Thursday, September 29, 2011

Apakah Perempuan adalah Ketiadaan Lelaki?

(Menyelami Arti Keperempuanan Sang Ronggeng Srintil)

Ronggeng Dukuh Paruk – Lintang Kemukus Dini Hari (Buku II) menawarkan hal yang sedikit berbeda dari buku I. Jika di dalam hampir keempat bab buku I Ahmad Tohari menceritakan perihal perempuan dan ronggeng dari sudut pandang orang pertama dengan memakai sudut pandang kelelakian Rasus, di dalam lima bab buku II ini Ahmad Tohari memakai sudut pandang orang ketiga, pencerita yang tahu segalanya. Tiada cerita mengenai pergulatan kelelakian dan kepribadian Rasus di sana, bahkan sosok Rasus sama sekali tidak hadir terkecuali di dalam kenangan dan dendam Srintil. Yang ada di buku II itu adalah perjumpaan yang sangat intim dengan pribadi dan keperempuanan Srintil sebagai ronggeng maupun sebagai perempuan pada umumnya.

Sebagai selayaknya perempuan pada umumnya Srintil bisa dan berhak jatuh hati. Lelaki yang dicintainya ini tak lain adalah lelaki yang padanya Srintil serahkan keperawanannya, tak lain adalah lelaki teman masa kecilnya, Rasus. Dengannya Srintil rela bercinta tanpa memungut imbalan harta. Namun, Rasus justru pergi meninggalkannya dengan cara yang paling pahit. Lelaki yang dicintainya itu pergi tanpa pamit pada pagi setelah mereka dapat hidup selayaknya suami-istri. Lelaki itu pergi meninggalkan kehampaan yang luar biasa pada diri perempuan Srintil. Rasus tidak seperti lelaki yang Srintil kenal. Rasus bukan lelaki lembu jantan atau bajul buntung yang merasa jaya setelah berhasil mendapatkan Srintil bagai macan menerkam menjangan (Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, Jakarta: Gramedia, 2011, 141). Rasus juga bukan pula lelaki jenis munyuk lemah yang mulutnya bocor menjelek-jelekkan istrinya sendiri dan merengek hampir mengemis belas kasihan dan simpati Srintil (AT, 142). Rasus adalah laki-laki yang kepribadiannya menggaris tegas dan meninggalkan kesan begitu mendalam di dalam batin Srintil.


Ketiadaan lelaki yang dicintainya itu membawa Srintil di dalam pergulatan batin yang dalam tentang makna keperempuanannya, tentang makna dirinya. Beban hidupnya terkurangi oleh kehadiran Goder, bayi Tampi, yang diangkat Srintil menjadi anaknya. Kerinduannya sebagai perempuan untuk menjadi ibu tersalurkan walau Goder bukan buah rahimnya sendiri. Di dalam pergulatan batin yang mendalam itu Srintil menanyakan sebuah pertanyaan eksistensial: siapakah dirinya itu dan siapakah yang mengatur dirinya itu (AT, 146). Selama ini Srintil hanya menurut pada Nyai Kertareja untuk meronggeng atau untuk melayani lelaki manapun, lalu menerima uang atau perhiasan. Namun, pada titik tergetir di dalam hidupnya dia memperoleh martabatnya sebagai pribadi dan berani memilih. Dia berani memutuskan akan naik pentas atau tidak, tidak peduli dengan bujuk rayu Nyai Kertareja. Bahkan, dia berani menolak pelesir dua-tiga hari bersama Marsusi dengan imbalan seratus gram kalung emas dengan bandul berlian (AT, 146-152).

Martabat pribadi keperempuanannya yang utuh itu menambah pesona sekaligus wibawa Srintil. Di dalam tarian ronggengnya lelakilah yang justru dipermainkan oleh perempuan, bukan sebaliknya seperti di dalam hidup sehari-hari (AT, 212-213). Akan tetapi, wibawa dan pesona perempuan yang dimiliki Srintil itu tiba-tiba tak berarti apa-apa di dalam pertemuannya dengan Waras. Waras adalah anak lelaki Sentika, juragan pemilik perkebunan singkong di Alaswangkal. Srintil diminta menjadi gowok bagi Waras. Srintil diminta oleh Sentika untuk membantu Waras menemukan kelelakiannya. Namun, Waras memiliki keterbelakangan mental yang membuatnya tidak dapat menjadi lelaki seutuhnya. Srintil sebagai perempuan merasa gagal, dia tidak mampu membantu Waras merengkuh kelelakiannya, terutama di dalam urusan ranjang (AT, 225). “Saru dan ora ilok,” kata Waras (AT, 223). Srintil adalah perempuan sepenuh-penuhnya dan sebagai perempuan dia merasa amat dirugikan ketika menghadapi ketiadaan lelaki (AT, 223) entah itu ketidakmampuan Waras merengkuh kelelakiannya ataupun ketidakhadiran lelaki yang dicintainya, Rasus.

Meskipun Srintil adalah ronggeng yang tenar, dia tetaplah warga Dukuh Paruk yang lugu. Tanpa disadarinya dia terlibat di dalam pergolakan politik pada tahun 1965. Dia terlibat di dalam agitasi dan propaganda politik sebuah partai. Karier kesenimanannya, kalau boleh disebut demikian, ditunggangi oleh kepentingan politik. Kesenian Ronggeng yang lugu dan tidak memiliki tendensi apa-apa kecuali kesenangan semalam dan birahi itu tanpa dimengerti oleh Srintil dan rombongan ronggengnya diberi cap kesenian rakyat (AT, 190), bahkan Srintil sendiri dijuluki “ronggeng rakyat” (AT, 232). Keterlibatannya di dalam pergerakan politik partai itu, walaupun tanpa disadarinya, melarutkan Srintil dan segenap warga Dukuh Paruk di dalam geger besar 1965 yang menjadi luka batin berselimutkan tabir gelap bagi Bangsa Indonesia. Kemanusiaan sama sekali diinjak-injak di dalam pergolakan politik itu. Keperempuanan Srintil kembali kelu di bawah gelombang politik dan dinginnya penjara.

No comments:

Post a Comment