Thursday, December 15, 2011

Kritik Sosial Amos di dalam Perspektif Marxisme

Pengantar
Kitab Amos adalah sebuah kitab kenabian yang berisi tentang kritik sosial dan nubuat kehancuran Israel (Kerajaan Utara). Pada saat Amos hidup, Kerajaan Utara (Israel) sedang berada dalam masa kejayaannya. Namun, kejayaan itu semu dan hanya dirasakan oleh kelompok kaya dan keluarga kerajaan sebab di sana banyak terjadi praktek penindasan dan ketidakadilan sosial. Hidup keagamaan Israel hanya sebatas ritualisme bahkan sinkretisme dengan agama-agama pagan. Hidup keagamaan itu tidak mampu menyentuh aspek sosial masyarakat Israel, bahkan menjadi suatu kejahatan di mata TUHAN.
Paper ini selain akan membahas Kitab Amos secara singkat juga akan memandang Amos dari perspektif Marxisme. Penulis menyadari bahwa ranah berpikir masyarakat pada era Amos ditulis belum mencakup apa yang telah dipikirkan Marx. Namun, Marx mengutarakan pengamatannya dengan cukup abstrak sehingga dapat dipakai untuk memandang kejadian yang secara kronologis bertahun-tahun terjadi jauh lebih dulu dari pada peristiwa Marx.
Paper ini penulis bagi dalam empat bab. Bab I akan membahas secara ringkas mengenai Kitab Amos dan seluk-beluknya. Bab II akan membahas mengenai pribadi Amos, latar belakang hidupnya, serta misi dan karyanya. Pada Bab II inilah penulis justru memberi contoh tafsir Kitab Amos yaitu Amos 7:10-17 yang dipakai sebagai bacaan pertama di dalam ekaristi harian pada hari Kamis, 1 Juli 2010. Untuk menafsirkan dan untuk kepentingan membandingkan versi-versi yang ada, penulis memakai dua versi Alkitab yaitu versi terjemahan LAI (ITB) dan New International Version (NIV). Bab III akan membahas secara garis besar pemikiran Marx. Sedangkan Bab IV akan mencoba melihat Amos dari perspektif Marxisme, sejauh apa relevan.

