaiku putra.
Tapi, mungkinkah aku sampai di ujung utara daratanmu,
berkendara di tanah Pendekar Perempuan gagah perkasa,
penetak kejantanan Belanda?

Celebes...
negeri para petualang dan pelaut ulung... .
Pemudamu petarung sejati.
Anak daramu bagaikan impian.

Papua...
kiranya kau bukan luka yang terus menganga!
Biarlah suaramu menggema di angkasa Nusantara.
Dan, deru berat sepatu boot itu sirna. Jadi senyum saudara.
Baku peluk. Bakar batu.
 
Pantai Sapenan, Lampung, Pulau Sumatera
Borneo...
akankah roda-rodaku merasakan lumpur musim hujanmu,
atau debu musim kemaraumu?
Pada tanahmulah sayatan oleh pisau keserakahan... kapitalisme.
Hutan hujanmu lestarilah.
Born-neo... .

Sunda Kecil... Sunda Kecil...
tunggulah kenekatanku.
Akan kuajak anak lelakiku berkendara
menyusuri pantaimu.
Inilah janji... .
Tunggulah kami.

Indonesia,
bagaimana mungkin aku tertarik berkendara ke ujung dunia,
ketika semua hingga ujung dunia berbondong-bondong pergi kepadamu?
 
Danau Tamblingan, Pulau Bali
Nusantara... Tanah Garuda!
Kelima silanya menyadarkanku,
Jawa, Surakarta, apa lagi Katolik itu bukan apa-apa,
hanya kepingan kecil dari Nusantara Raya.
Dan, seolah-olah aku belum berkendara ke mana-mana.
Angka 100.000 kilometer tidak ada apa-apanya.

Surakarta Utara, 15-16 Januari 2018
Padmo Adi

Monday, October 30, 2017

Ada ‘a’ Dalam Suara Raungan Knalpot (Kajian Psikoanalisa Lacanian atas Budaya Touring)



Ada ‘a’ Dalam Suara Raungan Knalpot
Kajian Psikoanalisa Lacanian atas Budaya Touring
-Padmo Adi-
kepada Saint Paul Riders

Tulisan ini saya buat untuk membahas budaya touring yang sudah bukan merupakan hal asing bagi kita. Saya sendiri adalah seorang pe-touring (bukan petarung, hahaha...). Sejak 2012 saya touring, hingga tulisan ini saya buat, saya belum pernah mengetahui ada tulisan yang mengartikulasikan budaya ini secara akademis yang serius tapi santai; kalaupun ada, jujur, saya belum pernah membaca. Oleh karena itulah, saya ingin membahasakan fenomena yang sudah familiar di tengah masyarakat kita ini. Familiar, sebab klub maupun komunitas motor sudah sangat jamak. Familiar, juga karena pada suatu tanggal merah, ketika kita piknik, besar kemungkinan kita akan berjumpa/berpapasan dengan rombongan touring. Karena saya adalah bagian integral dari fenomena budaya itu, saya merasa perlu untuk mengartikulasikannya dengan metode autoetnografi, dan sekaligus akan saya telaah dengan teori psikoanalisa lacanian.

