Thursday, January 26, 2012

Yang Saya Temukan Hanyalah Jalan Buntu

Yang Saya Temukan Hanyalah Jalan Buntu

Sr. Reti ALMA bersama Riski, penderita hydrocephalus

Saya mengenal Panti Asuhan Bhakti Luhur Salatiga yang diampu oleh suster-suster ALMA semenjak saya masih seorang postulan MSF di Salatiga. Saya sudah berinteraksi dengan para suster itu selama dua tahun keberadaan saya di Salatiga. Setelah akhirnya saya sebagai frater MSF harus pindah ke skolastikat Yogyakarta, kenangan akan mereka masih saja saya bawa. Sebenarnya perjumpaan kami dalam rentang waktu dua tahun itu tidak banyak. Sesekali saya melihat mereka misa di novisiat MSF, sesekali kami bertemu ketika misa di paroki, dan pernah kami bertugas koor bersama. Saya tahu mereka mengabdikan diri untuk mengurusi anak-anak yatim-piatu dan difabel. Selebihnya, saya tidak mengenal mereka. Namun, justru itulah yang menghantui saya, bagaimana mereka dengan tenaga yang terbatas melayani anak-anak yatim-piatu dan difabel, tetapi masih memiliki tenaga untuk mengikuti kegiatan lain semacam koor dan sebagainya.
Dua tahun berselang. Tiada kontak dengan mereka. Kehidupan saya pun sudah banyak berubah. Saya bukan lagi seorang frater, orang-orang kini mengenal saya hanya sebagai seorang seniman teater dan pemikir bebas. Perjalanan ini mempertemukan saya dengan para frater SSCC, Polce, Gaspar, Rickho, dan Lucy. Kami menjadi satu kelompok Pengabdian Sosial. Kami sepakat untuk mengabdi kepada anak-anak yatim-piatu dan difabel. Awalnya saya mengusulkan YPAC di Surakarta. Akan tetapi, birokrasi untuk bisa mengabdi di sana sangat susah, bahkan kami harus dipungut biaya jika ingin tugas kami tersebut lancar. Di tengah keputusasaan dan kebingungan itu, saya tiba-tiba teringat suster-suster ALMA di Salatiga yang juga menangani anak-anak yatim-piatu dan difabel. Saya tawarkan kepada teman-teman. Mereka menyetujuinya dengan alasan bahwa Salatiga adalah kota kecil yang menarik untuk ditinggali.
Sr. Ludgardis Iva, ALMA
Saya pergi ke Salatiga bersama kekasih saya membawa proposal kami. Saya bertemu dengan Sr. Ludgardis, ALMA. Saya terkejut bahwa beliau sama sekali tidak melupakan saya. Saya mengutarakan maksud kedatangan. Beliau menyetujuinya dengan sedikit keberatan, “Mengapa hanya tiga minggu? Terlalu sebentar.” Saya bawa kabar gembira ini kepada teman-teman di Yogyakarta.
Di Yogyakarta kami merencanakan perjalanan kami. Saya berangkat dulu ke Solo. Mereka akan menyusul dengan Kereta Pramex. Di Stasiun Purwosari kami bertemu lalu melanjutkan perjalanan dengan Bus Safari (Solo-Semarang pp) di Kerten. Di Salatiga kami turun lalu makan siang di warung makan langgananku dan kekasihku. Kami menghabiskan siang di sana sembari istirahat sejenak dari perjalanan panjang. Setelah kenyang, baru kami menuju ke Panti Asuhan Bhakti Luhur.
Di sana para suster telah mempersiapkan penyambutan yang di luar perkiraan kami. Mereka menjamu kami dengan spesial. Sr. Lud, suster kepala panti asuhan, membagi kami berlima, dua tinggal di rumah atas, tiga tinggal di rumah bawah. Rumah bawah merupakan panti asuhan khusus untuk anak-anak. Mereka yatim-piatu. Ibu mereka tak mau mengakui keberadaan mereka. Ayah mereka juga tak jelas siapa. Ada juga kakak beradik yang dititipkan di sana karena kedua orang tua mereka harus menginap di hotel prodeo. Pada umumnya mereka normal dan sehat. Anak-anak itu menyenangkan dan menggemaskan. Mereka membangkitkan kerinduan primordial kami untuk menjadi ayah bagi mereka.
Sedangkan rumah atas dikhususkan bagi mereka yang berusia remaja ke atas dan sekaligus difabel. Mayoritas mereka sudah sejak kecil berada di dalam naungan Yayasan Bhakti Luhur Malang, kemudian dipindahkan ke Salatiga. Beberapa baru saja tiba dari luar kota dititipkan oleh sanak keluarga yang tak sanggup lagi merawat mereka. Ada yang menderita retardasi mental meskipun sekilas sehat jasmani-rohani. Ada yang menderita CP (lumpuh). Ada yang mengalami psikosa sehingga memerlukan penanganan khusus ketika kambuh. Ada yang mengalami bisu-tuli, tetapi cukup waras untuk dimintai bantuan mengerjakan sesuatu hal. Sr. Lud mengambil kebijakan memisahkan mereka dari anak-anak demi suasana psikologis yang sehat bagi perkembangan anak-anak. Mereka yang tinggal di rumah atas memang memerlukan perhatian khusus.
Rickho, Lucy, dan Gaspar tinggal di rumah bawah menjadi bapak bagi anak-anak tersebut, sedangkan aku dan Polce tinggal di rumah atas menjadi sahabat dan pelayan teman-teman yang berkebutuhan khusus tersebut. Meskipun suster-suster menjamu kami dengan spesial, kami selalu ingat bahwa di sana kami melayani bukan dilayani. Memang tidak banyak hal dapat saya lakukan untuk mereka dalam jangka waktu tiga minggu itu. Setiap pagi saya dan Polce menyapu dan mengepel lantai. Saya menyuapi Eta, menemani Mbak Sri membuat gelang, mencuci piring mereka, membantu memasak lauk untuk mereka, juga menyiapkan makan mereka. Kami berlima bersama Pak Budi, donatur tetap rumah atas, bahkan bersama berburu tikus selama beberapa hari di rumah atas yang sudah berusia sangat tua itu. Satu hal yang tidak saya lakukan, menemani mereka berdoa. Saat itu saya tidak bisa berdoa, dalam arti apapun itu.
