Monday, May 21, 2012

Menegakkan Martabat Manusia di Hadapan Atheisme


Menegakkan Martabat Manusia di Hadapan Atheisme

(Padmo Adi - FT. 3182)

Pengantar

Atheisme tidak memiliki arti yang tunggal. Ada seorang atheis yang benar-benar menolak Tuhan[1] dan agama apapun. Ada seorang atheis yang menidak pada Tuhan sejauh mengiyakan manusia. Ada pula atheisme di mana orang hanya menolak membicarakan Tuhan. Friedrich Nietzsche yang oleh beberapa orang diberi gelar sebagai mistikus terbesar akhir abad XIX dipandang sebagai seorang atheis fundamentalis oleh karena proklamasi kematian Tuhannya. Bertrand Russel, meskipun dia sangat religius, dicap sebagai seorang atheis oleh banyak kelompok orang. Baruch Espinoza yang juga religius itu pun digolongkan sebagai seorang atheis oleh Gereja Katolik. Di dalam tradisi Hindhu, mereka yang menolak personifikasi Tuhan, mereka yang memahami Tuhan tidak secara personal, dimasukkan ke dalam golongan atheis, meskipun sebenarnya mereka adalah para mistikus, yang mencoba menyelami Yang Ilahi dengan kemampuan mereka sendiri, bebas dari Rig-Veda yang banyak berisi ritus-ritus penyembahan. Agama Buddha sendiri pun dapat digolongkan di dalam agama yang tak bertuhan. Mereka tidak membicarakan Ketuhanan. Pembahasan mereka adalah bagaimana manusia hidup di dunia menjalankan dharma/damma. Bahkan, ketika Sang Buddha Sidharta Gautama ditanya tentang Tuhan oleh seorang muridnya, Sang Buddha melakukan diam yang terhormat.
Oleh karena itu, kita harus sepakat terlebih dulu pengertian atheisme yang bagaimana yang akan kita pakai di dalam pembahasan kita ini supaya tidak menyinggung pihak-pihak yang memang tidak kita maksudkan untuk kita singgung. Pengertian atheisme yang akan kita pakai sepanjang pembahasan kita adalah atheisme menurut Gereja Katolik pasca-Konsili Vatikan II sebagaimana yang ditulis di dalam Gaudium et Spes. Namun, sebelum kita membahas mengenai pengertian atheisme menurut perspektif Gaudium et Spes, terlebih dahulu kita akan sedikit mengupas mengenai apa itu Gaudium et Spes.

Apa itu Gaudium et Spes?
Gaudium et Spes lahir dari Schema XIII. Gaudium et Spes merupakan dokumen konstitusi pastoral yang berisi refleksi atas hubungan Gereja dengan manusia, masyarakat, dan situasi zaman modern. Dokumen ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan bagian yang lebih pastoral. Gereja berusaha menggembalakan umatnya di tengah zaman modern yang jauh lebih dinamis. Sedangkan bagian kedua merupakan bagian yang berisi ajaran. Gereja bermaksud menggunakan wewenang mengajarnya. Gereja ingin menyapa dunia, khususnya menyapa individu-individu manusia modern yang mulai usang.[2]
Bagian pertama dokumen ini membahas perspektif Gereja mengenai apa itu manusia dan dunia yang di dalamnya manusia hidup dan berkembang serta hubungan antara manusia dengan dunianya itu sendiri. Sedangkan bagian kedua membahas secara cermat berbagai segi kehidupan serta masalah-masalah sosial masyarakat manusia modern. Gaudium et Spes tidak hanya ditujukan kepada anggota Gereja saja, tetapi justru kepada semua manusia yang ada di muka bumi ini. Gereja merasa senasib dan sepenanggungan dengan masyarakat modern. Gereja ingin berada di sini dan kini, membuka pintu dan hadir kepada seluruh manusia modern. Gereja ingin solider dengan manusia modern. Gereja ingin menegaskan bahwa apa yang dialami oleh manusia dan apa yang terjadi kepada dunia merupakan apa yang terjadi kepada dan dialami oleh Gereja pula. “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (GS 1).
Gaudium et Spes secara tersurat membahas atheisme pada GS 19 dan 20. Gaudium et Spes menyadari bahwa atheisme yang lahir bukan saja merupakan tanggung jawab “mereka yang dengan sengaja berusaha menjauhkan Tuhan dari hatinya serta menghindari soal-soal keagamaan” (GS 19) semata. “Kaum beriman sendiri pun sering memikul tanggung jawab atas kenyataan itu” (GS 19). Kaum beriman acap kali justru menyelubungi wajah Tuhan. Tindakan mereka atas nama agama acap kali membuat orang justru mengambil jarak terhadap agama, bahkan melontarkan kritik agama yang canggih. Namun, Gaudium et Spes tidak sekadar berhenti pada ulasan mengenai atheisme, Gaudium et Spes tidak hanya berhenti pada sikap mengecam atheisme, tetapi justru mencoba membangun jembatan dialog dengan semua orang, baik beriman maupun yang atheis, demi tatanan dunia yang baru pada GS 21.

