Saturday, March 31, 2012

SIAPAKAH JEAN-PAUL SARTRE?

SIAPAKAH JEAN-PAUL SARTRE?

Jean-Paul Sartre muda
1.                  Kehidupan Awal
Jean-Paul Sartre dilahirkan di Paris 21 Juni 1905. Ibunya bernama Anne Marie, anak dari Charles Schweitzer. Anne Marie merupakan sepupu dari Albert Schweitzer, teolog protestan yang terkenal. Ayahnya bernama Jean-Baptiste Sartre. dia adalah seorang perwira Angkatan Laut Perancis. Jean-Baptiste meninggal dua tahun setelah memperanakkan Jean-Paul oleh karena penyakit demam Indo-china yang diidabnya sejak sebelum meninggalkan Angkatan Laut. Setelah suaminya meninggal, Anne Marie, karena tidak memiliki pekerjaan, pulang ke rumah ayahnya di Meudon. Di sana Jean-Paul dibesarkan oleh ibu, kakek, dan neneknya. Setelah empat tahun tinggal di Meudon, mereka semua pindah ke Prancis.
Selama masa kanak-kanak, Jean-Paul menjadi pusat perhatian seluruh keluarga. Kakek, nenek, dan ibunya acap kali memuji, bahwa dia tampan. Sartre dewasa menyadari bahwa ketika dia kecil, dia begitu menggemaskan dengan pipi yang bulat dan rambut pirang yang ikal. Sartre mengungkapkan di dalam autobiografinya, Les Mots (Kata-kata), “I am pink and blond, with curls; I am round-cheeked, and my expression displays a kindly deference toward the established order; my mouth is puffed with hypocritical arrogance: I know my worth.[1]
Jean-Paul Sartre sama sekali tidak mengenal ayahnya, Jean-Baptiste Sartre. Ayahnya telah lebih dulu meninggal sebelum Sartre kecil dapat mengingatnya. Sartre dewasa bahkan merasa terkejut betapa sedikit yang dia ketahui tentang ayahnya itu. Sartre hanya mengetahui wajah ayahnya dari foto yang kemudian hilang ketika ibunya menikah lagi. Sartre tidak tahu apakah ayahnya mencintainya atau tidak. Tidak ada yang memberi tahu tentang hal itu. Dia pun tak ingat. Ayahnya telah mati, itu saja. “That father is not even a shadow, not even a gaze. We trod the same earth for a while, that is all. Rather than the son of a dead man, I was given to understand that I was a child of miracle,” tulis Sartre di dalam The Words.[2] Sartre dewasa sama sekali tidak menyesali keadaan yatim masa kanak-kanaknya. Hal itu justru memberinya kesempatan untuk menikmati kebebasan. Tidak ada figur ayah yang memerintah atau membatasi gerak. Tidak ada superego yang harus dibatinkan ego Sartre kecil.[3]
Sosok lelaki yang begitu berpengaruh di dalam kehidupan Jean-Paul muda adalah Charles Schweitzer, kakeknya. Lelaki itu memegang peranan besar sekali dalam membesarkan Jean-Paul dan mengembangkan bakatnya sebagai pengarang.[4] Charles adalah seorang guru Bahasa dan Sastra Jerman di daerah Alsace. Setelah mereka berempat pindah ke Paris pada tahun 1911, untuk menghidupi keluarga kecil itu Charles mengajar Bahasa Prancis kepada orang-orang asing yang berkunjung ke Paris. Kebanyakan murid dia adalah orang-orang Jerman. Charles dan istrinya gemar membaca. Charles memiliki banyak buku di perpustakaannya. Jean-Paul kecil tumbuh dan berkembang di tengah-tengah buku-buku tersebut. Jean-Paul Sartre kecil melihat dan mengenal dunia dan dunia hadir bagi Jean-Paul Sartre muda lewat perpustakaan itu. Hingga usia sepuluh tahun empat bulan Jean-Paul Sartre diberi pengajaran di rumah oleh kakeknya. Selama itu dia hidup di tengah-tengah orang dewasa, tanpa adik, tanpa teman sebaya. Dia melihat dan bertemu dengan dunia dari perpustakaan kakeknya itu.
