Wednesday, December 14, 2011

Menerjemahkan Allah dalam Kehidupan Orang Muda

Menerjemahkan Allah dalam Kehidupan Orang Muda

I.                   Pendahuluan – Status Questionis
            Paper ini saya buat untuk menjawab pertanyaan dosen Metodologi Teologi, “Bagaimana berteologi dalam konteks Indonesia?” Pertanyaan itu diajukan sebagai pertanyaan ujian akhir semester III mata kuliah Metode Teologi, maka paper ini sekaligus adalah jawaban atas ujian tersebut. Namun, bagi saya yang hanyalah mahasiswa teologi semester III Universitas Sanata Dharma, Indonesia masih terlalu luas. Saya mempersempit Locus Theologicus hanya dalam ranah Orang Muda (Katolik) di Indonesia. Status Questionis-nya adalah, “Bagaimana menerjemahkan Allah dalam kehidupan orang muda?”
            Dalam kuliah kami mendapatkan berbagai model metode berteologi. Dalam paper ini saya tidak akan secara kaku hanya menggunakan salah satu di antara metode-metode itu, tetapi mencoba untuk luwes memainkan metode-metode itu sejauh mendukung argumentasi saya. Jadi, metode-metode itu hanya akan menjadi sarana, bukan menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Sebab, saya berharap dapat menindak lanjuti paper ini dalam ortopraksis. Namun, saya tetap membutuhkan metode utama sebagai dasar berpijak dan berpikir serta merenung. Maka, dengan berbagai pertimbangan saya akan menggunakan pola metode “Teologi Pembebasan” Jon Sobrino. Saya memandang pola metode teologi ini yang paling luwes dan applicable.

