Monday, November 26, 2012

MANUSIA


MANUSIA

Akhirnya sampailah kita pada hari yang dinantikan. Sebuah hari yang telah dinantikan oleh seluruh makhluk di jagad raya ini. Akan tetapi, yang kita nantikan belum juga tiba. Sudahlah, sembari menanti dia, mari kita duduk sejenak sembari ngopi dan nyamsoe dulu.

(duduk, meminum kopi, dan menyalakan rokok)

Tidak pernah ada orang yang menghubungkan seni dengan rokok dan kopi. Akan tetapi, semua mengalir begitu saja. Seakan-akan kopi dan rokok menjadi teman yang setia untuk mengapresiasi sebuah karya seni atau sekadar untuk membicarakannya. Saya punya seorang teman yang gagap ketika berbicara, tetapi begitu rokok menyelip di mulutnya, tiba-tba saja... magic... kata-kata mengalir dengan mudahnya melalui mulut. Kecanduankah itu? Atau, memang mukjizat? Hahahaha... .

(menghisap rokok)

Saya pribadi tidak begitu sering merokok. Bahkan, saya lebih sering menolak tawaran untuk merokok. Saya merokok ketika saya sedang stress, sedang ingin bersantai seperti sekarang ini, atau ketika sedang menginginkan hubungan yang lebih intim dengan diri saya sendiri. Jika orang-orang Konghucu memakai hio untuk berdoa, para Buddist menjaga ratusan lilin untuk meditasi, orang-orang Katolik memakai ratus dan wirug serta lilin juga untuk berdoa, begitulah kira-kira saya memakai rokok ini... untuk berdoa. Dan, itulah sebabnya saya merokok sekarang... saya sedang berdoa.

(memandang rokok)

Hahahaha... sudahlah... saya tidak ingin membicarakan hal ini lebih jauh. Silakan jika Anda ingin tetap merokok. Tapi tetap harus ada sopan santunnya, tanyakan pada teman sebelah Anda, apa dia keberatan jika Anda merokok. Baik kalau Anda pun menawari teman sebelah Anda tersebut, sebab sering kali rokok dapat menjadi awal mula persahabatan yang heroik. Dan, ingat, siap-siap bertemu Tuhan lebih cepat, hahahahaha... .

(mematikan rokok, meminum kopi)

O iya, saya belum memperkenalkan diri saya. Saya dulu pernah menjadi seorang malaikat di surga. Anda tahu surga seperti apa? Kosong... ya... kekosongan. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada Tuhan. Semuanya hening dalam diam yang dalam. Semua sudah tidak memerlukan apa-apa, tidak menginginkan apa-apa... sebab sudah ada Tuhan. Akan tetapi, entah bagaimana, saya merasa iri dengan Anda, manusia. Anda begitu bebas di dunia ini. Kebebasan, itulah manusia. Kebebasan, itulah kutukan manusia... atau berkat?

Manusia memiliki kehendak bebas. Mereka bebas untuk mencintai, bebas pula untuk membenci. Mereka bebas menentukan nasib mereka sendiri. Tidak, Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya, Tuhan tidak menjadikan manusia wayang-wayang kulit yang bergerak sesuai keinginan-Nya. Tuhan menghormati kebebasan itu. Walau, sering kali Tuhan turut campur, tapi tentu tidak secara terang-terangan.

Walau manusia tidak bersayap, manusia jauh lebih bebas dari malaikat. Itu yang membuat Lucifer memberontak, sebab sebagai malaikat agung yang sejajar dengan Gabriel, Rafael, dan Mikael, dia dan segenap malaikat di surga tidak memiliki kebebasan seperti yang dimiliki manusia. Kebebasan merupakan anugerah kehormatan Tuhan kepada ciptaan-Nya. Itulah mengapa malaikat pun segan dan menghormati manusia, bahkan terkadang iri.

(meminum kopi dengan tergesa)

Wings of Desire

Manusia bebas karena dia memiliki kesadaran. Kesadaran inilah yang mengantarkan manusia kepada pencapaian-pencapaian tertentu. Banyak capaian manusia yang mengagumkan, mulai dari capaian-capaian yang bersifat fisik hingga capaian-capaian yang bersifat spiritual. Capaian-capaian fisik itu bisa kita lihat dari temuan-temuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Manusia telah sampai di bulan. Manusia mampu mengirimkan satelit utusan hingga ke planet yang jauh di tata surya. Manusia membangun infrastruktur untuk menunjang hidupnya. Sedangkan Anda tahu apa capaian-capaian spiritual manusia? Anda pasti menjawab agama? Apakah saya benar? Hahahaha... agama itu capaian yang tidak seberapa, Saudaraku... . Capaian spiritual yang lain adalah rasa estetika di dalam jiwa manusia sehingga mampu mengapresiasi karya seni dan ciptaan. Sedangkan capaian spiritual manusia yang lebih tinggi adalah cinta. Ketika manusia itu mampu menghormati dan mengasihi sesama manusia sebagai pribadi yang bebas, saat itulah manusia telah sampai pada capaian yang tinggi. Kedengarannya sederhana dan remeh-temeh, tapi berapa manusia yang mampu melakukan hal yang sederhana dan remeh-temeh ini?