I.                   Kitab Amos
Amos merupakan nabi pertama yang menulis karya kenabiannya. Nabi-nabi lain seperti Elia, Elisa, Gad, dan Natan tidak meninggalkan tulisan apapun meski mereka berpengaruh kuat di Israel. Amos mengawali sebuah tradisi di dalam sejarah agama di Israel yaitu nubuat mengenai kesudahan umat pilihan TUHAN sebagai hukuman TUHAN atas mereka karena tidak mampu hidup menurut ketetapan ilahi. Tradisi ini dilanjutkan oleh Hosea, Mikha, Yesaya, Zefanya, Yeremia, dan Yehezkiel hingga nubuat pembuangan itu terpenuhi pada 722 (bagi Israel) dan 587 (bagi Yehuda). Namun, di dalam susunan dua belas nabi kecil Kitab Amos tidak pernah disajikan sebagai yang pertama. Kitab Amos di dalam Septuaginta (LXX) diletakkan setelah Hosea dan sebelum Mikha, di dalam Alkitab LAI (ITB) diletakkan setelah Hosea dan Yoel dan sebelum Obaja. LAI mungkin mengikuti MT (Masoretic Text) sedangkan MT sendiri tidak berdasarkan prioritas kronologis, tetapi berdasarkan periode sejarah, bahwa Amos sezaman dengan semua nabi dari Hosea hingga Mikha. Amos dan kitab-kitab nabi lain yang sezaman dengannya terhubung secara lisan dan tematis, misalnya Amos 1:2 (Berkatalah ia: "TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel.") setema dengan Yoel 3:16 (TUHAN mengaum dari Sion, dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya, dan langit dan bumi bergoncang. Tetapi TUHAN adalah tempat perlindungan bagi umat-Nya, dan benteng bagi orang Israel.)
Kitab Amos menjadi titik balik terpenting di dalam sejarah agama di Israel. Dua hal yang paling menonjol di dalam Kitab Amos adalah kekuatan bahasa yang dipakai dan perhatian kepada kaum yang lemah, miskin, kecil, dan tertindas. Kitab Amos menjadi pernyataan klasik Perjanjian Lama mengenai keadilan sosial. Meskipun Kitab Amos jarang disinggung di dalam tulisan-tulisan Yahudi dan Kristiani, bahkan bukan merupakan bagian kitab kanonik yang berpengaruh, para sarjana modern dan pembaca dari abad XIX hingga XXI sangat antusias dengan pesan dan kritik sosial yang dibawa Amos.
Sebagian besar Kitab Amos merupakan puisi (terutama 1:3-2:6; 3:3-8; 4:6-11; 9:2-4) selain juga narasi (7:10-17). Gaya sastra semacam itu digunakan untuk merumuskan nubuat dan penglihatan mengenai bangsa-bangsa (misalnya 1:2-2:16; 7:1-9), kritik terhadap ritualisme-sinkretisme yang dipraktekkan di Israel (5:21-27), dan kritik sosial terhadap golongan tertentu di masyarakat yang menindas sesamanya dengan tidak adil (misalnya 8:4-8). Jika kita mencermati dengan lebih teliti, kita akan menemukan sisa-sisa tema “Kebijaksanaan Israel” (5:4-6, 14-15). Bahkan, dapat kita katakan bahwa kritik sosial yang terdapat di dalam Kitab Amos ini lahir dari jurang yang lebar antara Kebijaksanaan Israel (teori) dengan kenyataan yang terjadi, bahwa Bangsa Israel tidak lagi mempraktekkan kebijaksanaan itu. Kritik itu masih dalam kerangka berpikir teologis “pembalasan di bumi” dan juga pembalasan dosa kolektif, bahwa Allah akan membalas ketidakadilan itu selagi manusia atau anak cucunya hidup karena konsep teologis “kebangkitan” dan “kehidupan setelah kematian” belum terpikirkan pada waktu itu, juga oleh Amos (“kebangkitan” baru dibicarakan oleh Yesaya 26:19; Yehezkiel 37:1-14). Pembalasan kolektif di bumi itu dipikirkan sebagai kehancuran Israel dan pembuangan pada 722 SM ke Asyur. Walaupun Kitab Amos berisi tentang nubuat mengenai hukuman-hukuman kepada bangsa-bangsa, kitab ini diakhiri dengan nubuat yang memberi harapan akan keselamatan dari Tuhan (9:11-15).

