Thursday, December 15, 2011

OPUS DEI - Sebuah Alternatif Way of Life dalam Gereja Katolik

OPUS DEI
Sebuah Alternatif Way of Life dalam Gereja Katolik

I.       Pengantar
Beberapa tahun yang lalu Dan Brown dengan novel “The Da Vinci Code” mengguncangkan Dunia Kekatolikan. Dalam novel itu tersebutlah sebuah kelompok rahasia bernama Opus Dei. Sejak saat itu, setidaknya di Indonesia, Opus Dei menjadi sebuah mitos. Segala mitos tentangnya mencuat dan dipergunjingkan baik di kalangan Katolik maupun non-Katolik. Selama tujuh belas tahun menjadi anggota Gereja Katolik Roma, saya sendiri pun belum pernah mendengar nama Opus Dei hingga melihat film dari novel itu empat tahun yang lalu. Saya pikir Opus Dei adalah organisasi atau kongregasi fiktif rekaan Dan Brown belaka, ternyata pernah suatu kali dalam majalah HIDUP saya membaca bahwa Opus Dei benar-benar ada.
Seorang Frater, senior saya dulu di biara, bercerita bahwa Opus Dei adalah kelompok garis keras Katolik. Mereka, para anggota Opus Dei, menggunakan cilice (rantai kecil berduri) melingkar pada paha atas mereka dan melakukan penyesahan diri sendiri, sama seperti yang digambarkan dalam novel (dan film) “The Da Vinci Code”. Rasa ingin tahu saya semakin menjadi ketika seorang rekan teater bertanya kepada saya apakah di Fakultas Teologi saya dan kawan-kawan mahasiswa lainnya mempelajari Opus Dei. Saya sadar bahwa pertanyaan itu terbit dari prapemahamannya tentang hubungan Opus Dei dengan Gereja Katolik Roma berdasarkan mitos yang beredar dan bahwa rekan teater saya itu membutuhkan jawaban yang jelas dari seseorang yang dianggap lebih dekat dengan perihal seperti itu dibandingkan dia.
Kemudian saya mendapatkan sebuah buku menarik karangan John L. Allen, Jr. berjudul “Opus Dei – Sepak Terjang Kelompok Misterius Katolik”. Saya pikir, alangkah baiknya jika buku itu saya ulas dalam sebuah paper, selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Gereja, juga untuk menjawab rasa ingin tahu saya dan teman-teman saya perihal Opus Dei. Memang saya merasa kurang lengkap kalau hanya mengandalkan satu buah buku untuk mengetahui seluk-beluk organisasi internasional besar ini, tapi terus terang saya mengalami kesulitan dalam mendapatkan kepustakaannya mungkin karena di Indonesia Opus Dei baru hanya sebuah nama bahkan legenda serta bahan pergunjingan dan belum hadir nyata[1]. Maka, saya mencoba mencari artikel-artikel yang berkaitan dengan Opus Dei lewat internet. Ada beberapa situs yang menulis tentang Opus Dei. Ada pula situs resmi Opus Dei bernama ODAN (Opus Dei Awarness Network) dengan alamat www.odan.org. Akan tetapi, saya mengambil tiga buah artikel dari situs www.rickross.com. Ketiga buah artikel itu berjudul “Controversy Over Opus Dei” oleh David Ruppe (diunggah 18 Juni 2001), “Ex-Opus Dei Members Decry Blind Obedience” oleh Charlotte Sector (diunggah 16 Mei 2006), dan “The Vatican’s Own Cult” oleh Robert Hutchison (diunggah 10 September 1997). Ketiga artikel memuat dan mengulas pandangan-pandangan negatif terhadap keberadaan Opus Dei, sedangkan buku “Opus Dei” berusaha membahas organisasi itu apa adanya. Maka, saya tertarik mendialektikakan ketiga artikel itu dengan buku karangan John L. Allen, Jr., meskipun dalam buku “Opus Dei” sendiri juga diulas pandangan-pandangan negatif serta kritik terhadap Opus Dei, sehingga, saya harap, kita mendapatkan pemahaman yang kurang lebih obyektif terhadap kelompok yang terkesan misterius dan kontroversial ini selain juga pertanyaan saya dan beberapa teman terjawab.
Pada bagian kedua artikel ini saya akan membahas apa itu Opus Dei. Pada bagian ketiga saya akan membahas pandangan-pandangan negatif terhadap Opus Dei. Sedangkan pada bagian keempat saya hanya akan menguraikan pandangan pribadi, tentu berdasarkan pemahaman saya atas sumber-sumber tertulis yang ada. Buku Opus Dei memang terlalu luas untuk saya ulas dalam paper sederhana ini. Maka, saya membatasi diri dengan pandangan-pandangan yang terdapat dalam artikel-artikel yang saya dapatkan sehingga dialektikanya terfokus dan tidak terlalu luas.