Pengalaman yang paling mengguncang mental saya adalah ketika menemani Sr. Iza berkunjung ke desa-desa menemui anak-anak difabel yang masih dirawat orang tua atau kakek-nenek mereka. Ada yang menderita CP ada pula yang autis. Seharusnya anak seusia mereka bermain layang-layang, berlari-lari, atau bermain sepak bola di lapangan bersama teman-teman. Ada pula gadis penderita CP yang sudah beranjak remaja. Seharusnya gadis seusia dia pergi ke sekolah, bernarsis ria, dan memadu cinta monyet. Namun, pemandangan yang kulihat sangat berbeda. Aku tidak pernah melihat hal semacam ini sebelumnya. Memang di panti aku turut melayani mereka yang difabel, juga yang menderita CP, tetapi mereka telah besar dan berada di dalam naungan hangat Bhakti Luhur. Aku tidak memiliki bayangan akan ada anak-anak yang menderita hal yang sama dirawat secara ala kadarnya oleh keluarga mereka yang mayoritas adalah penduduk desa. Sr. Iza mengatakan bahwa anak penderita CP tidak berusia lama. Tubuh mereka akan kaku jika tidak sering digerakkan, padahal mereka tak mampu menggerakkan tubuh mereka sendiri. Jika orang tua mereka sedang sibuk, mereka bahkan tak cukup sempat untuk mengganti celana anak-anak itu yang basah oleh karena ompol.
Sriah, Padmo, Fr. Polce SSCC, Eta, dan Moy
Salah satu anak yang kami temui saat itu mengompol sudah cukup lama. Bau pesing mencekik pernafasan saya. Hanya kakek dan neneknya yang merawat. Mereka bisa dibilang termasuk keluarga yang miskin. Sepasang kakek-nenek itu cukup sibuk bekerja demi mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Sebenarnya dia adalah cucu dari hubungan gelap anaknya dengan seorang gadis. Gadis itu tak mau merawat dan setelah melahirkan, dia serahkan anak itu kepada sang ayah biologisnya. Keadaan menyedihkan anak itu bisa jadi akibat usaha pengguguran yang dilakukan si ibu. Obat-obatan, zat-zat kimia, atau pijat-urut bisa menyebabkan cacat fisik maupun mental terhadap janin.
Anak penderita CP lain yang kami temui memiliki keadaan yang jauh lebih baik. Dia dirawat di dalam keluarga yang berkecukupan. Ayah biologisnya menceraikan ibunya dan meninggalkan mereka oleh karena keadaan si anak. Sedangkan ibunya bekerja di Malaysia menjadi TKW. Di sana dia menikah lagi dengan Warga Negara Malaysia dan telah memiliki seorang anak. Si ibu mengirimkan uang kepada si nenek untuk biaya merawat si anak dan seluruh keluarga di desa. Anak ini, menurut cerita si nenek, lahir dengan normal. Tiada hal yang aneh dan janggal hingga akhirnya dia mengalami panas demam tinggi. Setelah sembuh dari panas demam tinggi, dia difabel.
Anak lain yang kami temui mengalami keterbelakangan mental. Dia sehat secara jasmani. Dia bisa berlari ke sana ke mari. Bahkan, kami harus berkejar-kejaran dengan dia sebelum dapat menemuinya. Dia tinggal bersama neneknya di gubuk yang sangat reot. Hanya ada satu ruangan di gubuk itu. Ibunya bekerja menjadi TKW. Sr. Iza melatihnya berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Setelah melatihnya beberapa saat, kami pamit. Namun, dia enggan melepas kami. Dia seakan merasa sangat kehilangan kami. Neneknya yang membujuknya. Neneknya menyuruh dia mandi dulu. Segera saja tanpa malu dia telanjang bulat di depan kami, siap untuk mandi. Kami pergi. Dia melepas kami dengan kegembiraan guyuran air mandi.
Anak penderita CP lain yang kami temui adalah seorang gadis remaja. Seharusnya, gadis seusia dia bermain bersama teman-teman sebaya, pergi ke sekolah, bernarsis ria, pacaran, sms-an, facebookan, membuat status-status galau, dan yang umumnya dilakukan gadis-gadis seusia, tidak duduk di atas kursi roda, membuang muka dari kami oleh karena malu seperti itu. Dia begitu malu melihat kami sampai-sampai enggan kami dekati. Air liur terus saja menetes dari mulutnya. Bau busuk menguap dari sana, mungkin orang tuanya tidak pernah menyikati giginya. Ayahnya bekerja. Di rumah yang sederhana itu dia tinggal bersama ibunya yang sibuk mengurusi rumah tangga dan adiknya yang masih balita. Sr. Iza tak dapat mendekatinya. Beliau hanya berbincang-bincang dengan ibunya. Rasa malu yang dia tunjukkan itu mungkin merupakan tanda bahwa dia memiliki kesadaran. Dia sadar akan kehadiran saya dan Sr. Iza, orang-orang asing, yang bukan berasal dari rumah itu. Bisa jadi dia menyadari keadaannya yang tidak sama dengan keadaan kami.

