Thursday, August 22, 2013

Saya Mengaku kepada Allah yang Mahakuasa...

Saya Mengaku kepada Allah yang Mahakuasa...[1]

                   “Jadi, kalian akan menikah sebulan lagi?”
                   “Benar, Romo. Persiapan kami sudah matang,” jawab pemuda itu dengan bangga.
                   “Namun, kalian masih muda. Kamu sendiri masih dua puluh lima.”
                   “Justru itu, Romo. Justru karena kami masih muda.”
                   “Orang tua kalian setuju?”
                   “Akhirnya orang tuanya menyetujui hubungan kami. Ya, awalnya mereka keberatan oleh karena ayah saya tidak jelas siapa.”
                   “Lalu ibumu?”
                   “Ya?”
                   “Ibumu. Emmm, Maria Anastasia Anindita,” kataku sembari membaca berkas.
                   “Beliau selalu mendukung semua keputusan saya, Romo.”
                   “Hei, ngomong-ngomong, apa kabar ibumu?”
                   “Baik, Romo. Romo mengenalnya?”
                   “Tentu. Aku pernah Tahun Orientasi Pastoral[2] di parokinya sewaktu masih menjadi frater[3] lebih dari dua dasawarsa lalu. Ibumu masih di sana?”
                   “Masih, Romo. Ibu tidak pernah meninggalkan kota kelahirannya. Bahkan, ibu menolak saya boyong ke kota ini, pindah ke paroki[4] ini. Namun, pasti ibu hadir pada hari H nanti.”

***

Lebih dari dua dasawarsa yang lalu aku adalah seorang frater muda yang baru saja mengucapkan pembaruan kaul[5]. Aku pun ditugaskan untuk menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di sebuah paroki di Kota Surakarta. Waktu itu aku adalah seorang frater muda yang penuh semangat. Aku sungguh bergairah untuk segera menjadi seorang imam Gereja Katolik dan melayani umat. Di dalam imajinasiku, aku adalah seorang ksatria Kristus yang diutus untuk melindungi umat-Nya. Aku begitu idealis saat itu, bahkan pelajaran filsafat selama kuliah delapan semester di fakultas teologi itu tidak mampu melumpuhkan idealismeku. Tidak... mungkin kata “idealis” kurang tepat kurasa, tetapi “optimis”. Ya... waktu itu aku adalah seorang frater muda yang terlalu optimis. Terlalu optimis terhadap imanku, kesucianku, pandangan teologiku, dan kehendakku. Aku membayangkan bahwa aku adalah seorang Dewabrata muda yang akan melakukan apapun, bahkan membunuh seseorang yang dicintainya, sekadar untuk memegang teguh sumpah brahmacarya[6] yang dia ucapkan.
Akan tetapi, dua tahun masa Orientasi Pastoralku di paroki itu membuatku menginjakkan kakiku ke bumi. Aku harus mengakui bahwa meskipun aku adalah seorang frater yang mengucapkan kaul kemurnian, aku masih tetaplah seorang lelaki dengan segenap seksualitasnya. Aku masih seorang manusia, bukan malaikat.
Selama menjalani masa Orientasi Pastoral itu, aku ditugasi romo paroki untuk mendampingi Mudika di sana. Dulu Mudika, Muda-mudi Katolik. Sekarang istilahnya OMK, Orang Muda Katolik. Itulah awal perjumpaanku dengan Maria Anastasia Anindita. Waktu itu dia adalah seorang gadis yang berusia empat tahun lebih muda dari padaku. Dia kuliah di sebuah Universitas Negeri di Surakarta, mengambil jurusan Sastra Indonesia. Kegemarannya kepada sastra dan puisi membuat kami menjadi sahabat dekat. Sastra dapat menjadi pelarian yang manis bagi seorang frater yang terkadang jengah dengan buku-buku teologi dan filsafat. Ani, demikian aku memanggil Maria Anastasia Anindita, memang bukan seorang aktivis... tidak di Gereja... tidak pula di kampus. Akan tetapi, dia gemar bertukar pikiran tentang sastra, khususnya puisi. Kami dulu sering sekali bertukar informasi tentang sastra... atau novel... atau puisi. Pablo Neruda adalah penyair favoritnya. Dari Anilah aku mendapatkan referensi untuk menulis tentang fenomena gerakan sastra Amerika Latin dan benang merahnya dengan praksis Teologi Pembebasan Gereja. Hanya saja, hingga sekarang aku masih belum puas dengan paperku itu. Paper yang secara akademis sudah selesai, karena sudah aku kumpulkan kepada dosenku berpuluh-puluh tahun silam, tetapi yang secara personal masih meninggalkan rasa penasaran dan lubang yang gelap. Ada sebuah proses membaca yang belum selesai.