II.    Apa Itu Opus Dei?
1.        Sejarah Opus Dei
Opus Dei bukanlah suatu tarekat religius, melainkan suatu organisasi Katolik dengan visi misi tertentu. Opus Dei didirikan oleh Santo Josemaria Escriva de Balaguer, seorang imam berkebangsaan Spanyol, pada 2 Oktober 1928. Meski berulang kali menegaskan bahwa beliau tidak mendirikan Opus Dei, St Escriva mengaku mendapatkan visi dari Tuhan saat menyepi di biara Vincentian di Madrid, Spanyol. Tuhan telah berkehendak dan kehendak-Nya ini diterjemahkan oleh St. Escriva menjadi sebuah organisasi Opus Dei.

2.        Visi Opus Dei
Ide dasar St. Escriva adalah bagaimana menguduskan setiap kegiatan dan pekerjaan sehari-hari, bagaimana mengamalkan injil dan ajaran Gereja seutuhnya dalam hidup keseharian. Setiap orang dipanggil untuk hidup kudus. Kekudusan ini bukanlah menjadi hak para biarawan-biarawati serta rohaniwan semata. Namun, bukan berarti setiap orang harus menjadi santo/santa. Kesucian tidak hanya dicapai melalui doa dan disiplin spiritual, tetapi juga lewat pekerjaan sehari-hari. Kita dapat menemukan Tuhan di dalam pekerjaan dan rutinitas harian kita, siapapun kita. Maka, kesucian adalah perubahan cara pandang suatu kehidupan seseorang, perubahan pemaknaan hidup keseharian seseorang.
Visi Opus Dei itu mungkin tergambar dalam homili Escriva berjudul “Bergairah Mencintai Dunia” di Universitas Navarra, 8 Oktober 1967. Berikut adalah penggalan homili tersebut:
“Harus kalian pahami sekarang, dengan lebih jelas dari yang sudah-sudah, bahwa Tuhan memanggil kalian untuk melayani Dia dalam dan dari aktivitas sehari-hari, aktivitas sekuler dan kemasyarakatan kehidupan manusia. Dia menunggu kita setiap hari di laboratorium, di ruang bedah, di barak-barak tentara, di universitas, di pabrik, di bengkel, di ladang, di rumah, dan di dalam luasnya panorama kerja. Pahami ini baik-baik: ada sesuatu yang kudus, sesuatu yang ilahi tersembunyi dalam situasi yang paling biasa, dan terserah kalian masing-masing bagaimana menemukannya.
Saya sering mengatakan kepada para mahasiswa dan pekerja yang bersama saya pada tahun tiga puluhan agar mereka mencari tahu bagaimana cara mewujudkan kehidupan spiritual mereka. Saya ingin mengingatkan mereka dari godaan, yang begitu lumrah dahulu maupun sekarang, untuk menjalani semacam kehidupan ganda: di satu pihak kehidupan batin, kehidupan yang terkait dengan Tuhan; dan di pihak lain, sebagai sesuatu yang terpisah dan tersendiri, kehidupan profesional, sosial, dan keluarga mereka, yang tersusun atas berbagai realitas kecil-kecil duniawi.
Nah, anak-anakku! Kita tidak bisa menjalani sebuah kehidupan ganda. Kita tidak bisa seperti para pengidap skizofrenia, kalau kita ingin menjadi orang Kristen. Hanya ada satu kehidupan, terdiri atas daging dan roh. Dan inilah kehidupan yang harus mewujud, dalam jiwa dan raga, kudus dan dipenuhi Tuhan: kita temukan Tuhan yang tak kasatmata dalam hal-hal material dan paling kasatmata.
Pandangan Kristen sejati – yang mengakui kebangkitan raga – jelas sekali menentang “disinkarnasi”, tanpa takut dianggap materialistik. Dengan demikian, kita bisa berbicara tentang sebuah materialisme Kristen, yang terang-terangan menentang materialisme yang buta terhadap roh.”[2]