Pengertian Gaudium et Spes mengenai Atheisme
Istilah ‘atheisme’ menunjuk kepada gejala-gejala yang sangat berbeda satu dengan lainnya. Sebab ada kelompok orang yang benar-benar mengingkari Tuhan; ada juga yang beranggapan bahwa manusia sama sekali tidak dapat mengatakan apa-apa tentang Dia; ada pula yang menyelidiki persoalan tentang Tuhan dengan metode sedemikian rupa, sehingga masalah itu nampak kehilangan makna. Banyak orang secara tidak wajar melampaui batas-batas ilmu-ilmu positif, lalu atau berusaha keras untuk menjelaskan segala sesuatu dengan cara yang melulu ilmiah itu, atau sebaliknya sudah sama sekali tidak menerima adanya kebenaran yang mutlak lagi. Ada yang menjunjung tinggi manusia sedemikian rupa sehingga iman akan Tuhan seolah-olah lemah tak berdaya; agaknya mereka lebih cenderung untuk mengukuhkan kedudukan manusia dari pada untuk mengingkari Tuhan. Ada juga yang menggambarkan Tuhan sedemikian rupa sehingga hasil khayalan yang mereka tolak itu memang sama sekali bukan Tuhan menurut Injil. Orang-orang lain bahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan pun tidak, sebab rupa-rupanya mereka tidak mengalami kegoncangan keagamaan atau juga tidak menangkap mengapa masih perlu mempedulikan agama... ” (GS 19).
Sering pula atheisme modern mengenakan bentuk sistematis. Terlepas dari sebab musabab lainnya, atheisme sistematis itu mendorong hasrat manusia akan otonomi sedemikian jauh sehingga menimbulkan kesulitan terhadap sikap tergantung dari Tuhan yang mana pun juga. Mereka yang menyatakan diri penganut atheisme semacam ini mempertahankan bahwa kebebasan berarti: manusia menjadi tujuan bagi dirinya sendiri; ialah satu-satunya perancang dan pelaksana riwayatnya sendiri... . Di antara bentuk-bentuk atheisme zaman sekarang janganlah dilewatkan bentuk, yang mendambakan pembebasan manusia terutama pembebasannya di bidang ekonomi dan sosial. Bentuk atheisme itu mempertahankan bahwa agama pada hakikatnya merintangi kebebasan itu... ” (GS 20).
Berdasarkan uraian Gaudium et Spes di atas, atheisme di mata Gaudium et Spes bisa sangat luas jangkauannya, mulai dari atheisme fundamentalis di mana mereka benar-benar menolak eksistensi dan paham Tuhan bagaimanapun dan apapun, agnostisme di mana orang enggan berbicara mengenai Tuhan dan agama, hingga para filsuf yang memiliki paham mereka sendiri tentang Tuhan yang berbeda dari paham Tuhan Injili. Pada umumnya mereka menolak Tuhan demi mengiyakan manusia atau demi menyadarkan manusia dari impian kehidupan di alam sana agar lebih memperjuangkan hidupnya di dunia ini. Dengan pengertian yang seperti ini maka mulai dari pribadi seperti Feuerbach, Nietzsche, Marx, Sartre, Spinoza, Jaspers, hingga Gabriel Marcel (yang katolik itu) pun dapat dimasukkan ke dalam golongan atheis. Pribadi sereligius Baruch Espinoza, Karl Jaspers, dan Gabriel Marcel dapat masuk ke dalam golongan atheis menurut Gaudium et Spes karena mereka berusaha menyelami eksistensi Tuhan di luar Injil, sehingga ada kemungkinan paham Tuhan yang mereka imani sangat berbeda dengan Tuhan Kitab Suci.
Kini telah jelas siapa saja yang dipandang atheis menurut Gaudium et Spes. Maka, kita akan melangkah lebih lanjut pada pembahasan selanjutnya. Kita akan menyelami pemikiran tokoh-tokoh yang namanya disebutkan sebagai contoh di atas. Nama-nama itu mewakili setiap pengertian atheisme seperti yang dipaparkan Gaudium et Spes di atas. Selain nama-nama di atas, kita juga akan melihat fenomena atheisme di dalam negara ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, Indonesia. Dengan mempelajari pemikiran dan paham Tuhan mereka, kita bisa memetakan sejauh apa atheisme merongrong martabat kemanusiaan.

Ludwig Feuerbach - Sebuah Anthropotheisme, Homo Homini Deus
Ludwig Andreas Feuerbach

Atheisme Feuerbach adalah sebuah gerakan penolakan Tuhan untuk mengiyakan manusia. Atheisme Feuerbach merupakan suatu anthroposentrisme. Kata-katanya yang terkenal adalah homo homini Deus (manusia adalah Tuhan bagi sesamanya). Menurut Feuerbach “Tuhan tidak lain adalah cita-cita, ideal manusia” (VIII 90). “Tuhan tidak lain dari pada ideal hakikat manusia, namun ia dianggap sebagai hakikat yang berdiri sendiri secara riil” (VII 264). Maka Tuhan “hanya ada di dalam gagasan, dalam fantasi, namun tidak ada sama sekali dalam realitas dan kenyataan” (VII 289). Hal ini sama dengan penolakan terhadap eksistensi riil Tuhan. [3]
Tuhan merupakan gambaran manusia yang ingin menjadi sempurna. Maka, bukan Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sesuai dengan Kitab Suci (Kejadian 1:26), melainkan manusialah yang menciptakan Tuhan menurut gambar dan rupanya. Akan tetapi, proyeksi diri itu dijauhkan sedemikian rupa sehingga menjadi entitas tersendiri. Akhirnya, manusia menyembah-Nya karena kagum dengan pada-Nya. Manusia lupa bahwa yang dia sembah sebenarnya tak lain adalah proyeksi dirinya sendiri (dan Trinitas itu tak lain adalah ideal manusia akan budi, kehendak, dan cinta).[4] Tuhan tak lain adalah diri manusia yang terasing. Maka, Feuerbach dengan sadar mau menjadi seorang atheis, walau sebenarnya dia lebih senang dipandang sebagai penganut anthropotheisme.[5]

Friedrich Nietzsche - Nihilisme, Sikap Tidak Percaya Baik pada Tuhan Maupun juga pada Ketiadaan Tuhan
Friedrich Nietzsche

Terminologi “Tuhan” bagi Nietzsche tidak hanya menunjuk pada Tuhan Kristiani yang agamanya dia kritik habis-habisan, tetapi juga menunjuk pada segala sesuatu yang manusia namakan “Tuhan”, menunjuk segala hal yang dituhankan manusia. “Manusia adalah binatang pemuja,” kata Nietsche di dalam The Gay Science 346.[6] Manusia butuh untuk memuja. Manusia membutuhkan sesuatu untuk dijadikan pegangan di dalam hidupnya. Ketika Tuhan yang dijadikan pujaan manusia mati, manusia akan menciptakan pujaan-pujaan yang lain, bahkan dia akan menjadikan dirinya sendiri obyek pujaan, atau dia akan menjadikan “ketiadaan-tuhan” menjadi credo baru. Manusia akan menjadikan atheisme “agama” barunya. Dia akan mengimani “ketiadaan-tuhan” dengan sepenuh hati. “Ada kepercayaan baru saat ini yang namanya ketidakpercayaan,” kata Nietzsche di dalam The Gay Science 347.[7]
Proklamasi kematian Tuhan yang diserukan Nietzsche tidak hanya merupakan proklamasi kematian Tuhan Kristiani, tetapi justru proklamasi kematian segala hal yang kita maksudkan sebagai Tuhan, segala hal yang kita sembah sebagai Tuhan, segala sesuatu yang kita jadikan nilai kebenaran mutlak (kebenaran ilmu pengetahuan, keyakinan akan ketiadaan Tuhan, kebenaran filosofis, klaim kebenaran agama, dll.). Lalu, apa jadinya jika kebenaran mutlak itu hancur dan mati? Nihilisme! Manusia akan bergumul di dalam situasi nihilisme ini dan manusia akan memenangkan pergumulan itu. Akan tetapi, manusia akan menggulati situasi nihilisme itu dengan dua cara: secara pasif dan secara aktif.
Manusia yang menggulati nihilisme secara pasif akan terlihat pesimis. Contoh manusia yang menggulati nihilisme secara pasif adalah Jean-Paul Sartre dan Michel Foucault. Kematian Tuhan adalah fakta yang harus diterima begitu saja. Kesalahan pertama mereka adalah tidak terlebih dahulu mengurai dan mengintrogasi fakta kematian Tuhan ini. Akan tetapi, kedua filsuf ini menarik kesimpulan yang sangat berbeda dari fakta kematian Tuhan itu. Jean-Paul Sartre begitu percaya kepada kemampuan manusia yang bisa mengambil alih tugas Tuhan, sedangkan Michel Foucault justru melihat ketiadaan manusia (keterserakan subyek). Akan tetapi, kedua kesimpulan yang berbeda itu tetap memberi kesan yang sama: pesimis.[8] Kita tidak akan membahas Jean-Paul Sartre lebih lanjut di sini karena kita akan membahasnya secara terpisah pada pokok pembicaraan setelah ini.
Menghadapi nihilisme secara aktif adalah sebagaimana yang ditawarkan Nietsche sendiri, yaitu membebaskan diri dari segala bentuk kepercayaan, termasuk kepercayaan akan ketiadaan Tuhan (atheisme). Kematian Tuhan tidak sama dengan kebangkitan kepercayaan baru, atau lahirnya pujaan baru, yaitu manusia. Kematian Tuhan bisa jadi merupakan kematian manusia pula. Nietzsche mengusulkan suatu sosok manusia yang menghadapi nihilisme secara aktif, yang menjadi penebak enigma, yang tidak khawatir dengan terbenamnya satu-satunya matahari tersebut. Pencarian matahari yang lain hanyalah sublimasi dari kebutuhan untuk percaya. Manusia nietzschean yang menghadapi nihilisme secara aktif ini merupakan sesosok roh bebas yang tidak butuh lagi untuk percaya.[9] Nietzsche memperkenalkan manusia baru itu sebagai sang Adimanusia. Sang Adimanusia adalah manusia yang bebas dan sadar. Dia bermain-main di antara nihilisme tersebut. Sang Adimanusia ini mentransvaluasi nilai-nilai baru di dalam dirinya sendiri sebab nilai-nilai lama telah mati dan terbenam. Sang Adimanusia adalah manusia yang begitu bebas dari dominasi eksternal, percaya diri, dan mengemansipasi diri.
Nietzsche adalah sesosok manusia yang menetak segala bentuk kepercayaan, dia membunuh segala Tuhan, bahkan dia pun membuang kepercayaan akan ketiadaan Tuhan. Dia menunjukkan kepada kita suatu keadaan pasca-kematian Tuhan, nihilisme. Dia pun memperkenalkan sesosok manusia yang menghadai nihilisme secara aktif, Sang Adimanusia. Kemudian, Nietzsche menantang kita: beranikah kita menari tanpa alasan mengapa dan untuk apa? Beranikah kita berlayar ke lautan lepas tanpa horizon? Beranikah kita melampaui diri kita sendiri? Beranikah kita mengarungi hidup tanpa satu kepastian pun?