Sedikit tentang Psikoanalisa
Psikoanalisa merupakan cabang ilmu psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisa kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Jacques Lacan. Psikoanalisa berbicara tentang subyek dan ketidaksadaran. Ketika individu berhadap-hadapan dengan ibu, dia tengah berhadap-hadapan dengan liyan. Dia bercermin. Dia merasakan suatu keutuhan. Persatuan dengan ibu itu merupakan sebuah persatuan primordial. Namun, kemudian individu itu harus mengalami kastrasi. Dia diceraikan dengan ­ibu oleh bapa, Sang Liyan. Nama Sang Bapa ini memasukkan individu ke dalam Yang Simbolik, Bahasa. Di dalam lautan penanda itu, individu harus membahasakan dirinya. Ketika individu dikastrasi oleh bapa dan diwajibkan berbahasa, dia menjadi subyek. Akan tetapi, bahasa tidak pernah paripurna. Penanda-penanda tidak pernah berhasil membahasakan keutuhan subyek. Seketika berbahasa, subyek menjadi ambyar, terbelah, dan kagol. Liyan selalu salah memahami. Tidak semuanya bisa dibahasakan. Ada yang tersisa dan tertinggal di sana. Ada yang tak terperikan. Ada residu yang tertinggal. Sisa-sisa inilah yang Lacan sebut objet a (baca: obyek a kecil).
Setiap orang adalah subyek terbelah. Lacan memakai simbol teknis ‘$’. Setiap subyek terbelah berkelana di tengah lautan penanda, pada Yang Simbolik, berusaha membahasakan diri. Namun, karena bahasa itu tidak pernah paripurna, dia hanya akan berputar-putar pada Yang Simbolik. Yang Simbolik itu apa? Yang Simbolik adalah aturan. Bahasa adalah aturan. Hukum, agama, adat-istiadat juga adalah Yang Simbolik. Segala sesuatu yang disediakan oleh Sang Liyan (alias masyarakat) adalah Yang Simbolik. Si Subyek akan merasa bahwa Yang Simbolik tidak lagi mencukupi untuk mengartikulasikan dirinya secara utuh. Dia butuh metafora-metafora baru. Dia ingin kembali kepada keutuhan primordial sebagaimana yang pernah dialaminya dahulu kala. Si Subyek akhirnya menelusuri sisa-sisa ampas yang dia miliki. Sisa-sisa ampas itu adalah rem(a)inder. Sisa-sisa ampas itu adalah yang tersisa, sekaligus adalah pengingat akan keutuhan primordial itu. Ampas itu merupakan anamnese. Itulah objet a. Objet a itu bisa berupa apa saja. Objet a itu ada di sana sekaligus tidak ada di sana. Ada di sana, sehingga menggerakkan Subyek untuk mendekat ke sana; tetapi sekaligus tidak ada di sana, sebab begitu Subyek sampai di sana, tidak ada apa-apa di sana. Objet a adalah x di dalam Matematika, yang selalu hilang dan minta dicari. Objet a adalah hasrat yang menggerakkan subyek dan mengarahkannya kepada kenikmatan-perih dan keperihan-nikmat. Kenikmatan-perih dan keperihan-nikmat itu oleh Lacan disebut dengan istilah jouissance, atau dalam Bahasa Inggris disebut enjoyment.

