Wednesday, December 14, 2011

NUH - Dosa Manusia (Kejadian 6:1-8)

NUH
Dosa Manusia
Kejadian 6:1-8

Pengantar – Kemiripan Mitologi Nuh dengan Mitologi Bangsa-bangsa Sekitar Palestina
Kisah Nuh mirip dengan kisah-kisah air bah Mesopotamia. Model cerita air bah, bahwa ada orang baik yang diselamatkan dari bencana air bah, juga terdapat dalam mitologi Yunani (Deucalion, anak Prometheus dan Pronoia), India (Manu)[1], bahkan Jawa (Baru Klinthing). Kemiripan kisah ini membuat saya tertarik untuk mengangkat kisah Nuh ke dalam paper Pentateukh lebih dari pada sekadar hanya untuk tugas akhir semester. Saya ingin sedikit mendalami kisah Nuh, khususnya tentang “ada apa di balik dosa – what is behind the sin” yang diceritakan dalam kisah ini.
Cerita air bah dalam mitologi Timur Tengah sendiri ada beberapa versi, beberapa di antaranya adalah versi Sumeria dan Babilonia-Tua. Salah satu mitologi Timur Tengah itu menceritakan bahwa para Dewa hendak menghancurkan manusia dengan air bah. Ea, Dewa Kebijaksanaan, lewat mimpi memperingatkan Utnapistim agar waspada terhadap bencana. Utnapistim diminta membuat perahu untuk menyelamatkan diri dengan segenap keluarga dan bintang-binatang baik buas maupun jinak. Para Dewa pun melepaskan badai yang memorak-porandakan dunia seisinya. Para Dewa kehilangan kontrol atas badai tersebut sehingga mereka ketakutan oleh karenanya. Ketika badai reda, perahu Utnapistim terdampar di atas sebuah gunung. Dia melepaskan burung-burung untuk meyakinkan diri bahwa air telah benar-benar surut. Setelah air benar-benar surut dan mereka selamat dari bencana tersebut, Utnapistim mempersembahkan kurban yang berkenan bagi Dewa-dewa. Maka, Utnapistim beserta segenap keluarga dianugerahi keabadian[2].
Sungguh sangat mirip dengan kisah Air Bah Kitab Kejadian di mana Nuh sebagai tokoh utama. Hanya, dalam kitab kejadian hanya ada satu Dewa (TUHAN) yang omnipotent, menguasai segalanya. TUHAN juga tidak lepas kontrol atas badai itu; TUHAN tidak takut sendiri dengan badai kiriman-Nya. Banjir itu bukan karena akal-akalan Dewa, melainkan adalah hukuman atas dosa manusia. Dan, Nuh bukannya tak bisa mati, melainkan masuk dalam sebuah ikatan perjanjian dengan TUHAN.
Badai dan banjir itu adalah hukuman atas dosa manusia. Pertanyaannya adalah, dosa macam apa yang dibuat manusia sehingga TUHAN “tega” memunahkan bangsa manusia yang Dia ciptakan secitra dengan-Nya. Pertanyaan ini akan saya kupas dalam paper sederhana ini. Saya sengaja membatasi diri pada perkara ini mengingat cerita Nuh sendiri merupakan kisah yang cukup panjang untuk dibahas dalam satu buah paper sederhana.

Kejadian 6:1-4 Bagaimana Perkawinan Anak-anak Allah dengan Anak-anak Manusia
adalah Dosa?


ITB
6:1 Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
6:2 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.
6:3 Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."
6:4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

NIV
6:1 When men began to increase in number on the earth and daughters were born to them,
6:2 the sons of God saw that the daughters of men were beautiful, and they married any of them they chose.
 6:3 Then the LORD said, "My Spirit will not contend with man forever, for he is mortal; his days will be a hundred and twenty years."
 6:4 The Nephilim were on the earth in those days-- and also afterward-- when the sons of God went to the daughters of men and had children by them. They were the heroes of old, men of renown.