“Membaca apa, Ter?”
“Paolo Coelho.”
Eleven Minutes?”
“Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis.”
“Tentang apa?”
“Pilar.”
“Pilar?”
“Itu nama tokoh utamanya. Bersama seorang teman masa kecilnya.”
“Kekasihnya?”
“Hahahaha... dia seorang Imam.”
“Lalu?”
“Ini, kamu baca saja sendiri, setelah aku menyelesaikannya ya. Mungkin besok.”
“Baik. Besok, ya Ter... .”
“Eh, barter!”
Twilight?”
Hell no!!!
“Hahahaha... bercanda. Ronggeng Dukuh Paruk ya?”
“Satu untuk tiga!”
“Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala?”
“Yup.”
Deal!

Dua tahun adalah waktu yang cepat ketika kita menikmati setiap prosesnya. Masa Orientasi Pastoralku telah berakhir. Aku harus kembali ke Seminari Tinggi[7]. Aku harus mengucapkan sampai jumpa kepada paroki yang telah membuat segenap renungan teologi dan filsafatku membumi. Aku pun harus mengucapkan salam perpisahan kepada Ani. Perjumpaan itu biasa, perpisahanlah yang membuatnya istimewa. Perpisahan.
Perpisahan? Aku memang telah mengucapkan “sampai jumpa” terhadap paroki tempatku Orientasi Pastoral. Akan tetapi, aku tidak benar-benar berpisah dengan Ani. Hampir setiap malam sehabis makan malam aku menyempatkan diri ke ruang internet sekadar untuk membaca atau menulis email kepadanya. Kami tidak pernah berkirim surat. Romo rektor tentu akan menyensornya. Kami juga hampir tidak pernah berkirim sms. Aku sudah kembali ke Seminari Tinggi di mana aku sama sekali tidak boleh memiliki ponsel. Namun, aku menyimpan nomor ponsel Ani, sehingga ketika orang tua atau adikku mengunjungiku, aku bisa meminjam ponsel untuk saling berkirim sms dengan Ani. Tentu aku segera menghapus sms-sms kami tersebut.
Pada hari Sabtu dan Minggu para frater Seminari Tinggi biasanya melakukan pastoral[8]. Oleh karena jumlah kami yang cukup banyak, ada jadwal yang mengatur kapan kami pergi. Pada Hari Minggu di saat aku tidak mendapat giliran pastoral, biasanya aku segera mengendarai sepeda seusai misa[9] pertama, mengayuhnya dengan senyum bahagia di wajahku, memarkir sepeda itu di penitipan sepeda, dan membeli tiket Kereta Api ke Surakarta. Tentu aku tidak melakukan itu setiap Minggu. Jika aku terlalu sering melakukan itu, masa depan panggilan imamatku bisa terancam punah.
Entah mengapa, aku yang masih muda itu selalu begitu bersemangat setiap kali ada kesempatan mencuri waktu ke Surakarta. Tidak seperti kota kelahiranku, Jakarta, Surakarta saat itu tidak canggih. Tidak megah! Hampir mirip Yogyakarta, tapi memiliki atmosfer yang berbeda. Tidak ada apa-apa di sana... kecuali bahwa Surakarta memiliki Ani.
***

