Thursday, February 16, 2012

Iman Trinitas adalah Eksistensial

Penggambaran Trinitas

Iman kepada Allah Tritunggal merupakan suatu iman yang eksistensial. Iman kepada Allah Tritunggal adalah suatu tanggapan afirmatif manusia terhadap pengalaman historis mereka bertemu dengan Yang Ilahi yang mewahyukan diri di dalam ruang dan waktu manusia. Sebagai manusia kita tidak akan pernah mendapatkan penjelasan absolut mengenai siapa dan apa Allah. Akan tetapi, kita memiliki kemampuan untuk mencerap pengalaman-pengalaman akan Yang Ilahi itu dan mengartikulasikannya serta membagikannya kepada sesama. Paham Allah selalu merupakan paham manusia mengenai Allah. Allah dikenal dan dimengerti sejauh manusia yang memahami dan mengerti-Nya. Sebuah usaha yang sia-sia jika kita mencari sebuah pengertian ultima akan Allah dari pribadi Allah sendiri. Kitab Suci dan para nabi, perantara Allah berkomunikasi dengan kita, pun memiliki bahasa yang terbatas untuk membahasakan Allah. Yesus Kristus sendiri, sang Sabda, Firman, Wahyu, atau Logos itu, di dalam sejarah, sejauh tercatat di dalam Kitab Suci, selalu menggunakan perumpamaan untuk menggambarkan realitas Allah. Walau demikian, kita mampu memiliki pengalaman akan Allah dan berhak untuk membahasakannya, tetapi selalu dengan kesadaran bahwa bahasa kita terbatas.
Teologi Trinitas merupakan suatu bentuk usaha umat beriman kristiani membahasakan pengalaman kami akan Allah. Allah yang kami kenal tidak lain adalah Allah Bangsa Israel yang mewahyukan pribadi-Nya dengan nama YHWH kepada Musa dan yang disapa pula dengan nama Elohim. Nama Elohim sendiri, dari kebahasaan, sebenarnya merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggal El. Dari sini kita bisa berasumsi bahwa monoteisme Elohim bukan merupakan Tuhan yang tunggal, melainkan Ketuhanan yang tunggal dan yang memiliki kesatuan integral. Allah Israel yang kami imani itu kemudian semakin menyejarah, semakin memasuki ruang dan waktu. Kalau dulu Allah menyejarah di dalam mendampingi, memimpin, dan mengantarkan Bangsa Israel keluar dari Mesir dan memasuki Kanaan, sekarang kami mengalami Allah menyejarah di dalam pribadi Yesus orang Nazareth itu yang mati disalib dan bangkit pada hari ketiga. Para rasul yang seruang dan sewaktu dengan Yesus pernah menyentuhnya, pernah mendengarkan suaranya, pernah melihatnya. Dia sama dengan kita, memiliki daging, bernafas, berdarah, berambut gondrong, bisa menangis. Akan tetapi, para rasul pun tidak mampu mereduksi fenomena yang mereka saksikan itu hanya sebagai manusia saja karena mereka melihat fenomena ilahi bersamaan dengan fenomena manusiawi tersebut.
Melihat fenomena Yesus itu kita dapat berasumsi macam-macam. Tetapi hasil dari asumsi itu tidak pernah lepas dari pemikiran dan kesadaran kita. Maka, di dalam menghadapi fenomena itu kita melakukan epoche, kita menahan sejenak asumsi kita dan membiarkan fenomena itu menjadi dirinya sendiri. Para rasul pun sebagaimana orang-orang Israel sezaman mau tidak mau memiliki berbagai macam asumsi terhadap Yesus. Orang mengira dia Nabi Elia yang hadir kembali, ada yang mengira dia adalah nabi yang baru sama sekali, dan bahkan tidak segan elit-elit agama Yahudi pada saat itu berasumsi negatif. Akan tetapi, setelah para rasul menunda sejenak asumsi mereka, mereka melihat fenomena Yesus merupakan fenomena ilahi-manusiawi yang terjadi sekaligus di dalam kepenuhan eksistensi. Hal inilah yang kemudian menjadi enigma orang-orang Kristiani sepanjang sejarah.