II.                Metode Teologi Pembebasan Jon Sobrino
lingkaran metode teologi pebebasan

Lingkaran epistemologi di atas adalah lingkaran metode teologi pembebasan yang ranah refleksi filosofisnya sudah dimodifikasi.[1] Dalam teologi pembebasan Jon Sobrino, ranah refleksi filosofisnya adalah analisis sosial Karl Marx. Sedangkan, saya menggantinya dengan refleksi filosofis-antropologis tanpa mengubah struktur dasar metode tersebut. Perspektif Teologi Pembebasan, seperti halnya analisa Marx, adalah sosial. Perspektif sosial ini akan saya ubah menjadi perspektif eksistensial-individual supaya mengena pada masing-masing individu sebab dalam perspektif sosial yang massive individu-individu ternihilkan, terlarut dalam individu massa.
Locus Theologicus-nya adalah Orang Muda (Katolik) dengan dinamika kemanusiaannya, hidupnya. Secara konkret saya mengambil contoh para mahasiswa Sanata Dharma. Tidak semua mereka Katolik memang, tapi sebagian besar berafiliasi Kristiani. Mereka begitu disibukkan dengan sistem belajar dan kuliah Sanata Dharma. Hari-hari mereka padat dan lekas berlalu, disibukkan dengan tugas-tugas kuliah. Itu belum jika seandainya mereka mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) atau organisasi di luar kegiatan kampus lainnya baik yang umum maupun Gereja. Dan, tentu kesibukan itu belum menyangkut soal kehidupan pribadi mereka, hubungan dengan orang tua dan keluarga lainnya misalnya, atau hubungan persahabatan dan dengan pacar. Dari hari-hari yang padat serta melelahkan dan bahkan dari kegiatan Gereja tersebut apakah mereka dapat merasakan Tuhan? Bagaimana?
Pada langkah kedua saya akan menggunakan filsafat-antropologi, lebih tepatnya menggunakan filsafat eksistensial, untuk merenungkan. Pertanyaan mengenai Allah mulai dengan sebuah pertanyaan mengenai manusia.[2] Bagi orang muda (Katolik) Indonesia pertanyaan tentang Tuhan masih menjadi pertanyaan eksistensial. Kenyataan yang ada adalah banyak dari mereka tidak pergi merayakan ekaristi mingguan karena terlalu sibuk beraktivitas sedangkan ada pula yang justru menyempatkan diri pergi misa harian setiap hari. Ada yang masih menyempatkan diri berdoa di sela-sela kegiatan mereka, tapi tampak bahwa mereka memisahkan hidup doa dengan kegiatan sehari-hari; seakan-akan mereka menghidupi dua kehidupan yang berbeda. Lalu, pertanyaan (antropologis) pertama yang muncul adalah apakah mereka menjadi diri sendiri dengan kegiatan-kegiatan tersebut atau justru teralienasi dari kesejatian diri mereka? Kemudian, hadirkahkah Allah di sana? Apakah Allah ada?[3] Pertanyaan ini benar-benar dilontarkan oleh mahasiswa Sanata Dharma. Dan, pertanyaan ini hadir dalam diskusi tidak resmi di depan Kantin Student Center Sanata Dharma. Apakah mereka merasakan kehadiran Allah (yang dengan bercanda mereka sebut ‘Pak Tuhan’) dalam kehidupan mereka yang seperti itu? Atau, apakah doa (juga ekaristi) itu hanyalah adat-tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun sejak generasi-generasi pendahulu mereka sehingga justru tidak membawa kepada Allah atau hanya artifisial[4]? Lalu, bagaimanakah mereka dapat menghayati kehadiran Allah dalam kehidupan keseharian mereka, dalam setiap detik hidup mereka?
Pada tahap kedua, saya akan mencoba membawa perenungan tersebut kepada tradisi-tradisi yang ada. Tradisi yang saya maksud adalah refleksi-refleksi teologis yang ada dalam sejarah. Di samping itu, tentu juga mencari jawaban dalam Kitab Suci. Saya menyadari akan bahaya ‘teologi pohon natal’. Maka, dengan hati-hati saya akan mencari apa yang dilakukan Yesus sejauh ada dalam Injil, bukan sebagai rasionalisasi, melainkan justru sebagai pendasaran. Yesus hadir dan berkarya di tengah umum pada usia 30 tahun, usia muda yang matang. Bagaimana di tengah kesibukan-Nya mewartakan utopia Kerajaan Allah Yesus mengalami kehadiran Bapa. Bapa tentu telah ada dalam Yesus dan Yesus ada dalam Dia, tapi bagaimana Yesus bergulat dengan kenyataan ini terlebih ketika Dia harus menyelaraskan kehendak-Nya dengan kehendak Bapa.[5] Kesatuan dengan Bapa bagi Yesus ternyata mendatangkan konsekuensi (baca: tanggung jawab) yang tidak kecil, tapi justru oleh karena kesatuan dengan Bapa ini, konsekuensi bukan tidak mungkin ditanggung. Namun, bagaimana hal ini diterjemahkan dalam kehidupan orang muda yang hidup 2000 tahun setelah Yesus? Menjadi murid Kristus bukanlah semata to be fellow (menjadi teman), tapi juga to follow (mengikuti), seperti halnya para rasul yang tidak hanya menjadi teman, sahabat, dan murid Yesus, tetapi juga benar-benar mengikuti Dia. Untuk sungguh-sungguh menjadi murid Kristus seseorang harus mengikuti jejak Kristus dalam cinta dan keprihatinan-Nya, setidaknya apa saja yang dilakukan (atau dalam bahasa eksistensialis: keputusan apa saja yang dipilih) bersumber dari Roh Kudus, seperti yang digambarakan Kisah Para Rasul, membawa seseorang kepada Kristus.[6] Memang bagi para rasul untuk dapat benar-benar mengikuti Yesus mereka harus merefleksikan pengalaman salib dan kebangkitan serta mengalami Pentakosta.
Baru kemudian jawaban atas Status Questionis ini dibawa pada ranah praksis. Bagi pastor-pastor, khususnya para pendamping Orang Muda Katolik, jawaban ini dapat menjadi acuan pastoral pendampingan kaum muda. Bagi Sanata Dharma, jawaban ini dapat menjadi acuan untuk menciptakan sistem pendampingan yang tidak hanya melulu akademis, melainkan juga humanis-afektif (seperti yang senantiasa dibangga-banggakan Sanata Dharma sebagai Universitas yang tidak hanya mengedepankan sisi akademis, tetapi juga humanis) sebab Allah tidak hanya melulu dialami secara intelektual, melainkan justru secara afektif. Sedangkan bagi orang-orang muda sendiri, khususnya mahasiswa Sanata Dharma sebagai Locus Theologicus, jawaban ini dapat mereka hidupi dalam kehidupan sehari-hari mereka, dalam setiap kegiatan dan kesibukan mereka sehingga dalam setiap pilihan mengada mereka justru tidak teralienasi dari diri sendiri supaya dapat merasakan kehadiran Allah.