“Romo, pengakuan saya yang terakhir adalah sebulan yang lalu,”
“Baiklah, Frater. Silakan, langsung saja,” kata Romo itu dingin.
“Dosa saya adalah...” aku kelu, tak mampu melanjutkan.
“Iya, Frater... silakan.”
“Dosa saya...”
“Iya... .”
“Dosa saya adalah saya jatuh cinta pada seorang wanita, Romo,” kataku lega.
“Frater, Cinta itu bukan dosa. Cinta itu anugerah Tuhan yang paling indah. Tidak akan pernah ada manusia di dunia ini jika tidak ada cinta. Manusia diciptakan Allah oleh karena kasih Allah. Bahkan, panggilan utama seorang manusia adalah untuk mencintai. Akan tetapi, Frater, ingatlah selalu akan siapa dirimu. Tidak semua cinta harus dimanifestasikan ke dalam hubungan lelaki-perempuan. Banyak imam, biarawan, dan biarawati menyublimasi cinta mereka ke dalam karya dan pelayanan harian mereka. Syukur-syukur cinta yang engkau rasakan itu kaupersembahkan kepada Tuhan sebagai persembahanmu yang paling indah, sebagai kurban syukur atas anugerah Ilahi. Kecuali bahwa... kamu menemukan panggilan yang lain, yaitu hidup berkeluarga. Maka, kamu bebas untuk menanggalkan jubahmu itu, dan memeluk panggilan berkeluarga itu. Baiklah, Frater, ada dosa lain yang ingin kauakui?”
“Tidak, Romo. Saya rasa, itu dosa saya yang paling besar. Saya merasa mengkhianati Tuhan.”
“Jangan pernah merasa demikian, Frater. Baiklah, untuk penitensi, silakan sekeluarmu dari ruangan ini, doakanlah Madah Bakti[10] nomor 15 dan 16, sekali Bapa Kami, dan tiga kali Salam Maria. Dan, lakukanlah sekali Ibadat Jalan Salib pada Hari Jumat besok.”
“Baik, Romo.”
“Dengan perantaraan Gereja Kudus Tuhan kita Yesus Kristus yang telah mengampuni segala dosa, saya melepaskan kamu dari segala dosamu, dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.”
“Amin.”

Aku telah mengaku dosa jutaan kali. Akan tetapi pengakuan dosa yang itu adalah satu-satunya pengakuan dosa yang tidak pernah aku lupakan. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa, jatuh cinta kepada Ani, pada suatu hari di masa Pra-Paskah[11], sekitar dua tahun sebelum aku ditahbiskan. Butuh keberanian besar untuk mengakuinya. Waktu itu aku pun tak cukup berani mengakui dosa yang itu di hadapan Romo staf seminari. Aku mengakui itu di hadapan seorang romo paroki dari sebuah Paroki di tengah Kota Yogyakarta.
Setelah keluar dari bilik pengakuan dosa itu, lalu menjalankan segenap penitensi[12], memang batin ini terasa lega. Rasanya seperti melayang di udara. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Bayangan wajah Ani senantiasa menghantui. Ketika aku meditasi, saat aku doa ofisi[13], sewaktu menerima komuni[14] suci... aku ingat pada Ani. Celakanya, ternyata Ani juga memendam rasa yang sama.
Aku sudah mengakui segala dosa itu dan lewat sakramen[15] tobat dosa-dosaku telah diampuni. Namun, itu bukan berarti aku serta-merta bisa lepas-bebas dari dosa yang sama. Ada yang dinamakan eksterioritas dosa. Lingkungan membuat kita mau tidak mau melakukan dosa. Eksterioritas dosa bagiku itu tidak lain adalah aku dapat dengan mudah mengakses internet sehingga dengan lebih leluasa aku dapat berhubungan dengan Ani baik lewat email, facebook, dan/atau twitter. Eksterioritas dosa yang kedua adalah bahwa konfraterku mendiamkan aku melakukan semua itu, seakan-akan ada kesepakatan diam-diam di antara kami untuk tahu-sama-tahu ketika salah satu di antara kami melakukan kesalahan, bahkan dosa. Konfrater[16] yang sok suci justru akan kami kucilkan hingga akhirnya dia melepaskan jubah dengan sendirinya. Apa lagi, pada suatu hari ada seorang konfrater yang secara diam-diam memiliki ponsel. Dengan memberi dia uang pulsa Rp. 6000,00 atau membagi dia beberapa batang rokok, pada saat itu aku sudah dapat meminjam ponselnya untuk saling berkirim sms dengan Ani.
Pada suatu waktu Ani memberi tahu bahwa dia akan menemuiku di Yogyakarta. Akan tetapi, dia enggan untuk berkunjung ke Seminari Tinggi. Dia memintaku untuk menjemputnya di Stasiun Lempuyangan. Aku sudah beralasan bahwa di Yogyakarta aku tidak memiliki kendaraan selain sepeda ontel. Aku merayunya supaya aku saja yang mencuri-curi waktu untuk pergi ke Surakarta di mana keadaan akan jauh lebih mudah untuk diatasi. Namun, Ani bersikeras. Dia mengancam akan naik motor sendiri dari Surakarta ke Yogyakarta yang kurang lebih berjarak 60 kilometer. Sebagai lelaki yang mencintainya, aku tidak tega. Aku luluh.
Konfrater yang menjadi petugas bidel[17] sepeda motor adalah sahabat karibku. Dengan prinsip tahu-sama-tahu tadi, aku berhasil meminjam sepeda motor darinya.