Enigma itu semakin kompleks setelah Yesus Kristus terangkat ke surga. Di dalam ketakutan mereka akan elit-elit agama Yahudi, para rasul dan murid-murid Yesus mengalami penyertaan Yang Ilahi. Pengalaman penyertaan Yang Ilahi ini menguatkan mereka, bahkan Yang Ilahi itu sendiri memberi mereka keberanian untuk bangkit dari keterpurukan dan ketakutan untuk kemudian membagikan pengalaman eksistensial mereka akan fenomena Yesus. Yang Ilahi ini tidak lagi mereka alami sebagai manusia yang memiliki wujud material (tubuh), tetapi merupakan suatu roh. Kami menamainya Roh Allah dan secara teknis kami memakai terminologi Roh Kudus.
Saya pribadi tidak mampu menjawab pertanyaan apa itu Allah Tritunggal. Yang mampu saya lakukan hanyalah membagikan pengalaman kami akan Allah Bangsa Israel itu. Artikulasi kami akan pengalaman mengenai Allah itulah teologi Tritunggal. Kami mengimani YHWH, Allah Bangsa Israel, yang kemudian kami sebut Bapa. Di dalam iman kami akan Allah, kami mengalami fenomena Yesus yang pernah meruang dan mewaktu dengan manusia. Di dalam fenomena Yesus itu kami menyaksikan Allah yang mewahyukan diri-Nya, Allah yang semakin menyejarah, Allah yang menyertai kita, Allah yang bersolider dengan kehidupan manusia. Allah yang kami alami dan kemudian kami pahami bukanlah Allah yang begitu jauh di langit biru. Allah yang kami alami adalah Allah yang manunggal dengan hidup manusia, yang menyertai manusia. Dan, setelah peristiwa Yesus itu, penyertaan Allah masih berlanjut hingga sekarang. Allah tidak lagi menyertai secara fisik-material, tetapi di dalam Roh-Nya. Maka, segala usaha penjelasan kami mengenai Allah Tritunggal sebenarnya tidak lain adalah usaha kami untuk mengartikulasikan, membahasakan, dan membagikan pengalaman eksistensial kami akan Allah.
Gereja sendiri di dalam sejarahnya mengalami kesulitan di dalam membahasakan pengalaman iman itu. Gereja de facto mengalami pengalaman perjumpaan dengan Allah Tritunggal. Tetapi mereka pada abad-abad awal belum memiliki terminologi yang mampu menggambarkan misteri ultima Allah itu. Kitab Suci yang ditulis pada abad-abad awal oleh saksi mata peristiwa Yesus belum memiliki kata yang dapat menggambarkan pengalaman mereka akan Allah Bapa, Putra, Roh Kudus. Bapa-bapa Gereja, meskipun memiliki konsep Bapa, Putra, Roh Kudus, belum memiliki istilah untuk merangkum misteri ultima itu. Tertulianus (155-230), seorang Bapa Gereja dari Kartago, dengan bahasa hukum khas Romawi, adalah yang pada akhirnya menemukan terminologi “trinitas”, “tri” dan “unitas”, untuk merangkum misteri Allah yang kami alami.
Mengapa sulit dibahasakan? Bahasa adalah hasil dari kegiatan mental manusia, yaitu pikiran. Bahasa itu sebegitu terbatas. Kita terkadang tak memiliki kata yang dapat mewakili imaji-imaji, konsep-konsep, pemikiran-pemikiran tertentu, kita bahkan tak memiliki kata yang memadahi untuk membahasakan perasaan-perasaan tertentu. Kata “cinta” misalnya; “cinta” tidak cukup untuk menggambarkan atau mendeskripsikan hubungan manunggal, hubungan yang dekat-erat tetapi tetap “di sini dan di sana”, dua pribadi manusia yang sangat berlainan. Akan tetapi, keterbatasan itu tidak menihilkan fenomena dua pribadi yang bersatu dan saling merindukan serta saling mengharapkan kebahagiaan yang lainnya. Keterbatasan bahasa itu tidak mampu menihilkan fenomena manunggal-nya dua pribadi, bahwa adaku ada bersama ada kekasihku, dan ada kekasihku ada bersama adaku. Saya tetap tak mampu secara paripurna membahasakan pengalaman manunggal itu, tetapi saya memahami karena mengalami “cinta” secara eksistensial. Terlebih lagi dengan pengalaman Allah yang kami alami. Selama tidak ada iman, selama tidak mengalami secara eksistensial, penjelasan bagaimanapun tetap akan nihil. Meskipun, usaha mempertanggungjawabkan pengalaman itu tetap penting.

No comments:

Post a Comment