Tuesday, November 22, 2011

Meneropong Adat Bancakan Ganti Nama dalam Masyarakat Jawa

Meneropong Adat Bancakan Ganti Nama dalam Masyarakat Jawa

Latar Belakang Masyarakat Jawa Surakarta-Yogyakarta
Masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Surakarta dan Yogyakarta memiliki upacara adat sederhana yang bernama bancakan. Yang penulis maksud dengan masyarakat Jawa Surakarta dan Yogyakarta adalah masyarakat Jawa yang kiblat kebudayaan dan adat-istiadatnya mengacu pada dua pusat kebudayaan Jawa yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Selain dua pusat kebudayaan itu, masyarakat Jawa masih memiliki kiblat kebudayaan yang lain, misalnya Banyumasan, masyarakat Jawa pesisir utara, dan Jawa Timuran. Masyarakat Jawa Surakarta dan Yogyakarta ini memiliki bentuk kebudayaan yang lain dari pada masyarakat Jawa Banyumasan, pesisir utara, atau Jawa Timuran, walau perbedaan itu mungkin tidak begitu mencolok. Kiblat utama adat dan kebudayaan masyarakat Jawa Surakarta dan Yogyakarta terletak pada bekas kekuasaan politis Mataram Islam, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran. Memang di dalam masyarakat Jawa ini corak Islam masih kental, akan tetapi coraknya tidak sekuat masyarakat Jawa pesisir utara. Corak Islam pada masyarakat Jawa ini masih bercampur dengan ritual-ritual Hindhu. Masih ada sesaji berupa bunga di perempatan-perempatan. Masih ada doa-doa dengan dupa. Dan, masih banyak upacara-upacara adat yang sama sekali tidak akan ditemukan di dalam masyarakat dengan kultur Islam Timur Tengah. Salah satu upacara itu adalah Bancakan. Bancakan yang terdiri dari nasi tumpeng itu sebenarnya dipakai di dalam berbagai upacara atau syukuran seperti misalnya ulang tahun atau wetonan. Bancakan juga biasanya dipakai di dalam upacara ganti nama.

Harmoni dan Disharmoni Masyarakat Jawa Surakarta-Yogyakarta
Bagi masyarakat Jawa Surakarta-Yogyakarta nama minangka japa (nama adalah doa). Mereka tidak akan sembarangan memberi nama pada anak mereka. Nama yang diberikan itu dengan maksud agar si anak kelak dapat memiliki sifat yang sama dengan nama yang disandangnya, dan yang terutama dapat sehat bagas waras. Hal yang paling ideal bagi masyarakat Jawa adalah memiliki garwa, putra, griya, turangga, kukila (pasangan hidup, keturunan, tempat tinggal, sarana transportasi, dan peliharaan). Maka, tidak heran jika ada seorang Jawa yang telah cukup dewasa diminta untuk segera menikah, kecuali bahwa dia benar-benar menyatakan diri untuk hidup wadhat (tidak menikah seumur hidup). Jika ada orang Jawa yang telah cukup usia tidak segera menikah, orang-orang akan bertanya-tanya mengapa.

Hal yang paling dihindari dari masyarakat Jawa adalah sakit dan mati tidak wajar. Itulah yang dinamakan sengkala. Jika penyakit itu wajar, maka mereka akan memberikan berbagai ramuan jamu tradisional untuk menyembuhkan. Akan tetapi, jika penyakit atau bencana itu tidak wajar, masyarakat Jawa harus mengadakan ruwatan. Ruwatan yang paling mahal adalah pertunjukan wayang kulit semalam suntuk atau menyembelih kerbau. Sedangkan yang paling sederhana adalah bancakan. Menurut kepercayaan orang Jawa, anak yang sakit-sakitan itu salah satunya karena “kabotan jeneng” (tidak kuat menyangga namanya). Maka, dia harus dibancaki dan diganti namanya supaya sehat jiwa-raganya dan yang paling penting slamet, uripe lestari, rahayu, widodo, basuki.