Karl Marx - Agama adalah Candu


Marx menemukan fakta yang sederhana bahwa umat manusia pertama-tama harus makan, minum, memiliki tempat berteduh, dan berpakaian sebelum ia dapat mengejar politik, sains, seni, dan agama,” Friederich Engels, “Speech at the Graveside of Karl Marx”. Marx memberi kita suatu pandangan baru mengenai realita. Realita menurut Marx terdiri dari dua hal: suprastruktur dan infrastruktur. Suprastruktur adalah sesuatu yang terlihat, jelas, besar, dan menonjol, seperti: ideologi, ilmu, filsafat, politik, seni, agama, dll. Sedangkan infrastruktur adalah sesuatu yang mendasari realita tersebut di atas, adalah sesuatu yang laten dan tersembunyi, yaitu ekonomi atau uang. Atheisme Marx adalah pereduksian idealisme kepada materialisme.
Marx mengambil motto pahlawan Yunani, Prometheus, “Aku benci semua dewa.” sebab dewa-dewa itu “tidak mengetahui-kesadaran diri manusia sebagai ketuhanan yang paling tinggi.”[10] Akan tetapi, Marx tidak pernah mengkritik Tuhan an sich, dia semata tidak mempercayai Tuhan, kritik Marx justru adalah pada agama-agama. Atheismenya dia ambil dari Feuerbach, walaupun dia memutuskan menjadi atheis sejak masa mudanya. Ketidakpercayaannya kepada Tuhan itu satu hal, sedangkan kritik agamanya itu hal yang lain. Agama, kata Marx, adalah ilusi dengan konsekuensi amat sangat jahat, suatu ideologi ekstrem yang tujuan utamanya hanyalah untuk memberikan legitimasi kepada para penindas untuk mempertahankan status quo.[11]
Karl Marx melihat keterkaitan erat antara aktivitas sosio-ekonomi dengan aktivitas agama. Benang merah yang menghubungkan keduanya adalah alienasi. Alienasi yang kita lihat di dalam agama sebenarnya selalu merupakan ekspresi dari ketidakbahagiaan yang lebih besar, yang selalu bersifat ekonomi.[12] Kebutuhan ekonomi itu selalu terkait dengan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (misalnya: sandang, pangan, dan papan). Fenomena agama, menurut Marx, baiknya dipandang sebagai fenomena yang sebenarnya jauh lebih bersifat ekonomi dan material dari pada spiritual. Kita dapat mengambil contoh nyata di dalam kehidupan beragama di Indonesia. Kerukunan hidup beragama di Indonesia yang menyedihkan dewasa ini dapat kita pandang sebagai ekspresi ketidakmerataan kesejahteraan ekonomi dan kepemilikan modal. Mereka yang rela maju menghancurkan, menganiaya, bahkan membunuh sesama warga sebangsa dan setanah air dalam nama Tuhan itu sebenarnya adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan menyedihkan dan kesulitan secara ekonomi. Memang seolah-olah mereka begitu setia membela agamanya, rela mati demi agamanya, rela maju berperang dalam nama Tuhan, akan tetapi pengangguran mana yang tidak tergiur tawaran Rp 100.000,00 hingga Rp 150.000,00 sekali sweeping? Alienasi di dalam bidang ekonomi mereka ekspresikan di dalam sikap yang seakan-akan begitu militan dan beriman terhadap klaim kebenaran agamanya.
Lagi pula, agama menyediakan tawaran yang sangat menggiurkan bagi mereka yang telah kalah secara ekonomi. Agama menyajikan kebahagiaan di masa depan, pada kehidupan setelah kematian. Agama menawarkan pembalasan atas kepahitan hidup yang mereka alami di dunia ini. Agama menyediakan pelepasan beban yang semu sehingga manusia yang kalah ini bisa sejenak terlena dan melupakan kekalahan hidupnya. Agama menjadi tempat pengungsian dan perlindungan yang sempurna dari kehidupan nyata yang begitu pahit, getir, dan bahkan tanpa makna sama sekali. Marx berkata, “Penderitaan agama pada saat yang sama merupakan ekspresi penderitaan ekonomi yang nyata dan protes melawan penderitaan yang nyata. Agama adalah keluh kesah makhluk yang tertindas, hati dunia yang tak berhati, sebagaimana ia adalah roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh. Agama adalah candu bagi masyarakat.[13] Lebih jauh Marx berkata, “Penghapusan agama karena dianggap kebahagiaan yang ilusi dari orang menjadi syarat bagi kebahagiaan yang nyata. Tuntutan untuk meninggalkan ilusi mengenai keadaan merupakan tuntutan untuk meninggalkan suatu kondisi yang membutuhkan ilusi.”[14] Bagi Karl Marx, menjadi religius tiada bedanya dari seorang pecandu narkotika. Agama merupakan kekuatan yang benar-benar merusak dunia nyata ini. Bukannya membangun dunia nyata ini, manusia justru melarikan diri kepada iming-iming kehidupan di alam sana yang belum tentu ada, atau bahkan malah turut serta semakin merusak kebudayaan dunia nyata ini oleh karena janji surga itu. Agama menghalau pandangan mereka terhadap realita ketidakadilan fisik dan materi kepada pandangan indah tentang surga dan Tuhan. Lebih parah lagi, ilusi agama itu bukan hanya sekadar ilusi fatamorgana, melainkan suatu ilusi yang melumpuhkan seluruh daya kreatif kemanusiaan kita.