(meminum kopi kembali)

Anda mungkin bertanya, apa capaian spiritual yang paling tinggi dari manusia. Saran saya, simpan saja pertanyaan Anda itu. Melakukan yang sederhana dan remeh-temeh saja belum, sudah hendak menjangkau yang paling tinggi, hahahaha... .

Saya sendiri? Saya baru beberapa tahun melepas sayap malaikat saya untuk menjadi manusia. Saya masih belajar menjadi manusia. Saya masih belajar melihat sebagai manusia, belajar mendengar sebagai manusia, belajar merasakan sebagai manusia, belajar berpikir sebagai manusia, dan yang jelas masih pula belajar mencintai sebagai manusia. Ini bukan perkara sederhana, Saudara... hidup saya sebagai malaikat di surga dulu jauh lebih sederhana. Di surga hanya ada Tuhan. Selesai perkara.

(suara pintu diketuk)

Tunggu sebentar... saya ada tamu.

(berjalan ke arah pintu, membuka pintu)

Astaga... kamu ternyata... .

(kepada penonton) Kawan lama yang bertamu.

(kepada kawan lama) Apa kabar, Sahabat? Lama tak berjumpa. Apa kabar di sana? O... ya... ya... . Mari... mari... silakan masuk.

(kepada penonton) Ini, perkenalkan, Mikael, kawan lama saya di surga. Ah... pasti Anda tidak bisa melihatnya. Maklumlah, namanya juga malaikat. Tapi, berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Hidupnya akan tenang, jauh dari rasa gelisah.

(kepada Mikael) ada apa engkau datang ke rumahku ini? Tumben sekali?

(Mikael bicara, mengangguk-angguk)

Ternyata ada hal penting yang hendak kamu sampaikan. Ah, sebelum kamu mengatakan maksud kedatanganmu, izinkan aku menawarimu sesuatu untuk diminum. Mau minum apa? Panas? Dingin? Teh? Kopi? Susu? Atau susu yang lain?

(Mikael berbicara)

Huahahahahahaha... aku lupa... malaikat tidak makan ataupun minum. Sebab tubuh dan darah Tuhan di surga sudah cukup. Maaf... maaf... aku sudah mulai terbiasa menjadi manusia dan aku mulai menikmati hidup sebagai manusia.

(Mikael bicara)

Ya... aku tahu, manusia akan mati... . Justru karena itu, hidup jadi sangat mengasyikkan dan layak untuk disyukuri.

(Mikael bicara)

Iya... aku tahu, bukan hanya sekadar percaya, tapi paham... setelah mati manusia akan bersatu dengan Tuhan di surga seperti kalian para malaikat. Tapi, kan, bentuk kehidupannya lain. Kamu harus sekali-sekali mencoba merasakan hidup sebagai manusia.

(Mikael bicara)

Hahahaha... jangan marah, teman... aku hanya bercanda. Baiklah... sudah terlalu banyak omong kosong aku. Katakan, apa yang ingin kausampaikan?

(Mikael bicara)

Masalah pribadi? Masalah pribadi bagaimana?

(Mikael bicara)

Iya, aku tahu Tuhan akan datang untuk yang kedua kalinya ke dunia. Tapi tak semua ciptaan-Nya di jagad semesta ini tahu, kan, kapan Dia akan kembali.

(Mikael bicara)

Apa? Segera? Akhir tahun ini? Kaubercanda! Dari mana kamu mengetahui semua itu?

(Mikael bicara)

Oke, jadi kemarin seluruh penghuni surga rapat paripurna bersama Tuhan dan akhirnya ditetapkan bahwa akhir tahun ini Tuhan akan datang untuk yang kedua kalinya ke dunia. Berarti petualanganku sebagai manusia hanya akan sampai akhir tahun ini, dan setelahnya aku menjadi malaikat lagi di surga. Oke... tak apa. Berarti sebelum akhir tahun ini, aku harus segera mencari pacar, lalu segerap kami harus menikah.

(Mikael bicara)

Justru itu, katamu? Apa maksudmu?

(Mikael bicara)

Apa? Serius?

(Mikael bicara)

Kalau sampai akhir tahun ini aku masih menjadi manusia, aku takkan pernah lagi merasakan kebahagiaan surga?

(Mikael bicara)

Dan aku akan mengalami kepahitan neraka selamanya? Karena bagi seorang malaikat, melepas sayap dan menjadi seorang manusia ternyata merupakan dosa? Tapi... tapi... bagaimana aku bisa menjadi seorang malaikat kembali ketika aku telah mencampakkan sepasang sayapku dan membakarnya?

