Friday, September 30, 2011

Akhir dari Kemanusiaan Srintil

(Sebuah “Happy Ending yang Sedih” dari Ronggeng Dukuh Paruk)

Ronggeng Dukuh Paruk – Jentera Bianglala (Buku III) merupakan puncak sekaligus akhir dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Buku III ini hanya meyakinkan kita bahwa Ahmad Tohari memang mahir dalam mengaduk-aduk emosi pembacanya. Dari ketiga buku, Jentera Bianglala adalah yang paling lugas dan yang paling menguras emosi. Saya sendiri membutuhkan 7 jam lebih untuk menyelesaikannya, diselingi istirahat sejenak untuk menata kembali emosi yang berhasil diaduk-aduk Ahmad Tohari. Lebih dari kedua buku sebelumnya, di dalam Buku III Ahmad Tohari berhasil menyeret secara penuh kesadaran pembaca, mungkin karena pembaca telah terlebih dulu diperkenalkan dengan pergulatan hidup Rasus pada Buku I dan perjuangan keperempuanan Srintil pada Buku II atau karena Ahmad Tohari mampu menggelar segala peristiwanya sehingga seakan-akan kisah itu memang merupakan suatu Biografi Srintil. Pembaca dibuat begitu gemas menyaksikan (dalam imajinasinya) pertemuan dan perpisahan kembali Srintil dan Rasus, seakan-akan tidak rela Ahmad Tohari membiarkan mereka berpisah kembali. Sebuah happy ending mungkin segera menjadi harapan pembaca.

Saya sendiri pernah membaca Buku III ini ketika masih dalam versi trilogi bersambung. Membaca Buku III di dalam versi satu novel utuh ini seakan-akan menjadi sesuatu yang baru, walau saya mengetahui akhir dari kisah Srintil-Rasus, karena ternyata ada banyak sekali bagian yang disensor dan tidak lolos cetak pada versi trilogi. Tidak seperti pada Buku I dan II, saya tidak mampu mengingat banyak hal di dalam Buku III, mungkin karena memang itu adalah bagian yang benar-benar baru saya baca. Bagian yang tersensor itu bukan mengenai hal-hal erotis atau cabul, melainkan mengenai kondisi politik dan narapidana politik yang diceritakan dengan gamblang pada versi novel utuh.

Di dalam Buku III inilah kata “komunis” dan “PKI”, yang pada dua buku sebelumnya hanya ditampilkan simbol kehadirannya, dinyatakan dengan lugas. Kata “komunis” benar-benar hadir tanpa bunga-bunga kata untuk pertama kali pada halaman 253, sedangkan “PKI” hadir untuk pertama kali dengan lugas pada halaman 383. Bahkan, “PKI” menjadi makian yang paling kejam, lebih kejam dari pada makian “asu buntung”, “bajingan”, atau makian lainnya. “PKI” menjadi tudingan yang paling mematikan dan menakutkan. Buku III ini pasti akan mengorek luka lama orang yang memiliki pengalaman eksistensial pada tahun 1965. Mereka akan segera eling akan apa yang terjadi pada waktu itu.


Pada halaman 253 itu kita diberi keterangan apa atau siapa itu “komunis”, adalah “... semua sistem yang telah menyebabkan jendral-jendral mati terbunuh.” Pada halaman 260 kita diberi keterangan lebih lanjut bahwa “... orang-orang komunis demi anu enak saja menghapus hak hidup banyak manusia biasa dengan cara yang paling hewani.” Dan, sebuah keterangan singkat punahnya orang-orang komunis di negeri ini, bahwa “... orang-orang biasa melenyapkan orang-orang komunis, juga demi anu, dengan cara yang sama.” Orang-orang sekarang tentu akan mengkritisi pandangan ini. Jika benar ini keyakinan Ahmad Tohari mengenai apa yang terjadi pada tahun 1965 dan sesudahnya, orang-orang sekarang akan meyakini bahwa konspirasi politik zaman itu telah berhasil membuat Soekarno yang pada saat itu kekiri-kirian kalah telak dan berhasil membuat orang-orang (yang dituduh) PKI menjadi kambing hitam perebutan kekuasaan. Apakah Ahmad Tohari adalah satu dari sekian bangsa Indonesia yang mengamini bahwa PKI adalah dalang kerusuhan 1965 itu seperti yang dikehendaki konspirasi politik atau dia hanya mewakili pandangan umum zamannya? Yang jelas di dalam Buku III itu dia berhasil menggambarkan keadaan masyarakat zaman itu yang begitu ketakutan atau benci setengah mati dengan momok PKI dan cap tuduhan anggota PKI. Pada saat saya masih kecil (1988-1995) saya masih mendengar orang memaki dengan “PKI”. Makian inilah yang pada akhirnya nanti meruntuhkan kemanusiaan Srintil dan memiringkan kewarasannya. Ahmad Tohari pun menggambarkan kekaburan sejarah pada zaman itu dengan tidak menjabarkan apa itu alasan “anu” pada halaman 260, meskipun saya yakin dia paham apa itu ideologi komunis, setidaknya pada Buku II dia sempat menceritakan aksi propaganda orang-orang komunis itu yang menyerukan gerakan antikapitalisme dan antiliberalisme.

Di dalam setting waktu dan suasana yang demikian itulah Ahmad Tohari kembali mempertemukan Srintil dengan Rasus. Srintil menjadi wakil tertuduh PKI, wakil sisa-sisa pemuja kepercayaan tradisional, dan wakil pribadi perempuan yang remuk redam. Sedangkan Rasus menjadi wakil tentara dan kekuasaan, wakil orang-orang yang setelah tahun 1965 berbondong-bondong memeluk satu dari lima agama yang diakui resmi pemerintah pada waktu itu, dan wakil pribadi yang telah berhasil merengkuh kelelakiannya. Rasus adalah orang pertama di Dukuh Paruk yang memeluk Islam. “La ilaha illallah” adalah kalimat samawi pertama yang baru sekali itu diperdengarkan di Dukuh Paruk oleh seorang anak Dukuh Paruk, Rasus (halaman 256). Bahkan pada halaman 351 Ahamad Tohari menggelar adegan Rasus sembahyang dengan terlebih dahulu menggelar kain sarung di atas tanah. Meskipun Ahamad Tohari tidak menyebutnya secara lugas, pembaca dapat membayangkan sebuah adegan Rasus shalat.

Pertemuan dan perpisahan kembali Srintil dan Rasus yang disuguhkan Ahmad Tohari mampu membuat gemas pembaca. Mungkin pembaca dibiarkan berharap bahwa kisah ini akan berakhir dengan happy ending. Namun, dengan kemahirannya mendongeng Ahmad Tohari memainkan emosi pembaca. Emosi pembaca dikuras habis, ditinggikan, kemudian dibanting. Pembaca dibuat sedemikian dekat dengan pergulatan Srintil. Dan, permainan emosi itu diakhiri dengan suatu ironi. Secara bergurau anak-anak teater seperti saya mengatakan bahwa happy ending-nya sedih. Rasus memang akhirnya dipertemukan dengan Srintil. Rasus memang pada akhirnya memutuskan untuk menetap kembali di Dukuh Paruk dan mengambil istri Srintil. Akan tetapi, itu semua terjadi setelah Srintil kehilangan kewarasannya, setelah Srintil kehilangan totalitas kemanusiaannya.

No comments:

Post a Comment