3.        Keanggotaan Opus Dei
Opus Dei, tidak seperti kongregasi-kongregasi religius yang senantiasa mengadakan aksi panggilan untuk mencari anggota, terkesan misterius dalam perekrutan anggota baru, bahkan terkesan sama sekali tidak mencari. Namun, biasanya seseorang telah terlebih dahulu mengenal Opus Dei secara personal dengan salah satu atau sekelompok anggotanya yang mungkin merupakan anggota keluarga sendiri atau orang lain yang dengannya dia bertemu dalam suatu kesempatan kegiatan (yang mungkin sama sekali tidak mewakili Opus Dei). Atau, bisa juga seseorang itu mengenal Opus Dei lewat suatu lembaga yang dikelola Opus Dei seperti sekolah, pusat pemuda, atau malah sebuah paroki. Dari pengenalan tersebut seseorang itu akan lebih dalam mengenal Opus Dei melalui rekoleksi, retret, atau aktivitas-aktivitas Opus Dei lainnya. Baru kemudian jika dia merasa terpanggil untuk menjadi anggota Opus Dei, dia akan “bersiul”. “Bersiul” adalah istilah teknis Opus Dei bagi lamaran seorang calon menjadi anggota, seperti seorang calon biarawan yang membuat surat lamaran bergabung dengan suatu kongregasi/ordo religius. Seseorang baru boleh “bersiul” minimal pada usia 18 tahun. Para anggotanya tidak mengucapkan triprasetya (kaul) kebiaraan sebab Opus Dei bukanlah kongregasi religius. Sebagian besar anggotanya adalah awam yang berkeluarga walau ada juga para rohaniwan yang selibat atau awam selibat. Tidak ada paksaan dalam Opus Dei untuk menikah atau tidak. Meski demikian, para anggota menggabungkan diri melalui “kontrak”. Secara analogi “kontrak” ini mirip dengan kaul kebiaraan, awalnya sementara selama beberapa periode hingga akhirnya kekal. Selama dalam masa sementara setiap anggota memperbarui “kontrak” setahun sekali pada tanggal 19 Maret, Hari St. Yosef. Bedanya dengan kaul kebiaraan, isi “kontrak” itu adalah pernyataan persetujuan untuk hidup dalam jiwa Opus Dei dan mendukung segala aktivitas apostoliknya, maka Opus Dei akan bertanggung jawab menyediakan formasi doktrinal dan spiritual bagi para anggota. Macam-macam anggota Opus Dei adalah sebagai berikut:
a.                   Supernumerary
Adalah para awam yang biasanya berkeluarga dan memiliki pekerjaan seperti masyarakat pada umumnya serta pulang ke rumah masing-masing.
b.                  Numerary
Anggota yang menjadikan Opus Dei benar-benar layaknya keluarga mereka. Mereka berkomitmen untuk selibat dan tinggal di pusat Opus Dei. Ada yang total bekerja untuk Opus Dei, ada juga yang tetap bekerja di luar Opus Dei sesuai kompetensi profesional masing-masing.
c.                   Asisten Numerary
Adalah subnumerary yang semuanya wanita. Mereka bekerja menangani urusan rumah tangga pusat-pusat dan fasilitas Opus Dei.
d.                  Rekan
Anggota yang selibat seperti numerary, tetapi oleh karena profesi, mereka tidak tinggal di pusat Opus Dei.
e.                   Rohaniwan
Anggota Opus Dei yang adalah para imam. Mereka “diperbantukan” bagi Opus Dei. Mereka tetap berada di bawah hierarki Roma, di bawah kewenangan Mgr. Javier Echevarria.
Selain anggota-anggota itu, Opus Dei juga memiliki “Kooperator”. “Kooperator” ini dapat dianalogikan “Kerabat MSF” pada kongregasi MSF.
Opus Dei telah tersebar di berbagai penjuru dunia, antara lain: Spanyol, Portugal, Italia, Inggris Raya, Prancis, Irlandia, Meksiko, Amerika Serikat, Chili, Argentina, Kolombia, Venezuela, Jerman, Guatemala, Peru, Ekuador, Uruguay, Swiss, Brazil, Austria, Kanada, Jepang, Kenya, El Savador, Costa Rica, Belanda, Paraguay, Australia, Filipina, Belgia, Nigeria, Puerto Rico, Bolivia, Kongo, Pantai Gading, Honduras, Hong Kong, Singapura, Trinidad-Tobago, Swedia, Taiwan, Finlandia, Kamerun, Republik Dominika, Makao, Selandia Baru, Polandia, Hongaria, Republik Ceska, Nikaragua, India, Israel, Lithuania, Estonia, Slovakia, Libanon, Panama, Uganda, Kazakhstan, Afrika Selatan, Slovenia, Kroasia, dan Lithuania (data tahun 1946 – 2004). Meski telah mendekati Indonesia (dengan hadir di negara Singapura dan Philipina), Opus Dei belum secara resmi hadir di tanah air kita, justru mitos dan legendanya telah mendahului Opus Dei masuk ke Indonesia. Namun, setidaknya sudah ada seorang Uskup yang menjadi anggota Opus Dei, Uskup Surabaya.