Cerita ini merupakan cerita yang paling aneh dalam Perjanjian Lama. Bahkan bagi Gereja dan Tradisi Yahudi teks ini menjadi batu sandungan, maka tidak pernah masuk dalam Lectionarium Gereja dan tidak pernah menjadi bahan khotbah[3]. Sepertinya cerita ini hanyalah prolog dari suatu mitos yang diambil begitu saja menjadi prolog kisah air bah Nuh. Manusia diberkati untuk menguasai bumi dan segala isinya serta bertambah banyak, beranak-cucu (Kej. 1:28). Manusia pun bertambah jumlahnya. Ungkapan dalam Kej. 6:1 “When men began to increase in number on the earth...” mirip dengan ungkapan dalam mitos Athrahasis “... the land became wide, the people became numerous...”[4]. Manusia melahirkan anak-anak perempuan yang cantik-cantik dan molek. Dikisahkan bahwa Anak-anak Allah[5] terpikat pada anak-anak perempuan manusia[6] itu sehingga mereka mengambil istri sebanyak yang mereka maui dan senangi.
Siapakah  Anak-anak Allah ini? Bagi pembaca sezaman dengan kitab ini ditulis sepertinya tidak ada permasalahan. Namun, menjadi masalah bagi kita, khususnya orang Kristen-Katolik yang mengimani Yesus adalah Anak Allah. Para ahli menafsirkanya bermacam-macam. Ada beberapa kemungkinan.
Kemungkinan pertama: Anak-anak Allah itu adalah keturunan Set yang hidup saleh serta dekat dengan Allah sehingga dianugerahi gelar “Anak-anak Allah”. Sedangkan anak-anak perempuan itu adalah keturunan Kain yang berdosa membunuh Habel. Anak-anak perempuan itu dihantui dosa leluhurnya.
Kemungkinan kedua: Anak-anak Allah itu adalah manusia-setengah-dewa. Atau, biasanya para raja/penguasa/pahlawan dianugerahi gelar “Anak Dewa”. Seperti Firaun dianugerahi gelar “Anak Rha” (Rhamses). Juga seperti Heracles, pahlawan Yunani yang termasyur, dikatakan sebagai anak Dewa Zeus dengan seorang manusia. Kebiasaan pengkultusan raja ini sangat familiar pada saat itu. Anak-anak Dewa itu mengumpulkan perempuan sebagai selir dalam istananya.
Kemungkinan ketiga: Mungkin akan lebih jelas jika kita memandang dari latar belakang religius Bangsa Timur Tengah saat itu. Mereka mungkin adalah Dewa-dewa minor, anak dari Dewa Agung. Dalam kaca mata religius Israel, mungkin Anak-anak Allah ini adalah para malaikat di surga. Mereka dari surga turun ke bumi, mendapati anak-anak perempuan manusia cantik-cantik lalu menikahi mereka sebanyak yang mereka sukai. Dengan demikian mereka melintas batas antara surga dan bumi. Mereka mendesakralisasi yang kudus (diri mereka sendiri) menjadi profan.
Ayat 3 membuat kita menginterpretasikan ayat 2 (baik kemungkinan pertama, kedua, atau ketiga) sebagai dosa yang besar. Dosa penembusan batas surga dan bumi mengganggu harmoni surga dan bumi. Anak-anak Allah “melihat” anak-anak perempuan manusia “cantik/indah[7], dan “mengambil”-nya. Ketiga kata itu sebanding dengan Kej. 3:6, Hawa “melihat” bahwa buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu “baik[8], dan kemudian “mengambil”-nya untuk dimakan dan diberikan kepada suaminya. Kesejajaran ini menggambarkan bahwa apa yang dilakukan Anak-anak Allah itu sebagai tindakan yang tidak pantas dan menjadi awal mula dosa. Anak-anak Allah hanya “melihat” “kecantikan” fisik anak-anak manusia. Lalu, mereka “mengambil” istri sebanyak yang mereka maui dan senangi sehingga terkesan ada unsur kesewenang-wenangan dan pemaksaan dari pihak Anak-anak Allah terhadap anak-anak perempuan manusia.