“Bagaimana jika Romo rektor bertanya?” tanyaku gentar.
“Sudah. Serahkan padaku. Aku akan bilang, sedang diservis rutin.”
“Makasih ya.”
“Cantik ya? Masih ada lagi, gak?”
“Hush!”
“Hahahahaha... . Cintamu bunuh panggilanku...” dia meledek.
“Sialan kau!”

Waktu itu Ani mengajakku ke Kaliurang. Dia ingin melepas rindu kepadaku. Aku pun mengajaknya mendaki sebuah bukit di sana. Kami berdua lupa bahwa aku adalah seorang biarawan, sedangkan dia adalah seorang umat dari paroki yang mungkin suatu saat nanti akan aku gembalakan. Yang kami pikirkan saat itu adalah kami berdua saling menanggung rindu dan cinta yang menggebu. Dan, tidak ada saat yang lebih baik dari pada waktu itu. Mungkin ini yang dinamakan abuse of power itu.

“Mas...” dia tak lagi memanggilku ‘frater’.
“Iya?”
“Aku kangen.”
“Aku juga... . Aku... aku cinta kamu,” kataku sembari memeluknya erat.
“Aku juga cinta kamu, Mas.”

Kami pun berpagutan. Kuat. Angin berdesir. Tumbuh-tumbuhan menjadi saksi cinta kami yang terlarang itu. Waktu pun seakan berhenti, memberi kami kesempatan untuk memadu kasih yang sebenarnya tak boleh ada. Monyet-monyet ekor panjang saling menjerit, seolah-olah menyoraki dua anak manusia yang telah kalah, memakan buah terlarang, dan jatuh ke dalam dosa. Namun, ironisnya, kami berdua justru merasa menjadi manusia yang merdeka! Tidak ada lagi surga, tidak ada lagi neraka. Hanya ada kami di dalam gemuruh asmara.