4.        Tentang Bapa Pendiri
Setiap ordo, kongregasi/tarekat religius, atau organisasi yang ada pasti tak pernah lepas dari sang pendiri. Maka, ada baiknya saya juga mengulas sedikit tentang St. Escriva yang oleh para anggota Opus Dei dipanggil “Sang Bapa” itu.
Josemaria Escriva de Balaguer lahir pada 9 Januari 1902 di Barbastro, Aragon, Spanyol dari pasangan Jose dan Dolores Escriva. Nama baptisnya Jose Maria Julian Mariano. Antara Natal 1917 dan Epifani 1918 Escriva merasa terpanggil. Pada tahun 1920 dia studi di universitas keuskupan di Saragosa dan ditahbiskan pada 28 Maret 1925. 2 Oktober 1928 dalam sebuah retret di biara Vincentian, Madrid, dia mendapatkan visi tentang Opus Dei. Escriva meninggal pada 26 Juni 1975 (tanggal yang kemudian ditetapkan sebagai hari peringatannya). St. Escriva dibeatifikasi pada tahun 1992 dan dikanonisasi pada tahun 2002 oleh Paus Yohanes Paulus II.

III. Pandangan Negatif Terhadap Opus Dei
Banyak pandangan negatif seputar Opus Dei baik yang berasal dari orang-orang luar (yang bisa jadi adalah anggota keluarga anggota Opus Dei atau mereka yang heran dengan fenomena Opus Dei dan merasa terancam oleh karenanya) maupun yang berasal dari mantan anggota Opus Dei. Mantan anggota Opus Dei yang memiliki pandangan negatif itu pada umumnya adalah para mantan numerary yang mendapatkan formatio dan pendidikan (layaknya seorang calon imam) di pusat Opus Dei. Namun, tak sedikit juga para mantan numerary yang tetap memandang Opus Dei secara positif. Pada umumnya mereka, para mantan anggota Opus Dei, yang memiliki pandangan positif kepada Opus Dei itu masih memiliki hubungan yang baik dengan Opus Dei. Ada seseorang yang keluar dari Opus Dei setelah menjadi anggota selama 25 tahun. Dia mengaku merasa terpanggil untuk menghidupi semangat Opus Dei, pengudusan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari, tetapi di saat yang sama, tentu setelah mengenal Opus Dei secara intensif, dia merasa tidak terpanggil untuk menjadi anggota Opus Dei.
Pandangan negatif tentang Opus Dei tak sulit didapatkan. Apa lagi, dengan hadirnya novel “The Da Vinci Code” karya Dan Brown, yang dengan cerdas menyungsangkan fakta menjadi legenda, apriori buruk telah menempel pada nama Opus Dei. Cukup dengan mengetik kata “Opus Dei – Artikel” pada Google, artikel-artikel tentang Opus Dei dalam berbagai Bahasa Eropa (Spanyol, Portugal, Italia, Inggris) tersedia.
Saya hanya mengambil tiga dari banyak sekali artikel tentang Opus Dei hanya sekadar untuk menyempitkan ranah pembicaraan sebab pembicaraan tentang Opus Dei bisa sangat luas. Dalam artikel “Controversy Over Opus Dei” oleh David Ruppe digambarkan bahwa Opus Dei tidak mempraktekkan “aksi panggilan” seperti yang biasa dipraktikkan oleh kongregasi-kongregasi religius untuk mencari anggota baru. Perekrutan anggota baru Opus Dei seakan-akan menjadi suatu misteri. Salah satu “cara” Opus Dei menarik perhatian para pemuda adalah mendirikan rumah pusatnya di dekat kampus dan sekolah-sekolah. Opus Dei tidak secara “aktif” mencari seperti yang biasa dipraktikkan kongregasi-kongregasi religius, melainkan seakan-akan secara “pasif” – sekali lagi saya beri catatan bahwa Opus Dei bukan kongregasi religius; Opus Dei adalah sebuah Organisasi Kekatolikan Internasional. Seorang numerary, Brian Finnerty, mengatakan,”Youth is a time when people are open to great generosity, when they are trying to think about things, trying to think about the meaning of their lives and their plans for their lives. So, I think youth can be a tremendous time for a person to grow in their faith, and so that's something Opus Dei tries to help people do.[3] Dari pernyataan tersebut tersirat bahwa Opus Dei mencari benih-benih panggilan[4] muda. Para pemuda itu mendapatkan formatio sedemikian rupa sehingga banyak mantan formandi Opus Dei yang merasa keberatan dengan formatio tersebut. Banyak yang menyatakan bahwa hidup mereka selama berada di pusat Opus Dei adalah hidup yang dikontrol dan diawasi. Kebebasan mereka direnggut. Bahkan, ada keluarga yang protes anak mereka menjadi pribadi yang lain setelah bergabung dengan Opus Dei. Ada pencucian otakkah di sana? DiNicola (perempuan), seorang mantan formandi Opus Dei, menyatakan bahwa di bawah bayang-bayang Opus Dei hidupnya dikontrol dan diawasi dengan ketat: hari-harinya hanyalah sebuah rutinitas, surat-suratnya dibaca direkturnya, pengeluaran belanjanya harus dicatat, dilarang menonton televisi atau membaca, harus meminta izin direktur ketika ingin keluar dari pusat Opus Dei, dan bahkan harus mengaku dosa kepada imam anggota Opus Dei[5].