Dari perkawinan itu lahirlah sebuah ras raksasa atau manusia-super, pahlawan-pahlawan gagah perkasa pada masa purba. LXX menggunakan kata “de. gi,gantej” (de gigantes) à the giant à raksasa, Alkitab Siria menggunakan kata gnbr’. Pentateuch Samaria menggunakan kata gybryh (Samaria), gybrym (Neofiti), atau gbr’(Onkelos). Targum Pseudo-Jonathan menerjemahkannya dengan nama-nama malaikat-yang-jatuh (smhz’y w’z’l), mereka adalah para pemberontak kepada Allah. Sedangkan New International Version (NIV) menerjemahkan ras raksasa itu dengan “The Nephilim”. “The Nephilim” menerjemahkan kata Ibrani “nepilim”. Nepilim adalah kaum pahlawan (haggibborim) dan terkenal (‘anse hassem). Dalam Kejadian bab 6 Nepilim dikaitkan dengan perkembangbiakan manusia di bumi dan dengan kejahatan serta dosa manusia yang membuat TUHAN menghukum dengan air bah. Mereka adalah keturunan dari hasil berbuatan dosa Anak-anak Allah dengan anak-anak perempuan manusia. Sedangkan dalam tradisi Perjanjian Baru (2 Petrus 2:4 dan Yudas 1:6[9]), Nepilim diidentifikasikan sebagai para malaikat yang memberontak dan dihukum penjara oleh TUHAN. Akar kata Nepilim adalah npl (lpn) à “jatuh” (verba) à to fall. Nama Nepilim (Yang Jatuh) menunjuk pada kejatuhan mereka dari surga atau kejatuhan mereka kepada dosa. Karena dosa adalah maut, Nepilim dikutuk untuk mati. Nepilim sejajar dengan para Titan (mitologi Yunani) dan Apkallu (tradisi Mesopotamia).
Namun, apakah Nepilim adalah sepenuhnya manusia atau semi-ilahi/manusia setengah dewa? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus mendefinisikan siapakah Anak-anak Allah, apakah mereka makhluk ilahi (kemungkinan ketiga) ataukah mereka manusia biasa yang dikultuskan dan/atau mendapat gelar kehormatan (kemungkinan pertama dan kedua). Jika disejajarkan dengan kitab-kitab lainnya (khususnya Mazmur 29:1 dan Ayub 1:6), gelar Anak-anak Allah itu bukanlah gelar untuk manusia, bukan untuk mengkultuskan dan menghormati seorang manusia (seorang raja atau seorang saleh yang dekat dan berkenan di hati Allah), melainkan lebih cenderung dimengerti sebagai makhluk-makhluk ilahi/surgawi: malaikat. Dengan pengertian ini, maka definisi Anak Allah yang dipakai dalam Kejadian 6 tidak sama dengan gelar Anak Allah yang dipakai oleh Yesus. Jika Anak-anak Allah dimengerti sebagai para malaikat, maka Nepilim –keturunan Anak-anak Allah dengan anak-anak perempuan manusia– adalah “makhluk setengah manusia setengah surgawi”. Dari penjelasan di atas, letak “dosa” itu adalah kekacauan kosmis oleh karena Anak-anak Allah menembus batas antara surga dengan bumi, mengawini anak-anak perempuan manusia sebanyak yang mereka kehendaki, dan menurunkan makhluk-makhluk setengah manusia setengah surgawi (Nepilim).