***

“Aku memutuskan untuk keluar, An,” kataku.
“Kenapa, Mas?”
“Aku ingin menikahimu.”
“Kamu sudah memikirkannya, Mas? Atau ini hanya emosi sesaat?
“Aku mencintaimu, Ani!”
“Aku tidak ingin egois, Mas,” kata Ani, mulai berurai air mata.
“Apa maksudmu egois, An?”
“Aku tidak ingin bersaing dengan Tuhan.”
“Kamu tidak bersaing dengan Tuhan, An. Justru, kalau kita menikah, kita bisa semakin memuliakan Tuhan dengan membangun miniatur Gereja, yaitu keluarga kita.”
“Lalu, apa arti segala perjuanganmu bertahun-tahun menggeluti panggilanmu ini?”
“Semuanya sia-sia, An, semua sia-sia dan tak berharga. Setelah bertemu denganmu, semua kuanggap sampah![18]
“Jangan memperolok Kitab Suci, Mas!”
“Aku tidak memperolok, An, tapi aku mengutip semua itu oleh karena aku ingin menunjukkan kepadamu betapa aku mencintaimu.”
“Kalau kamu memang mencintaiku, jadilah imam.”
“Kalau aku keluar?”
“Aku tidak akan pernah sudi menemuimu. Seorang lelaki pengecut! Sebulan lagi kamu ditahbiskan, Mas! Tinggal beberapa langkah, dan impian masa kecilmu itu menjadi kenyataan. Kamu adalah milik Kristus. Kamu bukan hanya milikku seorang. Dengan ditahbiskan, kamu akan menjadi milik seluruh umat Katolik, dan aku pun termasuk di sana.”
“Tapi, bisakah aku seumur hidup menjadi imam yang wadat, sedangkan di saat yang sama aku memendam cintaku kepadamu?”
“Kamu bisa, Mas. Kamu bisa. Kamu bisa sejauh ini. Kamu akan bisa nanti. Aku akan menemanimu.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu pikir aku akan bisa dengan mudah mencintai lelaki lain setelah kamu ditahbiskan nanti? Aku tidak bisa, Mas. Tidak ada lelaki yang bisa menggantikanmu di hatiku.”
“Dan, kamu tetap tidak mengizinkan aku melepas jubahku ini sehingga kita bisa bersatu?”
“Menjadi imam itu tidak mudah, Mas. Kamu sudah sejauh ini. Dan, Gereja kita membutuhkan banyak tenaga imam. Aku tidak bisa egois.”
“Aku tidak memahami jalan pikiranmu, An.”
“Kamu dulu pernah bercerita kepadaku, bahwa menjadi imam adalah cita-citamu sejak kecil, bukan?”
“Benar.”
“Sekarang kamu berpikir untuk meninggalkan cita-cita masa kecilmu itu hanya oleh karena aku, bukan?”
“Kamu lebih berharga!”
“Mas... aku tidak ingin menjadi alasanmu untuk keluar. Apa kata umat nanti, Mas? Umat akan mencemoohmu. Umat akan mengatakan bahwa kamu adalah lelaki lemah, frater yang keluar karena tersandung wanita. Seorang manusia yang tidak mampu memegang teguh kaul-kaulnya, sumpah-sumpahnya.”

Ani menangis sejadi-jadinya seusai berkata demikian. Aku pun memeluknya erat. Tak kusangka, itu adalah pertemuan kami yang terakhir. Ani tidak datang pada saat aku dan dua orang konfraterku yang lain ditahbiskan. Ani pun juga tidak menghadiri misa perdana kami di gereja parokinya di Surakarta. Dia seperti menghilang ditelan bumi.
Aku tidak memiliki akses untuk menghubungi Ani. Nomor ponselnya tidak aktif. Akun facebook dan twitternya dideaktivasi. Emailku pun tidak pernah dibalasnya. Lagi pula, setelah menjalani tour misa perdana di beberapa paroki di Keuskupan Agung Semarang, aku diutus untuk menjadi tenaga misi di luar Jawa. Aku harus membantu seorang pastor mengurus sebuah paroki terpencil di pedalaman Papua selama beberapa tahun. Setelahnya, aku kembali diutus menjadi tenaga misi di pedalaman Kalimantan. Baru setelah lebih dari lima belas tahun di tanah misi, aku diutus untuk menjadi pastor pembantu paroki di Jawa. Dan, kini, aku bertugas di paroki tempat anak Ani merantau.
Sempat aku mendengar kabar dari konfraterku yang bertugas di paroki tempat Ani tinggal, bahwa Ani tidak menikah seumur hidupnya. Lalu, dari mana dia bisa memiliki seorang putera? Anak adopsikah? Tidak. Ani tidak pernah mengadopsi anak. Pemuda itu adalah anak kandung Ani. Lima bulan setelah aku ditahbiskan, Ani melahirkan seorang anak jadah tak berayah. Ani sendiri tidak pernah mengaku siapa lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas jabang bayi laki-laki itu, sehingga sempat ayahnya mengucilkannya. Ani pun harus hidup sendiri dan bekerja demi menghidupi si jabang bayi.