Jean-Paul Sartre - Atheisme yang Menidaki Tuhan demi Mengiyakan Manusia

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis itu dan dramawan, begitu menekankan kebebasan manusia. Manusia adalah kebebasan itu sendiri, bahkan manusia dikutuk untuk bebas. Akan tetapi, dogma etika eksistensialisme sartrean mengajarkan bahwa kebebasan orang lain membatasi kebebasanku. Etika eksistensial mengikuti etika Immanuel Kant. Imperatif kategoris Immanuel Kant mengajarkan kepada kita untuk bertindak sehingga maksim dari tindakan kita diterima sebagai hukum universal. Secara sederhana, kita diminta melakukan sesuatu sebagaimana kita menghendaki semua orang di seluruh dunia bertindak. Kita tidak akan berbohong sebab kita ingin semua manusia di seluruh dunia jujur. Namun, ketika Sartre mengikuti hukum tersebut dan sampai pada tema kebebasan, dia menemukan dirinya berada di dalam situasi konflik yang tak terpecahkan: kebebasan orang lain mengebiri kebebasannya.[15] Lewat tatapan matanya, orang lain membatasi kebebasan kita. Secara sederhana, kita tidak akan berteriak-teriak dan berjingkrak-jingkrak sedemikian gila di mall ketika ada banyak orang lain berlalu-lalang atau malah memandangi kita.
Ekspresi dari terbatasnya kebebasan kita oleh karena kehadiran orang lain tampak pula dalam emosi takut dan malu. Ketika kita malu atau takut, kita sebenarnya menyadari bahwa kita sedang menjadi obyek bagi tatapan orang lain. Kita terperangkap di dalam tatapan orang lain sehingga being-for-itself kita (di mana kita adalah kemungkinan-kemungkian kita sendiri) ditransendenkan oleh kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya bukan kemungkinan-kemungkinan kita. Perasaan itu dalam bentuknya yang paling ekstrim mungkin menjadi sumber agama.[16] Ketika saya malu dan takut pada Tuhan, sebenarnya kita tengah malu dan takut pada sosok orang lain. Sewaktu kita kecil, misalnya, kita dilarang mencuri oleh ayah. Ketika kita sudah dewasa dan tinggal jauh dari ayah, dan di saat itu ada kesempatan mencuri, hati kita menjadi takut. Orang bilang itu bisikan Tuhan di dalam hati kecil kita supaya kita tidak mencuri. Namun, itu sebenarnya adalah sosok ayah (orang lain) yang kita batinkan dan proyeksikan sedemikian jauh hingga melampaui batas kemanusiaan dan akhirnya menjadi sosok Tuhan. Ada sebuah lagu Sekolah Minggu: Hati-hati gunakan tanganmu, Tuhan Bapa di surga melihat penuh cinta, hati-hati gunakan tanganmu. Sebagai anak kecil, kita kemudian membatinkan sosok guru Sekolah Minggu itu, lalu memproyeksikannya hingga melampaui batas kemanusiaan, sehingga ketika dewasa kita begitu berhati-hati menggunakan tangan kita supaya tidak dipandang berdosa di mata Tuhan.
Manusia adalah kebebasan. Kehadiran Tuhan dengan tatapan-Nya membatasi kebebasan manusia. Maka, Jean-Paul Sartre menyetujui begitu saja proklamasi kematian Tuhan yang telah digemakan Nietzsche bertahun-tahun sebelumnya tanpa membedahnya terlebih dahulu. Bagi Jean-Paul Sartre, Tuhan tidak ada. Ketiadaan Tuhan ini adalah suatu fakta yang harus dihadapi oleh manusia modern. Sartre mengutib kata-kata Dostoievsky demikian, “Apabila Tuhan tidak ada, tidak akan ada lagi larangan,” dan hal ini, menurut Sartre, merupakan sebuah titik berangkat kaum eksistensialis.[17] Kematian Tuhan berarti tiada lagi larangan absolut, berarti kebebasan mutlak manusia. Dengan ketiadaan Tuhan, manusia harus menanggung sendiri kebebasannya di hadapan pilihan-pilihan sulit beserta segenap tanggung jawab yang mengikutinya. Manusia menemukan dirinya terlempar di dunia dan terapung-apung di tengah kebebasan tanpa alasan. Absurd. Lebih jauh, dengan ketiadaan Tuhan, lenyap pula nilai-nilai yang tertulis di surga, nilai-nilai a priori telah lenyap. Manusia kemudian harus memberi nilai sendiri pada segala keputusannya. Atheisme Jean-Paul Sartre ini adalah sebuah tidak pada Tuhan dan ya pada manusia.

Baruch Espinoza - Deus sive Natura, Suatu Pantheisme-monistik
Baruch de Spinoza

Baruch Espinoza alias Spinoza itu memiliki paham Tuhan yang unik. Dia sampai pada paham Tuhan “Deus sive Natura” (Tuhan atau Alam). Tuhan yang dipahami Spinoza adalah Tuhan yang apersonal sehingga cinta kepada Tuhan bersifat intelektual melulu (amor Dei intellectualis). Spinoza kemudian dipandang sebagai penganut panteisme-monistik. Spinoza dianggap atheis sejauh dia tidak mengimani Tuhan personal yang menciptakan semesta dan dapat ada lepas dari ciptaan-Nya tersebut.
Spinoza menolak paham Tuhan yang personal. Dia menolak paham Tuhan di dalam iman Yahudi dan Kristen yang dapat kita sapa secara personal dengan sebutan “Engkau” atau “Bapa”. Menurut Spinoza, Tuhan adalah satu-satunya substansi, maka segala Ada (makhluk) tidak berdiri sendiri melainkan secara mutlak ada pada Tuhan. Segala Ada (makhluk) tak lain hanyalah modi (modus, singular) Tuhan, “cara” mengada Tuhan. Segenap jagad raya ini tidak lain adalah identik dengan Tuhan secara prinsipil.[18]

Karl Jaspers - Mengenali Yang Ilahi yang Tak Terbatas Melalui Chiffer-chiffer yang Terbatas
Karl Jaspers