III.             Bagaimana Mengalami Allah dalam Kegiatan Sehari-hari?
1.                  Refleksi Filosofis-Antropologis (Filsafat Eksistensialisme)
Manusia adalah pribadi yang otonom. Manusia adalah subyek yang bebas. Kesadaran akan diri menjadikan manusia makhluk yang bebas. Bebas tidak sama dengan liar. Bebas adalah keadaan di mana ada kesadaran dan ada tanggung jawab. Ketika seorang subyek menyadari dirinya ada dan mampu bertanggung jawab atas adanya, dia bebas dari belenggu. Anak kecil belum menjadi pribadi yang bebas sebab anak kecil belum mampu menyadari adanya sendiri dan ada selain dirinya sendiri, maka dia belum mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Seiring pertumbuhannya, anak kecil belajar menyadari adanya sendiri dan ada selain dirinya. Ketika dia dalam usia tertentu memiliki kesadaran dan kemampuan serta kehendak (aktif), dia akan bertanggung jawab, maka dia bebas. Dia bebas memanifestasikan kemanusiaannya. Dia bebas mengada sesuai kesejatian dirinya. Dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya sabagai pribadi yang dewasa.
Semua hal itu mengandaikan suatu proses, secara kosmologis kita menyebutnya proses strukturasi diri, secara eksistensialis disebut proses mengada. Ada suatu paradoks dalam proses ini. Satu sisi kita tidak pernah mencapai kepenuhan. Tidak ada kedewasaan yang mandeg. Orang akan stagnant ketika berhenti berproses (kita sebut mati, bukan dalam arti fisik). Di sisi lain selalu akan ada kepenuhan. Contoh: Seorang anak akan merasa puas setelah dengan susah payah berhasil mengerjakan soal matematika yang belum pernah dia kerjakan sebelumnya, seorang gadis akan merasa puas setelah dia “keluar dari keluarga” dan menjadi ibu bagi keluarga barunya. Proses itu mengandaikan sebuah keputusan pilihan. Ketika kita masih kecil di mana kita belum bebas dan masih bergantung pada orang tua, kita dipilihkan (dimasukkan ke sekolah yang dirasa baik oleh orang tua, dll.) sambil belajar membuat pilihan (dengan merengek-rengek meminta ini atau itu), tapi keputusan tetap ada di tangan orang tua. Ketika kita mampu menyadari diri dan dianggap telah mampu bertanggung jawab atas diri kita (alias dianggap dewasa), kita membuat keputusan pilihan bagi diri kita sendiri. Keputusan pilihan itulah yang menjadi penilaian atas diri kita. Marx berkata identitas didapat dari perbuatan.[7] Nilai-nilai atau kebutuhan-kebutuhan yang secara konsisten diperjuangkan oleh seseorang menggambarkan identitas dirinya.[8]
Ketika kita memutuskan sebuah pilihan yang selaras dengan hakikat/esensi kemanusiaan kita, kita mengalami aktualisasi diri.[9] Aktualisasi diri merupakan keterarahan menuju kesatuan, keutuhan atau sinergi di dalam pribadi manusia.[10] Ketika kita membuat keputusan yang tidak selaras dengan hakikat/esensi kemanusiaan itu, kita mengalami alienasi, terasing dari kemanusiaan kita, terasing dari kesejatian diri kita.
Orang muda adalah mereka yang menggelora. Jiwa muda identik dengan jiwa yang berkobar-kobar. Segala sesuatunya terkesan menggebu-gebu dalam dirinya. Orang muda ingin melakukan segalanya, bahkan menaklukkan dunia kalau perlu. Orang muda adalah manusia yang telah menyadari adanya, tapi belum secara menyeluruh alias belum matang. Kesadarannya itu justru menuntut mereka untuk terus dan terus melakukan sesuatu untuk semakin meyakinkan kesadaran mereka akan diri sendiri. Orang muda memiliki lebih banyak energi dari pada orang tua untuk melakukan aktivitas-aktivitas. Yang berdemo turun ke jalan kebanyakan adalah orang muda/mahasiswa, bukan orang tua. Orang muda pun memiliki visi, setidaknya visi bagi dirinya sendiri, oleh karena kesadaran diri (dan selain diri). Visi itu secara sempit kita sebut cita-cita. Kadang-kadang begitu naif dan utopis, tapi tak jarang pula visi itu mengubah dunia.
Dalam menggapai cita-cita itu, atau setidaknya sekadar penegasan eksistensinya, seorang muda banyak melakukan keputusan pilihan. Keputusan pilihan itu diambil dalam mengikuti berbagai kegiatan: kuliah, aktif dalam BEM atau UKM, ikut organisasi PMKRI, atau ikut OMK di paroki/lingkungan masing-masing, berkesenian, dsb. Orang yang semakin dewasa, semakin sungguh menyadari dirinya, pasti akan mengikuti kegiatan yang sejalan dengan visi/cita-citanya. Celakanya, usia muda adalah usia pencarian. Sedikit orang yang sungguh-sungguh matang di usia ini.[11] Tak heran mereka secara serampangan mengikuti ini dan mengikuti itu.[12] Hal ini belum termasuk kegiatan perkuliahan (jika mereka adalah mahasiswa). Maka, orang-orang muda ini kehabisan energi, lelah, bahkan parahnya justru teralienasi dari diri sendiri (karena tidak mengada sesuai hakikat kemanusiaan/kesejatian dirinya), sesama, bahkan Allah.
Ada dua implementasi keadaan lelah ini. Pertama, secara negatif, mereka melarikan diri dalam agama. Doa (ziarah, doa harian, bentuk doa yang lain, atau tradisi keagamaan lain) menjadi pelarian mereka. Mereka bersembunyi di balik kedok doa. Agama/doa bukan pertama-tama sebagai sarana mencari dan mengalami Allah, tapi justru menjadi benteng pertahanan serta peristirahatan dari kelelahan dan kejenuhan proses ini. Contoh: seorang pemuda katolik masuk seminari dengan alasan suprastruktur yang kudus-kudus tentunya, tetapi kenyataan latennya/alasan infrastrukturnya adalah ekonomis (tidak ingin susah-susah mencari sekolah dan pekerjaan karena sudah lelah bersaing, penat dengan segala kegiatan).[13] Untung ada proses pemurnian motifasi dalam formatio seminari.
Kedua, secara positif, mereka mengalami kekeringan batin/desolasi. Mereka tak mampu lagi merasakan Allah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tak mampu merasakan afektifitas dan intimasi bersama Allah dalam doa-doa (dan kegiatan beragama). Jangankan merasakan kehadiran Allah dalam doa, mereka saja sudah lelah dan kehabisan energi untuk berdoa. Mereka menanyakan di mana ‘Pak Tuhan’ berada? Apakah ‘Pak Tuhan’ benar-benar ada? Bukannya mengurangi kegiatan supaya tidak terlalu lelah sehingga dapat berdoa dengan segenap kemanusiaan untuk berintimasi secara afektif dengan Tuhan, mereka malah menanyakan pertanyaan rasionalisasi yang tidak relevan tentang eksistensi Tuhan.