***

“Atas nama Gereja Allah, dan di hadapan para saksi dan hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa perkawinan yang telah diresmikan ini adalah perkawinan Katolik yang sah. Semoga Sakramen ini menjadi bagi Saudara sumber kekuatan dan kebahagiaan. Yang dipersatukan Allah...”
“...Jangan diceraikan manusia,” kedua mempelai itu menyahut bersamaan.

Aku menyaksikan pemuda itu begitu berbahagia. Anak lelaki Ani itu menatap mempelainya dengan penuh kasih. Hangat. Mereka tersenyum bahagia. Aku turut bahagia menyaksikan pemandangan penuh cinta ini. Memang aku tidak pernah menikahi orang yang aku cintai sebelumnya, tetapi aku telah menikahkan banyak sekali pasangan yang saling mencintai di dalam suka duka, di dalam untung maupun malang. Semoga saja, doaku, mereka tidak pernah berurusan dengan Tribunal Gereja[19]. Menyaksikan kebahagiaan anak manusia yang tengah dimabuk cinta itu selalu menjadi momentum yang berharga dan patut disyukuri.
Aku tatap tajam mata pemuda itu, anak lelaki Ani itu. Dia memandangi wajah mempelainya dengan hangat dan tatapannya sangat familiar. Seakan-akan aku mengenal dekat tatapan mata itu. Tatapan itu... seperti tatapanku saat memandang wajah Ani.

Berkah Dalem[20], Romo. Terima kasih,” sapa seorang perempuan separuh baya.
Berkah Dalem. Sama-sama, Bu, ah... Ani...” jawabku kaku. Sudah lebih dari dua dasawarsa aku tidak pernah melihat wajah satu-satunya perempuan yang aku cintai. “Kapan tiba di kota ini?” tanyaku basa-basi.
“Dua hari lalu. Dijemput anak lanang[21].”
“Anak lelakimu tampan. Istrinya juga cantik. Mereka pasangan serasi. Kuharap mereka menjadi miniatur Gereja dan dapat njembaraken Kraton Dalem[22].”
“Iya, anakku memang tampan. Seperti ayahnya,” kata Ani seraya menatapku tajam. Lalu, matanya berkaca-kaca.