Charles Schweitzer beragama Kristen Protestan sedangkan istrinya, Louise Guillemin, beragama Kristen Katolik. Ibu Jean-Paul dan saudara-saudaranya dididik di dalam agama Kristen Katolik. Jean-Paul juga dibaptis dan dibesarkan secara Katolik. Namun, kakeknya, menurut kesaksian Sartre di dalam The Words, menertawakan segala sesuatu yang bersifat religius. Sedangkan neneknya sebenarnya bersikap agnostis. “On Sunday, the two ladies sometimes go to Mass, to hear good music, a wellknown organist. Neither of them is a practicing Catholic, but the faith of others inclines them to musical ecstasy,” tulis Sartre mengenai nenek dan ibunya di dalam The Words.[5] Jean-Paul Sartre sendiri menyatakan sama sekali tidak memercayai adanya Tuhan sejak berusia dua belas tahun, sejak Anne Marie menikah lagi[6] dengan Joseph Mancy pada tanggal 26 April 1917. Sartre berkata, “Saya kehilangan iman saat saya berusia 12 tahun (...) Sebelum itu Tuhan memang ada, tetapi saya tidak pernah mengambil pusing kepadanya. Pada suatu pagi, saat saya menunggu teman-teman putri keluarga Machado, dengan mereka saya biasanya berangkat ke sekolah, karena mereka agak terlambat, saya memiliki waktu lebih untuk berpikir-pikir tentang Tuhan. “Iya, ya,’ kata saya saat itu, ‘Tuhan memang tidak ada.’ Bagiku saat itu, ketiadaan Tuhan merupakan kenyataan yang saya sadari begitu saja, walaupun saat itu saya tidak tahu apa alasan yang mendukungnya.”[7]
Peristiwa ini menjadi titik balik kehidupan Sartre. Surga yang dimilikinya di saat kecil tiba-tiba runtuh. Dia merasa dikhianati. Mereka membawa Sartre kecil yang masih berusia 12 tahun ke La Rochelle, kota kecil di tepi pantai yang jauh dari Paris.[8] Sejak saat itu Sartre tidak lagi menjadi pusat perhatian kakek, nenek, dan ibunya. Dia merasa ibunya yang selama ini dimilikinya secara ekslusif telah dirampas oleh seorang asing. Sartre pun menjadi terasing di kota kecil itu. Joseph Mancy adalah l’autre (liyan) yang merampas Anne Marie dan kemudian mengasingkan Sartre dari dunianya. Pria ini memiliki karakter yang jauh berbeda dari Sartre. Sartre dewasa menulis tentang pria ini sebagai pria yang memiliki Esprit de serieux (berjiwa serius), sangat matematis, fisikus, dan memandang dunia secara teknis. Joseph Mancy memang merupakan pemimpin industri perkapalan. Dia memaksakan Esprit de serieux kepada Sartre yang berjiwa bebas. Semua itu menjemukan bagi Sartre dan hanya berujung pada pemberontakannya.
Sartre memang tidak membahas masa-masa suram di La Rochelle dengan detail. Sartre hanya menceritakan sedikit-sedikit ketidakharmonisan hubungannya dengan ayah tirinya dalam kesempatan-kesempatan tertentu saja. Akan tetapi, semenjak titik balik itu dia terang-terangan menentang pandangan kakek dan ayah tirinya. Selama 63 tahun sesudahnya Sartre menghabiskan waktu untuk memberontak melawan mereka.[9]

2.                  Playboy yang Filosofis
Pada tahun 1924 dia masuk di Ecole Normale Superieure yang terkenal sebagai salah satu perguruan tinggi ternama dan paling selektif di Prancis. Di perguruan tinggi ini dia studi selama enam tahun untuk mendapatkan gelar Agregation. Namun, pada tahun 1928 dia gagal di dalam ujian Agregation itu, bahkan mendapatkan peringkat paling akhir di kelasnya. Dia harus mengulang lagi pada tahun berikutnya. Kegagalannya itu justru mempertemukannya dengan Simone de Beauvoir, seorang mahasiswi filsafat yang pandai, cantik, dan baik kepada Sartre. Mereka belajar bersama-sama untuk ujian Agregation  1929. Sartre mendapatkan peringkat pertama sedangkan de Beauvoir menduduki peringkat kedua.