(Mikael bicara)

Ikut pergi denganmu malam ini, tepat sekarang ini? Tapi, Mikael, masih banyak manusia yang belum mencapai kesadaran spiritualitas yang cukup sehingga mereka membutuhkan manusia jadi-jadian seperti aku sekadar untuk mengajari mereka cinta. Apakah keputusan rapat paripurna surga itu sudah final?

(Mikael bicara)

Apakah Tuhan sebegitu teganya mencampakkan manusia-manusia yang belum tercerahkan itu ke neraka? Kesadaran itu butuh proses, Mikael. Cinta itu butuh waktu.

(Mikael bicara)

Aku paham dan aku mengerti bahwa manusia itu makhluk yang bebal. Tapi aku percaya bahwa mereka bisa menghindari kesalahan yang sama. Mereka bisa melampaui keterbatasan mereka.

(Mikael bicara)

Mikael, nanti sebelum kaukembali ke surga, coba berkelilinglah sejenak di dunia. Memang kau akan mendapati banyak manusia saling angkat senjata. Kau juga akan mendapati manusia-manusia yang menderita. Tapi, mereka adalah manusia yang masih berproses untuk mencapai pada kesadaran cinta, Mikael. Di dalam perjalanan keliling duniamu itu, kau pasti akan mendapati capaian-capaian manusia yang luhur, kebudayaan-kebudayaan yang mempesona, peradaban-peradaban kasih, dan kau akan merasakan cinta memenuhi atmosfer. Pasti kaupun akan tergerak sepertiku untuk membagi atmosfer cinta itu kepada manusia-manusia yang masih di dalam proses tadi.

(Mikael bicara)

Ya... arogansimu sebagai malaikat jauh lebih kuat. Arogansimu sebagai makhluk yang begitu dekat dengan Tuhan begitu besar. Atau memang engkau adalah malaikat tulen sehingga tidak mampu merasakan hangatnya kemanusiaan beserta capaian peradabannya.

(Mikael marah, mencekik)

Bunuh... bunuhlah aku selagi aku menjadi manusia, Mikael... . Aku akan mati bahagia sebagai manusia... sedangkan kau hanya akan mendapatkan dosa.

(Mikael membanting aku. Mikael lalu berbicara.)

Aku hargai solidaritasmu kepadaku, kawan lamaku. Aku berterima kasih atas ajakan murah hatimu ini. Tapi maaf... keputusanku sudah bulat. Jikapun aku harus berakhir di dalam jurang neraka oleh karena solidaritasku terhadap manusia ini, aku rela, dan aku bahagia. Panggilan jiwaku sudah jelas, aku hendak mengajarkan kesadaran akan cinta, kemanusiaan, dan etika yang estetis. Aku di sini untuk mengantar manusia mencapai kemanusiaan yang seutuhnya. Kegelapan neraka tak menggentarkanku, Mikael, sebab aku mengikuti kata hatiku.

(Mikael bicara)

Baiklah... pulanglah... silakan.

(Membukakan pintu bagi Mikael)

Mikael, tunggu... maafkan kata-kata kasarku... (berpelukan) Teman, kuminta jika memang aku harus menghuni kegelapan jurang neraka karena ngotot menjadi manusia, kelak aku bisa merasa terhormat mati di tanganmu. (melepaskan pelukan) Mari, aku antar sampai ke pagar depan.

-End-

Sarang Kalong, 26 November 2012
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

6 comments:

  1. Replies
    1. Apik iki, jadi ingat film "city of angel", di mana malaikat ingin menjadi manusia(karena ingin merasa), tapi waktu keinginannya terwujud yaitu menjadi manusia( bisa merasa dan kebetulan mencintai seorang wanita), "La kok malah sik ditresanani mau mati(kecelakaan), duh aku sedih pas adegan kui..". Konsekuensi cen abot sok-sok yo..hehe..*mah curhat, rapopo yo dab* :p

      Delete
    2. hahaha... :D curhat akeh ya oleh kok :P

      Ya... begitulah... sok-sok ki konsekuensi luwih abot timbang sing disiapke. Sing penting, siap dengan segala apapun konsekuensinya.

      BTW, aku malah belum lihat film itu... sepertinya menarik :D hahay... . Masuk list ah. Cek gugel dulu, kapan-kapan ke rental, hehe :) Makasih infonya.

      Eh, Yohan bisa galau juga ya? :P

      Delete
  2. Film tahun 1998-an, dari siaran di TV aku dulu nontonnya. Mengenai konsistensi, hampir mirip niat mau fokus malah gak fokus-fokus, sepele sih, tapi..ah..sudahlah. :p. Galau adalah harapan jare @pamityang2an. hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dah cek di youtube... cuplikannya menarik :D Berburu ah... hahay...

      yes you!!!

      Delete