II.                Amos dan Karyanya
Amos hidup pada abad VIII SM pada saat Uzia menjadi raja di Yehuda (781-740 SM) dan Yerobeam II menjadi raja di Israel (783-743 SM). Amos hidup sebelum Hosea dan Yesaya. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai peternak (bukan penggembala) domba di Tekoa. Tekoa adalah sebuah desa di Yehuda, sekitar  8 km sebelah tenggara kota Bethlehem. Nama Tekoa tidak disebutkan di dalam daftar daerah yang direbut oleh Yosua. Akan tetapi, Tekoa beberapa kali disebut baik di dalam Alkitab maupun di dalam sumber-sumber non-Alkitab (2Sam 14; 23:26; 1Taw 2:24; 4:5; 2Taw 11:6; Neh 3:5; 3:27; Josephus, Antiq, XIII, 15; Life, 420; War IV, 518; Eusebius, Onom, 98, dll.). Amos dipilih Allah untuk menjadi nabi di Israel, walau sepertinya dia hanya berkarya dalam waktu yang cukup singkat (kurang lebih satu tahun). Dia mungkin berhenti berkarya secara tiba-tiba setelah diusir dari Kerajaan Israel.
Amos berkeliling dari kota ke kota, duduk di pasar bersama rakyat yang lain. Di sana dia belajar banyak tentang keadaan Israel. Dia mendengar berita dari Tirus, Damsyik, Moab, dan Gaza. Amos menguasai peristiwa sosial-politik baik regional maupun internasional. Dia menyadari ada ketidakadilan di tengah masyarakat. Banyak terjadi praktek penindasan terhadap orang-orang miskin dan tersingkir oleh orang-orang kaya maupun juga oleh kebijaksanaan politik kerajaan. Perdagangan internasional hanya menguntungkan orang kaya. Orang-orang miskin yang tak berdaya menjadi korban dan semakin diperas, bahkan tanah nenek moyang mereka dirampas (hal ini adalah dosa di mata TUHAN). Sumber daya alam menjadi monopoli orang-orang kaya dan keluarga kerajaan. Kerajaan mengimpor minyak dan anggur yang dibayar dari pajak tinggi oleh rakyat yang semakin miskin dan tertindas, tetapi minyak dan anggur itu hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan. Amos geram dan marah atas semua itu. Amos melihat realita ketimpangan sosial itu sebagai dosa sosial yang akan segera mendapat hukuman TUHAN dengan invasi pasukan Asyur atas Israel dan disusul pembuangan Israel pada tahun 722 SM.
Amos menerima nubuat invasi Asyur atas Israel (yang akan segera terjadi) itu, sebagaimana realita sejarah pengangkatan Wangsa Daud di Yerusalem dulu, sebagai bagian dari rencana keselamatan Allah. Pandangan Amos ini jauh mengatasi zamannya, cukup mengejutkan dan mengherankan, bahkan merupakan pandangan yang metahistoris, bahwa Allah hadir dan bekerja di tengah-tengah peristiwa (invasi Asyur) itu dan Allah senantiasa menyertai umat-Nya yang tertindas secara misterius tapi nyata. Amos melihat ada kesinambungan antara nubuat yang akan terjadi itu dengan peristiwa Keluaran Bangsa Israel dari Tanah Mesir. Dalam  perspektif Amos, TUHAN adalah Allah orang miskin dan tertindas, TUHAN adalah Allah pembebas sebagaimana dalam peristiwa Keluaran TUHAN membebaskan Israel yang menjadi budak dari kesewenang-wenangan Mesir dan memberikan bangsa ini Tanah Terjanji. Di balik invasi Asyur terdapat janji keselamatan Allah.
Namun, nubuat dan pandangan Amos tidak dapat diterima. Pada waktu Amos berkarya, Kerajaan Israel sedang mengalami masa emas. Raja Israel, Yerobeam II berhasil melanjutkan rencana ayahnya, Raja Yoas, untuk memperluas kerajaan. Yerobeam II berhasil memenangkan beberapa perang. Hal itu didukung dengan kalahnya Damsyik, musuh bebuyutan Israel, oleh Asyur sekitar tahun 800-an SM. Semua unsur itu mebuat Kerajaan Israel berpikir bahwa Allah berkenan terhadap mereka. Maka, masuk akal jika suara kenabian Amos menjadi seperti duri dalam daging. Amos mengkritik dengan keras ketimpangan sosial itu di samping kritiknya atas praktik ritualisme dan sinkretisme (dosa kultik). Nubuat Amos mengenai akhir Kerajaan Israel di tengah-tengah kejayaan kerajaan itu tidak dapat diterima oleh Bangsa Israel sehingga dia diusir kembali ke Yehuda yang terekam dalam Amos 7:10-17.

(ITB)
10 Lalu Amazia, imam di Betel, menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan: “Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya.
 11 Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan.”
 12 Lalu berkatalah Amazia kepada Amos: “Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana!
 13 Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan.”
 14 Jawab Amos kepada Amazia: “Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan.
 15 Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.
 16 Maka sekarang, dengarlah firman TUHAN! Engkau berkata: Janganlah bernubuat menentang Israel, dan janganlah ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak.
 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Isterimu akan bersundal di kota, dan anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan tewas oleh pedang; tanahmu akan dibagi-bagikan dengan memakai tali pengukur, engkau sendiri akan mati di tanah yang najis, dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan.”

