Friday, April 9, 2010

EKSISTENSI MANUSIA - Proses Menyempurnakan Cinta

1. Pengantar
Apa manusia? Siapa manusia? Dan, bagaimana manusia? Pertanyaan itu adalah pertanyaan eksistensial yang dipertanyakan oleh manusia sendiri dalam kesadarannya. Bahkan, pertanyaan itu sudah dipertanyakan sejak manusia sadar akan keberadaan dirinya. Lewat cerita-cerita mitologi hingga refleksi-refleksi filosofis dari era-era sebelum Masehi hingga abad postmodern ini manusia selalu mencoba menemukan jawab.


Tiga pertanyaan sederhana itu dapat diulas dalam suatu skripsi tebal atau suatu buku beratus-ratus halaman atau dibahas oleh beribu-ribu filsuf dengan beragam refleksi mereka. Akan tetapi, penulis mencoba membahas pertanyaan-pertanyaan itu dalam paper ini saja. Tidak bermaksud menyepelekan atau menihilkan esensi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, tapi semata hendak menjawab kegelisahan penulis sendiri dan merekam dinamika proses keikutsertaan penulis bergulat atas tiga pertanyaan itu; sejauh mana penulis dalam pencariannya. Siapa tahu paper ini dapat menjadi batu loncatan dalam proses pencarian selanjutnya.

2. Kesadaran Akan Ada
Secara empiris manusia merasakan bahwa materi-materi yang ada disekitarnya adalah ada . Manusia kemudian menyadari bahwa materi-materi itu ada. Begitu pula dengan dirinya sendiri, manusia menyadari dirinya ada. Namun, bagaimana? Bagaimana semua materi itu bisa ada? Bagaimana manusia itu bisa ada pula? Mungkinkah adanya materi-materi itu sebenarnya tidak ada, dan berarti adanya manusia itu sebenarnya juga tidak ada? Dari ada-ada itu pastilah ada Ada yang mengatasi, suatu causa prima, suatu Ada yang pertama yang menyebabkan ada-ada yang lain. Maka, tanpa Ada, mustahil ada ada-ada yang lain.

Kita dapat mengenal dan menyadari adanya Ada lewat beradanya ada-ada yang lain (termasuk manusia), secara sederhana lewat pengalaman inderawi. Kita mendengar musik. Jika musik tidak pernah ada, dapat dibayangkan tidak pernah ada seni. Jika seni tidak pernah ada, dapat dibayangkan tidak pernah ada manifestasi kemanusiaan. Jika manifestasi kemanusiaan tidak pernah ada, dapat dibayangkan manusia tidak pernah ada. Jika manusia tidak pernah ada, dapat dibayangkan dunia di mana manusia ikut ambil bagian membentuknya tidak pernah ada. Jika dunia tidak ada, dapat dibayangkan ruang tempat dunia (seharusnya) ada tidak ada. Jika ruang tidak ada, dapat dibayangkan semesta tidak ada. Jika semesta tidak ada, dapat dibayangkan segalanya tidak ada. Jika segalanya tidak ada, yang ada hanyalah ketiadaan . Dan, itu mustahil sebab ketiadaan tidak pernah sekaligus ada .

3. Kesadaran akan Ada Tidak Bertentangan dengan Materialisme
Warren Shrader dalam jurnal Faith and Philosophy edisi 23 no. 1 Januari 2006 mengkritik argumen William Hasker tetang “A Unity-of-consciousness (UOC) against Materialism”. Dalam pembahasannya Warren Shrader sampai pada kesimpulan,”And, thus the materialist should not feel at all threatened by Hasker’s UOC argument.” Kesadaran adalah hasil paduan antara unsur-unsur apriori dengan aposteriori ; perpaduan antara pengenalan usur fisik dengan metafisik. Jelas bahwa materialisme mengakui kemungkinan metafisika .

Ada bukanlah suatu masalah. Masalah adalah suatu obyek di luar aku. Padahal, Ada bukanlah obyek di luar aku. Ada adalah suatu misteri . Aku berproses menjadi ada. Aku ada, tapi belum sempurna. Belum tidak berarti tiada. Belum berarti ada, tapi tidak sempurna. “Menjadi” adalah suatu proses menuju keadaan sempurna. Sedangkan Ada itu sempurna sebab Ada mengatasi dan mengadakan ada-ada yang lain. Ada yang sempurna itu adalah suatu misteri. Namun, Ada dapat dirasakan melalui ada-ada sebab ada-ada berada oleh karena Ada. Sedangkan ada-ada itu dalam adanya adalah materi.

4. Berada adalah Proses “Menjadi” Sesuai Hakikat Diri
Jika manusia adalah ada yang berada oleh karena Ada, bagaimana aku ini berada? Apakah adaku ini hanya sekadar ada begitu saja? Apakah aku tidak bisa berada sesuai dengan cara yang kukehendaki? Adaku adalah proses pencarian dan manifestasi hakikat diri. Hakikat diri adalah suatu kebenaran yang kemudian aku sadari dan aku pilih untuk kuhidupi dengan komitmen sebagai tindakan beradaku .
Bagaimana aku menyadari atau setidaknya mengetahui hakikat diriku? Dalam ketidaktahuan aku mengidentivikasi segalanya ke dalam diriku . Aku melakukan dan menikmati apa saja . Namun, dengan demikian beradaku adalah sekadar ada sebab hakikat diriku tidak tampak. Dalam perjalanan aku menemukan identivikasi yang beresonansi dengan hakikat diriku. Dengan demikian sedikit banyak aku mulai sadar atau setidaknya mengetahui hakikat diriku. Kemudian, aku harus mengambil sikap. Aku bisa memilih untuk tetap angin-anginan mencoba dan menikmati segalanya atau aku memilih satu identivikasi yang beresonansi dengan dan kupercayai adalah hakikat diriku . Dengan memilih aku mengarahkan proses beradaku. Beradaku memiliki tujuan.

Akan tetapi, apa arah dan tujuan beradaku? Arah dan tujuan beradaku adalah berada sesuai dengan kebenaran di dalam diri, hakikat diri. Melalui dan di dalam hakikat diri Ada menuntun bagaimana sebenarnya aku berada. Adaku yang selaras dengan hakikat diri adalah adaku yang selaras dengan tujuan Ada membuatku ada.

5. Ada adalah Cinta
Oleh karena Ada aku ada. Dan, aku memilih untuk berada sesuai dengan hakikat diriku. Aku memanifestasikan diri sesuai hakikat diriku berarti aku membebaskan hakikat diriku. Dengan membebaskan hakikat diri, secara leluasa dan merdeka aku bisa mencinta. Aku berada secara merdeka untuk secara leluasa mencinta, maka hakikat diri adalah cinta. Hakikat diri yang adalah cinta itu kumanifestasikan dengan cara yang kupilih dan yang kupercayai paling sesuai dengan sebenarnya aku ada seperti maksud Ada membuatku ada. Jadi, proses “menjadi”, proses “berada” adalah proses semakin sempurna dalam cinta.

Berada sesuai dengan hakikat diri berarti mencintai diri sendiri. Jika aku bisa mencintai diri sendiri, aku akan mampu mencintai orang lain. Mencintai diri sendiri tidak sama dengan egois . Jika aku mau dengan bebas mencintai, aku akan mau dengan bebas dicintai sebab orang lain pun mengalami proses yang sama seperti yang kualami. Di sini terjadi hubungan berada ich-du (subyek-subyek) yang adalah wir dan bukan ich-es (subyek-obyek). Hubungan berada ich-du terjalin jika ada cinta. Jika rasa cinta ditransformasikan menjadi rasa hormat, cinta itu akan semakin dalam menyatukan, tapi tidak meleburkan karena dalam peleburan ada unsur possesive yang adalah hubungan ich-es. Dan pula, hanya dengan pertemuan dan hubungan antarmanusia, seorang manusia dapat menembus sampai pada (citra) hakikat Ada .