Mengapa kekacauan kosmis itu diidentikkan dengan dosa? Kita dapat melihat pola berpikirnya dari Kitab Imamat[10]. Gagasannya adalah tentang kekudusan. Kutubnya adalah kudus ßà normal/tahir/profan ßà najis. Jika dipersembahkan bagi Allah (dikuduskan), sesuatu itu kudus. Jika tercemar, sesuatu itu menjadi najis. Sedangkan manusia terletak pada level normal/tahir/profan. Manusia dapat menjadi kudus jika dia dipersembahkan/mempersembahkan diri kepada Allah; dapat pula menjadi najis jika tercemar, kotor, atau bahkan berdosa. Supaya lebih jelas, perhatikanlah skema berikut:

                                     menguduskan                                          mentahirkan
                                               ß                                                          ß
kudus            ßà           normal/tahir/profan           ßà                najis
                                               à                                                           à
                                     memprofankan                                          menajiskan

Kudus dan Najis adalah dua kutub ekstrim; keduanya tidak boleh bertemu[11]. Lingkup yang kudus tak lain adalah Allah sendiri. Sedangkan kutub najis adalah kematian. Kematian adalah inti dari kenajisan. Dalam tradisi rabbinik kematian disebut sebagai ‘abi ‘abot hattume’a (hamwjh twba yba), “bapa dari segala bapa kenajisan” [12].
Ada dua suasana dalam pergeseran dari yang Kudus ke yang Najis ini. Suasana pertama semata adalah suasana kultis, sehingga tidak ada sangkut-pautnya dengan moral apa lagi dosa. Biasanya suasana ini terdapat pada hal-hal liturgis atau higienis sehari-hari. Sedangkan suasana kedua mencakup ranah moral-etis sehingga dapat sampai pada keadaan berdosa.
Jika Allah adalah kudus, surga tempat Allah pun kudus. Jika surga kudus, seisi surga pastilah kudus. Malaikat adalah para penghuni surga, maka mereka kudus. Namun, mereka, Anak-anak Allah itu, turun ke bumi dan mengawini anak-anak perempuan manusia sebanyak yang mereka maui. Diandaikan pasti terdapat kontak fisik di sana, Anak-anak Allah yang kudus menjamah anak-anak perempuan manusia yang menjadi istri mereka. Maka, apa yang kudus, bersentuhan dengan apa yang profan. Hal ini mengakibatkan hilangnya status kudus para Anak Allah itu. Tindakan inilah yang disebut pelintasan batas itu, mendesakralisasi apa yang kudus, dan di mata TUHAN hal ini bukan saja menyangkut masalah kultis, liturgis, atau higienis, melainkan adalah dosa. Pola pikir yang mirip dapat dilihat pada Injil Yohanes 20:17[13].

Kejadian 6:5-8 Manusia Berkecenderungan untuk Berdosa – Hukuman TUHAN

ITB
6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
6:6 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
6:7 Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka."
6:8 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN

NIV
6:5 The LORD saw how great man's wickedness on the earth had become, and that every inclination of the thoughts of his heart was only evil all the time.
 6:6 The LORD was grieved that he had made man on the earth, and his heart was filled with pain.
 6:7 So the LORD said, "I will wipe mankind, whom I have created, from the face of the earth-- men and animals, and creatures that move along the ground, and birds of the air-- for I am grieved that I have made them."
 6:8 But Noah found favor in the eyes of the LORD.