Sartre dan Castor, demikian sapaan mesra Sartre kepada de Beauvoir, saling jatuh cinta dan bersahabat hingga Sartre meninggal dunia, meskipun mereka menolak untuk menikah, tidak hidup bersama, dan masing-masing memiliki kekasih yang lain, serta menyapa satu sama lain dengan sebutan formal “Anda”. Perkawinan bagi mereka hanya merupakan suatu lembaga borjuis saja. Mereka menjalin hubungan percintaan yang begitu bebas dan saling terbuka. Mereka membuat sebuah grup percintaan. De Beauvoir yang biseks mengajak kekasih-kekasih wanitanya untuk bergabung di dalam jalinan asmara bersama Sartre. Demikian pula Sartre, seorang playboy yang telah mengatasi wajahnya yang tidak tampan dengan mengasah kemahiran merayu dan meluluhkan hati, mengajak kekasih-kekasihnya bergabung di dalam grup percintaan bebas itu. Kata-kata dan bujuk rayuan Sartre jauh lebih menarik perempuan dari pada wajahnya yang jelek. Akan tetapi, tentu saja yang menjadi sentral dari grup percintaan itu tetaplah Sartre dan de Beauvoir. Di kemudian hari para mantan kekasih pasangan Sartre-de Beauvoir ini mengalami apa yang disebut pengalaman ketiadaan. Mereka menjadi l’autre yang ditidak, ditiadakan, dan dikorbankan oleh pasangan Sartre-de Beauvoir.[10]
Simone de Beauvoir dan Jean-Paul Sartre
Pasangan Sartre dan de Beauvoir membedakan percintaan mereka menjadi dua. Percintaan Sartre dan de Beauvoir mereka golongkan sebagai amour necessaire (cita yang tidak bisa tidak, cinta yang perlu dan dibutuhkan). Meskipun Sartre menjalin percintaan dengan banyak wanita yang lain, hanya Simone de Beauvoir satu-satunya wanita yang tak tergantikan di dalam hidup Sartre. Demikian juga dengan de Beauvoir, meskipun dia menjalin kisah cinta dengan lelaki lain dan wanita-wanita lain, hanya Jean-Paul Sartre satu-satunya cinta yang tak tergantikan di dalam hidupnya. Sedangkan percintaan mereka bersama kekasih-kekasih mereka yang lain, juga yang masuk di dalam grup percintaan mereka itu mereka golongkan sebagai amours contingentes (cinta-cinta yang kontingen, yang bisa berubah sewaktu-waktu).[11] Bisa kita simpulkan kehidupan percintaan mereka yang demikian itu merupakan bentuk penghayatan filsafat mereka mengenai kebebasan dan kontingensi yang mereka siapkan secara bersama di dalam ujian dan yang terus menjadi tema karya Sartre hingga La Nausee (1938/1939).
Selain bercinta, Sartre dan de Beauvoir berfilsafat bersama dan saling mempengaruhi. Bahkan kaum intelektual sampai sekarang masih kesulitan untuk menentukan siapa yang lebih pantas untuk disebut sebagai pemikir asli.[12] Sejak pertemuan pertama mereka pada tahun 1929, mereka selalu bersama. Mereka pun kelak dikuburkan di dalam makam yang sama di pemakaman Montparnasse di Paris.