2.                  Refleksi Teologis
Kristologi yang mengesampingkan Yesus Historis menurut para teolog pembebasan adalah refleksi teologi yang berbahaya, hanya di awang-awang, absurd, dan tidak tepat mengenai sasaran, bahkan tak mampu berbicara apa-apa (hallowed but hollow).[14] Sebagaimana dalam teologi pembebasan yang menekankan Yesus Historis, kita akan mencari teladan proses mengada Yesus sejauh ada dalam Kitab Suci. Yesus sepenuhnya sadar siapa Dia sebenarnya. Yesus menyadari kesejatian Diri-Nya. Yesus tahu visi dan misi-Nya. Bahkan, sudah sejak usia 12 tahun Yesus menyadari ada-Nya.[15] Maka, dalam beberapa kesempatan pilihan Yesus memutuskan mengambil pilihan sesuai dengan hakikat Diri-Nya, visi, dan misi-Nya.
Dalam percobaan di padang gurun[16] dengan tegas Yesus mengambil keputusan. Meski lapar, Dia tidak mengubah batu menjadi roti. Lapar memang keadaan manusiawi dan pasti dialami oleh siapapun, tetapi lapar bukanlah esensi kemanusiaan. Hakikat hidup manusia terletak lebih dari pada mengenyangkan perut. Hidup manusia adalah suatu proses pemanifestasian kemanusiaan, suatu self-fulfilment. Bagi Yesus salah satu proses aktualisasi diri itu adalah mendengarkan, merenungkan, dan melaksanakan “setiap firman yang keluar dari mulut Allah”[17]. Kemudian Iblis menyuruh Yesus menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Iblis dan Yesus sama-sama mengetahui bahwa Bapa menaruh kasih istimewa terhadap Yesus. Bapa pasti akan mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk menatang Yesus supaya kaki-Nya tidak terantuk pada batu. Namun, sekali lagi kesadaran akan hakikat diri membuat Yesus mengambil keputusan yang tepat, Yesus tidak melakukan perintah itu. Bukan karena Yesus ragu akan kasih Bapa-Nya, melainkan justru Yesus tahu siapa Dia sebenarnya, Anak Allah, Tuhan. Dia sadar Dia sedang dicobai, maka Dia menjawab dengan mengutip Kitab Suci,”Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”[18] Kemudian Iblis menawarkan kemegahan dan kekayaan dunia. Semua akan diberikan kepada Yesus asal mau menyembah Iblis. Namun, Yesus sepenuhnya sadar visi dan misi-Nya, untuk apa Bapa mengutus-Nya. Dia datang untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menjadi silih atas dosa manusia. Maka, sekali lagi Yesus menolak tawarkan yang menggiurkan itu.
Visi-misi Yesus adalah menghadirkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus, khususnya yang diserukan dalam Kotbah di Bukit[19], juga merupakan cita-cita akan struktur sosial yang memanusiawikan di mana ada kebenaran, keadilan, dan cinta pada Allah serta cinta pada sesama manusia seperti pada diri sendiri.[20] Selain dengan pewartaan sabda, dalam memperjuangkan Kerajaan Allah ini Yesus juga melakukan tindakan nyata. Tindakan tersebut antara lain dengan mukjizat penyembuhan. Maka, mukjizat Yesus bukan demi tujuan pada dirinya sendiri atau digunakan Yesus sebagai ajang show off, melainkan dalam rangka perwujudnyataan visi-misi Yesus, Kerajaan Allah. Juga Yesus melancarkan kritik atas sistem sosial yang membelenggu masyarakat bawah.
Bagaimana Yesus tetap tidak teralienasi ditengah kesibukan-Nya mewartakan dan memperjuangkan visi Kerajaan Allah tersebut? Sekali lagi yang perlu menjadi catatan adalah Yesus menyadari hakikat-Nya. Dia mengetahui siapa sumber hidup dan aktivitas-Nya, Allah Bapa. Maka, Yesus senantiasa menyelaraskan kehendak-Nya dengan kehendak Bapa. Pengalaman akan eksistensi dan kehadiran Allah ini tidak hanya dialami dalam kesibukan sehari-hari di mana menuntut kerja keras rasio, emosi, dan raga. Ketika mengalami kelelahan baik kelelahan rasio, kelelahan emosi, dan kelelahan raga, akan sulit mengalami kehadiran Allah. Pengalaman akan eksistensi dan kehadiran Allah ini terlebih dialami dan dihayati secara afektif dalam sebuah intimasi. Yesus bisa saja secara ambisius mewartakan dan memperjuangkan Kerajaan Allah, toh yang diwartakan adalah Allah sendiri, Allah yang meraja. Namun, jika Yesus bisa marah dan sedih seperti manusia lain, Yesus bisa juga mengalami kelelahan sebagaimana manusia lain. Maka, Yesus menciptakan waktu bagi kerinduan-Nya akan intimasi dengan Bapa dalam persatuan dengan Roh Kudus. Dalam Injil tak jarang kita menemukan ayat-ayat yang menceritakan Yesus berdoa seorang diri pada pagi-pagi buta atau Yesus pergi ke suatu tempat sunyi untuk berdoa. Dengan demikian Yesus menyelaraskan Diri dengan kehendak Bapa.[21]