(NIV)
10 Then Amaziah the priest of Bethel sent a message to Jeroboam king of Israel: “Amos is raising a conspiracy against you in the very heart of Israel. The land cannot bear all his words.
 11 For this is what Amos is saying: ‘Jeroboam will die by the sword, and Israel will surely go into exile, away from their native land.’”
 12 Then Amaziah said to Amos, “Get out, you seer! Go back to the land of Judah. Earn your bread there and do your prophesying there.
 13 Don't prophesy anymore at Bethel, because this is the king's sanctuary and the temple of the kingdom.”
 14 Amos answered Amaziah, “I was neither a prophet nor a prophet's son, but I was a shepherd, and I also took care of sycamore-fig trees.
 15 But the LORD took me from tending the flock and said to me, ‘Go, prophesy to my people Israel.’
 16 Now then, hear the word of the LORD. You say, ‘Do not prophesy against Israel, and stop preaching against the house of Isaac.’
 17 Therefore this is what the LORD says: ‘Your wife will become a prostitute in the city, and your sons and daughters will fall by the sword. Your land will be measured and divided up, and you yourself will die in a pagan country. And Israel will certainly go into exile, away from their native land.’”

7:10-13
Amazia melarang Amos berkarya di Bethel karena baginya nubuat Amos merupakan suatu konspirasi (ayat 10, LAI menerjemahkan dengan ‘persepakatan’ sedangkan kata Ibraninya adalah ‘qasar’ – rvq). Bukti yang diajukan atas teori konspirasi Amos ini adalah nubuat Amos mengenai kematian Yerobeam dan pembuangan Israel. Oleh karena kesetiaannya kepada Yerobeam II, Amazia dengan otoritas yang dia miliki dari Kerajaan meminta Amos pergi dari Israel dan pulang kembali ke Yehuda untuk berkarya di sana. Tidak disebutkan bahwa Amazia meragukan nubuat Amos dan menganggapnya nabi palsu, tetapi nubuat itu cukup menggangu kemapanan Kerajaan Israel dan juga tempat ibadah yang dia pimpin di Betel (“Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan perhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?” demikianlah firman Tuhan ALLAH – Amos 4:4-5). Amos, yang disebut Amazia sebagai ‘pelihat’ (‘hozeh’ – hzh), dipersilakan untuk berbicara, mengkritik, atau bernubuat mengenai apapun asal tidak di Betel, tidak di Israel. Dia diminta pulang ke Yehuda untuk berkarya (bernubuat dan mendapatkan makanan) di sana.
7:14-15
Menurut versi NIV Amoz menjawab Amazia dengan sebuah sanggahan “I was neither a prophet nor a prophet's son... .” Sedangkan versi ITB memakai frase “tidak termasuk golongan nabi”. ‘A prophet’s son’ di dalam NIV tidak berarti literal, tetapi merupakan sebuah ungkapan yang berarti ‘seorang anggota kelompok nabi’. Pernyataan Amos menjadi masuk akal jika kita menyimak kalimat berikutnya bahwa dia pada mulanya hanyalah seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Sejak awal mula dia bukan nabi, bukan anggota kelompok/golongan nabi, bukan merupakan seorang nabi profesional, melainkan hanyalah seorang rakyat biasa yang hidup sebagai peternak. Dan, Allah memilihnya untuk menjadi nabi. Amos tidak menegasi kenabiannya, dia hanya menyatakan bahwa Allahlah yang pada “sekarang ini” memilihnya untuk mewartakan nubuat-nubuat dan kritik kepada Israel. Dia tidak terlahir sebagai nabi, tetapi “untuk sekarang ini” dia dipilih Allah menjadi nabi untuk menanggapi situasi zaman serta untuk memperingatkan Israel dan sekitarnya. Maka, perlawanan terhadap Amos sama dengan perlawanan terhadap Allah sendiri yang mengutusnya. Memang Amos hanya berkarya selama kurang lebih satu tahun dan setelah pulang kembali ke Yehuda, dia kemungkinan besar tidak lagi berkarya karena tidak ada lagi data-data tertulis mengenainya baik yang dia tulis sendiri maupun yang ditulis orang lain.
7:16-17
Setelah menjelaskan siapa dia sebenarnya, Amos menggunakan legitimasi ilahi untuk semakin memperkokoh posisinya. Kemudian, dia mengucapkan nubuat yang lebih menyerupai kutuk terhadap Amazia dan keluarganya beserta seluruh Israel. Nabi-nabi lain juga melakukan hal yang serupa terhadap orang-orang yang meragukan kebenaran yang disampaikannya (Yer 28:15-16; 29:31-32; Mi 2:6; 3:5-7). Amazia beserta keluarganya menanggung hukuman karena melawan Allah yang berkarya melalui Amos. Orang-orang Israel pada abad VIII SM masih memiliki konsep pembalasan kolektif. Sedangkan “... dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan” akhirnya terpenuhi pada tahun 722 ketika Israel dibuang ke Asyur.