Bersama komunitas Panti Asuhan Bhakti Luhur Salatiga
Dari semua anak yang kami temui hari itu, ada satu anak yang paling mengesankan saya. Dia adalah anak penderita autis. Keluarganya sangat menyayanginya. Mereka menerimanya apa adanya. Mainannya banyak. Dia sangat enerjik. Tidak dapat diam. Berlari ke sana ke mari seakan tak punya lelah. Juga tidak dapat bicara. Dia tidak memainkan mainannya, lebih tepatnya merusakkannya, membanting-bantingnya, menyebarnya ke manapun dia suka. Dia tertawa, terkekeh. Menyeramkan bagi yang menemuinya di malam hari tanpa ibunya mendampinginya. Dia memukul saya, tapi saya tangkis. Ibunya memarahinya, mencubitnya. Dia menangis, tapi hanya untuk dua-tiga detik saja. Selanjutnya dia tertawa lagi, terkekeh. Berlari lagi. Lalu, dia terjatuh. Menangis sedikit lebih lama, tiga-lima detik, lalu tertawa lagi, terkekeh, dan berlari-lari lagi, menghamburkan mainannya lagi. Ibunya menata mainannya lagi. Dia menghamburkannya lagi. Dia hanya ingin bermain dan bermain. Ibunya bercerita bahwa dia hanya bisa diam kalau dia melihat jalan di samping rumah. Ketika dia melihat jalan di samping rumah, dia bisa duduk diam di sana, mengamati jalan itu selama berjam-jam. Ketika merasa lapar, dia beranjak, makan, lalu kembali lagi duduk di tempat yang sama melihat jalan yang sama untuk berjam-jam selanjutnya. Anak inilah yang paling mengesankan saya. Pertanyaan “apakah mereka menyadari kehadiran mereka” yang terus terngiang semenjak pertama kali bertemu orang-orang difabel di panti itu berubah menjadi “apakah dia menyadari apa yang dia lakukan” setelah bertemu dengan anak autis itu.
Pertanyaan itu berdenyut-denyut di kepala saya. Terngiang dan terbawa hingga saya menulis laporan ini. Kenangan perjumpaan dengan mereka, terlebih anak-anak difabel yang saya temui di pelosok desa itu, masih dapat saya lihat dengan jelas. Eksistensialisme yang kudalami dicemooh oleh kehadiran mereka. Dan, yang saya temukan hanyalah jalan buntu, sebuah misteri yang aku belum mampu pahami.

No comments:

Post a Comment