IV.  Sintesis dan Penutup
Berdasarkan studi pustaka terhadap artikel-artikel dan buku yang saya dapatkan, saya mendapati sebuah kesalahpahaman terhadap Opus Dei. Visi-misi St. Escriva “pengudusan aktivitas sehari-hari” menuntut para anggotanya untuk tetap tidak berpenampilan lain dari awam yang lain. Para anggota Opus Dei tetap awam dan mereka tidak mengenakan lambang apapun untuk menunjukkan keanggotaan mereka – tentu saja saya, dengan catatan bahwa Opus Dei bukanlah ordo/kongregasi religius, menganalogikan dengan para biarawan yang menambah nama ordo/kongregasi di belakang nama mereka (misalnya, Antonius Tomo Widjoyo, OFM) atau dengan mengenakan busana biara tertentu (jubah atau habet). Ini bukan berarti bahwa mereka menyembunyikan keanggotaan mereka, hanya tidak menggembar-gemborkan saja. Para anggota Opus Dei bersikap sewajarnya awam bukan anggota, dan hal ini membuat kita sulit membedakan siapa yang anggota dan siapa yang bukan. Sehingga, terdapat kesan rahasia dan misterius terhadap organisasi sekuler Gereja ini. Kesan apriori inilah yang membuat Opus Dei mudah disalahpahami. Dan, kesalahpahaman ini melahirkan mitos dan kontroversi seputar Opus Dei.
Dalam konteks Barat, di mana pendidikan a la seminari sudah tidak lagi populer dan mungkin tidak lagi dikenal luas karena jumlah panggilan menjadi seorang imam merosot, model pendidikan Opus Dei yang saya nilai sangat mirip dengan model formatio seminari akan menjadi suatu model yang aneh dan tidak lazim. Dalam konteks Barat, yang telah mengalami berbagai zaman dan sekarang sedang mengalami zaman postmodern atau kontemporer, “penyensoran” surat oleh direktur seminari, izin keluar kompleks seminari walau hanya untuk ke supermarket berbelanja kebutuhan sehari-hari, sebuah jadwal harian, pengakuan dosa kepada pastor seminari, pembatasan hiburan (seperti televisi) adalah hal yang aneh dan tidak wajar. Namun, bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan a la atau bahkan di dalam seminari, hal-hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Melihat sejarah Opus Dei yang didirikan oleh seorang imam Katolik asal Spanyol (yang terkenal dengan kekatolikannya yang kental), tidak heran kalau formatio di pusat Opus Dei mirip dengan formatio di seminari. Apa lagi, dijelaskan bahwa para numerary, walau mereka awam dan tidak akan ditahbiskan sekalipun, mendapatkan pendidikan seperti yang didapatkan para calon imam. Dan, melihat sejarah alam pikir (mentalitas) Barat, tidak heran pula kalau mereka menganggap formatio di dalam Opus Dei sebagai sesuatu yang tidak wajar, aneh, bahkan mungkin sesat. Maka, saya menyimpulkan bahwa pandangan-pandangan negatif seputar Opus Dei khususnya seputar formatio-nya hanyalah buah dari kesalahpahaman. Pertemuan mentalitas postmodern/kontemporer Barat dengan pendidikan a la seminari (yang klasik) itu kurang harmonis sehingga kesalahpahaman itu tercipta.
Opus Dei hanyalah organisasi sekuler Gereja yang didirikan oleh seorang imam Spanyol dengan visi-misi “menguduskan aktivitas sehari-hari”. Dengan demikian, Opus Dei dapat menjadi alternatif way of life selain hidup membiara atau hanya sekadar menjadi awam (baik kawin maupun tidak). Mengutip kembali pernyataan seorang mantan Opus Dei,”Saya merasa terpanggil untuk menghidupi semangat Opus Dei, pengudusan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari, tetapi di saat yang sama, tentu setelah mengenal Opus Dei secara intensif, saya merasa tidak terpanggil untuk menjadi anggota Opus Dei.” Orang dapat menempuh way of life awam, awam dengan semangat Opus Dei, awam anggota Opus Dei, biarawan, biarawan-imam, imam deosis, imam anggota Opus Dei, atau way of life lain yang masih mungkin dalam Gereja Katolik.

