Wednesday, December 14, 2011

Resensi Buku: Al-Quran, Sebagai Sabda Allah, Studi Kristiani Mengenai Doktrin Islam tentang Pewahyuan

Judul           : Al-Quran, Sebagai Sabda Allah, Studi Kristiani Mengenai Doktrin Islam tentang Pewahyuan
Penulis        : Y. B. Prasetyantha, MSF
Penerbit      : Amara Books
Cetakan      : 1, 2010
Tebal          : 106 halaman

Cover Buku

            Umat Kristiani telah bertemu dan berinteraksi dengan umat Islam selama berabad-abad. Di dalam pertemuan dan interaksi itu sering terjadi kesalahpahaman yang menimbulkan konflik yang berujung kepada kekerasan. Banyak suka dan luka dialami oleh keduanya. Hal ini mendorong Gereja Katolik untuk berdialog dengan Islam. Gereja berusaha memahami Islam supaya kesalahpahaman yang menyebabkan konflik serta kekerasan dapat diminimalisasi. Oleh sebab itu, Y. B. Prasetyantha, MSF mencoba meneropong fundamen iman Umat Islam, Al-Quran, dan sedapat mungkin mengomparasikannya dengan fundamen iman Kristiani. Buku yang terdiri dari 3 bab ini berdasarkan disertasi Y. B. Prasetyantha, MSF pada Universitas Kepausan Gregoriana, Roma, Italia (2005) yang berjudul The Incarnate Word of God: Christian and Islamic Doctrine on Revelation, A Study in Comparative Theology, khususnya bab III: “Islamic Doctrine on Revelation: Qur’an as Revelation.”
            Pada bab I Y. B. Prasetyantha, MSF mencoba menelusuri jejak kelahiran Al-Quran. Al-Quran diyakini sebagai pewahyuan-pewahyuan yang diberikan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad. Pewahyuan-pewahyuan ini mengubah Muhammad dari warga Mekkah biasa menjadi seorang pelihat religius yang kemudian tidak hanya menjadi pemimpin dari bangsanya, tetapi menjadi pribadi yang paling berpengaruh di dalam seluruh sejarah manusia. Pewahyuan-pewahyuan yang pertama terjadi di sebuah gua di Gunung Hira. Asal-usul ilahi Al-Quran merupakan fundamen doktrin pewahyuan Islam. Umat Muslim memandang Al-Quran, baik isi maupun bentuk, sebagai ilahi dan Muhammad sebagai alat yang dipilih sendiri oleh Allah. Umat Muslim berkeyakinan bahwa Al-Quran, walaupun memiliki pertalian dan kontinuitas dengan Kitab Taurat Musa dan Kitab Injil Yesus (Isa), telah menggantikan dan membatalkan kitab-kitab itu karena kitab-kitab tersebut telah mengalami distorsi dan penyelewengan oleh umatnya. Satu-satunya kitab yang benar hanyalah Al-Quran sehingga satu-satunya jalan keselamatan adalah Islam.
            Al-Quran diyakini disalin dari sebuah Kitab Suci induk yang ada di surga. Meskipun demikian, pewahyuan Al-Quran turun secara bertahap per bagian sepanjang hidup Muhammad. Para pengikut Muhammad mencatat dan mengumpulkan pewahyuan ini. Pada proses kanonisasi awalnya terdapat banyak versi Al-Quran seperti versi Uthman, versi Ubbay bin Ka’b, versi Abd Allah bin Mas’ud, versi Ali bin Abi Talib, versi Abu Musa al-Ash’ari, dan versi Aisha (salah satu istri Muhammad). Bagaimanapun, Umat Muslim menganggap bahwa salinan Al-Quran yang mereka miliki merupakan salinan yang sama, tanpa perubahan, atau variasi apapun dari kanon uthmanik dan menganggap versi-versi lain hanya sebagai salinan personal dari para individu yang bernilai untuk mendapatkan nilai eksegetisnya. Versi-versi ekstrakanonikal (nonuthmanik) itu tidak memperoleh persetujuan umum Umat Muslim. Kanon uthmanik menjadi standar otoritatif Al-Quran yang tertulis dari sejarah Islam.