Jaspers mempercayai bahwa kenyataan Yang Ilahi itu lebih dari pada persona, tidak seperti orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan adalah pribadi. Jaspers yakin bahwa Yang Ilahi itu terlalu tinggi untuk dirangkum di dalam konsep-konsep. Semua nama atau tanda yang diberikan manusia kepada realita Yang Ilahi itu, seperti misalnya Tuhan, Allah, Bapa, Roh Absolut, Nirwana, Tao, Brahman, dan lain sebagainya, hanyalah tanda terbatas untuk Keilahian yang tak terbatas. Nama-nama dan paham-paham mengenai Yang Ilahi itu disebut Jaspers sebagai chiffer. Melalui chiffer itu manusia dapat dengan bebas berhubungan dengan Yang Tak Terbatas. Kehadiran Yang Tak Terbatas secara utuh akan menghilangkan kebebasan manusia, padahal Yang Ilahi menghendaki kebebasan manusia. Oleh sebab itu, Yang Ilahi bersembunyi di balik chiffer-chiffer tersebut.
Akan tetapi, selain memahami Tuhan secara negatif seperti di atas, Jaspers mencoba memahami Tuhan secara positif. Tuhan dipahami sebagai “Yang-melingkupi-segala-sesuatu-yang-melingkupi” (das Umgreifende alles Umgreifenden). Ada Tuhan berada melampaui/di seberang Ada (Dasein) empiris, maka “Transendesi tidak lain adalah Tuhan sendiri”. Jaspers berpesan, apapun yang kita katakan mengenai Tuhan, Dia tetap tidak bisa dikenali dan dicirikan. Mengetahui bahwa Tuhan itu ada sudah cukup memuaskan Jaspers, bukan pada pembedahan mengenai apa atau bagaimana Tuhan itu. Tuhan dapat kita kenali melalui chiffer-chiffer itu sebab Tuhan berkarya langsung melalui chiffer-chiffer tersebut.[19]

Gabriel Marcel - Tuhan adalah Engkau Absolut

Tatkala Paus menyerukan bahwa tidak ada eksistensialis Katolik, Gabriel Marcel menyatakan diri sebagai seorang eksistensialis.[20] Gabriel Marcel lahir dari seorang ibu Yahudi dan ayah Katolik, tetapi dibesarkan dalam suasana acuh tak acuh terhadap agama. Dia menikahi seorang gadis protestan. Perkawinan mereka selalu sangat bahagia, menurut kesaksian Gabriel Marcel sendiri. Pada tahun 1929 akhirnya Gabriel Marcel masuk ke dalam pangkuan Gereja Katolik. Ini merupakan perjalanan rohaninya yang sangat panjang, 40 tahun.
Senada dengan Jean-Paul Sartre, Gabriel Marcel memandang Tuhan sebagai orang lain yang hadir secara istimewa. Akan tetapi, tidak seperti Sartre yang memandang orang lain sebagai neraka yang membatasi kebebasan kita, Gabriel Marcel memandang relasi aku-kamu sebagai relasi intersubyektif. Ada selalu berarti Ada-bersama, esse ialah co-esse.[21] Di dalam Ada-bersama ini tidak lain merupakan “kehadiran”. “Kehadiran” bagi Marcel melampaui kategori ruang dan waktu. “Kehadiran” bagi Marcel adalah ketika “Aku” berjumpa dengan “Engkau”, saling mengarahkan diri antara yang satu kepada yang lain dengan cara yang sama sekali berlainan dari cara mereka menghadapi obyek-obyek. “Kehadiran” ini direalisasikan secara istimewa dalam cinta di mana “Aku” dan “Engkau” menjadi “Kita”. “Aku” dan “Kamu” menjadi satu kesatuan, menjadi satu communion, kebersamaan yang sungguh-sungguh komunikatif.
Tidak mengherankan apabila kemudian Gabriel Marcel menolak dengan tegas segala percobaan untuk membuktikan eksistensi Tuhan. “Membuktikan” eksistensi Tuhan berarti kita sedang “mengobyektivasikan” Tuhan, atau dengan kata lain kita tengah menempatkan Tuhan sebagai “problem”. Gagasan bahwa Tuhan adalah causa prima yang begitu populer di dalam Teologi Skolastik bagi Gabriel Marcel sama sekali tidak masuk akal. Kehadiran Tuhan merupakan suatu suasana misteri. Kehadiran Tuhan merupakan misteri karena berada di luar jangkauan kemanusiaan kita. Kita tidak dapat membuktikan kehadiran Tuhan, yang dapat kita lakukan adalah “percaya” dan “berharap” (dalam pengertian filosofis) pada sang “Engkau Absolut”. “Kepercayaan” dan “harapan” pada “Engkau Absolut” ini kemudian menjadi dasar bagi setiap perjumpaan dengan “Engkau” yang lain. Bukan pembuktian yang menjadi dasar untuk menerima Tuhan, melainkan imbauan dari “Engkau Absolut” yang kita jawab dengan kepercayaan. Sedangkan “harapan” di sini bukan merupakan harapan akan suatu kejadian di masa depan, melainkan merupakan suatu kesaksian kreatif tentang “Engkau Absolut” yang memegang saya dan meliputi saya, walau saya menghadapi banyak penderitaan dan kejahatan.[22]