TUHAN bermaksud memberi hukuman atas dosa-dosa itu. Dalam bab sebelumnya telah jelas apa dosa itu, “kekacauan kosmis” oleh ulah Anak-anak Allah. Pada ayat 7 TUHAN hendak “menghapuskan” manusia, atau dengan bahasa yang vulgar, TUHAN hendak “memunahkan” manusia. Inti dari kenajisan adalah Kematian, dosa adalah maut, maka tak heran TUHAN hendak memunahkan manusia karena dosa-dosa. Namun yang mengherankan adalah, jika yang berdosa adalah Anak-anak Allah yang menembus batas, mengapa justru manusia yang dihukum TUHAN?
Pada bab sebelumnya diandaikan bahwa ras manusia yang paling dominan adalah Bangsa Nepilim yang adalah bangsa raksasa, para pahlawan kuno yang gagah berani dan kuat. Maka, Kejadian 6:5 dapat dibaca sebagai berikut: bahwa bangsa manusia yang dominan adalah Ras Nepilim. Maka, menyebut manusia sama dengan menyebut Nepilim. Nepilim memiliki kecenderungan hati untuk berbuat dosa dan kejahatan yang mereka lakukan semakin besar saja dari hari ke hari. Apa yang dilakukan Nepilim hanya membuahkan kejahatan semata-mata. Mungkin hal itu dikarenakan mereka lahir oleh karena kekacauan kosmis (dosa), mereka adalah keturunan Anak-anak Allah dan anak-anak perempuan manusia. Dengan demikian menjadi masuk akal mengapa justru manusia yang dihukum TUHAN. Manusia yang dihukum TUHAN tidak lain terdiri dari para Nepilim yang mendominasi bangsa manusia.
Pada ayat 5 dikatakan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. Bukan hanya apa yang dilakukan saja yang adalah dosa, tapi sejak awal manusia memiliki disposisi hati pada kejahatan. “Kecenderungan” (rcy yeser) melingkupi kehendak budi, perkataan, dan perbuatan. Tindakan TUHAN, menghukum, itu tentu bukan secara spontan, tiba-tiba, atau dadakan dan sewenang-wenang. TUHAN tentu tidak akan menghukum suatu kesalahan, katakanlah dosa, hanya karena kesalahan/dosa itu dilakukan sesekali karena ketidaksadaran atau ketidaktahuan. Justru karena kesalahan/dosa itu dilakukan berkali-kali secara sadar bahkan menjadi tabiat, justru karena manusia tahu apa yang mereka lakukan adalah dosa dan tetap melakukannya, TUHAN akhirnya menghukum mereka. Namun, TUHAN tidak menghukum sebagai seorang hakim yang penuh dendam dan amarah, tetapi sebagai orang tua yang kecewa, terluka, dan merana oleh karena tingkah anak-anak-Nya (baca: ciptaan-Nya).
Pada ayat 6 dikatakan bahwa TUHAN “menyesal” telah menciptakan manusia. “Menyesal” menerjemahkan kata Ibrani mhn (niham). Visi TUHAN menciptakan semesta dikacaubalaukan oleh ulah manusia yang berkecenderungan jahat. Penulis (editor) kisah Nuh menggunakan ekspresi manusiawi untuk menggambarkan kekecewaan TUHAN ini. NIV menerjemahkannya dengan indah “... and his heart was filled with pain.” Betapa segala tingkah laku manusia itu benar-benar menyakiti dan mengoyak hati TUHAN.
Secara eksplisit terlihat bahwa penulis (editor) kisah Nuh tidak mengimani predestinasi dan justru memercayai kebebasan makhluk ciptaan TUHAN khususnya makhluk yang berakal-budi: malaikat, manusia, nepilim. Sebab, dengan kebebasannya, para malaikat turun ke bumi dan mengawini anak-anak perempuan manusia, manusia (nephilim) menuruti hasrat dan nafsunya untuk berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hati TUHAN. Dan, mereka memilih untuk terus dan terus melakukan sesuatu hal yang menyakiti hati TUHAN sehingga kesabaran-Nya habis. Akhirnya pada ayat 7 TUHAN dengan hati terluka memutuskan,”Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”
Dari pernyataan “menghapuskan” terkesan TUHAN ingin memunahkan manusia. Akan tetapi, jika dilihat dalam konteks “dosa” seperti dalam Mazmur 51:3[14], kata “menghapuskan” justru memiliki konotasi positif, yaitu “menghapus dosa”. Hal itu dapat dipandang sebagai usaha TUHAN untuk mentahirkan/menguduskan kembali umat manusia. Pentahiran/pengudusan umat manusia kembali ini lewat seseorang bernama Nuh yang padanya TUHAN menaruh kasih karunia (Kej. 6:8). Jika hanya dibaca sampai di sini, terkesan bahwa Nuh dipilih TUHAN bukan karena kesalehannya melainkan dipilih untuk masuk dalam perjanjian dengan TUHAN. Nuh dipilih untuk membuka lembaran baru, untuk membangun kembali visi penciptaan TUHAN. Jika kita melompat pada bab 9:1-3[15] (akhir kisah Nuh di mana TUHAN memberkatinya), kita akan ingat Kej. 1:28-30[16] di mana TUHAN memberkati manusia pertama.