            Pada bab II Y.B. Prasetyantha, MSF mencoba menyelami isi pokok Al-Quran. Al-Quran terdiri dari 114 bab (sura) dan masing-masing dibagikan ke dalam sejumlah ayat. Al-Quran berisi bermacam-macam kisah, ketetapan-ketetapan, dan larangan-larangan dari sebuah hakikat yang quasi-legal. Al-Quran tidak disusun secara sistematis ataupun kronologis, tetapi disusun mulai dari sura yang paling panjang hingga sura yang paling pendek. Tema pokok di dalam Al-Quran adalah hubungan Allah-manusia. Al-Quran membukakan jalan bagi manusia untuk memahami kekuasaan Allah dan mengundang mereka untuk berserah diri (islam) kepada kehendak-Nya.
            Doktrin fundamental di dalam Al-Quran adalah “tiada Tuhan selain Allah”. Allah menurut Islam bukanlah “yang absolut abstrak”, melainkan Allah ada dan adalah satu; Allah adalah ada yang tertinggi yang kepada-Nya semua Orang Muslim menyapa dan memohonkan dengan nama ‘Allah’. Al-Quran memakai kata ‘Allah’ sekitar 2.500 kali untuk menunjuk kepada Yang Transenden itu.
            “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (Q 4:36) merupakan inti pesan Al-Quran kepada manusia. Hakikat manusia berada di dalam posisi yang sangat berseberangan dengan Allah. Manusia ciptaan sedangkan Allah adalah pencipta. Allah adalah Tuhan yang Mahakuasa (Rabb), sedangkan manusia hanyalah hamba-Nya (‘abd) dengan segala pengabdian dan kebergantungannya. Maka, manusia harus rendah hati, patuh, dan menyerahkan diri dengan sikap merendah. Manusia adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya dengan kematian. Kepulangan kepada Allah di dunia akhirat itu membutuhkan suatu perjuangan persiapan yang konstan (jihad) sampai hari akhir.
Pada bab III Y.B. Prasetyantha, MSF mencoba mendedah peran sentral Al-Quran di dalam kehidupan Umat Muslim. Menurut Islam Sunni, khususnya Mazab Hanbaliah, Al-Quran adalah kekal dan tak tercipta. Al-Quran adalah sabda transenden dan absolut dari Allah. Dalam perkembangan teologi Sunni, Al-Quran adalah Sabda Ilahi (kalam Allah). Sabda adalah salah satu atribut/sifat esensial dari Allah. Allah kekal, maka Sabda pun kekal. Sabda bukanlah makhluk, maka tak tercipta. Sabda ini bukan dimengerti sebagai surat atau suara. Allah mewahyukan diri, berbicara, memerintah, melarang, dan bercerita dengan atribut-Nya ini. Al-Quran adalah petunjuk Allah yang dinamis, eksplisit, dan komplit. Dalam Al-Quran, umat Islam mengalami kehadiran Allah. Dengan mendaraskannya, umat Islam berhadap-hadapan dan berdialog dengan Allah. Maka, Al-Quran adalah manifestasi kehadiran Allah secara personal kepada umat Islam.
            Al-Quran kekal sekaligus ajaib (i’jaz). Sudah sejak masa Sang Nabi kontroversi atas Al-Quran terbentuk di kalangan mereka yang mendengarnya, khususnya di kalangan kaum Quraisy di Mekkah, dengan menunjukkan bahwa pendarasan ayat-ayatnya mempunyai efek pada mereka yang mendengarnya. Ayat-ayat i’jaz adalah ayat-ayat tantangan kepada mereka yang skeptis untuk membuat sesuatu yang seperti Al-Quran. Ayat-ayat ini menjadi jaminan teologis bahwa Al-Quran adalah suatu mu’jiz(a). I’jaz Al-Qur’an lainnya adalah ramalan peristiwa-peristiwa di masa depan dan penyingkapan pengetahuan yang tak diketahui sebelumnya.