Sebuah Kisah Nyata
Salah satu kasus nyata adalah kisah Yusup Sandiyanto (beragama Islam dari ayah Islam dan ibu Katolik). Pada 18 Agustus 1989 lahir seorang anak laki-laki dan diberi nama Yusup Sandiyanto. Setelah menginjak masa anak-anak, anak ini melulu sakit dan tidak pernah sembuh meskipun sudah dibawa kepada dokter. Setelah orang tua anak ini putus asa, dia dibawa ke orang pintar (dukun). Dukun itu menyarankan agar Yusup Sandiyanto diganti namanya. Orang tuanya mengganti namanya menjadi Widodo (artinya: selamat) dengan sebuah upacara bancakan dan bahkan ditambahi upacara dibuang di kebon suwung (kebun kosong) untuk ditemukan oleh orang lain. Hingga kini menginjak usia 22 tahun dia lebih dikenal orang dengan nama Dodo (dari kata Widodo) dari pada nama Yusup Sandiyanto.

Ubarampe bancakan itu antara lain: jenang abang lan putih (bubur merah dan putih), sega gudhangan (nasi gudangan) yang terdiri dari:
• kacang lanjaran (kacang panjang)
• thokolan (toge/kecambah)
• godhong mbayung (daun lembayung)
• godhong kenikir (daun kenikir)
• bumbu sambel urap/krambil (bumbu sambal urap/parutan kelapa)
• ndhog pitik dirajangi cilik-cilik (telur ayam yang dibagi kecil-kecil)
Dan juga jajanan pasar yang terdiri dari:
• gedhang (pisang)
• timun (mentimun)
• besusu (bengkoang)
• kacang godhog (kacang rebus)
• tape pohung (tape ubi)
• kenthang ireng (kentang hitam)

Sega gudhangan (bancakan) tadi ditaruh di atas pincuk (daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai piring atau mangkuk). Kacang panjangnya tidak dipotongi, tetapi dibiarkan nlolor dawa (menjuntai panjang) yang menyimbolkan suatu permohonan agar anak yang dibancaki umure dawa (panjang umur).

Sebagian bancakan itu disajikan kepada danyang di tempat-tempat keramat. Orang tua anak yang sakit itu mengumpulkan anak-anak di kampungnya. Mereka berkumpul mengelilingi nasi bancaan. Lalu, terjadi dialog antara orang tua anak yang sakit itu dengan anak-anak itu. Dialog ini menjadi semacam mantra/doa.

Orang tua: Kowe kabeh daktimbali mrene saprelu nyekseni anggonku menehi tenger anakku. (Kamu semua aku panggil kemari untuk menjadi saksi aku menamai anakku.)
Anak-anak: Nggih. (Ya.)
Orang tua: Yen awan jaken dolan. Yen bengi jaken turu. (Kalau siang ajaklah bermain. Kalau malam ajaklah tidur.)
Anak-anak: Nggih.
Orang tua: Tangise guwaken kali. Kari seger kuwarasane. (Tangisnya buanglah sungai. Biar sehatlah dia.)
Anak-anak: Nggih.
Bancakan (nasi gudangan) itu kemudian dibagikan kepada anak-anak yang hadir dan dimakan di rumah masing-masing.

Status Questionis
Entah mengapa, setelah dibancaki dan diganti nama menjadi Widodo, Yusup Sandiyanto dapat hidup sehat hingga sekarang ini. Namun, saya pribadi mengajukan sebuah pertanyaan mengapa tidak ada doa yang tertuju atau dimohonkan langsung kepada Tuhan? Bukankah orang Jawa mengenal Tuhan yang mahaesa entah dengan nama Allah swt (kalau dia Islam), Tuhan Allah (kalau dia Kristiani), atau Sang Hyang Tunggal (kalau dia Hindhu atau Kejawen)? Apakah orang Jawa itu masih animis-dinamis? Mengapa harus memberikan sebagian bancakan kepada danyang? Jika nama adalah doa, dan dengan diberi nama “Widodo” berarti berdoa supaya selamat (widodo artinya selamat), kepada siapakah doa itu ditujukan? Siapakah yang mengabulkan doa menyembuhkan Yusup Sandiyanto, Tuhan ataukah danyang?

Ritual Menurut Perspektif Victor Turner
Ritual menurut Victor Turner merupakan “symbolic action”. Turner mengatakan bahwa ritual adalah “prescribed formal behavior for occasions not given over to technological routine, having reference to beliefs in mystical beings and powers” (Turner, 1967:19). Kenyataan bahwa Yusup Sandiyanto sakit dan tidak kunjung sembuh setelah di bawa kepada banyak dokter menunjukkan bahwa sakitnya ini di luar penyebab yang natural. Bisa jadi nama yang dia sandang ini merupakan nama dari tokoh mistikal legendaris (seperti di dalam kasus anak yang dinamai “Dewi Lantamsari”; Dewi Lantamsari adalah anak buah Nyai Rara Kidul) atau dia memang tidak cocok menyandang nama ini karena “tidak kuat” menyangga doa/harapan yang ada di dalam nama itu. Orang tuanya berkesimpulan agar anak ini sembuh perlu diadakan upacara bancakan. Nama Yusup Sandiyanto diganti menjadi Widodo (artinya “selamat”) sebagai doa/permohonan agar anak ini selamat dan sehat. Doa ini tentu dipanjatkan kepada sesuatu yang melampaui manusia/ilahi.