Penutup
Meskipun tema cerita Nuh sangat mirip dengan tema cerita Epos-epos Timur Tengah lainnya, cerita ini memiliki kekhasan tersendiri. Dari berbagai sumber penulis (editor) kisah Nuh menyusun cerita ini sesuai dengan iman monoteismenya. Cerita Nuh tidak memaparkan sejarah. Dengan kenyataan bahwa banyak mitos yang setema, bahkan mirip kisah Nuh di tempat-tempat lain, cerita Nuh pasti juga dongeng. Penulis (editor) kisah Nuh ini, tentu dengan latar belakang frame berpikir Dewa-dewi dan perjuangan monoteisme YHWH, menggunakan cerita ini untuk mengungkapkan, yang pertama dan utama, imannya (mereka) kepada satu Dewa/Allah, TUHAN.
Selain itu, kisah Nuh, khususnya Kejadian 6:1-8 memaparkan bentuk lain dari dosa selain yang ada pada Kejadian 3:1-24 atau Kejadian 4:8. Dosa bukan karena TUHAN menghendakinya, juga bukan berasal dari-Nya, melainkan dari kehendak bebas (malaikat, manusia, nepilim). Karena manusia begitu rentan terhadap kematian (dosa), TUHAN senantiasa memperbarui perjanjian antara Dia dengan manusia. Pada Kejadian 1:28-30 TUHAN mengadakan perjanjian dengan berkat kepada manusia pertama, kemudian pada akhir cerita Nuh (Kej. 9:1-3) TUHAN memperbarui perjanjian dengan rumusan yang sama setelah menghapus dosa-dosa manusia. TUHAN, meskipun dalam amarah-Nya yang dahsyat, senantiasa menaruh kasih setia kepada manusia.

Bibliografi
Bergant, Dianne & Robert J. Karris (ed.)
1989    THE COLLEGEVILLE BIBLE COMMENTARY, Based on The New American Bible with Revised New Testament, Collegeville-Minnesota: The Liturgical Press

Dhavamony, Mariasusai
1995    FENOMENOLOGI AGAMA, Yogyakarta: Kanisius

Freedman, David Noel, cs (ed.)
            1992    THE ANCHOR BIBLE DICTIONARY, Volume IV, New York: Doubleday

Indra Sanjaya, V.
2001    KITAB TAURAT, Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti
2007    MEMBACA LIMA KITAB PERTAMA ALKITAB I, Pengantar Umum – Kitab Kejadian, Yogyakarta: Kanisius

Keck, Leander E., cs (ed.)
1994    THE NEW INTERPRETER’S BIBLE, A Commentary in Twelve Volumes, Volume I, Nashville: Abingdon Press

Mays, James L.,cs (ed.)
1988    HARPER’S BIBLE COMMENTARY, San Fransisco: Harper & Row Publishers




[1] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1995, 158
[2]  Dianne Bergant & Robert J. Karris (ed.), The Collegeville Bible Commentary, Based on The New American Bible with Revised New Testament, Collegeville-Minnesota: The Liturgical Press, 1994, 47-46
[3] V. Indra Sanjaya, Membaca Lima Kitab Pertama Alkitab I, Pengantar Umum – Kitab Kejadian, Yogyakarta: Kanisius, 2007, 99
[4] V. Indra Sanjaya, Membaca Lima Kitab Pertama Alkitab I, Pengantar Umum – Kitab Kejadian, Yogyakarta: Kanisius, 2007, 99
[5] Secara harafiah “Anak-anak Dewa”. Bahasa Ibraninya “ bene ha’elohim”.
[6] bene ha’adam
[7] Bahasa Ibraninya bwj (tob) à “good” dalam Bahasa Inggris.
[8] NIV Genesis 3:6 “... that the fruit of the tree was good for food and pleasing to the eye...”
[9] (ITB)Yudas 1:6 Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar.
(NIV) Jude 1:6 And the angels who did not keep their positions of authority but abandoned their own home-- these he has kept in darkness, bound with everlasting chains for judgment on the great Day.

[10] V. Indra Sanjaya, Kitab Taurat, Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2001, 125-126
[11] V. Indra Sanjaya, Kitab Taurat, Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2001, 125
[12] V. Indra Sanjaya, Kitab Taurat, Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2001, 126
[13] (ITB) Yohanes 20:17 “Kata Yesus kepadanya: ‘Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.’”
[14] (ITB) Mazmur 51:3 Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
[15] (ITB) Kej. 9:1-3
(1) Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. (2) Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. (3) Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.
[16] (ITB) Kej. 1:28-30
(28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (29) Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. (30) Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian

No comments:

Post a Comment