Atheisme di Indonesia
 Atheisme bukan merupakan fenomena yang ada nun jauh di Eropa sana. Atheisme ada dan nyata di Indonesia. Memang para pemikir atheis Indonesia itu belum mengeluarkan satu buku pun mengenai kepercayaan-akan-ketiadaan-Tuhan mereka, tetapi kita yang sangat familiar dengan internet, khususnya blog (baik yang pribadi seperti www.blogger.com maupun yang ramai-ramai seperti www.kompasiana.com ), twitter, dan facebook[23], bisa jadi pernah “bertemu”, berdialog, atau membaca pemikiran orang-orang atheis ini. Penulis secara pribadi mengenal beberapa orang atheis; ada yang sangat akrab dengan penulis, ada yang pernah kopi darat (bertemu muka) dengan penulis, ada yang sebatas teman dunia maya, atau ada pula yang hanya penulis ketahui sebatas buah pemikiran mereka saja. Mereka adalah justru orang-orang yang berpendidikan, walau ada pula yang pendidikannya otodidak dari Google. Beberapa memutuskan menjadi atheis oleh karena sakit hati dengan atau kecewa terhadap institusi agama. Ada yang memutuskan menjadi atheis oleh karena lebih memercayai ilmu-ilmu positif. Ada pula yang menjadi atheis (baca: tidak memeluk satu agama pun dari enam agama resmi yang diakui negara) karena menganggap keenam agama resmi itu hanyalah agama impor yang justru menjajah local-wisdom Nusantara. Ada pula yang memilih menjadi agnostik, enggan berbicara mengenai agama. Ada yang menjadi blasphemer, mengolok-olok keenam agama resmi negara atau bahkan mengolok-olok Tuhan sendiri. Atau, ada pula yang menjadi occultist[24].
Pada umumnya mereka memilih menjadi atheis karena kecewa dan sakit hati dengan keenam agama resmi negara. Di mata mereka, agama telah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga melenceng dari tujuannya semula. Negara telah menggunakan agama sebagai instrumen kekuasaan dan kontrol total. Agama bukan lagi menjadi kendaraan untuk mengantarkan manusia manunggal dengan penciptanya, tetapi justru dijadikan alat status quo kekuasaan. Sejak 1965 Warga Negara Indonesia harus memiliki agama. Rakyat Indonesia harus memeluk salah satu dari lima[25] agama resmi negara. Kepercayaan-kepercayaan adat, agama-agama tradisional, dan aliran-aliran kebatinan tidak pernah dianggap sebagai sebuah agama; mereka berada di bawah Departemen Kebudayaan dan bukan Departemen Keagamaan. Sila I Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, diplintir sedemikian rupa dan direduksi menjadi peraturan menuliskan agama pada KTP. Mereka yang mengosonginya dianggap atheis. Mereka yang dianggap atheis akan dicap sebagai komunis atau PKI. Dan, mereka yang dianggap sebagai PKI atau keturunan PKI harus mengalami perlakuan yang sangat diskriminatif, bahkan lebih rendah dari pada binatang. Pemerintah Soeharto lupa pesan Bung Karno, pencetus Pancasila, bahwa tiap-tiap rakyat Indonesia bebas menyembah Tuhannya masing-masing justru di bawah payung Sila I Pancasila. Agama telah menjelma menjadi suatu alat kontrol pemerintah untuk memobilisasi massa. Lebih jauh dari itu, untuk mengatur agama rakyat, pemerintah Orde Baru mengeluarkan larangan menikah berbeda agama. Pernikahan yang diakui negara adalah pernikahan yang diakui agama, jadi negara hanya mencatat. Negara melepas wewenang sipilnya untuk menikahkan rakyat. Padahal, agama mana yang mengizinkan umatnya menikahi umat dari agama lain? Gereja Katolik sendiri secara tertulis di dalam Kitab Hukum Kanonik menyatakan, “Perkawinan antara dua orang, yang di antaranya satu telah dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah” (bdk. Kan. 1086 ΞΎ 1). Bagaimana mungkin negara mencatat perkawinan yang tidak disahkan agama jika demikian?
Dewasa ini atheisme dan antipati terhadap agama itu semakin menjadi-jadi oleh karena kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kaum minoritas dan mereka yang berbeda harus disingkirkan, ditindas, atau dipersulit hanya karena mereka memeluk agama atau aliran yang berbeda dari agama dan aliran mainstream. Sekali lagi agama menjadi alat kontrol kekuasaan dan mempertahankan status-quo. Politik telah menggunakan agama sebagai topeng yang menutupi setiap permainan kotornya. Isu konflik antaragama dijadikan pengalihan isu atas kasus korupsi. Konflik horisontal antaragama sengaja diciptakan untuk menghindari konflik vertikal antara rakyat dengan negara.
Semua harus beragama. Tidak beragama merupakan suatu tindakan kriminal di Indonesia. Kasus yang baru saja terjadi adalah penangkapan seorang Padang yang mengaku atheis[26] di akun facebook-nya. Dia ditangkap hanya karena meng-up date statusGod doesn’t exist.” Memang dia adalah salah satu admin dari grup facebook “Atheis Minang”[27]. Yang paling konyol adalah suatu peristiwa di Solo di mana seorang pemuda ditelanjangi oleh ormas agama tertentu hanya karena memakai kaos bertuliskan “Tuhan, agama-Mu apa?[28] Dia diminta untuk melepaskan kaosnya di tempat itu juga. Akhirnya, pemuda itu diamankan polisi. Sebenarnya, kaos “Tuhan, agama-Mu apa?” itu merupakan kaos yang diproduksi dari hasil perjumpaan tatap muka dan dialog lintas iman. Agama yang berwajah keras, agama yang hanya menjadi instrumen kekuasaan negara, agama yang cenderung fasis dan fundamentalis, agama yang tak memiliki daya kritis dan rasa humor, bahkan agama yang perlu dibela mati-matian inilah yang menjadi alasan banyak orang Indonesia, yang dulu dikenal sebagai bangsa religius ini, memutuskan untuk menjadi atheis.

Humanisme Menjembatani Pemikiran-pemikiran Itu
Para filsuf yang telah dijelaskan di atas dan orang-orang atheis Indonesia itu sebenarnya memiliki suatu visi anthropologi tertentu. Feuerbach dengan sangat jelas mengatakan bahwa Tuhan itu sebenarnya adalah potensi manusia sendiri. Segala gambaran yang manusia lihat ada pada Tuhan itu tak lain adalah kemampuan manusia sendiri. Nietzsche dengan metafisikanya yang sedemikian kompleks dan rumit, apa lagi ditulis di dalam aforisme-aforisme yang membutuhkan penafsiran ulang, pun berbicara mengenai manusia. Nietzsche tidak hanya berhenti pada proklamasi kematian Tuhan dan kritik pada kaum atheis yang memiliki credo baru yaitu “ketiadaan Tuhan”, dia mengajak kita semua untuk mengatakan “ya” pada hidup, menjadi Sang Adimanusia, roh merdeka yang tak gentar mengarungi samudera tanpa horizon dan merayakan hidup dengan penuh gairah. Karl Marx mengajak kita untuk menginjak bumi, menghadapi realita hidup sehari-hari dengan praxis, memperjuangkan nasib kita di dunia nyata ini, dan sadar dari buaian yang meninabobokan. Sartre mengajak kita untuk tidak melempar tanggung jawab atas hidup kita sendiri. Spinoza mengajak kita untuk menemukan Tuhan di dalam seluruh harmoni semesta, bahwa realita ini tidak lain adalah manifestasi dari Yang Ilahi, sehingga mustahil kita memukul seorang teman sembari berkata, “Aku mencintai Tuhan.” Jaspers mengajak kita untuk rendah hati mengakui bahwa segala sesuatu yang mengantar kita pada Yang Ilahi (agama, teologi, terminologi “Tuhan” itu sendiri) merupakan sesuatu yang terbatas yang tak mampu menampung ketidakterbatasan Yang Ilahi sehingga kita bisa menerima perbedaan yang ada. Sedangkan Gabriel Marcel mengajak kita untuk menikmati kehadiran Tuhan, Sang “Engkau Absolut” dengan segala misterinya, tanpa tendensi untuk menguasai-Nya dengan membuktikan eksistensi-Nya, sehingga kita pun dapat saling hadir satu sama lain dengan cinta. Sedangkan orang-orang atheis di Indonesia menginginkan agama ditempatkan pada tempat yang seharusnya, tidak menjadi instrumen kekuasaan negara, sehingga manusia-manusia Indonesia dapat bertemu satu dengan yang lain tanpa disekat-sekati oleh atribut agama tertentu, dapat saling mencintai satu sama lain.