Turner menjelaskan lebih lanjut bahwa “symbols can be objects, activities, words, relationships, events, gestures, or spatial units” (Turner 1967:19). Orang-orang Jawa, apapun agamanya, percaya bahwa manusia adalah saderma titah (hanya ciptaan). Manusia diciptakan oleh Yang Ilahi. Manusia tidak diciptakan sendiri, tetapi bersama dengan manusia lain untuk menciptakan harmoni di dunia. Manusia tidak diciptakan tanpa jati diri, oleh sebab itu manusia diberi nama sebagai doa, permohonan, harapan, atau rasa syukur atas hidup. Penggantian nama Yusup Sandiyanto menjadi Widodo ini adalah simbol sebuah permohonan dan harapan agar Tuhan berkenan memberikan kesehatan dan keselamatan terhadap anak itu. Peristiwa bancaan di mana anak-anak diundang dan diajak berdialog adalah simbol kebersamaan di dalam hidup. Dialog antara orang tua si anak dengan para anak yang diundang itu menggambarkan bahwa setelah sehat, Widodo akan hidup, tumbuh, dan bermain bersama anak-anak sebayanya. Dialog itu sendiri merupakan wujud harapan, sebuah doa. Sedangkan nasi tumbeng dengan segala uba rampe-nya memiliki simbolnya masing-masing yang dapat dirangkum di dalam suatu bentuk permohonan agar Yusup Sandiyanto (Widodo) dapat sehat dan hidup hingga dewasa.

Memang menurut analisa dengan perspektif Victor Turner kita dapat melihat bahwa ritual sederhana itu merupakan tindakan simbolik untuk memohon kepada Tuhan walau tanpa ada eksplisit kata Tuhan atau Gusti yang diucapkan. Akan tetapi, sejauh ini analisa dengan perspektif Victor Turner tersebut belum mampu menjawab apa peran danyang yang pada ritual bancakan juga diberi nasi bancakan tersebut. Apakah sebenarnya bukan kepada Tuhan, melainkan justru kepada danyang itulah doa dan permohonan itu dipanjatkan? Apakah Tuhan terlalu jauh di dalam pandangan Orang Jawa?

Analisa Ritual Bancakan Menurut Pandangan Islam
Islam yang hadir pertama kali di Tanah Jawa ini bukan merupakan Islam puritan yang berasal dari Timur Tengah, melainkan Islam yang telah bertemu dengan Hindu dari Gujarat, India. Itulah sebabnya mengapa Islam bisa menyebar cepat kepada orang-orang Jawa yang waktu itu mayoritas beragama Hindu-Buddha. Politik Islam yang pertama kali berkuasa di Tanah Jawa ini adalah Islam Demak. Demak merupakan daerah pesisir pantai utara Jawa. Oleh karena posisinya, hubungan dengan agama Islam puritan yang berasal dari Timur Tengah menjadi sangat mungkin. Akan tetapi, Islam sinkretis yang masih bercorak Hindu dan Islam Syekh Siti Jenar (sufisme) tetap tumbuh subur di pedalaman Jawa (Merapi, Merbabu, Lawu, daerah sekitar Surakarta-Yogyakarta). Bahkan, perkembangan Islam sinkretis itu melahirkan apa yang sekarang dikenal sebagai Kejawen.

Tidak mungkin kita meneropong ritual bancakan dengan sudut pandang Islam puritan karena jawabannya sudah jelas: syirk atau bahkan kafir! Karena, pada umumnya Islam menekankan tawhid. Apa lagi, penulis pernah membaca sebuah artikel dari seorang penulis Islam yang secara terang-terangan menolak inklusifisme dan pluralisme (Islam Inklusif; Skeptisitas atas Doktrin Agama oleh Wahyudi Abdurrahim), apa lagi jika dihadapkan dengan sinkretisme semacam ini. Namun, di dalam artikel lain mengenai Islam dan pluralisme (Islam dan Pluralisme Agama oleh Abdul Karim Lubis), penulis menemukan sebuah pandangan yang positif sebagai berikut,
Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi aspek-aspek kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan.” Maka, yang paling mungkin adalah meneropong fenomena bancakan dari sudut pandang Islam yang pertama kali datang ke Tanah Jawa ini.