Touring sebagai Budaya
Apa yang saya maksud sebagai budaya di sini bukanlah melulu sesuatu yang adiluhung. Yang saya maksud sebagai budaya di sini adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh sekelompok manusia, dan hal itu dilakukan secara berulang-ulang dan kontinu, sehingga mengubah tatanan Yang Simbolik atau bahkan melahirkan tatanan Yang Simbolik baru (melahirkan metafora-metafora baru). Pada bagian ini, saya akan bercerita tentang budaya touring, berkendara sendiri atau bersama rombongan ke tempat-tempat yang jauh selama seharian penuh atau bahkan berbulan-bulan. Terminologi touring itu sendiri berasal dari kata Bahasa Inggris, tour. Kata tour sendiri berarti pergi ke tempat wisata, bertamasya, dan tidak selalu merujuk pada peristiwa berkendara dengan roda dua. Penggunaan kata touring di dalam konteks Bahasa (baca: masyarakat) Indonesia, kemudian mendapatkan rasa bahasa/makna ‘berkendara dengan roda dua ke tempat-tempat yang jauh selama beberapa waktu’. Berkendara dengan roda dua saya beri penekanan di sini sebab sepeda motor (roda dua) lebih mudah diidentikkan dengan kata touring dari pada mobil.
Lulus sarjana pada tahun 2012, saya dibelikan sepeda motor oleh Mama. Ketika Mama menawari saya sepeda motor baru, saya menjawab, “Kalau tidak motor lanang, aku tidak mau.” Jadilah saya dibelikan motor New Megapro. Saya bersikeras motor lanang sebab saya masih sumedhot dengan motor lanang Bapak, Win100, yang dijual Mama ketika saya berada di seminari. Win100 itu adalah motor peninggalan almarhum Bapak. Saya memakainya untuk bertualang menikmati masa remaja, juga saya pakai untuk mbribik. Mengendarai motor itu, saya merasa Bapak masih ada di sana, seakan-akan kami tengah berkendara bersama. Win100 itu menjadi [a]namnese dan sakramen  kedelapan bagi saya. Jelas, saya sangat kecewa ketika Mama menjualnya. Saya meminta motor lanang untuk menggantikan [a]namnese dan sakramen yang hilang itu; untuk membayar rasa sumedhot itu.
Itulah awal petualangan baru saya. Sejak saat itu, saya mengendarai New Megapro. Perlahan namun pasti, motor lanang itu berevolusi menjadi motor touring segala medan. Sama seperti Win100 yang saya beri nama “Puma”, saya memberi New Megapro itu nama “Kelelawar Tempur”. Pada tahun 2013 saya berjumpa dengan teman-teman OMK St. Paulus Kleca. Beberapa dari mereka memiliki kegemaran touring. Kami berkumpul dan touring ke beberapa tempat: Cemara Sewu, Dieng, pantai-pantai di Gunung Kidul dan Wonogiri, dan Gua-gua Maria. Dari sanalah berawal komunitas touring kami yang bernama Saint Paul Riders. Selain bersama Saint Paul Riders, beberapa di antara kami bergabung pula di dalam klub-klub motor yang ada di kota Surakarta. Ada yang bergabung di ROCS, ada yang bergabung di YVC-AD, ada yang bergabung di CBOCS, dll. Saya sendiri sempat bergabung dengan HMPC Solo. Ada dari kami yang kemudian menjadi penggedhe klub tersebut; teman saya, Benediktus Unin, adalah Gubernur Revo Jateng. Namun, beberapa di antara kami memilih menyudahi keanggotaan kami di dalam klub motor itu, sebab kami merasa bahwa klub terlalu mengikat kami dengan kewajiban-kewajiban. Kami yang memilih keluar dari klub itu kemudian lebih memilih intens untuk bergerak di dalam Saint Paul Riders. Memang di dalam dunia biker, ada perbedaan definisi antara “klub”, “komunitas”, “independen”, dan “single fighter”.
Sebuah klub biasanya memiliki AD/ART, ‘resmi’, jenis motor yang sama, memiliki akses ke pabrikan (Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki), dan memiliki jejaring (memiliki chapter, semacam anak/cabang organisasi) di berbagai kota di seluruh Indonesia (nasional). Sementara, apa yang disebut komunitas itu mampu memayungi jenis motor yang berbeda, tetapi juga ‘resmi’, dan memiliki AD/ART. Berbeda dengan klub, apa yang disebut (klub) independen hanya terbatas pada kota/daerah tertentu saja, dan biasanya tidak memiliki jejaring di kota lain. Sedangkan single fighter adalah istilah untuk seorang pe-touring yang tidak menjadi anggota klub/komunitas manapun. Walaupun demikian, de facto di lapangan, definisi itu begitu baur dan bias. Itu yang menyebabkan kami kebingungan jika diminta menjelaskan apakah Saint Paul Riders itu klub atau komunitas. Sebab, ‘keanggotaan’ kami begitu cair. Orang datang dan pergi. Banyak ‘anggota’ kami yang adalah anggota resmi klub motor tertentu. Hal itu membuat kami tidak bisa memakai embel-embel ‘klub’ atau ‘komunitas’, sebab hukum dobel keanggotaan adalah jelas, kick! Kami tidak mau mereka di-kick dari klub mereka hanya karena berkumpul dan touring bersama Saint Paul Riders. Dalam sebuah diskusi, akhirnya kami mendefinisikan Saint Paul Riders sebagai sebuah group whatsapp (karena memang kami memiliki dan berkomunikasi melalui grup WA), atau semacam forum (seperti KOMBO, Ridetography, atau Nusantaride), atau bahkan sebuah patembayan, paguyuban, atau cakruk—tempat orang datang mampir, numpang ngopi, dan lalu kalau mau pergi ya silakan. Yang jelas adalah bahwa kami menjunjung tinggi brotherhood, safety riding, kami memiliki beberapa orang administrator (untuk mengurus group whatsapp, akun Instagram, dan menjadwal agenda touring), dan kami memiliki logo kebanggaan kami... logo Pedang dan Kitab Suci, logo milik Santo Paulus, seorang santo yang bertobat setelah terjatuh kala menunggang kuda dan melihat Tuhan (baca: Das Ding).