Humanisme Gaudium et Spes (GS 12-18)
Sebagaimana humanisme pada umumnya, humanisme Gaudium et Spes sepakat bahwa segala sesuatu diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya. Gambaran manusia menurut Gaudium et Spes mengikuti tradisi Gereja dan Kitab Suci. Manusia merupakan gambaran dan rupa Tuhan. Manusia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya. Manusia pun ditetapkan sebagai tuan atas segenap ciptaan. Manusia bukan hanya makhluk individual, melainkan juga makhluk sosial, karena Tuhan menciptakan manusia tidak sendiri, tetapi “Tuhan menciptakan mereka pria dan wanita” (Kej: 1:27).
Meskipun manusia diciptakan sedemikian sempurna dan bahkan serupa dengan Tuhan, manusia jatuh di dalam dosa oleh karena bujukan setan. Manusia menyalahgunakan kebebasannya untuk memberontak melawan Tuhan dengan mencari tujuan hidup di luar Tuhan. Manusia di dalam dosanya tidak memuliakan Tuhan walaupun mereka mengenal Tuhan. Gaudium et Spes sebagaimana tradisi Gereja memahami bahwa manusia berada di dalam dosa asal yang membuat mereka mengalami perpecahan di dalam dirinya. Hidup manusia dilihat sebagai suatu perjuangan yang dramatis, antara hidup di dalam Tuhan atau menjalani lorong gelap dosa. Ada tarik menarik dan tegangan di dalam hidup manusia. Bahkan, manusia dipandang tidak memiliki kekuatan di dalam dirinya sendiri untuk melawan kekuatan dosa tersebut. Manusia membutuhkan bantuan dan rahmat Tuhan untuk melawannya. Tuhan turun dari surga, menjelma menjadi manusia, sengsara, dan mati untuk kemudian bangkit serta mengangkat segenap kemanusiaan kembali kepada Tuhan. “Dalam terang Pewahyuan itulah baik panggilan luhur maupun kemalangan mendalam, yang dialami oleh manusia, menemukan penjelasan yang mendalam” (GS 13).
Manusia merupakan kesatuan jiwa dan raga. Manusia memanfaatkan tubuh dan benda-benda material dunia untuk mencapai taraf tertingginya dan dengan bebas memuliakan Penciptanya. Akan tetapi, oleh karena dosa manusia memiliki kecondongan-kecondongan tidak baik di dalam tubuhnya. Manusia mengalami pemberontakan di dalam tubuhnya. Manusia baru akan kembali ke dalam kehidupan sejatinya jika manusia berpaling ke dalam hatinya. Tuhan sendirilah yang bertakhta di dalam hati setiap manusia. Kehidupan batin manusia jauh melampaui semesta raya. Ketika manusia menyelaraskan setiap pilihan hidupnya dengan suara hati terdalamnya, dia tidak akan disesatkan oleh pemberontakan-pemberontakan yang terjadi pada tubuhnya.
Manusia dapat mengatasi pemberontakan-pemberontakan di dalam tubuhnya itu hanya jika manusia bebas. Kebebasan merupakan anugerah Tuhan sebab manusia merupakan satu-satunya makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan dan mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya itu. “Kebebasan yang sejati merupakan tanda yang mulia gambar Tuhan dalam diri manusia” (GS 17). Akan tetapi, Gaudium et Spes memandang manusia modern acap kali menggunakan kebebasannya itu secara salah. Manusia memandang kebebasan itu sebagai suatu kesewenang-wenangan untuk berbuat apapun sesukanya, juga di dalam kejahatan. Kebebasan manusia dicemari oleh dosa. Hanya berkat rahmat Tuhan manusia dapat mengarahkan hidupnya kepada Tuhan.
Kehidupan manusia di dunia ini dibatasi oleh misteri maut. Akan tetapi, Gaudium et Spes, sebagimana tradisi Gereja dan Kitab Suci, mengajarkan bahwa maut hanya membatasi tubuh biologis manusia. Manusia memiliki benih keabadian di dalam dirinya. Manusia, dengan segenap jiwa-raganya, dapat melampaui maut seandainya dia tidak berdosa. Iman kristiani percaya bahwa dengan peristiwa penebusan Tuhan manusia dipulihkan dan dikembalikan kepada jalan keselamatan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia untuk memanggilnya bersekutu di dalam persekutuan kekal-abadi kehidupan ilahi yang tak kenal binasa. Gaudium et Spes, seturut iman kristiani, menyatakan bahwa kemanusiaan manusia mendapat kepenuhannya di dalam Tuhan.

Ajakan Solidaritas Antarsemua Manusia Melampaui Iman
Gaudium et Spes menentang atheisme. Gaudium et Spes menyayangkan gerakan humanisme yang terlalu berat sebelah sehingga justru menolak eksistensi Tuhan. Gaudium et Spes juga menyayangkan sikap kebanyakan filsuf yang memandang Tuhan melulu sebagai obyek penelitian filsafat, lepas dari iman. Gaudium et Spes tidak setuju dengan para pemikir positivis yang mengira dapat membuktikan Tuhan melalui ilmu-ilmu positif. Gaudium et Spes juga merasa prihatin terhadap mereka yang menolak Tuhan demi mengiyakan manusia. Menurut perspektif Gaudium et Spes mereka adalah manusia yang tidak mengikuti kata hati mereka. Akan tetapi, Gaudium et Spes tidak sepenuhnya menyalahkan mereka atas sikap penolakan mereka akan Tuhan. Gaudium et Spes secara rendah hati mengakui bahwa sikap penolakan akan eksistensi Tuhan itu juga merupakan akibat langsung dari sikap orang-orang beragama yang tidak menampakkan iman akan Tuhan yang sejati sehingga mereka justru menutupi wajah Tuhan dari pada menampakkan-Nya. Namun, Gaudium et Spes tidak hanya berhenti pada pengecaman ini. Mengutuk dan mengecam bukanlah tujuan dari dokumen ini. Gaudium et Spes menerangkan beberapa perbedaan pengertian dan perspektif humanisme, memaparkan secara sekilas humanisme sekular dan menegaskan humanisme kristiani. Kemudian, Gaudium et Spes mengajak semua manusia, baik yang beriman maupun yang menolak eksistensi Tuhan, untuk bersatu dan bahu-membahu mewujudkan dunia yang lebih baik, tempat hidup bersama yang lebih baik.