III.             Perspektif Marxisme
Karl Marx adalah seorang Yahudi kelahiran Trier, Jerman. Dia merupakan seorang filsuf yang mengkritik sistem kapitalisme yang membuat manusia (buruh) terasing dari dirinya sendiri sehingga mengasingkan diri di dalam agama. Menurut Marx manusia merealisasikan dirinya di dalam pekerjaannya. Penyair akan benar-benar menjadi penyair setelah dia menulis (dan membacakan) syairnya. Hubungan antarmanusia adalah hubungan produksi. Manusia yang satu membutuhkan manusia yang lain karena dia tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam hubungan produksi ini tiap-tiap individu dengan sendirinya menempati posisi masing-masing. Nelayan menjadi nelayan sejauh dia mencari ikan, tetapi dia tidak cukup hanya makan ikan saja, dia butuh nasi yang hanya ditanam oleh petani. Petani menjadi petani sejauh dia bertani, tetapi untuk bertani dia membutuhkan cangkul yang mungkin tidak dapat dia buat sendiri. Maka, dia membutuhkan seorang pandai besi. Demikian seterusnya.
Marx juga berbicara mengenai sejarah. Dia memahami sejarah sebagi “Materialis Sejarah”. Yang dimaksud dengan materialis sejarah adalah bahwa sejarah perkembangan masyarakat bukan merupakan hasil sintesa pemikiran, melainkan merupakan sintesa kegiatan dasar manusia yaitu produksi. Dialektika sejarah bukan merupakan sintesa teori-teori rasional melainkan justru sintesa praksis-praksis. Faktor inti perkembangan masyarakat adalah perjuangan kelas. Perubahan masyarakat tidak dicapai hanya dengan mengubah pemikiran atau kesadaran, melainkan hanya melalui perubahan cara produksi material (struktur/sistem). Revolusi Perancis, contohnya, merupakan perombakan sistem feodal yang mengantar ke sistem kapitalisme.
Di dalam sistem kapitalisme manusia terasing dari dirinya sendiri karena terasing dari hasil pekerjaaannya. Manusia bekerja bukan karena dia ingin merealisasikan dirinya, melainkan karena dia membutuhkan uang untuk hidup. Kaum buruh hanya memiliki tenaga dan keterampilan, tetapi tidak dapat berproduksi karena tidak memiliki alat-alat produksi. Alat-alat produksi dimiliki oleh kaum kapital. Mereka memiliki modal dan manufaktur. Mereka menginginkan modalnya kembali dan mendapat keuntungan (uang) sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, mereka mempekerjakan kaum buruh. Kaum buruh terpaksa bekerja kepada kaum kapital karena membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Hasil pekerjaan mereka, yang seharusnya menjadi perealisasian dirinya, segera setelah diproduksi tidak lagi menjadi milik mereka tetapi menjadi milik kaum kapital yang menguasai alat-alat produksi dan manufaktur. Kaum buruh terasing dari diri mereka sendiri. Demi melarikan diri dari keterasingan ini, mereka mengasingkan diri di dalam praktek-praktek agama, bukan malah mencoba merombak sistem yang ada. Keterasingan manusia di dalam agama hanya merupakan simtom dari keterasingan yang lebih mendasar yaitu keterasingan dalam ekonomi.
Hubungan produksi di dalam sistem kapitalisme adalah hubungan hak milik. Kaum kapital memiliki alat-alat kerja dan tempat kerja. Kaum buruh memiliki tenaga kerja. Karena orang tak dapat bekerja tanpa alat dan tempat kerja, padahal semua hal itu dimiliki oleh kaum kapital, kaum buruh sama sekali tergantung kepada kaum kapital dan kaum kapital menguasai kaum buruh. Maka, perubahan sosial tergantung dari kelas kapital ini. Namun, mereka merasa puas dengan keadaan yang ada dan cenderung mempertahankan status quo. Agama oleh kaum kapital dipakai sebagai salah satu sarana untuk mempertahankan status quo ini. Di sisi lain kaum buruh (tenaga produksi) terus berkembang yang mengkibatkan ketegangan (“kontradiksi”) di antara kaum kapital dan kaum buruh terus membesar. Ketegangan itu mencapai batas toleransinya sehingga revolusi meletus. Hubungan produksi lama diganti dengan hubungan produksi baru yang lebih sesuai dengan tenaga-tenaga produksi yang telah berkembang itu. Terjadilah sebuah dialektika yang menciptakan tata masyarakat baru.