Bibliografi
Charlotte Sector
              2006         Ex-Opus Dei Members Decry Blind Obedience, www.rickross.com

David Ruppe
            2001    Controversy Over Opus Dei, www.rickross.com

John L. Allen, Jr.
2007         Opus Dei – Sepak Terjang Kelompok Misterius Katolik, terj. Nurcholis dan Muhammad Syukri, Jakarta: Pustaka Alvabet

Robert Hutchison
              1997         The Vatican’s Own Cult, www.rickross.com


[1] Dalam proses penulisan paper ini saya mendapatkan sebuah informasi dari salah seorang teman yang sama-sama meneliti dan menulis perihal Opus Dei bahwa Uskup Surabaya adalah anggota Opus Dei. Namun, sepertinya memang belum ada pusat Opus Dei di Indonesia.
[2] John L. Allen, Jr., OPUS DEI – Sepak Terjang Kelompok Misterius Katolik, terj.: Nurcholis dan Muhammad Syukri, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2007, 80-81
[3] Dikutip dari artikel “Controversy Over Opus Dei” oleh David Ruppe (diunggah 18 Juni 2001 pada www.rickross.com).
[4] Saya menggunakan istilah-istilah kongregasi religius sekadar untuk memudahkan pembahasaan.
[5] Diterjemahkan bebas dari “Controversy Over Opus Dei” (She says her daily activities were precisely mapped out, some of her incoming and outgoing mail was read, expenditures were required to be accounted for, reading and television viewing were restricted, and she had to discuss with her spiritual director anytime she wanted to walk outside the center. She says she also was discouraged from confessing her sins to non-Opus priests. "It wasn't presented as an optional thing, you were told you need to obey your directors in everything." says DiNicola).

5 comments:

  1. terjadi kesalahan nama pemeran ew mas kalong,, hahaha,, Antonius Tomo, OFM,, kasihan ke-MSF-annya tak terpublikasi,, hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... itu sengaja :P

      Sekarang Mas Tomo sudah menjadi frater dioses Palangkaraya :)

      Delete
  2. Mereka memang kontroversial, terkesan keras menegakkan tiang-tiang agama. Bahkan tak jarang di cap "Fasis"nya Katolik.

    Kalau dari saya pribadi, "Roh kudus berkarya dengan cara yang beragam."

    Salam kenal mas, terima kasih artikelnya mencerahkan.
    Ad Maiorem Dei Gloriam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katolik garis keras... hahahahaha :D
      Konon Opus Dei itu "bermusuhan" dengan para Jesuit :P
      Itu rumornya... entahlah.

      Salam kenal. Terima kasih sudah mampir.
      Berkah Dalem

      Delete
  3. Mas tomo.keluarga kami di besarkan sbg laskar dioses Dan setiap keturunan laki lski dipersembahkan sbg milik gereja

    ReplyDelete