3.                  Praksis/Pastoral
Pembahasan pada bab ini tak lebih adalah usul-saran. Secara “pastoral” Universitas Sanata Dharma harus mengevaluasi ulang sistem yang dipakai. Apakah perpaduan sistem kurikulum yang begitu padat dengan sistem poin soft-skill dapat menjadi fasilitas yang memadahi bagi proses mengada seorang mahasiswa secara utuh sebagai seorang manusia baik dari segi akademis-intelektual (rasio), emosi-perasaan, kesehatan dan kebugaran tubuh, juga iman akan Allah. Jika ternyata sistem pendidikan Sanata Dharma justru menghambat pemanifestasian segenap kemanusiaan secara utuh (mengingat manusia adalah makhluk multidimensi), harus sesegera mungkin dirancang sebuah sistem baru yang memfasilitasi pemanifestasian segenap kemanusiaan itu. Pemanifestasian kemanusiaan itu juga menyangkut kerinduan akan Allah. Apakah sistem itu memungkinkan seorang mahasiswa Sanata Dharma menghayati pula afektifitas dan intimasinya bersama Allah? Atau, jika sistem terlalu sulit diubah, tindakan-tindakan seperti apa yang dapat memfasilitasi afektifitas dan intimasi bersama Allah? Usul saya, sebaiknya ada seorang pembimbing, pembina, atau kita sebut sahabat yang lebih senior dalam masing-masing kegiatan kemahasiswaan dan kepemudaan lainnya (BEM, UKM, PMKRI, OMK, dll.). Dalam formatio para frater Seminari Tinggi dan Skolastikat pun masih terdapat pembimbing (Bapa Rohani), padahal dari segi usia para frater itu sudah cukup matang. Fungsinya bukan untuk mendikte aktivitas mahasiswa, melainkan sebagai seorang sahabat bijaksana untuk dimintai pendapat.
Perubahan sistem saja tidak cukup tanpa perubahan mentalitas. Masing-masing individu menyadari menyadari akar permasalahannya dan hakikat kemanusiaannya. Dengan menyadari hakikat kemanusiaannya, masing-masing individu menyadari visi/cita-citanya. Dengan menyadari visi/cita-citanya, masing-masing individu merencanakan misinya. Implementasi misi-misi itu tak lain adalah tiap-tiap keputusan pilihan yang diambil. Dengan menyadari hakikat kemanusiaan dan visinya, kita membuat pilihan yang mendukung pemanifestasian kemanusiaan dan mengarah kepada visi itu. Maka, dengan tidak secara serampangan dan asal-asalan kita memilih ikut atau tidak ikut suatu kegiatan. Aku memilih ikut kegiatan UKM bukan karena poin soft-skill atau karena alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sehingga aku mengalami alienasi, disorientasi, dan desolasi, melainkan karena kegiatan itu adalah bagian dari proses mengadaku, bagian dari visi jangka panjangku, dan sebagai sarana bagiku bertemu dan berintimasi dengan Tuhan.