Gambar 1. Logo Saint Paul Riders
Budaya touring itu adalah budaya yang lintas agama, lintas bangsa, lintas gender, dan lintas kelas sosial. Walaupun demikian, ada penyebutan khusus bagi pe-touring perempuan; mereka disebut dengan istilah seksi ‘lady biker’, sementara tidak ada istilah sepadan untuk menyebut pe-touring laki-laki. Pe-touring laki-laki tidak disebut ‘gentleman biker’, melainkan semata hanya disebut ‘biker’, ‘rider’, atau ‘adventourer’. Di tengah budaya yang didominasi oleh laki-laki dan nilai laki-laki (brotherhood), di tengah budaya di mana nilai dan paradigma laki-laki menjadi normativitas, kehadiran perempuan di sana menjadi sesuatu. Sesuatu itu bisa jadi adalah objek seksual (male g-a-ze) seperti pada acara pesta cuci motor di acara kopdargab/munas/anniv —di mana ada adegan beberapa perempuan berbasah-basahan mencuci motor (baca: phallus) para lelaki— atau seperti ketika ada pameran otomotif di mana para perempuan dengan baju minim superketat berjajar memamerkan motor-motor sembari difoto sana-sini dengan berbagai pose oleh para lelaki. Sesuatu itu juga bisa jadi adalah bahwa sosok perempuan itu hadir sebagai sosok tuan putri atau ratu atau diva yang sangat istimewa, sehingga layak dikagumi dengan hormat, dan kemudian diberi gelar khusus ‘lady biker’. Sesuatu itu juga bisa merupakan ancaman bagi kelelakian; bahwa kehadiran perempuan di tengah-tengah budaya yang didominasi oleh lelaki ini dipandang sebagai ancaman bagi nilai-nilai kelelakian, sehingga perempuan tidak lagi boleh menjadi seorang lady biker, tetapi harus merasa cukup menjadi seorang boncenger. Pada tulisan ini, saya tidak akan mendalami hal ini.
Selain itu, dengan berkata bahwa budaya touring ini mampu melintas batas kelas-kelas sosial, saya hanya mau mengatakan bahwa berbagai orang, dari berbagai kelas sosial, yang memiliki kendaraan roda dua gemar melakukan touring. Touring tidak lagi merupakan budaya eksklusif yang hanya menjadi milik orang-orang ber-Harley Davidson, ber-Gold Wing, dan ber-BMW G/S. Orang-orang yang naik SupraX atau bahkan Vespa butut pun memiliki touring sebagai budaya. Walaupun demikian, sekat sosial itu toh masih ada. Jarang sekali kita temui seorang rider Harley touring bersama seorang rider New Megapro. Kelas sosial itu dibagi ke dalam kelas-kelas kapasitas mesin: di bawah 250cc (225cc, 200cc, dan 150cc ke bawah), 250cc ke atas (hingga 450cc), dan moge (motor gede: 450cc, 600cc, 750cc, hingga 1.000cc ke atas). Bisa jadi perbedaan itu secara real di lapangan menjadi lebih rumit lagi. Yang terjadi di Saint Paul Riders misalnya, kami tidak akan mempedulikan apa jenis kelaminmu, apa agamamu, apa jenis motormu, dan berapa kapasitas mesin motormu. Kalau kamu ingin toruing bersama kami, kita akan berkendara bersama sebagai saudara seaspal. Maka, sudah lumrah di dalam acara touring Saint Paul Riders melihat pemandangan ada Ninja 250cc touring bersama CB150R 150cc dan XRide matic 115cc. Walaupun demikian, hanya teman kami yang mengendarai Ninja 250cc-lah yang pernah touring dengan Versys 450cc, dan ketika itu dia tidak menggunakan nama Saint Paul Riders. Garis batasnya ada pada kapasitas mesin 250cc! Secara legal di Indonesia, motor yang masuk kategori moge adalah motor berkapasitas mesin di atas 250cc, dan dengan demikian motor berkapasitas mesin di atas 250cc akan mendapatkan pajak barang mewah. Ketika kami, rombongan motor 150cc ke bawah, berjumpa dengan rombongan motor 150cc ke bawah lainnya, dengan mudah kami akan bertegur sapa dengan saling dua kali menglakson pendek, “tin... tin...”. Namun, ketika rombongan motor 1.000cc bertemu dengan rombongan motor 150cc, kecil kemungkinan mereka akan menyapa. Malah yang terjadi adalah rombongan motor 1.000cc itu akan menyalakan sirine dan rotator agar rombongan motor 150cc itu minggir dan membuka jalan. Kelas-kelas sosial di dalam budaya touring ini tidak akan saya bahas lebih jauh dalam tulisan saya ini.