3.                  Belajar Fenomenologi Husserl di Berlin, Jerman
Awalnya Jean-Paul Sartre bersama Simone de Beauvoir mengembangkan tema kebebasan dan kontingensi. Kemudian pada suatu kesempatan mereka berdua bertemu dengan seorang teman mereka, Raymon Aron, yang berkata kepada Sartre bahwa dia dapat membicarakan segelas bir secara filosofis dengan fenomenologi. Oleh karena kekagumannya pada “filsafat segelas bir” tersebut, pada bulan September 1933 ia pergi ke Berlin, Jerman, untuk belajar filsafat fenomenologi Edmund Husserl. Sartre dikenal sebagai pencetus filsafat eksistensialisme dengan metode fenomenologi. Sebenarnya karyanya yang utama, Being and Nothingness (1943) diberi subjudul, “An Essay in Phenomenological Ontology”.[13]
Ontologi adalah ilmu yang mempelajari “Ada”, “Realitas”. Sedangkan fenomenologi adalah filsafat yang dibangun oleh Edmund Husserl (1859-1938). Filsuf Jerman ini terinspirasi seorang filsuf Prancis bernama Rene Descartes (1596-1650) dengan tesisnya yang terkenal “saya berpikir maka saya ada”. Dengan berkata demikian, Descartes memindahkan kesadaran ke pusat paradigma berpikir. Kesadaran adalah yang paling pasti dan tidak dapat diragukan. Mengetahui dunia fisik-material sebenarnya adalah mengetahui pengalaman mental kita sendiri. Dan, dari fakta bahwa kita berpikir, kita dapat menyimpulkan dengan penuh kepastian bahwa kita ada. Kemudian Descartes menyimpulkan bahwa semua pengetahuan seharusnya diturunkan dari dan dibangun atas dasar kepastian kesadaran tersebut.
Akan tetapi, Husserl tidak sependapat. Menurut Husserl, kita memerlukan metode yang akan memperlihatkan ciri-ciri subyektif dari kesadaran dan juga struktur obyektifnya. Hal inilah yang hendak dikerjakan oleh fenomenologi. Terdapat dua tahap. Tahap pertama berupa deskripsi mengenai cara dunia menampakkan dirinya sendiri kepada kesadaran kita. Hal itu dimaksudkan sebagai bebas asumsi karena asumsi-asumsi adalah hal-hal yang diimplikasikan oleh keadaan sadar, tetapi tidak di dalam keadaan sadar itu. Asumsi adalah perandaian dan bukan tindakan berpikir secara sadar dan aktif. Tujuan menghilangkan asumsi ini dicapai dengan apa yang disebut Husserl sebagai “penangguhan fenomenologis” atau “epoche” atau “pemberian tanda kurung”.[14] Kesadaran ditunda, dikurung, dipisahkan dari segala sesuatu sehingga yang tertinggal di dalam kesadaran adalah pengetahuan yang sebenarnya tentang “dunia” sehingga kita dapat mencapai pemahaman yang sedekat mungkin dengan “pandangan yang murni”. Dari kegiatan epoche itu kita dapat sampai pada pengalaman sini-kini. Pengalaman sini-kini itu merupakan awal fenomenologis dari semua kesadaran.
Pada tahun 1936/1937 Sartre menerbitkan buku berjudul La Transcendence de L’Ego (Transendensi Ego). Buku ini merupakan hasil studi filsafat fenomenologinya di Berlin. Sartre menggunakan metode fenomenologi untuk meneliti kesadaran, tetapi mencapai kesimpulan yang cukup berbeda dari Husserl. Sejak semula Sartre memang menafsirkan fenomenologi Husserl secara realistis. Fenomenologi bagi Sartre merupakan filsafat untuk mengungkapkan realitas dan pengalaman nyata sehari-hari. Obyek pertama yang dibedah Sartre dengan fenomenologi adalah psikologi, khususnya masalah fantasi dan emosi.[15]
Sartre tengah bekerja sembari merokok
4.                  Seorang Filsuf, Sastrawan, dan Dramawan