            Orang Islam percaya bahwa Al-Quran adalah Sabda Ilahi yang murni. Al-Quran adalah hukum moral bagi umat Islam. Moralitas dalam Al-Quran berasal dari Allah; manusia tidak dapat membuat hukum moral (yang serupa itu). Manusia harus menyerahkan diri (islam) kepada hukum itu. Konsekuensi dari islam adalah ‘ibada, “mengabdi kepada Allah”. Hukum moral dan nilai-nilai religius (dalam Al-Quran) adalah Perintah Allah, dan kendatipun hukum dan nilai-nilai religius itu tidak identik dengan Allah secara keseluruhan, mereka merupakan bagian dari-Nya. Maka, Al-Quran secara murni adalah ilahi. Pewahyuan Allah dalam Al-Quran lebih memaksudkan ketaatan dari pada informasi. Al-Quran adalah tanggapan Ilahi, melalui pikiran Muhammad, terhadap situasi moral dan sosial Arab pada zaman Muhammad, khususnya persoalan-persoalan dari masyarakat Mekkah yang komersial pada masanya.
            Al-Quran adalah kitab suci yang unik oleh karena karakter linguistik dan estetiknya. Al-Quran harus selalu dengan Bahasa  Arab dan, jikapun ditulis, harus dengan Huruf Arab (Kaligrafi). Ketika diterjemahkan, Bahasa dan Huruf Arab itu harus tetap disertakan karena revelasi Al-Quran diturunkan Allah dengan Bahasa Arab. Bahasa Arab itu sajalah ipsissima verba Allah. Al-Quran sebenarnya lebih merupakan teks oral dari pada tertulis. Revelasi quranik yang pertama kepada Muhammad dimulai dengan “bacalah (iqra’) atas nama Tuhanmu yang menciptakan”. Revelasi-revelasi quranik pada hakikatnya untuk didaraskan, dinyatakan, dan diperdengarkan terus-menerus. Salat, doa serta devosi pribadi seorang Muslim tidak sah bila tidak melafalkan sekurang-kurangnya sejumlah ayat tertentu dari Al-Quran dalam Bahasa Arab. Maka, setidaknya seorang muslim harus mengetahui dan hafal tujuh ayat singkat quranik dari Fatihah.
Revelasi quranik itu pada akhirnya ditulis. Selama tiga abad pertama Islam, kaligrafi berkembang dengan pesat. Kaligrafi menjadi ekspresi seni nomor wahid dalam Islam. Kaligrafi menjadi hiasan dalam buku, gedung bangunan, kuburan, rumah, dan juga masjid. Selain sebagai perwujudan seni, kaligrafi juga edukatif karena diambil dari ayat-ayat yang mengingatkan umat Islam pada kebenaran-kebenaran iman Islam. Bagi umat Islam seni kaligrafi adalah suci. Sabda yang suci dari Allah ditulis sedemikian rupa dengan indahnya. Para seniman kaligrafi dan umat beriman yang membacanya dipersatukan dalam pencarian mereka akan yang tak terperikan.
Y. B. Prasetyantha, MSF dengan baik telah menyelami fundamen iman Umat Islam, Al-Quran, di dalam buku kecilnya tersebut. Dengan bahasa yang mengalir dan padat penulis berhasil mendedah asal-usul Al-Quran, proses kanonisasinya, dan peran sentralnya di tengah-tengah kehidupan Umat Islam. Namun, penulis hanya meneropong Al-Quran dari perspektif mainstream Islam (orthodox) yang adalah Islam Sunni. Penulis tidak memaparkan keanekaragaman aliran di dalam Islam yang tentu seandainya diulas, akan mendapatkan perspektif lain yang unik dan memperkaya mengenai Al-Quran.

No comments:

Post a Comment