Touring sebagai budaya pun telah mampu menciptakan bahasa/metafora baru. Bahasa baru yang diciptakan tidak lain adalah bahasa isyarat/kode sewaktu berkendara. Bahasa kode itu tercipta karena di saat berkendara mustahil melakukan komunikasi secara verbal antara Leader atau Road Captain (rider paling depan) dengan anggota rombongan (para rider di tengah) dan dengan Sweeper (rider paling belakang). Kode-kode itu membuat komunikasi antara Leader dengan anggota rombongan menjadi cepat dan efektif. Keefektivan dan kesegeraan itu dibutuhkan sebab rombongan touring melaju dengan kecepatan antara 60kph hingga 100kph. Terlambat memberikan informasi bisa mengakibatkan kecelakaan dengan resiko terbesar berupa kematian. Leader akan mengirimkan penanda-penanda tertentu. Rider kedua akan segera melakukan proses signifikasi (penanda+petanda=tanda) sembari meneruskan penanda itu kepada rider di belakangnya. Rider ketiga akan melakukan hal yang sama, dan meneruskannya hingga Sweeper. Kode-kode yang digunakan adalah kode tangan dan kaki. Kode-kode itu di antaranya:
·         telunjuk tangan kiri digoyang: start engine
·         kaki kiri menjuntai/tangan kiri menunjuk ke kiri bawah: ada bahaya di sebelah kiri
·         kaki kanan menjuntai: ada bahaya di sebelah kanan
·         tangan kiri menunjuk ke kiri: belok ke kiri
·         tangan kiri di atas kepala menunjuk ke kanan: belok ke kanan
·         tangan kiri mengacung, berputar, di sisi kepala: melakukan U-turn
·         tangan kiri mengacung, sejajar helm, mengayun dari belakang ke depan: jalan lurus
·         tangan kiri mengayun dari atas ke bawah berkali-kali: deselerasi/hati-hati
·         tangan kiri mengayun dari bawah ke atas: akselerasi/kecepatan tinggi
·         tangan kiri menunjuk ke tanki: isi bensin
·         jempol tangan kiri mengarah ke sisi helm: istirahat minum
·         jempol tangan kiri menyentuh bagian atas helm (kode khusus Saint Paul Riders): istirahat dan/atau isi bensin
·         jemari tangan kiri mengerucut, diarahkan ke samping helm berkali-kali (kode khusus Saint Paul Riders): istirahat makan
·         telunjuk tangan kiri mengacung: formasi satu baris
·         telunjuk dan jari tengah tangan kiri mengacung: formasi dua baris (parade)
·         telunjuk dan kelingking tangan kiri mengacung (tangan metal): formasi zigzag
·         jempol dan kelingking tangan kiri mengacung: jaga jarak antar-rider dalam rombongan
·         tangan kiri sejajar helm, jemari mengacung dan rapat (kode khusus Saint Paul Riders): rapatkan barisan konvoi
·         tangan kiri sejajar helm, jemari terbuka (kode khusus Saint Paul Riders): bubarkan konvoi, pecahkan barisan, tapi tetap lanjut berkendara
·         tangan kiri mendorong ke kiri: pindah ke lajur kiri
·         tangan kiri mendorong ke kanan, ke arah helm: pindah ke lajur kanan/siap-siap mendahului kendaraan yang bukan rombongan
·         tangan kanan mengayun dari belakang ke depan/kaki kanan mengayun-ayun dari belakang ke depan: dahului aku
·         tangan kiri sejajar helm mengayun dari belakang ke depan: ayo/ikuti aku
·         mengacungkan jempol: ok/terima kasih
·         tangan kiri sejajar helm, ujung jari telunjuk dan ujung jari tengah saling bersentuhan (kode khusus Saint Paul Riders): ada perempuan (naik matic), waspada
·         tangan kiri mengepal di sisi kepala: berhenti
·         jempol tangan kanan menggaris leher: matikan mesin
·         dll.
Masih banyak kode lainnya. Setidaknya kode-kode di atas adalah kode yang sering dikirimkan. Walaupun ada kode yang general, yang dapat dipahami oleh klub/komunitas motor manapun, selalu ada kode yang khusus, khas, yang hanya dipahami oleh klub/komunitas tertentu.