IV.             Menyimak Kitab Amos dengan Perspektif Marxisme
Sejarah menurut Marx merupakan antroposentris. Manusia dengan proses produksi dan praksis perjuangan kelasnya menjadi subyek sejarah. Dialektika materialis ini yang menentukan sejarah. Sedangkan Amos memandang secara teosentris, bahwa Allah adalah subyek sejarah. Bagi Amos, Allah terlibat bahkan hadir di dalam peristiwa-peristiwa sejarah dan menggunakan peristiwa-peristiwa sejarah itu sebagai peristiwa sejarah keselamatan Allah, bahkan jikapun peristiwa itu merupakan peristiwa akhir Kerajaan Israel. Allah membebaskan Bangsa Israel yang ditindas Mesir. Allah menetapkan Wangsa Daud. Dan, Allah yang sama yang mengakhiri Kerajaan Israel. Semua peristiwa itu merupakan rangkaian peristiwa sejarah keselamatan Allah. Sehingga Amos dapat dengan mudah melihat harapan keselamatan Allah di balik nubuat kehancuran Israel.
Di dalam sistem kapitalisme, Marx melihat penindasan dan ketidakadilan sosial di mana kaum buruh diasingkan dari dirinya sendiri, bahkan juga diasingkan dari sesamanya. Kaum buruh tidak memiliki hasil pekerjaannya sendiri yang merupakan pengungkapan kediriannya karena begitu selesai diproduksi olehnya, hasil produksi itu langsung menjadi milik kaum kapital yang memiliki tempat dan alat-alat kerja. Kaum buruh bekerja karena membutuhkan upah untuk bertahan hidup. Kaum kapital yang mengejar keuntungan dihadapkan pada dua pilihan: menyejahterakan buruh yang berarti keuntungannya berkurang atau menekan upah buruh yang tentu akan menambah keuntungannya. Tentu kaum kapital akan melakukan apapun agar keuntungannya berlipat. Amos pun melihat ketimpangan sosial di Israel. Israel tengah mengalami masa keemasan. Tetapi Amos melihat bahwa masa keemasan itu hanyalah semu belaka karena hanya kelas atas yang menikmati sedangkan rakyat tertindas. Kemewahan yang dinikmati oleh kaum bangsawan didapat dari memeras rakyat dengan pajak yang tinggi. Kritik yang sangat keras tercatat di dalam Amos 5:11-12 dan 8:4-8.
Marx mengatakan bahwa keterasingan kaum buruh di dalam agama hanyalah merupakan simtom keterasingan ekonomi sedangkan di sisi lain agama menjadi salah satu sarana kaum kapital untuk melanggengkan status quo. Memang Marx adalah seorang ateis dan apatis terhadap agama. Amos pun mengkritik agama yang dipraktikkan di Israel (Betel). Di dalam Amos 5:21-23 Amos mengkritik ritualisme yang dilakukan oleh orang Israel, bahwa praktik agama di Israel hanya berhenti di ritual semata dan tidak menyentuh dimensi sosial. Agama menjauhkan manusia dari kenyataan sosial. Berbeda dengan Marx, menurut Amos hendaknya agama tidak hanya berhenti pada ritual belaka, tetapi justru membawa manusia untuk berempati terhadap sesamanya sehingga keadilan diusahakan. Bagi Amos, TUHAN adalah Allah kaum tertindas yang selalu menyertai dan membebaskan umat-Nya (Amos 9:7).
Marx menyatakan bahwa perubahan masyarakat (keadilan sosial) tidak dapat terjadi hanya dengan mengubah pemikiran/kesadaran, tetapi dengan praksis dan perubahan struktur, revolusi. Pandangan ini konsekuen dengan pandangan sejarah Marx yang antroposentris, bahwa sejarah adalah dialektika materialis proses produksi manusia. Sedangkan Amos, yang memiliki pandangan teosentris, menubuatkan bahwa perubahan masyarakat Israel (janji mengenai keselamatan) tidak melalui revolusi rakyat membongkar feodalisme kaum bangsawan Israel (sebagaimana di dalam Revolusi Perancis), tetapi harus melalui invasi Asyur yang merupakan campur tangan aktif Allah sendiri yang berkarya di dalam sejarah.

