Saturday, March 13, 2010

I LOVE YOU THEREFORE LOVE IS

Pernah saya mendengar seorang kawan sejawat mengkritik pandangan saya, bahwa tiada cinta sejati, tiada yang namanya “Penolong yang Sepadan”. Itu semua hanya terdapat dalam fairy-tale. Saya membaca kembali renungan saya “Tentang Cinta”. Kemudian mulai mencerna kritik teman saya itu. Apakah memang dia benar bahwa tiada itu cinta sejati? Bahwa semua “hal indah” itu hanya ada dalam dongeng, hanya ada dalam fantasi manusia? Renungan ini pun tidak lepas dari renungan pertama “Tentang Cinta”, anggap saja dualogi. Jadi, saya andaikan pembaca sudah membaca “Tentang Cinta” sebelum membaca renungan ini sekadar sebagai frame berpikir. Dalam mencerna pertanyaan apakah benar tiada cinta sejati itu saya menggunakan pisau bedah utama “Teori Keraguan Rene Descartes” dan “Teori Moral Egoisme Etis”. Tidak secara mutlak saya menggunakannya, hanya sebagai analogi berpikir dan bukan berarti saya hanya menggunakan dua teori itu. Dan, saya sudah mengantisipasi kelemahan-kelemahan kedua teori tersebut, sehingga jauh lebih bebas mengupas pertanyaan itu tanpa harus terpaku.

Pertama, mari kita bahas persoalan mengenai pernyataan “cinta sejati hanya ada dalam fairy-tale”. Fairy-tale atau dalam bahasa Indonesia dongeng adalah sebuah cerita. Sebuah cerita pasti berasal dari imaginasi, fantasi, dan idealisme manusia. Imaginasi, fantasi, idealisme manusia itu takkan pernah ada ketika manusia tak pernah mencerapnya. Contoh: personifikasi Apolo, sang Dewa Matahari bangsa Yunani Kuno. Manusia Yunani kuno mencerap matahari yang terang dan senantiasa bergerak dari timur sampai ke barat setiap hari. Bangsa Yunani Kuno mengenal api yang menghasilkan panas dan cahaya. Mereka juga mengenal chariot, kereta perang. Dan, yang tak dapat disanggah, mereka menghormati keindahan tubuh manusia sama seperti mereka menghormati jiwa yang tercermin salah satunya dalam karya-karya patung mereka yang indah dan sempurna. Dari itu semua, mereka mengimajinasikan Sang Matahari. Mereka mengantropomorfiskan matahari dalam sebuah pribadi bernama Apolo yang emas bercahaya, mengendarai kereta perang berapi dari timur ke barat setiap hari. Lalu, dirangkailah mitologi tentang Dewa Apolo itu.

Sebuah contoh lain: mesin cetak. Pada awalnya segala tulisan itu direproduksi dengan disalin secara manual. Hal itu membutuhkan waktu yang lama. Tentu banyak kesalahan manusia di sana-sini: salah dengar, salah tulis, salah baca, dll. Berabad-abad manusia menggunakan metode “menyalin” ini untuk mereproduksi tulisan-tulisan baik itu Alkitab maupun tulisan-tulisan lainnya. Hingga pada abad XV Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg, berdasarkan kelemahan-kelemahan metode lama dalam mereproduksi tulisan, mengimajinasikan suatu metode yang cepat dan dapat meminimalisasi kesalahan reproduksi tulisan. Dan, dia tidak hanya berhenti pada imajinasi saja, tapi mewujudnyatakan imajinasi itu sehingga terciptalah mesin cetak.
Begitu juga dengan “cinta sejati”, jika dikatakan bahwa “cinta sejati” hanya ada dalam sebuah dongeng, dan jika dongeng itu adalah hasil fantasi manusia, dan jika fantasi manusia itu berdasarkan tindak lanjut akal-budi terhadap apa yang dicerapnya, “cinta sejati” dalam dongeng itu pasti juga adalah hasil tindak lanjut akal-budi pendongeng atas apa yang empiris dicerapnya. Jika “cinta sejati” itu adalah sebuah idealisme, berarti manusia pernah mengenal ide tentang “cinta sejati”. Sebab, idealisme itu dapat ada karena manusia mengenal terlebih dulu suatu ide. Dan, manusia mengenal suatu ide dari hasil pencerapan indera yang ditindaklanjuti oleh akal-budi. Maka, dari mana manusia mengenal ide tentang “cinta sejati”? Tentu dari hasil pencerapan indera yang ditindaklanjuti oleh akal budi. Apa yang dicerap indera? Adalah apa yang ada secara empiris. Pengalaman empiris itu dapat berupa pengalaman pribadi atau hasil pengamatan di luar diri.

Sebuah contoh untuk menerangkan hal itu secara sederhana adalah masalah bahasa. Kita menggunakan telaah bahasa untuk membuat permasalahan pertama kita menjadi lebih jelas. Kita tahu bahwa ada banyak sekali bahasa di muka bumi ini. Ambil contoh Bahasa Inggris dengan Bahasa Jawa. Di Jawa ada kata “asu”, sedangkan di Inggris ada kata “dog”. Mengapa? Karena manusia di dua daerah itu mengenal ide tentang anjing, pernah mencerap binatang anjing. Di Jawa ada kata “lemper”, tapi di Inggris tidak ada kata “lemper” atau kata padanan yang dapat menerjemahkan kata “lemper”. Mengapa? Karena di Inggris tidak ada ide tentang makanan yang terbuat dari ketan dan dibungkus daun pisang itu. Mengapa? Karena tidak ada makanan lemper di sana, bahkan tidak ada beras ketan – bahan dasar lemper. Di Inggris ada kata “computer”. Di Jawa pun ada kata “komputer”. Mengapa? Karena di Inggris dan di Jawa ada benda komputer. Kata “komputer” bukan kata asli Jawa, melainkan kata serapan. Benda komputer datang dari Barat ke Jawa. Karena manusia Jawa tidak memiliki ide tentang komputer sebelumnya, mereka tidak memiliki kata untuk menamai benda itu, maka diambillah kata Inggris “computer” dan disesuaikan dengan lidah Jawa, “komputer”. Di Inggris ada kata “love”, di Jawa ada kata “tresna”. Mengapa? Karena di Inggris dan di Jawa terdapat ide tentang cinta.

Kedua, berdasarkan “Tentang Cinta” kita sudah membahas mengenai apa itu cinta. Ketika saya mengatakan,”Tiada cinta sejati.”, diandaikan bahwa saya memiliki ide tentang cinta sejati tetapi tidak menemukannya secara empiris. Saya mengetahui ide “cinta sejati” mungkin dari orang lain. Diandaikan pula bahwa saya mencari cinta sejati di luar diri saya. Ada kekosongan dalam diri sehingga mengharap ada seseorang lain mengisi kekosongan itu, tetapi tak kunjung ada orang yang mampu mengisi kekosongan itu. Dari mana kekosongan itu berasal? Plato melalui tokoh Aristophanes dalam bukunya Symposium menerangkannya dengan sebuah mitos(1). Dulu manusia berkepala dua, bertangan empat dan berkaki empat, dan berkelamin dua. Ada tiga jenis manusia pada saat itu, pria-wanita, wanita-wanita, dan pria-pria. Mereka sempurna pada dirinya sendiri. Zeus kemudian membelah mereka, masing-masing pasangan dipisahkan dan dijauhkan satu sama lain. Sejak saat itu manusia merasa ada yang hampa dalam dirinya, ada yang kurang hingga mereka menemukan pasangan masing-masing. Yang dulu pria-wanita akan mencari pasangannya, pria mencari wanita, begitu pula sebaliknya. Yang dulu wanita-wanita akan mencari pasangannya yang tentu sejenis, begitu pula yang awalnya pria-pria(2). Ketika mereka bersatu kembali dengan pasangannya semula, pria bersatu dengan wanita, wanita bersatu dengan wanita, pria bersatu dengan pria, mereka menemukan kepenuhan hidup.

Sedangkan dalam Genesis Bangsa Israel menjelaskan mengapa manusia merasa kesepian. Manusia (laki-laki) tidak menemukan penolong yang sepadan dengannya. Dia hanya sendiri di Taman Eden, tiada makhluk lain yang menyerupai dirinya. Makhluk lain selain dirinya hanyalah hewan-hewan dan tetumbuhan. Maka, TUHAN membuatnya tidur, mengambil salah satu tulang rusuknya, dan membangun seorang manusia lain yang merupakan perempuan, lalu membawanya ke hadapan manusia itu. Manusia itu menemukan kepenuhan dalam dirinya dengan kehadiran perempuan itu karena dia diambil dari diri manusia itu. Manusia menemukan kesepadanan antara dirinya dengan perempuan itu (kecuali tentunya jenis kelamin mereka) sehingga mereka dapat saling memahami dan melengkapi.

Dari dua mitologi di atas jelas bahwa kehampaan itu berawal dari rasa kesepian dan rasa ketidaksempurnaan. Dari rasa itu manusia berusaha mencari pemenuhan. Ketika menemukan seseorang yang dapat mengisi kekosongan tersebut, manusia akan tenteram. Namun, bagaimana jika kekosongan itu menjadi semacam phobia? Manusia yang pernah mengalami “pemenuhan” tersebut takut mengalami kekosongan lagi. Maka, dia akan “mengurung” seseorang tersebut supaya tidak pergi meninggalkannya kesepian lagi. Sehingga, manusia hanya menganggap seseorang itu sebagai obyek untuk dimiliki, obyek pemenuh kehampaannya. Dari sinilah muncul permasalahan possessivitas. Masalah ini bukan hanya dialami oleh sepasang kekasih, melainkan juga antara orang tua dan anak, bahkan semua macam jenis hubungan manusia. Orang tua yang overprotective terhadap anaknya sebenarnya tidak ingin anaknya dewasa, sehingga senantiasa menjadi anak-anak supaya selalu bergantung pada orang tua dan tidak meninggalkan mereka. Orang tua yang semacam ini justru tidak mencintai anaknya melainkan egois (selfish). Mereka takut kesepian di hari tua tanpa anak-anak lagi. Padahal, orang tua yang baik adalah mereka yang mendidik anak mereka, memanusiakan mereka, membimbing mereka agar semakin menemukan kesejatian dirinya sehingga secara dewasa(3) dapat hidup dan mengada.

Sejauh ini kita mengandaikan manusia yang hampa itu bertemu dengan sang penolong yang akan memenuhi kekosongan hatinya dengan cinta. Lalu, bagaimana jika dia tak kunjung menemukan seseorang yang dapat mencintainya dan mengisi kekosongan itu? Tentu dia akan tersiksa dalam kesepiannya. Dan, dalam ketersiksaan itu mungkin saja akhirnya dia mengambil kesimpulan yang terlalu buru-buru bahwa tidak ada cinta sejati, atau mungkin lebih tepatnya bahwa tidak ada seseorang yang mencintainya dengan cinta sejati (sebab mungkin saja dia bertemu seseorang yang mengaku mencintainya tetapi pada akhirnya mengkhianati dan meninggalkannya).

Namun, benarkah tidak ada cinta sejati? Saya hampir saja kebingungan menjawab pertanyaan ini. Terus terang saja, ini bukan pertanyaan seorang anak balita, melainkan sebuah pertanyaan filosofis (bahkan mungkin teologis, sayang saya tidak tertarik mengupasnya dalam ranah teologi; ada yang mau?). Kemudian saya menemukan dua teori filsafat: Teori Keraguan Rene Descartes dan Teori Moral Egoisme Etis. Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa saya akan menggunakan dua teori tersebut sebagai pisau bedah utama dalam menjawab pertanyaan itu.

Pertama, marilah kita memakai Teori Moral Egoisme Etis. Egoisme Etis menerangkan bahwa dalam hidup bersama, supaya semua untung, setiap orang harus memperhatikan kepentingan sendiri sebab hanya diri sendiri yang tahu apa yang paling dibutuhkan, bukan orang lain, dan mencampuri urusan orang lain justru dapat merusak kebebasannya untuk menentukan diri, mengganggu privasinya(4). Saya tidak akan menarik konsekuensi dari teori ini, melainkan hanya mengambil cara berpikirnya saja. Jika seseorang mencari cinta sejati, dia pasti sudah lebih dulu tahu ada kemungkinan cinta sejati itu ada dan dalam dirinya sendiri dia tahu bahwa kepentingannya adalah cinta sejati. Dengan pola pikir egoisme etis, saya tentu tidak akan mencari cinta sejati pertama-tama pada orang lain di luar diri saya, melainkan terlebih dahulu pada diri saya sendiri, apakah saya sudah mencintai dengan cinta sejati, adakah cinta sejati dalam diri saya. Jika jawabannya ya, cinta sejati itu ada. Jika jawabannya tidak, di dalam diri saya tidak ada cinta sejati. Berarti mungkin ada orang lain yang mencintai dengan cinta sejati, dengan cinta yang saya sendiri belum mampu manifestasikan.