Gambar 2. Left leg dangle or Hazard-on-the-left sign?

Phallus Itu Bernama Sepeda Motor
Phallus adalah sesuatu yang memiliki kemampuan untuk bergerak, atau berkembang dan menyusut (membesar atau mengecil) dengan sendirinya. Dengan demikian, phallus adalah sesuatu yang memiliki kekuatan, memiliki kuasa. Salah satu contoh istimewa dari phallus adalah penis, tetapi phallus tidak sama dengan penis. Bagi seorang perempuan, rahim adalah phallus. Tidak hanya itu, bahkan seorang lelaki atau seorang bayi dapat dipandang sebagai phallus oleh perempuan.
Kuasa pada phallus berjalan beriringan dengan pengebirian/kastrasi. Phallus (kuasa) dan kastrasi (penghilangan kuasa) adalah pasangan, seperti “hitam dan putih”, seperti “baik dan buruk”, seperti “atas dan bawah”. Dengan kehadiran phallus, subyek akan merasa mendapat kuasa, dan dengan demikian akan merasakan kenikmatan, kesenangan, bahkan keutuhan pada dirinya sendiri. Seperti halnya seorang perempuan yang akan merasa menjadi perempuan seutuhnya ketika rahimnya berfungsi, mengandung seorang bayi. Perempuan tersebut akan merasa utuh ketika dia mendekap dan menyusui bayinya. Bayinya menjadi obyek bagi perempuan itu, menggantikan obyek seksualnya. Dan, dia akan merasa kehilangan ketika dia dipisahkan, walau hanya sementara, dengan bayinya.
Bagi seorang laki-laki, penis merupakan phallus yang khas. Tidak seperti rahim yang tak tampak, penis dapat dilihat. Membesar dan mengecilnya penis dapat diamati mata. Selain penis, usaha/pekerjaan/karya seorang lelaki juga dapat dipandang sebagai phallus. Bahkan, sepeda motor pun juga dapat dipandang sebagai phallus. Sepeda motor, khususnya sepeda motor lanang, bisa menjadi phallus, selain karena bisa bergerak, juga karena letak posisinya pada tubuh lelaki. Sama seperti penis yang berada di antara selangkangan, sepeda motor juga berada di antara selangkangan. Ketika mengendarai sepeda motor lanang, paha lelaki akan mengapit sebuah tanki yang berisi penuh dengan cairan yang mudah terbakar, bensin. Di bawahnya, terdapat sebuah mesin —sebuah blok besi dengan piston— yang di dalamnya secara konstan terjadi peristiwa ledakan akibat pembakaran cairan bensin tersebut. Akibat dari peristiwa itu, sepeda motor dapat melaju, dan menghasilkan suara yang khas pada knalpot. Ada kekuatan (power), ada daya (torsi), ada energi yang dahsyat di antara selangkangan seorang rider. Semakin seorang rider menarik tuas gas, semakin sering ledakan itu terjadi, semakin kencang sepeda motor itu melaju, dan semakin syahdu suara yang dihasilkan oleh knalpot. Saat seorang rider menarik tuas gas, jarum takometer akan beranjak naik, dari 1.500 rpm menjadi 6.000 rpm, lalu 8.500 rpm, hingga sampai ke limiter. New Megapro saya akan menjerit pada limiter 10.500 rpm. Menyaksikan jarum takometer naik dan turun, hingga kemudian menjerit pada limiter, dan di saat yang sama menyaksikan jarum speedometer secara konstan beranjak naik hingga ke top speed, itu sama seperti ketika menyaksikan penis yang membesar dan mengeras, lalu setelah ejakulasi melemas. Itu adalah kekuatan yang diwujudkan oleh fungsi phallus. Ada kesenangan di sana, ada kenikmatan di sana, dan ada perasaan keutuhan di sana.

