Wednesday, August 22, 2012

Peradaban Tidak Bisa Dibangun di atas Dentuman Meriam dan Bedil!

Perang Tak Melahirkan Peradaban

Kita mungkin heran dengan cerita simbah bahwa dulu kita adalah penguasa samudera, Srivijaya lalu Majapahit. Armada-armada kapal kita begitu besar, megah, dan gagah membelah lautan. Monumen-monumen agung kita dirikan. Tulisan-tulisan dahsyat kita hasilkan. Peradaban dan kesenian (baca: sastra) saling beriringan. Namun, itu semua kini tinggallah dongeng sejarah tuturan simbah.

Bangsa kita mengalami dekadensi kemanusiaan dan kemunduran peradaban sejak abad XV. Banyak faktor memang: persaingan ideologi dan versi kebenaran filosofi, perjumpaan kita dengan orang-orang Eropa yang memperkenalkan kita dengan "bedil" dan "meriam", dan yang paling berat adalah perebutan kekuasaan yang terus-menerus. Bayangkan, dalam waktu 500 tahun, di Jawa terjadi peperangan dan pergeseran kekuasaan yang tidak sedikit! Majapahit vs Demak. Demak vs Pengging. Pajang vs Jipang. Mataram vs Pajang. Mataram vs Mangiran. Ekspedisi Sultan Agung Mataram. Mataram (Kartasura) vs Sun
an Kuning. Derbi Mataram: Surakarta vs Yogyakarta. Triple threat match: Surakarta vs Yogyakarta vs Samber Nyawa (Mangkunegara). Itu belum Perang Jawa (Pangeran Diponegoro vs VOC), dan perang-perang lain di seluruh penjuru Nusantara.

Bagaimana mungkin kita membangun kebudayaan dan peradaban di tengah situasi perang dan perebutan kekuasaan yang terus-menerus seperti itu? Beruntung kita masih bisa menyelamatkan peradaban dan kebudayaan dengan sastra (tembang, suluk, serat, dll.).

Menengok sejarah kita 500 tahun ke belakang, seharusnya kita belajar bahwa "Peradaban tidak bisa dibangun di atas dentuman meriam dan bedil!" dan "Kesusastraan harus menjadi pengawal dan bahkan penyelamat peradaban." Akhirnya, aku setuju dengan Rendra.

No comments:

Post a Comment