Islam sendiri sangat beraneka warna. Denominasinya bisa jadi tidak sangat rigid. Mungkin sekali Islam yang pertama kali datang ke Tanah Jawa ini adalah Islam yang bercorak Syiah. Dengan demikian, penulis tidak bermaksud mengatakan bahwa Islam yang datang adalah Islam Syiah. Di dalam Islam Syiah jarak antara Allah dan manusia terjembatani oleh imam-imam yang memiliki sifat ilahi dan karena itu bersifat ma’sum (infalible/tak dapat salah). Seorang muslim dapat berdoa kepada Allah dengan perantaraan imam-imam ini. Sebab, bagi Islam Syiah para imam adalah pilihan Allah. Ketika para imam mati, Muslim Syiah percaya bahwa para imam tetap menuntun mereka “dari balik layar” (melalui karya Allah).

Dilihat dari pandangan Islam Syiah, ritual sederhana bancakan dapat diterima. Semua doa dan permohonan di dalam ritual bancakan ditujukan kepada Allah, bukan danyang. Kalaupun ada bancakan yang disajikan kepada danyang, itu semata agar persembahan, doa, dan permohonan itu dihantarkan kepada Allah sendiri. Danyang di sini dapat dilihat seperti imam Syiah yang menjembatani antara titah (ciptaan) dengan Allah “dari balik layar”. Keselamatan dan kesembuhan tetap merupakan anugerah Allah langsung.

Analisa Ritual Bancaan Menurut Agama Hindu
Ada empat jalan keselamatan di dalam Hindu. Empat jalan itu adalah sebagai berikut:
• Bhakti Margha, yaitu adalah ibadah penuh kasih untuk salah satu dewa
• Karma Margha, yaitu perbuatan itu seperti halnya mata rantai sebab akibat karena cara manusia hidup di dalam suatu kehidupan akan mempengaruhi bagaimana mereka akan kembali pada kehidupan selanjutnya.
• Jnana Margha, yaitu jalan yang paling sukar bagi seseorang untuk mendapatkan keselamatan. Jalan ini bukan hanya membutuhkan bimbingan terus menerus dari seorang guru spiritual, melainkan juga kemampuan untuk menguasai semua kitab suci.
• Yoga Margha, yaitu disiplin spiritual terhadap latihan-latihan fisik dan mental yang telah dilaksanakan di India selama beribu-ribu tahun. Latihan tersebut dimaksudkan untuk membangun penguasaan diri terhadap fikiran dan tubuh mereka.

Agama Hindu memiliki denominasi yang jauh lebih banyak dari pada Islam. Hinduisme merupakan suatu proses panjang, yang mengintegrasikan aneka pandangan dan kebaktian dalam satu gerakan religius. Karen Armstrong meringkas perkembangan awal Hinduisme sebagai berikut:
Pada abad ke-17 SM, orang Aria dari wilayah yang sekarang disebut Iran, menginvasi lembah Indus dan menaklukkan penduduk aslinya. Mereka mendesakkan ajaran-ajaran agama mereka pada orang asli, sebagaimana dapat kita lihat terekspresikan dalam kumpulan syair pujian yang dikenal sebagai Rig Veda. Di sana kita menjumpai banyak dewa, yang mengekspresikan banyak nilai yang sama dengan dewa-dewa Timur Tengah dan mewakili kekuatan alam seperti insting dengan daya kekuatan, kehidupan, dan kepribadian. Namun demikian, ada tanda-tanda bahwa orang mulai melihat dewa-dewa beraneka ragam itu sebagai manifestasi dari satu Absolut Ilahi, yang mentransendensi semuanya. Orang Aria cukup menyadari bahwa mitos-mitos mereka bukanlah kisah faktual tentang realitas, melainkan ungkapan misteri yang bahkan oleh para dewa sendiri tidak dapat dijelaskan secara memadai.