Gambar 3. 84 kph on 7.000 rpm
Sebuah sepeda motor dapat berubah dan berkembang. Itulah sebabnya hobi memodifikasi sepeda motor, walaupun mahal, tetap mengasyikkan. Gesang “Broges” Yudoko, om saya, memiliki Vixion tahun 2009. Vixion adalah motor sport 150cc yang relatif pendek dan kecil, cocok untuk rata-rata orang Indonesia yang memiliki tinggi tidak sampai 170 cm. Ban bawaan pabriknya sangat kecil; ban belakangnya saja hanya berukuran 90/90 17 (bandingkan dengan ban bawaan pabrik New Megapro 100/80 17). Dalam waktu kurang dari lima tahun, Vixion om saya itu nampak besar dan gagah. Shock-breaker depan dan belakang ditinggikan, sehingga ground clearance-nya menjadi lebih tinggi. Velg orinya diganti dengan velg tapak lebar, sehingga kini ukuran ban belakangnya 120/80 17. Bagian buritan diberi top box Givi E45, dan sepasang top box Givi E20 yang dipasang sebagai side box, sehingga Vixion tersebut menjadi sangat semok. Slebor depan ori dilepas, dan diganti dengan slebor Kawasaki ZX130 yang dipasang tinggi, tepat di bawah headlamp, sehingga muncul aura sepeda motor ADV penjelajah segala medan. Melihat motor Om Broges itu di parkiran ATMI Intercam, temannya bertanya,
Motormu kokapakke ta, Ndan, kok ketok gedhi men?” (Motormu kamu apakan sih, Ndan, kok terlihat besar sekali?)
Mben esuk daklus-lus, dadine abuh,” (Tiap pagi aku usap-usap, jadinya bengkak,)
Jawab Om Broges sembari bercanda. Apa yang diusap-usap bisa membesar? Penis. Penis adalah contoh khas dari Phallus. Sepeda motor yang bisa diusap-usap hingga besar itu, yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi gue banget itu, adalah phallus.