Pada tahun 1938 Sartre menerbitkan karya sastra pertamanya sekaligus yang terpenting yaitu La Nausee (Rasa Muak). Novel ini menjadi monumen yang menandai awal karier Sartre sebagai seorang sastrawan. Di dalam novel La Nausee itu kita akan menemukan tema-tema yang menjadi pokok pembicaraan filsafatnya. Kemampuan menulisnya dan ketertarikannya terhadap sastra sebenarnya sudah ada sejak dia masih kecil. Namun, dia mengembangkan kemampuan itu diam-diam oleh karena pengalaman yang tidak menyenangkan ketika masih kecil. Anne Marie mengopi tulisan semasa kecilnya yang berjudul Banana-seller. Akan tetapi, Charles Schweitzer, walau pada awalnya terkesan sangat antusias mengetahui bahwa cucunya mewarisi bakat menulis keluarga, memberi Sartre kritik yang sangat pedas dan tajam. Di dalam The Words Sartre menulis, “Ignored and bkrely tolerated, my literary activities became semi-clandestine. Nevertheless, I continued them diligently, during recreation periods, on Thursdays and Sundays, during vacation, and, when I had the luck to be sick, in bed. I remember happy convalescences and a black, red-edged notebook which I would take up and lay down like a tapestry. I “played movies” less often; my novels took the place of everything. In short, I wrote for my own pleasure.[16]
Sartre justru semakin produktif di dalam menulis ketika Perang Dunia II pecah. Pada 3 September 1939 Prancis dan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman. Sartre mengikuti wajib militer. Divisinya dikirim ke Prancis Timur. Sartre bekerja pada bagian meteorologi. Tugasnya adalah meluncurkan balon untuk menguji arah angin. Di dalam situasi perang itu dan ditengah-tengah tugasnya sebagai seorang tentara pada bagian meteorologi itu, dia menulis sebuah novel besar, The Age of Reason yang kemudian diterbitkan pada 1945. Sartre pun mulai membaca karya seorang filsuf Denmark abad XIX, Soren Kierkegaard, sang Bapak Eksistensialisme itu. Secara ringkas eksistensialisme Kierkegaard mengajarkan tiga cara eksistensi yaitu tahap estetis, tahap etis, dan tahap religius. Seorang individu untuk bisa beralih dari tahap yang satu ke tahap yang lain harus melakukan pilihan, harus memutuskan, bahkan Kierkegaard menggambarkannya dengan sebuah lompatan. Tidak ada “baik... maupun...”, yang ada bagi Kierkegaard adalah “atau... atau...”. Maka, untuk berkembang dari tahap estetis ke tahap etis, seseorang harus melakukan lompatan eksistensial. Sedangkan untuk melompat dari tahap etis ke tahap religius, seseorang harus melakukan lompatan iman. Kierkegaard mengajarkan bagaimana menjadi seorang “Ksatria Iman” sebagaimana halnya Abraham.[17]
Di Prancis timur itu dia sama sekali tidak pernah melihat tentara musuh sampai ketika Sartre dipenjara pada 12 Juni 1940. Di dalam tahanan Sartre menulis sebuah karya filsafat besar, Being and Nothingness yang kemudian akan diterbitkan pada tahun 1943. Dia pun menulis dan menyutradarai sebuah drama yang mengisahkan peristiwa Natal yang berisi kecaman terhadap pendudukan Palestina oleh tentara Romawi. Ini adalah sebuah drama satire mengenai pendudukan Prancis oleh Jerman. Pengalaman ini membuat Sartre yakin bahwa drama dapat dijadikan wahana berekspresi dan menuangkan pikiran.
Sartre melarikan diri dari tahanan pada bulan Maret 1941 dan diam-diam kembali ke Paris menjadi guru. Dia kembali menulis sebuah drama berjudul The Flies. Drama ini dipentaskan pertama kali pada bulan Juni 1943 dan dipentaskan lagi hingga 40 kali. Meskipun The Flies memuat pesan-pesan yang anti-Nazi dan tentara Nazi pun turut menyaksikannya, drama ini tidak diberangus.
Ketika perang berakhir pada tahun 1945, gagasan-gagasan Sartre di dalam drama-drama, novel-novel, dan dari buku-buku filsafatnya telah meresapi kehidupan intelektual masyarakat Paris. Sebagai seorang dramawan, Sartre menulis banyak drama, antara lain Lalat-lalat (1946), Pintu Tertutup (1945), Orang Mati yang Tidak Dikubur (1946), Pelacur Terhormat (1946), Tangan Kotor (1948), Setan dan Tuhan Allah (1951), dan Tahanan-tahanan dari Altona (1960). Dia pun menerbitkan satu seri novel berjudul Les Chemins de La Liberte yang terbit dalam tiga jilid (1944, 1945, 1949), tetapi jilid keempat ternyata tidak pernah dia selesaikan. Dia menjadi tokoh yang dipuja. Eksistensialisme Sartre banyak digemari dia diundang ke seluruh dunia untuk mengajar.

5.                  Pindah kepada Marxisme
Pengaruh dari politik dan filsafat Merleau-Ponty membawa Sartre beralih ke sayap kiri. Dia bertemu dengan Marxisme. Dia bersaksi bahwa filsafat yang selama ini dicarinya ternyata sudah ada, yaitu marxisme. Sartre berkelakar bahwa marxisme merupakan bentuk pertobatannya. Sartre pun menulis semacam “pengakuan iman Marxistis” di dalam bukunya. Filsafat Marx, kata Sartre, merupakan filsafat zaman kita. Marxisme adalah satu-satunya filsafat yang benar dan definitif. Marxisme bukanlah sejumlah ide yang cemerlang dan menggiurkan hati, melainkan merupakan perwujudan kesatuan konkret dan dialektis antara pemikiran dan gerakan massa buruh. Sartre menerangkan lebih lanjut bahwa marxisme tidaklah kekal abadi. Sistem filsafat itu berlaku di dalam situasi scarcity (kelangkaan), ketika barang yang tersedia tidak dapat mencukupi sejumlah kebutuhan. Ketika kelangkaan itu diatasi, marxisme pun akan dilampaui dengan sendirinya. Marxisme akan lenyap dan digantikan dengan suatu filsafat kebebasan karena manusia akan bebas dari beban memenuhi kebutuhan hidup.[18]
Sebelum perang, Sartre menjalani hidup yang individualistis dan tidak tertarik pada masalah sosial-politik. Bahkan, ketika menjalani studi di Jerman, dia tidak mampu membaca manufer politik Adolf Hitler dan Nazi. Sartre terlalu asyik dengan studi dan kehidupan pribadinya di sana. Ketertarikan Sartre di dalam bidang sosial-politik muncul setelah pengalamannya di dalam Perang Dunia II. Sartre selalu condong ke kiri. Dia menaruh simpati kepada gerakan sosialisme. Sartre tidak hanya memeluk marxisme, tetapi juga menaruh simpati terhadap USSR. Majalah yang dia kelola bersama Marleau-Ponty dan Simone de Beauvoir, Les Temps Modernes, pun berhaluan kiri. Mereka menerapkan sistem keuangan sosialis. Dari pegawai bawahan hingga pimpinan majalah itu mendapatkan gaji yang sama. Walaupun demikian, dia tidak pernah bergabung dengan Partai Komunis Prancis, bahkan golongan komunis Prancis mengkritik habis Sartre sehingga dia menerbitkan buku kecil L’Existentialisme Est Un Humanisme[19] untuk membela filsafatnya.
Kecondongannya ke kiri itu memungkinkannya menjadi satu-satunya orang Eropa Barat yang dapat dengan santai berkunjung ke negeri-negeri komunis seperti USSR, RRC, Kuba (bertemu dengan Fidel Castro, pemimpin revolusi Kuba). Pada tahun 1966 dia pun terlibat di dalam International Tribunal against War Crimes in Vietnam yang telah didirikan oleh filsuf Inggris tersohor, Lord Bertrand Russell. Lembaga pengadilan itu menyelidiki kejahatan-kejahatan perang Amerika Serikat yang dilakukan kepada Vietnam dengan menggunakan norma-norma yang sama yang telah diciptakan negara-negara demokratis untuk menyelidiki kejahatan-kejahatan perang Nazi Jerman dalam pengadilan di Nuremberg pada tahun 1946.[20] Kecondongannya ke kiri yang semakin dalam itu, terlebih simpatinya terhadap USSR, memisahkannya dari sahabatnya yang juga merupakan seorang pemikir eksistensialisme dan sastrawan kelahiran Aljazair, Albert Camus.