Penutup
Atheisme yang berusaha mati-matian membuktikan ketiadaan Tuhan adalah suatu kesia-siaan. Atheisme yang demikian ini merupakan atheisme yang kekanak-kanakan dan tidak elegan. Atheisme yang semacam ini telah kehilangan visi anthropologinya sehingga menjadi semacam guyonan yang tidak lucu. Banyak tokoh atheis yang justru tidak merepotkan diri di dalam usaha membuktikan ketiadaan Tuhan karena kritik mereka justru mereka tujukan kepada manusia. Mereka ingin menggugah manusia untuk menghidupi hidupnya di sini dan kini secara realistis.
Di sisi lain manusia selalu mampu merasakan kehadiran Yang Ilahi. Tanggapan atas kehadiran Yang Ilahi yang murni ini mampu menggerakkan kemanusiaan seseorang. Orang yang menanggapi kehadiran Yang Ilahi akan mampu memancarkan cinta kasih dan kelembutan. Hasratnya adalah membangun dunia yang lebih ramah.
Perjuangan untuk membela kemanusiaan ini dapat menjadi jembatan dialog orang-orang atheis dengan Gereja Katolik. Masalah iman dan kepercayaan kepada Tuhan itu satu hal. Hasrat kemanusiaan, yang oleh orang beriman lahir dari kehadiran Tuhan, sedangkan yang oleh orang atheis itu datang dari kesadaran Ada manusia itu sendiri, adalah hal yang lain. Maka, langkah pertama yang harus kita semua tempuh adalah menyingkirkan diskriminasi yang ada di antara kaum beriman dan kaum tak beriman.

Bibliografi
A. Setyo Wibowo, dkk., PARA PEMBUNUH TUHAN, Yogyakarta: Kanisius, 2011
Bertens, K., FILSAFAT BARAT KONTEMPORER PRANCIS, Jakarta: Gramedia, 2006,
Padmo Adi, LUDWIG ANDREAS FEUERBACH, Homo Homini Deus, paper diterbitkan pada www.sarang-kalong.blogspot.com pada April 13, 2010
Palmer, Donald D., Sartre untuk Pemula, terjemahan B. Dwianta Edi Prakosa dan Stepanus Wakidi, Yogyakarta: Kanisius, 2007
Pas, Daniel L., SEVEN THEORIES OF RELIGION, terjemahan Indonesia, New York: Oxford University Press, 1996
Sartre, Jean-Paul, “Eksistensialisme dan Humanisme”, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
Simon Petrus L. Tjahjadi, TUHAN PARA FILSUF DAN ILMUAN, dari Descartes sampai Whitehead, Yogyakarta: Kanisius, 2011
Weigel, George, “Rescuing Gaudium et Spes: The New Humanism of John Paul II”, dalam Nova et Vetera, English Edition,Vol. 8, No. 2 (2010)


[1] Pada karya tulis ini penulis hanya akan menggunakan terminologi “Tuhan” semata untuk merangkul pembaca yang tidak memakai terminologi “Allah” di dalam menyebut Yang Ilahi. Penulis sama sekali tidak membedakan terminologi “Tuhan” dan “Allah”. Di Indonesia sendiri hanya agama Islam dan Katolik, serta mayoritas Gereja Protestan yang menyebut Yang Ilahi dengan terminologi “Allah”.
[2] George Weigel, “Rescuing Gaudium et Spes: The New Humanism of John Paul II”, dalam Nova et Vetera, English Edition,Vol. 8, No. 2 (2010): 252
[3] Simon Petrus L. Tjahjadi, TUHAN PARA FILSUF DAN ILMUAN, dari Descartes sampai Whitehead, Yogyakarta: Kanisius, 2011, 96-97.

[4] Padmo Adi, LUDWIG ANDREAS FEUERBACH, Homo Homini Deus, paper diterbitkan pada www.sarang-kalong.blogspot.com pada April 13, 2010.
[5] Simon Petrus L. Tjahjadi, TUHAN PARA FILSUF DAN ILMUAN, dari Descartes sampai Whitehead, 98.
[6] Sebagaimana dikutib oleh A. Setyo Wibowo, Kita Para Pembunuh Tuhan, dalam A. Setyo Wibowo, dkk., PARA PEMBUNUH TUHAN, Yogyakarta: Kanisius, 2011, 8.
[7] Sebagaimana dikutib oleh A. Setyo Wibowo, Kita Para Pembunuh Tuhan, dalam A. Setyo Wibowo, dkk., PARA PEMBUNUH TUHAN, 8.
[8] Sebagaimana dikutib oleh A. Setyo Wibowo, Kita Para Pembunuh Tuhan, dalam A. Setyo Wibowo, dkk., PARA PEMBUNUH TUHAN, 10.
[9] Sebagaimana dikutib oleh A. Setyo Wibowo, Kita Para Pembunuh Tuhan, dalam A. Setyo Wibowo, dkk., PARA PEMBUNUH TUHAN, 30.
[10] Karl Marx, Doctoral Dissertation, sebagaimana dikutib Daniel L. Pas, SEVEN THEORIES OF RELIGION, terjemahan Indonesia, New York: Oxford University Press, 1996, 233.
[11] Daniel L. Pas, SEVEN THEORIES OF RELIGION, 232.
[12] Daniel L. Pas, SEVEN THEORIES OF RELIGION,  236.
[13] Karl Marx, Critique Of Hegel’s Philosophy Of Right, dalam Niebuhr, MARX AND ENGELS ON RELIGION, 42 sebagaimana dikutib Daniel L. Pas, SEVEN THEORIES OF RELIGION, 237.
[14] Karl Marx, Critique Of Hegel’s Philosophy Of Right, dalam Niebuhr, MARX AND ENGELS ON RELIGION, 42 sebagaimana dikutib Daniel L. Pas, SEVEN THEORIES OF RELIGION, 237.
[15] Donald D. Palmer, Sartre untuk Pemula, terjemahan B. Dwianta Edi Prakosa dan Stepanus Wakidi, Yogyakarta: Kanisius, 2007, 116-117.
[16] Donald D. Palmer, Sartre untuk Pemula, 95.
[17] Jean-Paul Sartre, “Eksistensialisme dan Humanisme”, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, 57.
[18] Simon Petrus L. Tjahjadi, TUHAN PARA FILSUF DAN ILMUAN, dari Descartes sampai Whitehead, 28-36.
[19] Simon Petrus L. Tjahjadi, TUHAN PARA FILSUF DAN ILMUAN, dari Descartes sampai Whitehead, 125-127.
[20] Donald D. Palmer, Sartre untuk Pemula, 19.
[21] K. Bertens, FILSAFAT BARAT KONTEMPORER PRANCIS, Jakarta: Gramedia, 2006, 83.
[22] K. Bertens, FILSAFAT BARAT KONTEMPORER PRANCIS, 88.
[24] Penulis memasukkan orang-orang occultist ke dalam deretan orang-orang atheis karena mengikuti perspektif Gaudium et Spes.
[25] Presiden Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur di kemudian hari mengakui Kong Hu Chu sebagai agama resmi negara keenam.

2 comments:

  1. para atheis galau, hmm.. tulisan berat, nanti dikunjungi lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atheisme adalah "tidak pada Tuhan" dan "ya pada manusia". Atheisme yang hanya berhenti pada "tidak pada Tuhan" dan hanya melulu itu merupakan atheisme yang kekanak-kanakan, infantil, dan "kemarin sore".

      Terima kasih sudah mampir :)

      Delete