Suara Menggelegar yang Syahdu dan Ngangeni
Tidak sedikit teman-teman yang tergabung di dalam Saint Paul Riders bereksperimen dengan knalpot. Setelan knalpot yang pas dapat meningkatkan performa mesin (menambah power dan torsi). Selain itu, setelan knalpot yang bagus dapat menghasilkan suara yang syahdu dan khas. Selain menyaksikan penampilan Valentino Rossi di atas lintasan motoGP, orang-orang menonton langsung di sirkuit untuk mendengar raungan mentah mesin motoGP. Orang-orang yang menonton balapan sepeda motor di Isle of Man pun banyak yang merekam suara dengungan mesin sepeda motor di kejauhan, semakin lama semakin menderu, lalu ... “ngiiiiiiiiiiung” ... lewat begitu saja, dan kemudian perlahan hilang di ujung tikungan. Ada yang menggemari suara stereo nan merdu mesin dua silinder atau twin, ada yang justru menggemari suara auman mesin silinder tunggal. For those who ride, loud pipes save lives.
Suara knalpot ori New Megapro karbu sebenarnya sudah gandem, ngebas dan halus, tetapi kurang keras. Sempat saya merasa eman-eman ketika hendak bereksperimen dengan knalpot ori tersebut. Knalpot ori ‘kan tidak murah? Namun, kemudian dengan pertimbangan bahwa saya tidak akan menjual kembali New Megapro saya itu, bahwa spare part ori Honda lebih mudah dicari, dan bahwa saya memerlukan kepuasan dan ketenangan batin dengan mendengarkan suara knalpot, akhirnya saya berani memutuskan untuk membedah knalpot ori New Megapro. Saya ingin potensi suara ngebas, gandem, dan halusnya itu lebih dioptimalkan. Akhirnya saya bawa New Megapro itu ke bengkel knalpot di sekitar Baron, Solo. Kepada mekaniknya, saya request suara knalpot yang ngebas, banter, alus ... tetap ngebas, tetap halus, tetapi lebih keras. Knalpot saya pun dibedah (harafiah). “Sarang tawon” yang membuat knalpot ori New Megapro bersuara ngebas tetapi lembut itu dilepaskan. Sebagai gantinya, mekanik itu menanamkan sebuah pipa panjang penuh lubang ke dalam knalpot tersebut. Setelah bedahannya dilas kembali, ujung knalpot tempat lubang buang dipotong sehingga bisa dibuka dan ditutup. Diameter lubang buang knalpot dibuat lebih besar. Potongan itu lalu dipasang kembali ke tubuh knalpot dengan dua buah sekrup. Tidak lupa mekanik itu menjejalkan gasbul (glass wool) ke dalam knalpot sebelum menutupnya. Hasilnya? Suara ngebas yang halus dan khas. Saking khasnya, teman-teman saya bisa mengenali suara motor saya itu, bahkan sebelum mereka melihatnya secara visual. Ketika saya masih di pertigaan dan belum menikung, teman-teman saya di halaman Gereja Santo Paulus Kleco, yang kurang lebih berjarak lima meter dari pertigaan itu, sudah mengenali dan tahu bahwa saya akan segera lewat atau mungkin mampir. Suara knalpot yang ngebas, banter, alus itu sungguh membuat hati saya damai.
Dengan alasan yang kurang lebih sama, teman-teman saya gonta-ganti knalpot. Ada yang memakai knalpot “racing” Nob1, ada yang memakai Akralingga (Akrapovic KW bikinan Purbalingga), ada yang memakai Leo Vince, tetapi mayoritas menggunakan knalpot ori yang dibedah. Ada yang menggunakan knalpot Honda Revo, Honda SupraX 125R, knalpot Satria FU 150, knalpot Yamaha Mio, knalpot old-Vixion, dan yang paling populer di antaranya adalah knalpot Honda Tiger Revo (Tirev). Saking populernya knalpot Tirev, di pasaran terdapat banyak knalpot Tirev KW yang sudah dibedah. Suara yang dihasilkan knalpot Tirev bedahan kurang lebih sama dengan suara knalpot New Megapro karbu bedahan, hanya volumenya lebih keras dan lebih galak.
Walaupun secara legal terdapat Undang-undang yang membatasi berapa desibel kebisingan suara yang diperbolehkan untuk kendaraan sehari-hari (tidak boleh lebih dari 80-83 db), realitanya banyak yang diam-diam memakai knalpot “racing” atau knalpot bedahan. Memang terdapat paradoks: kenikmatan itu melawan aturan, tetapi juga sekaligus selaras dengan aturan. Paradoks itu semakin tampak di dalam penggunaan knalpot ori yang dibedah; wujudnya adalah knalpot orisinal, bikinan pabrikan, sehingga “selaras” dengan aturan Undang-undang, tetapi bedahannya membuat suaranya di ambang batas, bahkan melampaui batas desibel yang diperbolehkan Undang-undang. Di hadapan razia polisi, seorang rider berknalpot bedahan akan menyuarakan motornya dengan pelan, sehingga suara yang dihasilkan knalpot ori bedahannya itu sehalus knalpot ori yang belum dibedah, suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh knalpot “racing”, tetapi ketika dia berada di jalanan terbuka yang lepas, dengan girang hati dia akan membetot gas dalam-dalam, sehingga knalpotnya meraung dengan keras, dan hatinya merasa tenteram dan memperoleh kenikmatan.
Ketika menulis ini, tiba-tiba saya mengingat suara knalpot ori bedahan New Megapro saya itu. Mengingat suara knalpot saya itu membuat saya tiba-tiba ingin berkendara. Dengan berkendara, saya merangkul kembali [a]namnese itu, suatu kenangan yang hadir kembali, yang pada awalnya adalah kenangan akan berkendara bersama Bapak, tetapi yang kemudian menjadi kenangan akan suatu rasa keutuhan dan persatuan primordial. Ada objet a pada suara knalpot itu, yang menggerakkan saya untuk berkendara, dan kemudian bertemu wajah Liyan, untuk selanjutnya menciptakan dunia, suatu kebudayaan. “Berkendaralah, engkau diutus,” demikianlah motto Saint Paul Riders.

 Gambar 4. Berkendaralah, engkau diutus.

Daftar Bacaan
Boucher, G. 2008. The Charmed Circle of Ideology: A Critique of Laclau & Mouffe, Butler & Zizek. Melbourne: Re.Press
Fink, Bruce. 1997. A Clinical Introduction to Lacanian Psychoanalysis. Theory and Technique. Cambridge, Massachusetts & London, England: Harvard University Press.
Hill, Philip. 2006. Lacanian untuk Pemula. terj. A. Widyamartaya. Yogyakarta: Kanisius
Johnson, Richard. 1986-1987. What is Cultural Studies Anyway?. Source: Social Text, no. 16 (Winter, 1986-1987), pp. 38-80. Duke University Press
Lacan, Jacques. 1999. Ecrit. terj. Bruce Fink. W.W. Norton & Company
Mulvey, Laura. 1975. Visual Pleasure and Narrative Cinema. Originally Published – Screen 16.3 Autumn 1975 pp. 6-18
Saukko, Paula. 2003. Doing Research in Cultural Studies. An Introduction to Classical and New Methodological Approaches. London, Thousand Oaks, & New Delhi: SAGE Publications
Sunardi, St. 2002. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal