Saturday, March 13, 2010

MANISKU, BAGAIMANA JIKA SUATU HARI NANTI AKU MATI DAN TAK DAPAT LAGI MENCINTAIMU?

Masih kubaca sms terakhirmu. Ya, kita memang terpisah jarak tak terperi, tapi kamu begitu dekat, sebegitu dekat sehingga lebih dekat dari pada tetangga kosku sendiri. Ah, betapa aku merindukanmu. Kamu mengguncang duniaku, eksistensimu mengoyak keheningan ruangku yang selalu saja berisi renungan-renungan tentang hidup ini. Ah, masih kuingat saat kamu menertawakanku sebelum kita jadian dulu,”Hidup, kok, hanya merenung tentang hidup? Napa ga menghidupi hidupmu selagi kamu hidup?” Aku pun menjawab sekenanya dengan memlesetkan motto Rene Descartes,”Merenung ergo sum, hahaha... .” Dunia kita memang pada awalnya saling berjauhan bahkan bertolak belakang. Kamu sempat enggan berteman denganku karena merasa bertemu dengan orang sangat tidak biasa, kalau tidak dibilang aneh. Namun, setelah beberapa waktu kita jadian dan aku menanyakan tentang perasaanmu waktu itu, kamu mengatakan bahwa meskipun kamu takut, entah bagaimana kamu terpesona... tremendum et fascinans. Hehehe... aku jadi GR.

Met mlm,Honey.Duh..kngen ne.Tp msh lm y qt bs ktmuan.Gpp c,tp..hmpf,aq g ad pls, cm pls sms.Jk ad,qtlp.Ywdh de..Miss U.G’nite.Cweet dleamz.Luv U – Pengirim: Cweetie +6285687711342 19-12-08 23.59

Love you? Apa itu cinta? Aku selalu bertanya apa itu cinta. Ketika mengatakan aku mencintaimu, aku ragu apakah aku menyadari apa yang aku ucapkan itu. Aku ragu apakah aku benar-benar siap dengan segala konsekuensi dari ucapan itu? Namun, toh ternyata kamu pun mengatakan hal yang sama,”Aku mencintaimu.”

Masih menari-nari penaku di atas diary. Ingatanku segera melayang jauh mengarungi ruang dan waktu. Aku melihat kamu tersipu malu ketika mendengar tiga kata ajaib itu. Pipimu merona. Tirai malam tak begitu kelam saat itu. Bintang-bintang tersenyum genit. Kamu ingat bintang yang paling terang di sebelah timur itu? Hahahahaha... kita sempat berdebat tentang bintang itu.

“Lihatlah bintang itu, Manisku,” pintaku
“Bukan, itu planet... Planet Venus!”
“Iya, tapi orang-orang menamakannya bintang... Bintang Kejora.”
“Ah, ya tidak bisa. Planet itu tidak berkedip.”
“Kamu ini ah... tapi kita diberkati.”
“Kenapa?”
“Tahu apa nama Yunani dari Venus?
“Apa?”
“Aphrodite.”
“Dewi Cinta?”

Kita duduk berdua di city walk. Lampu jalanan yang kuning itu semakin membuat suasana menjadi romantis. Kita tidak sendiri memang, banyak pasangan lain sedang memadu kasih seperti kita. Namun, dunia kita terlanjur menyatu sebegitu intens dan erat sehingga kita tak memiliki lagi ruang untuk menghiraukan mereka sebagaimana mereka tak menghiraukan kita. Waktu pun semakin padat tapi tidak cepat melesat. Dan, ketika mulutku memagut mulutmu, segalanya diam tak jemu.

“Akankah semua terulang?”
“Waktu bisa diciptakan, Manisku. Dan, malam ini aku hanya menciptakan waktuku untukmu... hanya untukmu. Esok takkan pernah datang. Biarlah kita nikmati kekinian kita di sini.”
“Yang? Aku tak mengerti.”
“Kasihku, hanya ada kini-sini. Esok yang datang pun akan segera menjadi kini sini. Esok takkan pernah datang. Dan, pada setiap kini-sini, aku akan menciptakan waktu untukmu, meski hanya sesaat.”
“Ah, kamu begitu rumit. Sederhanakanlah bujuk rayumu itu.”
“Aku mencintaimu.”
“Aku mencintaimu.”

Untuk sementara aku berhenti bertanya. Aku membiarkan segalanya mengalir, bagaikan udara yang menyentuh dinding hidungku, merambat pada tenggorokanku, dan memenuhi paru-paruku. Apakah ini hanya asmara? Apakah ini eros? Apakah ini philia? Apakah ini kasih? Apakah ini cinta? Apakah ini agape? Ah... apapun cinta ini... untuk sementara biarlah. Aku ingin berhenti bertanya. Biarlah hanya merasakan tanpa menilai.

Otonomiku semakin kuat berkat korelasi denganmu. Eksistensiku semakin ada, berkat koeksistensi dengan adamu. Aku semakin menjadi aku berkat kamu. Aku dan kamu menjadi kita. Kita semakin ada dan bermakna. Ah, hidup memang absurd, tapi jujur, hidup yang absurd ini terlalu indah untuk disia-siakan. Justru koeksistensi denganmu ini, Manisku, koeksistensi yang adalah cinta, apapun maknanya itu, membuat hidupku, kuharap juga hidupmu, semakin bermakna di atas absurditas hidup itu sendiri. Kalau demikian, seakan-akan kematian itu tak lebih dari pada kristalisasi kehidupan. Dan, aku semakin ada, semakin bermakna oleh karena kehadiranmu dengan segenap dunia yang ada padamu. Duniamu dan duniaku menyatu tanpa melebur menjadi sebuah dunia yang agung dan indah.

Cweetheart blm bo2 ni?Du..ympun,dh larut mlm lo.Bsk msh kul kan? – Pengirim: Honnhonn +6285694522342 20-12-08 00.10

Blm,mkrin km.Honey lg ap ni?Ko blm bo2 jg? – Pengirim: Cweetie +6285687711342 20-12-08 00.12

Nls diary,ttg cinta qt.. . – Pengirim: Honnhonn +6285694522342 20-12-08 00.14
Du..jd t’haru.. .So sweeeet.Kpn2 aq blh bc g? – Pengirim: Cweetie +6285687711342 20-12-08 00.17

Imajinasiku memaksa masa depan hadir dalam kini-sini, terpampang jelas di hadapanku bagai layar bioskop. Kulihat aku yang telah beranjak renta. Waktu telah menggerogoti keperkasaanku. Hampir tiada lagi sisa-sisa keremajaan. Aku yang semasa muda lincah dan gagah kini berjalan dengan susah payah menikmati senja pun telah suntuk usia. Kulihat aku tengah berjalan tertatih-tatih menuju dirimu yang juga tak kalah rentanya. Rambutmu menguban. Kemolekanmu sirna. Mulus kulitmu hanya meninggalkan kerut keriput. Merah pipimu yang senantiasa merona kini tak lebih tulang dibalut kulit. Namun, senyummu... ya... senyummu masih serenyah dulu. Senyum yang selalu kurindu. Senyum yang mampu menyungsangkan duniaku. Senyum yang senantiasa melambungkan harga diriku. Senyum itu... . Dan, kamu tersenyum padaku, bukan menertawakan kerentaanku, melainkan menyambut hangat ke dalam pelukmu pria yang kaucintai sejak masa remajamu.

“Aku akan mendahuluimu, Manisku.”
“Ah, kita akan bersama-sama.”
“Tidak, anak cucu kita masih membutuhkan kehadiran kita. Namun, aku sudah lelah dan bosan dengan kehidupan ini. Aku akan mendahuluimu.”
“Kaubosan juga denganku?”
“Kenapa kamu merajuk? Tiada pernah aku bosan padamu. Kamu begitu berharga bagiku, dan akan selalu begitu berharga. Apa kamu pikir aku mencintaimu hanya karena kemolekanmu? Jika demikian adanya, sudah sejak menopause kamu kutinggalkan, bahkan jauh sebelum itu.”
“Lalu, sudahkah pertanyaanmu apa cinta itu terjawab setelah berpuluh-puluh tahun lamanya?”
“Belum jua aku bisa menjawabnya, Kasihku. Bahkan setelah lama kita merajut cinta, masih juga ada suatu kegelapan yang mahapekat, terlalu pekat untuk menjawab pertanyaan apa cinta.”
“Tapi, apa kamu masih mencintaiku?”
“Memang telah lama padam api asmaraku padamu. Juga takkan birahi lagi engkau padaku. Namun, cinta lebih dalam dari pada itu. Cinta tak sesempit itu. Bahkan, cinta lebih indah dari pada itu.”
“Bukankah itu cinta?”
“Itu pun cinta, tapi cinta bukan melulu itu. Cinta adalah esensi dari eksistensi kemanusiaan kita. Dan, ada banyak cara memanifestasikan cinta. Ketika kita masih bergairah dulu, kita saling memeluk, saling memandang, saling bercium mesra, bahkan aku semakin dalam memasuki ruangmu. Tapi ketika segalanya semakin beranjak dewasa, ketiadaanku demi adamu mungkin menjadi manifestasi terakhir dari cinta.”
“Lalu setelah itu kamu takkan mampu mencintaiku! Segala yang kita bagi selama ini sia-sia. Bagaimana mungkin aku mencintai yang tiada? Bagaimana mungkin kamu yang tiada juga akan mencintaiku yang ada?”

Sebuah bukuku jatuh. Suaranya menyeretku kembali ke kesadaranku. Malam semakin larut. Dini hari sudah mengantri. Jam dinding menunjuk angka 00.45. Kubuka sms darimu.

Honey sdh bo2 y?Y..ktdran pst.Ywdh,met bo2 aj,Hon..mimpi indah. Mimpiin aq y.Qt sambut fajar b’sm2 y,wlo qt jauh,wlo aq g ad d si2mu,wlo aq g bs liat km,tp hatiq sll ad dkt hatimu – Pengirim: Cweetie +6285687711342 20-12-08 00.30

Sengaja tidak kubalas smsmu. Kamu pasti sudah tidur, pikirku. Kuambil buku yang jatuh itu. Buku Gabriel Marcel, sang dramawan sekaligus filsuf. Aku percaya di dunia ini tiada yang kebetulan. Atau, mungkin memang kebetulan? Namun, buku yang jatuh itu terbuka. Dan, pada halamannya yang terbuka aku membaca,”Ketika engkau menyatakan cinta pada seseorang, sebenarnya engkau sedang mengatakan bahwa orang itu takkan pernah mati.”

*Spesial untuk para Senthongers, Teater Seriboe Djendela
tepi Jakal, 24 September 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

2 comments:

  1. wew ,, aku suka ter sm tulisan mu ! hehehehe ..

    apakah setiap cowok selalu berpikiran seperti tokoh yang ada dalam cerpen mu ini ???

    ReplyDelete
  2. Terima kasih :)
    Maaf, aku sudah bukan frater lagi, hehehehe :P

    Setiap lelaki yang telah merengkuh kelelakiannya dengan utuh pasti akan bersikap kurang lebih demikian ;)

    ReplyDelete