Wednesday, September 8, 2010

Merefleksikan Kembali Pancasila, Sila Kedua

Sebuah Kado untuk Indonesia Tercinta

Kemarin saya telah merefleksikan kembali Pancasila, Sila Pertama. Saya berjanji untuk melanjutkan refleksi saya atas sila-sila yang lain. Pada kesempatan kali ini, saya akan melanjutkan untuk merefleksikan Sila Kedua.

2. Kemanusiaan (Humanisme)
Sebagaimana saya ungkapkan dahulu bahwa sejak masa humanisme-renaissance pola pikir teosentris telah digeser menjadi antroposentris, dewasa ini tidak sedikit orang yang memulai dengan berpikir tentang manusia untuk sampai kepada renungan akan Yang Ilahi. Nilai-nilai yang diimani diatur oleh Tuhan kini menjadi nilai-nilai manusiawi yang senantiasa diperjuangkan.

Namun, manusia terkadang hanya dipandang sebagai sekelompok manusia. Hal ini mereduksi kemanusiaan. Seorang manusia tidak lagi dipandang sebagai individu yang mempribadi (sebagai subyek yang mengerti, menghendaki, bertindak) tetapi digeneralisasi menjadi massa/masyarakat. Dengan demikian kita tidak memandang seorang manusia sebagai manusia yang memiliki dinamika pemanifestasian kemanusiaannya dengan segala sejarah hidup dan cita-cita serta proyek hidupnya. Peristiwa holocaust dan genosida, pristiwa yang sangat memilukan dan hampir-hampir tidak masuk akal, adalah buah dari sisi terekstrim atas cara pandang ini. Kebencian dan keberangan kita, bangsa Indonesia, akan Malaysia pun karena generalisasi ini. Dengan peristiwa Sipadan-Ligitan, Blok Ambalat, kasus-kasus sado-masokisme atas para TKI dan TKW yang berada di Malaysia, peristiwa Kepulauan Riau, kita tidak memandang individu (yang adalah warga negara Malaysia) yang melakukan itu, melainkan menggeneralisasi Malaysia (seluruh penduduk Malaysia) yang melakukan itu, tanpa sedikit pun menyadari bahwa (mungkin) masih ada individu-individu yang berkewarganegaraan Malaysia memiliki kehendak untuk mencintai dan menghormati kemanusiaan sesama manusia walau berbeda negara, ras, dan kebudayaan.

Ketika aku hanya dipandang sebagai bagian dari sekelompok manusia, tanggung jawabku sebagai individu dapat kusembunyikan, bahkan kuingkari. Salah satu dalih yang biasa dipakai adalah “ini perintah dari atasan”. Aku terlarut dalam apa yang dinamakan “individu massa”. Namun, ketika aku dipandang sebagai seorang individu mandiri yang mempribadi, ketika aku dipandang sebagai subyek yang otonom dalam kebebasanku, aku dapat dengan ksatria mempertanggungjawabkan segala keputusan yang aku ambil, bahkan jikapun keputusan itu kuambil oleh karena perintah atasan (sebab sebenarnya aku bisa menolak keputusan itu). Dengan demikian aku mengafirmasi eksistensiku.

Aku bereksistensi. Yang membedakanku, manusia, dengan makhluk lainnya adalah aku tidak sekadar ada, tetapi aku mengada secara sadar. Manusia adalah subyek yang berarti manusia hadir secara sadar, dengan berpikir, dengan berefleksi, dengan mengambil jarak, secara kritis, dengan bebas. Dalam proses perkembanganku aku semakin menyadari kesejatian diriku, lalu belajar memilih suatu keputusan dan bertanggung jawab dengan segala konsekuensi atas keputusan itu, bahkan jikapun keputusan itu adalah sebuah kesalahan. Jikapun keputusan itu adalah sebuah kesalahan, aku tetap dapat mempertanggungjawabkannya. Menurut Sartre manusia bukan etre-en-soi (ada pada dirinya), melainkan etre-pour-soi (ada bagi dirinya sendiri). Manusia adalah makhluk dinamis yang selalu mengada dan senantiasa berproses. Manusia menjadi etre-en-soi ketika dia berhenti berproses, mati. Kematian adalah kristalisasi kehidupan.

Manusia tidak dapat berdiri sendiri. Dia membutuh sesama untuk mengafirmasi diri. Aku semakin menjadi aku berkat kamu. Aku adalah aku sejauh ada kamu. Kehadiranmu dapat mengafirmasi maupun menegasi kehadiranku. Dan, itu membuatku semakin menyadari keberadaanku dan memberiku gambaran diri. Menyadari hal ini, maka hendaknya kita tidak menggeneralisasi pribadi-pribadi menjadi segerombolan manusia. Kita sebisa mungkin memandang masing-masing individu.

Apakah dengan memandang masing-masing pribadi kita telah kehilangan sebuah standar universal? Apakah dengan memandang masing-masing pribadi yang tentu saja berarti memandang pluralitas kita kehilangan pandangan universal tentang kamanusiaan sehingga kita merelativisasi segala sesuatu? Tidak! Memang dengan memandang masing-masing pribadi kita mencoba membebaskan diri dari kungkungan hegemoni ideologi (weltanschaung yang digunakan oleh penguasa dan pemodal justru untuk menindas kemanusiaan) apapun. Namun, bukan berarti kemudian kebenaran itu menjadi sesuatu yang dapat direlativisasi. Mencuri, membunuh, memperkosa adalah tindakan tidak bermoral. Apakah dapat direlativisasi? Holocaust dan genosida rezim Nazi apakah dapat direlativisasi? Penahanan-penahanan bahkan eksekusi-eksekusi tanpa peradilan semasa rezim Orde Baru apakah dapat direlativisasi? Para jugun ianfu apakah dapat menerima jika pengalaman pahit mereka direlativisasi? Sangat absurd jika “ya”. Justru dengan memandang masing-masing pribadi kita menjunjung tinggi kemanusiaan. Kita bersama-sama dapat saling memanifestasikan kemanusiaan. Kita dapat saling menghormati keputusan masing-masing, kita dapat saling menghargai kedaulatan masing-masing, dan kita dapat berdialog dengan sehat. Kita dapat hidup berdampingan (ada bersama) dengan tetap menjadi diri sendiri tanpa harus meniadakan liyan. Hal ini selaras dengan keadaan de facto masyarakat Indonesia yang begitu beragam dan begitu plural.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah pola pikir antroposentris ini, apakah penghargaan terhadap kemanusiaan (humanisme) ini bertentangan dengan Ketuhanan dan merupakan anak dari atheisme? Tidak! Penghargaan terhadap kemanusiaan hanya mungkin ada karena pengalaman manusia akan Ketuhanan. Pengalaman Ketuhanan membuat manusia menyadari keberadaannya bersama makhluk-makhluk lain. Kemudian dalam keberadaan bersama makhluk-makhluk lain itu manusia menyadari bahwa dia berbeda dengan mereka. Dengan segenap rasio, emosi, raga, dan hatinya manusia dipanggil dalam dialog dengan Tuhan . Maka, manusia berusaha memanifestasikan kemanusiaannya sebagai afirmasi atas pengalaman itu. Dia akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, bertanggung jawab atas eksistensi manusia-manusia yang lain, dan bertanggung jawab atas keutuhan serta keselarasan ciptaan yang lain. Hal ini kemudian dipandang sebagai nilai-nilai universal (kedamaian, keadilan, cinta-kasih, dll.) yang oleh orang beriman diimani mengalir dari Tuhan.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang mengaku atheis? Keputusan menjadi atheis (atau agnostik) adalah keputusan bebas individu yang juga berangkat dari pengalaman Ketuhanan. Keputusannya menjadi atheis tidak menegasi kepercayaan pribadi-pribadi lain akan Yang Transenden. Sebagai pribadi yang bebas dan otonom, mereka berhak menjadi atheis. Namun, mereka sama sekali tidak berhak memaksakan weltanschaung mereka bahkan berusaha menghilangkan sila I Pancasila. Dengan demikian, mereka justru tidak menghormati kemanusiaan, malah tidak realistis memandang Indonesia .

*bersambung...



Bibliografi
Franz Magnis-Suseno, MENALAR TUHAN, Yogyakarta: Kanisius, 2006

Franz Magnis-Suseno, PIJAR-PIJAR FILSAFAT, Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan – dari Adam Muller ke Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 2008

K. Bertens, FILSAFAT BARAT KONTEMPORER PERANCIS, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006

No comments:

Post a Comment