Kesimpulan dan Penutup
Kita melihat bahwa Kitab Amos selain berisi nubuat mengenai kesudahan bangsa-bangsa, terutama Bangsa Israel, juga berisi kritik-kritik sosial. Kita memang tidak dapat menemukan bahwa Amos telah memiliki pandangan sosial yang secanggih Marx, tetapi kita dapat melihat bahwa teori Marx yang cukup abstrak itu dapat memuat kritik sosial Amos. Kritik sosial Amos dari Tekoa memiliki kesinambungan dengan kritik sosial Karl Marx. Namun, ketika kita melihat dasar berpikir mereka, dengan mudah kita dapat melihat perbedaan yang cukup fundamental. Bagi Marx, sejarah adalah materialis sejarah di mana manusia harus bertindak secara aktif di dalam revolusi, sedangkan bagi Amos sejarah-sejarah partikular merupakan bagian dari sejarah keselamatan Allah di mana Allah bertindak sendiri secara aktif. Agama bagi Marx hanyalah candu bagi orang tertindas dan sarana status quo serta legitimasi kekuasaan bagi kelas atas. Agama bagi Amos tidak hanya melulu ritualisme yang justru menjauhkan orang dari realita sosial, tetapi hendaknya membuat orang berempati kepada sesamanya sebab TUHAN adalah Allah orang tertindas.

Bibliografi
Barton, John dan John Muddiman (ed.)
            2001      The Oxford Bible Commentary, Oxford: Oxford University Press

Bergant, Dianne dan Robert J. Karris (ed.)
2002      Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, terj. A. S. Hadiwiyata, Yogyakarta: Kanisius
Keck, Leander E., cs (ed.)
1998      The New Interpreter’s Bible, A Commentary in Twelve Volumes, Volume VII, Nashville: Abingdon Press

Negev, Avraham
1986      The Archaeological Encyclopedia of the Holy Land, Revised Edition, New York: Thomas Nelson Publishers

Tanureja, V. Indra Sanjaya
2010      The Prophetic Literature, diktat tidak diterbitkan, Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti

van der Weiden, Wim
2010      Sastra Kebijaksanaan Perjanjian Lama, diktat mata kuliah, Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti

von Magnis, Franz
1977      Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme, diktat tidak diterbitkan, Jakarta: STF Driyarkara

No comments:

Post a Comment