Seorang filsuf, sastrawan, dramawan, aktivis
Namun, Sartre menilai bahwa komunisme di bawah rezim Stalin telah mengalami penyimpangan. Dia pun menilai bahwa marxisme merupakan mesin yang telah mogok. Sartre turut mengecam dan memprotes penyimpangan marxisme oleh rezime Stalin. Stalinisme dinilainya sebagai kekeliruan marxisme. Marxisme sendiri telah menjadi padat dan kaku seperti asal-usulnya yang positivistik di abad XIX. Marxisme menolak kebebasan manusia sebab marxisme memperlakukan kelas-kelas sosial sebagai kesatuan-kesatuan yang independen, bukannya diciptakan oleh individu-individu yang memiliki kepentingan yang sama. Di mata marxisme masyarakat merupakan makro-organisme yang berjalan sendiri. Marxisme-komunisme telah pincang. Sartre sendiri berkeyakinan bahwa eksistensialisme merupakan obat yang mujarab bagi marxisme-komunisme yang sakit ini. Marxisme dengan bentuknya yang sekarang tidak mampu menjelaskan mengapa individu tertentu dari kelas tertentu memilih tujuan tertentu dan bukannya yang lain. Marxisme yang memandang sekumpulan manusia secara apersonal itu memerlukan bantuan eksistensialisme-fenomenologis untuk mampu menjelaskan individu dari kelas tertentu dengan segala perbuatan-perbuatan bebasnya pada dunia material dan sosial. Bagi Sartre marxisme akan menjadi sistem filsafat sosial yang memadai jika marxisme mampu menjelaskan pengaruh timbal balik antara kebebasan dan keharusan di dalam eksistensi manusia.[21] Oleh karena itu, dia bermaksud mengawinsilangkan marxisme dengan eksistensialisme. Usaha pengawinsilangan marxisme dengan eksistensialisme itu diwujudnyatakan di dalam bukunya berjudul Kritik atas Rasio Dialektis volume I. Rasio Dialektis harus digunakan jika kita ingin berpikir tentang manusia, sejarah, dan kehidupan sosial.

6.                  Putus Asa Terhadap Marxisme
Sartre melihat dengan jelas penyimpangan marxisme di bawah rezim Stalin. Komunisme hanya mengganti penindasan oleh kaum kapital menjadi penindasan oleh negara totaliter. Akan tetapi, Sartre masih membelanya dengan berkata bahwa penindasan Soviet atas nama kemanusiaan masa depan lebih baik dari pada penindasan kaum kapitalis atas nama keuntungan. Slogan Stalin “Sosialisme di dalam Sebuah Negara” merupakan hal yang aneh di mata Sartre. Menurutnya slogan ini merupakan penyimpangan dari tujuan-tujuan semula dari revolusi di seluruh dunia.
Walaupun Sartre tidak pernah tunduk pada klaim “marxisme yang kaku” atas keharusan sejarah dengan mengorbankan kebebasan manusia, dia menilai manuver Stalin ini merupakan suatu kesalahan besar. Sartre bahkan bertanya apakah Stalin sungguh-sungguh orang yang dibutuhkan sejarah pada saat itu. Kritik atas Rasio Dialektis volume II yang dia tulis sebenarnya merupakan usaha analisa apakah Stalinisme menggambarkan perkembangan sejarah atau justru merupakan kegagalan sejarah. Sartre ingin mengetahui apakah marxisme, khususnya sosialisme Uni Soviet, dapat diselamatkan dari Stalinisme. Hingga akhir buku itu, Sartre tidak mampu menjawabnya. Sepuluh tahun sesudah menulis Kritik atas Rasio Dialektis volume II Sartre berkata bahwa mesin itu (marxisme) tidak dapat diperbaiki; masyarakat Eropa Timur harus menyita dan menghancurkannya. Kekecewaannya terhadap marxisme tampak di dalam kekecewaannya terhadap Kritik atas Rasio Dialektis volume I yang telah banyak menyita waktunya. Sartre pun mengatakan dalam wawancara pada tahun 1969, setahun setelah invasi USSR ke Cekoslovakia, Kritik atas Rasio Dialektis volume II takkan pernah terbit. Buku itu terbit setelah kematiannya tanpa seizin Sartre.[22]

7.                  Kehidupan Akhir
Banyak majalah dan media memperingati kejadian pada tahun 1975 saat Jean-Paul Sartre berusia 70 tahun. Sartre diwawancarai oleh majalah Le Nouvel Observateur. Sartre telah mengidap berbagai macam penyakit. Yang paling menyiksa Sartre adalah kondisi matanya. Ketika masih muda dulu, tanpa kaca mata Sartre tidak dapat melihat dengan baik, apa lagi dia mengidap strabismus.[23] Di usianya yang telah senja itu matanya semakin kabur bahkan hampir buta. Membaca dan menulis menjadi hal yang mustahil. Kegiatannya sebagai seorang pengarang sudah musnah sama sekali. Perayaan hari ulang tahunnya yang ke-70 itu menjadi pamitan umum. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 15 April 1980, dia meninggal setelah dirawat selama sebulan di rumah sakit. Simone de Beauvoir yang setia menemaninya hingga ajalnya tak kuasa melihat kepergian Sartre. Dia terus saja memeluk jenazah Jean-Paul Sartre sepanjang malam hingga para dokter harus membujuknya. Pada saat prosesi pemakaman jalan-jalan Paris menjadi padat oleh orang-orang yang mengantarkannya menuju peristirahatan terakhirnya, di Montparnasse di Paris.
Makam Sartre dan Beauvoir



[1] Jean-Paul Sartre, The Words, Translated from The French by Bernard Frecthman, New York: George Braziller, 1964, 27
[2] Jean-Paul Sartre, 1964, 20-21
[3]No supergo, granted,” tulis Sartre di dalam The Words. Walau memakai istilah psikoanalisa Freud dan menulis masa kecilnya dengan metode psikoanalisa, Sartre dengan kepercayaan terhadap kesadaran menolak teori itu.
[4] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer, Prancis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006, 91
[5] Jean-Paul Sartre, 1964, 26
[6] Donald D. Palmer, Sartre untuk Pemula, terjemahan B. Dwianta Edi Prakosa dan Stepanus Wakidi, Yogyakarta: Kanisius, 2007, 4
[7] A. Setyo Wibowo, Eksistensi Kontingen, Satu Sudut Pandang Membaca Kisah Hidup dan Pemikiran Jean-Paul Sartre, dalam A. Setyo Wibowo, dkk., Filsafat Eksistensialisme, Jean-Paul Sartre, Yogyakarta: Kanisius, 2011, 60-61
[8] A. Setyo Wibowo, dkk., 2011, 27
[9] Donald D. Palmer, 2007, 5
[10] Kesadaran bagi Sartre adalah kesadaran menidak.
[11] A. Setyo Wibowo, dkk., 2011, 38
[12] Donald D. Palmer, 2007, 5
[13] Donald D. Palmer, 2007, 29
[14] Donald D. Palmer, 2007, 35
[15] K. Bertens, 2006, 93
[16] Jean-Paul Sartre, 1964, 145
[17] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007, 250-254
[18] K. Bertens, 2006, 119
[19] Saya akan membedah buku ini pada Bab IV nanti. Versi yang ada di tangan saya adalah Eksistensialisme dan Humanisme (terjemahan Bahasa Indonesia) dan Existentialism Is An Humanism (terjemahan Bahasa Inggris).
[20] K. Bertens, 2006, 97
[21] Donald D. Palmer, 2007, 123
[22] Donald D. Palmer, 2007, 140-142
[23] Kaca mata Sartre pernah tertinggal di rumah bordil. Dia hendak mengambilnya, tetapi para germo menghalang-halanginya. Untunglah para muridnya datang membantunya sehingga dia bisa mendapatkan kaca matanya kembali (A. Setyo Wibowo, dkk., 2011, 61-62).

No comments:

Post a Comment