IV.             Penutup
Kita sebagai manusia yang terbatas tidak akan pernah secara sempurna memahami Yang Tak Terbatas. Allah adalah Yang Tak Terbatas itu. Namun, bukan berarti mustahil mengalami Allah dalam kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Allah bukan melulu amor Dei intellectualis seperti Spinoza. Cinta seperti itu, meski tidak salah dan tidak dilarang bahkan dianjurkan dalam teologi[22], adalah cinta yang kering dan kita dapat dengan mudah mengalami desolasi. Allah dapat juga dicintai secara personal. Kita dapat mengalami kehadiran Allah secara afektif. Kita dapat menjalin intimasi dengan Allah.
Ketika kita tidak bereksistensi sesuai dengan hakikat kemanusiaan, ketika kita tidak membuat keputusan pilihan sesuai dengan kesejatian diri, kita akan teralienasi dari diri sendiri. Kita akan mengalami disorientasi dan kelelahan. Jika dari diri sendiri saja kita teralienasi, apa lagi dari Allah yang Tak Terbatas? Pusat diri adalah HATI. HATI adalah tempat Allah bertakhta. Ketika AKU, emosi, dan tubuh menjadi tidak harmoni dengan HATI, ketika aku mengada tidak secara harmoni dengan kesejatian diriku, bagaimana mungkin aku mengalami Allah? Maka, dengan bereksistensi sesuai esensi, aku dapat mengalami Allah.