Dari empat jalan keselamatan dan sejarah Hinduisme tersebut kita dapat dengan mudah meneropong ritus bancakan. Bisa jadi ritus bancakan ini mendapat pengaruh Hindu pada awal mulanya. Kita dapat dengan mudah melihat ritual bancakan ini sebagai salah satu bentuk “Bhakti Marga”, suatu ibadah penuh kasih kepada salah satu dewa, sebagaimana kita lihat fenomena sesaji di dalam masyarakat Hindu Bali. Dengan berbakti kepada dewa, diharapkan manusia di dunia memperoleh keselamatan. Keselamatan dapat diidentikkan dengan tidak mati atau sembuh dari suatu penyakit.

Danyang yang mendapatkan sesaji bancakan dapat dilihat sebagai “salah satu dewa”. Dewa mewakili suatu kekuatan kosmis tertentu. Diharapkan kekuatan kosmis ini membantu kesembuhan dan keselamatan si sakit. Lebih dari pada itu, dewa (atau danyang) merupakan salah satu manifestasi diri Tuhan sendiri. Maka, dengan memberikan sesaji kepada danyang, sama saja dengan memberikan sesaji kepada Tuhan yang mewujud. Dengan demikian doa-doa dan pengharapan bagi kesembuhan si sakit tertuju kepada Tuhan sendiri.

Pandangan Kristen Katolik Roma dan Langkah Pastoral
Orang-orang Katolik Roma memercayai persekutuan orang kudus di surga. Orang-orang kudus yang telah meninggal dunia menjadi perantara dan pendoa mereka kepada Allah Bapa di surga. Mereka adalah santo-santa yang selama hidup dikenal saleh dan suci. Orang-orang Katolik Roma juga memiliki kebiasaan memberi nama Baptis dengan nama-nama santo-santa dengan harapan santo-santa itu akan menjadi pendoa dan pelindung mereka dan berharap dapat meniru teladan hidup santo-santa tersebut.

Pergantian nama di dalam ritual bancakan dapat dilihat dalam perspektif ini. Orang-orang Katolik Jawa yang kebetulan mengalami kasus serupa seperti yang dialami oleh Yusup Sandiyanto bisa saja tetap melakukan bancakan sebagai adat Jawa. Sebagai adat, hal ini tidak menimbulkan permasalahan dogmatis, sejauh disposisi hati tetap berdoa kepada Allah. Orang-orang Katolik mengenal berbagai macam cara berdoa, dan dipandang dari hal ini, bancakan dapat menjadi acara doa bersama (yang dipimpin dengan cara Katolik) memohon keselamatan si sakit. Namun, alangkah lebih baik jika tidak hanya diganti nama dengan bancakan saja, tetapi juga dibaptis dan diberi nama santo/santa yang hendak dimohonkan perantaraan doa dan keselamatannya kepada Allah.

Kesimpulan
Ritual Bancakan merupakan suatu bentuk ritual doa kepada Tuhan untuk memohon kesembuhan anak kecil yang senantiasa sakit. Sesaji kepada danyang tidak lain merupakan persembahan kepada Tuhan sendiri melalui perantaraan manifestasi Tuhan yang berupa kekuatan kosmis supaya keadaan harmoni (kesembuhan dan kesehatan) dianugerahkan. Permohonan harmoni ini dengan kembali menggelar suatu ritual kecil sederhana (bancakan) di mana dikenangkan kembali bahwa harmoni itu juga berarti harmoni dengan alam (uba rampe bancakan yang berupa hasil panen dan jajanan pasar) beserta harmoni dengan sesama (anak-anak kecil yang diundang bancakan). Si anak yang sakit itu setelah mendapat anugerah kesembuhan dari Tuhan akan tumbuh bersama sesama manusia dan alam.

Daftar Pustaka
Abdul Karim Lubis, Islam dan Pluralisme Agama
Deflem, Mathieu, Ritual, Anti-Structure, and Religion: A Discussion of Victor Turner's Processual Symbolic Analysis, www.mathieudeflem.net
I Nengah Dana, Aktualisasi Ajaran Agama antara Absolutisme dan Relativisme di tengah Persaingan dan Konflik Sosial, Tinjauan dari Segi Agama Hindu, www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=138&Itemid=29
Jacobs, Tom, 2006, Paham Allah, dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi, Yogyakarta: Kanisius
Turner, Victor, 1969, The Ritual Process, Structure and Anti-structure, New York: Cornell University Press
Wahyudi Abdurrahim, Islam Inklusif; Skeptisitas atas Doktrin Agama, karangful.multiply.com/reviews/item/13

No comments:

Post a Comment