Kedua, mari kita menggunakan keragu-raguan Rene Descartes. “Namun, di sini aku segera menyadari bahwa sementara aku mau menilai segalanya sebagai keliru, aku sendiri yang sedang memikirkan hal itu secara niscaya pasti ada, dan aku menemukan bahwa kebenaran ‘aku berpikir maka aku ada(5)’ sedemikian kokoh dan pasti, sehingga pandangan seorang skeptikus yang paling sengit tidak akan dapat menggoyahkan kebenaran tersebut. Demikianlah aku meyakini dapat mengambil tesis ini tanpa ragu untuk prinsip pertama filsafat yang kucari,” kata Descartes(6). Saya pun takkan menarik konsekuensi pola pikir teori ini, tapi hanya menggunakan logika berpikirnya. Anggap saja benar bahwa saya tidak menemukan seorangpun yang mencintai, baik mencintai saya ataupun mencintai orang lain, dengan cinta sejati. Namun, ketika saya mencari cinta sejati itu dengan penuh dedikasi(7), saya mendapati cinta sejati dalam diri saya. Terlebih ketika saya mencintai seorang gadis dan saya benar-benar menyadari bahwa apa yang saya sebut cinta itu adalah benar-benar cinta dan bukan melulu hasrat possessive, saya menemukan cinta sejati. Cinta sejati ada! Saya tidak perlu menunggu seseorang mencintai saya dengan cinta sejati untuk mengetahui apakah cinta sejati itu ada, tetapi saya dapat memulai mencintai dengan cinta sejati, maka cinta sejati itu bukan lagi dongeng belaka. Te amo ergo amor est, I love you therefore love is, aku mencintaimu maka cinta itu ada.

Sebenarnya, apa cinta? Cinta adalah esensi dari eksistensi kemanusiaan. Maka, mencintai berarti pemanifestasian kemanusiaan yang tak lain adalah pemberian diri. Memberi itu adalah suatu pengorbanan dan itu sakit, apa lagi memberi diri. Namun, justru dari pemberian diri ini, mencintai dengan segenap kemanusiaan ini, atau dengan bahasa “dongeng” mencintai dengan cinta sejati, seseorang memperoleh kepenuhan (eksistensi) kemanusiaannya. Dengan demikian, seseorang dapat menjadi penolong yang sepadan bagi orang yang dicintai.

(1) Gerasimos Santas, PLATO DAN FREUD, Dua Teori Tentang Cinta, terj. oleh Konrad Kebung, Maumere: LPBAJ, 2002, 25-28
(2) Secara eksplisit tampak bahwa bangsa Yunani Kuno menganggap homoseksualitas adalah hal yang wajar.
(3) Dewasa: mandiri sesuai kesejatian dirinya, semakin menjadi diri sendiri, yakin terhadap kediriannya.
(4) James Rachels, FILSAFAT MORAL, terj. oleh A. Sudiarja, Yogyakarta: Kanisius, 2008, 148
(5) Je pense donc je suis, cogito ergo sum, I think therefore I am.
(6) F. Budi Hardiman, FILSAFAT MODERN, dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007, 37
(7) Cinta mengandaikan sebuah dedikasi, seperti para filsuf – pecinta kebijaksanaan itu – mendedikasikan dirinya demi mencari kebenaran.


Silakan membaca:
Budi Hardiman, F.
2007 FILSAFAT MODERN, dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Rachels, James
2008 FILSAFAT MORAL, terj. oleh A. Sudiarja, Yogyakarta: Kanisius

Santas, Gerasimos
2002 PLATO DAN FREUD, Dua Teori Tentang Cinta, terj. oleh Konrad Kebung, Maumere: LPBAJ


tepi Jakal,
Peringatan Arwah Semua Orang Beriman,
2 November 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

No comments:

Post a Comment