V.                Daftar Pustaka
            Haryatmoko, J., Catatan Kuliah Filsafat Modern
Jacobs, Tom, PAHAM ALLAH – Dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2006
Mueller, J. J., WHAT ARE THEY SAYING ABOUT THEOLOGICAL METHOD?, New York/Ramsey: Paulist Press 1984
Mulyatno, C. B., MENGUAK MISTERI MANUSIA, Pokok-pokok Gagasan Filsafat manusia, Yogyakarta: Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma dalam kerja sama dengan Kanisius, 2009
Prasetyantha, Y. B., AKU BERKISAH KARNA AKU DICINTA, Suatu Usaha untuk Mengantar pada Ber-Teologi Kristiani (Handout Metode Teologi), Yogyakarta: Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, 2009
Simamora, Rickho Pontius, dkk., JON SOBRINO (Paper), Yogyakarta: Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, 2009


[1] Diambil dan dimodifikasi dari Rickho Pontius Simamora, dkk., JON SOBRINO (Paper), Yogyakarta: Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, 2009
[2] Tom Jacobs, PAHAM ALLAH – Dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2006, 194
[3] Paper ini tidak akan membuktikan eksistensi Allah. Pertanyaan “Allah ada atau tidak” tidak relevan di sini. Apa lagi, penanya sebenarnya menghayati eksistensi Allah dengan caranya sendiri. Pertanyaan yang relevan justru pertanyaan berikutnya,”Bagaimana mengalami kehadiran Allah secara eksistensial?”
[4] Para ateis sejak Feuerbach mengkritik sifat artifisial agama ini yang menyebabkan manusia justru teralienasi dari kesejatian dirinya atau justru membius manusia.
[5] Mat 26:39, Mrk 14:36, Luk 22:42
[6] Diterjemahkan bebas dari J. J. Mueller, WHAT ARE THEY SAYING ABOUT THEOLOGICAL METHOD?, New York/Ramsey: Paulist Press 1984, 68
[7] J. Haryatmoko, Catatan Kuliah Filsafat Modern
[8] C. B. Mulyatno, MENGUAK MISTERI MANUSIA, Pokok-pokok Gagasan Filsafat manusia, Yogyakarta: Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma dalam kerja sama dengan Kanisius, 2009, 47
[9] Sebagaimana diterangkan Tan Thian Sing dalam lokakarya terbatas Personnalite et Relations Humanies, Hakikat manusia terdiri dari AKU (rasio/kehendak), emosi/perasaan, tubuh, dan HATI (pusat diri). Menjadi dewasa, menjadi diri sendiri adalah proses menyelaraskan AKU, emosi, tubuh dengan HATI. Atau, dengan kata lain, bertindak sesuai dengan HATI.
[10] C. B. Mulyatno, MENGUAK MISTERI MANUSIA, Pokok-pokok Gagasan Filsafat manusia, Yogyakarta: Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma dalam kerja sama dengan Kanisius, 2009, 46-47
[11] “Pendidikan/pengasuhan membuat perbedaan besar di antara manusia,” kata John Locke.
[12] Hal ini diperparah dengan sistem di Sanata Dharma. Selain menerapkan kurikulum-kurikulum yang padat, Sanata Dharma memberlakukan sistem poin soft-skill.
[13] Pernah dibahas dalam kuliah Filsafat Modern bab Karl Marx (Suprastruktur dan Infrastruktur).
[14] Rickho Pontius Simamora, dkk., JON SOBRINO (Paper), Yogyakarta: Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, 2009
[15] (ITB) Luk 2:49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
[16] Mat 4:1-11, Luk 4:1-13, Mrk 1:12-13
[17] Mat 4:4b
[18] Mat 4:7b
[19] Mat 5-7
[20] J. J. Mueller, WHAT ARE THEY SAYING ABOUT THEOLOGICAL METHOD?, New York/Ramsey: Paulist Press 1984, 68 à Penjelasan ini sengaja saya berikan mengingat beberapa mahasiswa yang saya temui adalah aktivis yang tampaknya tertarik pada Filsafat Marx, Sosialisme, dan Neo-Sosialisme.
[21] Atau, dalam bahasa PRH Yesus menyelaraskan AKU, emosi, tubuh dengan HATI. HATI, juga dalam tradisi Kristiani, adalah tempat Allah meraja.
[22] “Teologi adalah Fides Quaerens Intellectum,” kata Anselmus Canterbury.

No comments:

Post a Comment