Aku merasakan Ada lewat ada-ada yang lain dan yang kualami dengan ada-ada yang lain adalah cinta. Cinta itu hakikat diri. Hakikat diri adalah wahana Ada menuntun proses beradaku, wahana tempat aku pun bisa merasakan Ada; hakikat diriku adalah citra hakikat diri Ada. Namun, Ada sebenarnya jauh lebih dari pada apa yang mampu kita pikirkan. Yang mampu kita kenali hanyalah citra Ada yang Ada sudi tampakkan. Maka, Ada adalah Cinta. Dan, adaku (yang dengan bebas kusadari dan kupilih dengan konsekuensi) adalah proses menuju (kesempurnaan) cinta.

6. Kesimpulan
Manusia ada tidak secara kebetulan. Manusia ada oleh karena Ada sebab manusia adalah salah satu ada yang berada oleh karena Ada. Namun, manusia bebas dalam berada. Manusia dapat seakan-akan ada dengan berada tanpa tujuan. Akan tetapi, manusia mampu memilih untuk berada sesuai dengan hakikat dirinya, bagaimana manusia berada secara sebenarnya sesuai dengan maksud Ada. Dengan berada sesuai hakikat diri, manusia dapat dengan bebas mengalami cinta (mencinta dan dicinta). Proses “berada” ini, proses “menjadi” ini, tidak lain adalah proses menuju ke kesempurnaan cinta.

7. Apendix - Antara Eksistensi dengan Esensi
Katakanlah, sebagai contoh, aku adalah dokter. Bukan berarti aku harus menjadi dokter. David Hume mengatakan bahwa tidak ada ‘adalah’ yang memiliki arti ‘harus’. Eksistensiku memang dokter, tapi apa esensiku dokter? Jika eksistensi dokter itu tanpa esensi dokter, bukankah itu sama saja dengan apa yang dikatakan Carl Gustav Jung tentang persona/topeng?

Lalu, bagaimana bereksistensi secara orisinal? Pertama aku harus mengenali esensiku. Seperti kata Plato, “Kita mengenang/mengingat kembali idea kita.” Atau, dengan bahasa Aristoteles, esensi adalah potentia sedangkan eksistensi adalah actus. Eksistensi adalah bagaimana ‘mengalirkan’ esensi.
Apakah hal ini tidak bertentangan dengan credo para eksistensialis yang diproklamasikan oleh Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi? Tidak! Dari cara kita bereksistensilah orang mengetahui esensi kita. Orang melihat eksistensi dulu sebelum esensi.

Maka, jika aku bereksistensi tanpa esensi, aku telah membohongi orang lain, terlebih aku membohongi diriku sendiri, bahkan aku menghina TUHAN yang telah ‘menanam’ esensiku (yang orisinal) dalam kedirianku, meski TUHAN menghormati kebebasan manusia. Sebab, jika esensi adalah potentia dan eksistensi adalah actus, eksistensi yang tanpa esensi adalah eksistensi yang rapuh dan tak berdasar.



8. Bibliografi
Atkinson, R. L. - R. C. Atkinson - E. R. Hilgard,
1991 Pengantar Psikologi Edisi Kedelapan, I, Erlangga, Jakarta.

Bertens, K.,
1976 Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius, Yogyakarta.
1985 Filsafat Barat Abad XX, II, Prancis, Gramedia, Jakarta.
1987 Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Yogyakarta.

Compleston, F.,
1972 Contemporary Philosophy, Search Press, London.

Delfgaauw, B.,
1988 Filsafat Abad 20, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta.

Gallagher, K. T.,
1986 The Philosophy of Knowledge, Fordham University Press, New York.

Gardiner, P.,
1988 Past Masters: Kierkegaard, Oxford University Press, New York.

Hamersma, H.,
1983 Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Gramedia, Jakarta.

Leahy, L.,
2007 Siapakah Manusia?, Kanisius, Yogyakarta.

Lemay, E. - J. A. Pitts,
2005 Heidegger untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta.

Shrader, W.,
2006 The Unity of Consciousness: Trouble for The Materialist or Emergent Dualist?, Faith and Philosophy vol. 23 no. 1 January 2006, 33 - 44.

No comments:

Post a Comment