tepi Jakal, 22 Agustus 2013
Padmo “Kalong Gedhe” Adi



[1] Baris pertama dalam doa Pernyataan Tobat di dalam Perayaan Ekaristi Gereja Katolik Roma.
[2] Tahun Orientasi Pastoral adalah tahun di mana seorang frater (calon imam) mengenal medan karyanya. Masa ini biasanya berlangsung antara satu sampai dengan dua tahun. Pada masa ini seorang frater terjun langsung melayani umat.
[3] Frater adalah seorang calon imam.
[4] Paroki adalah suatu wilayah Gerejawi yang dipimpin oleh seorang Pastor Kepala Paroki.
[5] Kaul adalah suatu janji atau sumpah di hadapan Allah untuk menghayati ketiga nasehat Injil, yaitu kemurnian (selibat), ketaatan, dan kemiskinan. Sebuah kaul bisa diucapkan untuk jangka waktu tertentu (sementara) dan bisa diucapkan untuk seumur hidup (kekal).
[6] Sumpah untuk hidup selibat. Orang yang mengucapkan sumpah ini disebut “brahmacarin”.
[7] Seminari Tinggi adalah tempat para calon imam mendapatkan pendidikan yang dia perlukan untuk menjadi seorang imam yang baik. Seorang frater bisa menghabiskan lebih dari enam tahun hidupnya mendapatkan pendidikan di Seminari Tinggi ini.
[8] Kegiatan “penggembalaan” umat. Kegiatan pastoral ini bisa beraneka macam. Lebih bersifat pelayanan atas iman umat. Dapat berupa pendampingan membaca Kitab Suci, dapat pula berupa pendampingan iman, atau dapat pula berupa pengajaran pokok-pokok ajaran Gereja.
[9] Misa atau Perayaan Ekaristi adalah perayaan utama dan wajib bagi setiap umat Katolik. Minimal mereka harus merayakan misa setahun dua kali (Natal dan Paskah), walaupun sangat diharapkan untuk merayakannya seminggu sekali, bahkan syukur-syukur setiap hari. Di dalam perayaan ini terdapat pembacaan Kitab Suci, doa-doa syukur-pujian, khotbah atau homili, dan yang terutama adalah pengenangan dan penghadiran kembali Kurban Penebusan Kristus melalui konsekrasi (baca: perubahan) roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus untuk kemudian disantap oleh umat. Di sinilah, pada Kurban Penebusan Kristus inilah, inti pokok misteri iman orang-orang Katolik.
[10] Buku doa dan nyanyian umat Gereja Katolik, khususnya di Kevikepan Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Selain Madah Bakti, Gereja Katolik Indonesia juga memakai buku Puji Syukur atau buku-buku doa dan nyanyian lainnya.
[11] Masa-masa pantang dan puasa bagi Gereja Katolik sebelum merayakan Paskah pada (kurang-lebih) 14 Nisan (sekitar Maret-April).
[12] Denda dosa.
[13] Doa Ofisi, atau yang sering disebut Brevir, adalah doa lima waktu yang wajib didoakan oleh para biarawan-biarawati Gereja Katolik.
[14] Tubuh dan Darah Kristus.
[15] Sakramen, di dalam perspektif dan iman Katolik, adalah tanda dan sarana kehadiran Allah. Allah hadir memberi rahmat. Gereja Katolik mengimani ada tujuh Sakramen, yaitu Sakramen Baptis, Sakramen Tobat, Sakramen Ekaristi (Komuni), Sakramen Krisma (Penguatan), Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, dan Sakramen Minyak Suci (Sakramen Orang Sakit).
[16] “Frater” (Bahasa Latin) berarti “saudara” (brother). “Konfrater” secara harafiah berarti “sesama saudara”. Dapat dimengerti sebagai teman sesama frater.
[17] Bidel sepeda motor dapat dimengerti sebagai sie sepeda motor atau pengurus bagian sepeda motor.
[18] “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” (Filipi 3:8)
[19] Pengadilan Gereja. Mengurusi pengadilan di dalam ranah Gereja Katolik. Masalah yang diurusi termasuk pembatalan perkawinan (terminologi “pembatalan” di sini mengandaikan bahwa perkawinan itu tidak pernah sah dan bahkan tidak pernah ada/terjadi dalam perspektif Hukum Kanonik Gereja Katolik).
[20] Berkah Dalem secara harafiah berarti “Rahmat Tuhan”. Sebuah sapaan semacam ‘assalamualaikum’ atau ‘shalom alechem’ di dalam lingkup komunitas umat Keuskupan Agung Semarang.
[21] Laki-laki.
[22] Secara harafiah berarti ‘memperluas Kerajaan Surga’. Terminologi “Kerajaan Surga” di dalam perspektif Gereja Katolik lebih berarti “perdamaian di muka bumi” (keadaan di mana Allah meraja, yaitu damai) dari pada bersifat politis.

13 comments:

  1. Waaaa jangan-jangan jangan-jangaaaannn :O wkekek

    ReplyDelete
  2. nice. jos. interpretasi dr byk pergulatan. mungkin krn byk mendengar. hingga pd akhirnya lahirlh sebuah karya. plot dan alur cukup menggemaskan. permainan emosi sudah cukup menggetarkan unt mereka yg emosional. ttp unt yg awam dg dunia kita (wkt itu) mungkin perlu da catatn kakinya hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas, untuk apresiasinya :)

      Eh, iya, benar juga, bahkan tidak semua orang Katolik mengetahui istilah-istilah yang aku pakai di dalam cerpen di atas. Baiklah, aku akan mencoba untuk mengeditnya kembali, dan memberinya catatan kaki :D
      Terima kasih saranmu. Aku terima ;) Tunggu editannya ya... .

      Delete
  3. Makjleb.......
    Iki ono lagune to?
    "Ani, Ani apa kabarmu? Kabarku baik-baik saja".....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh... ada yang "makjleb" :P

      Itu lagu apa, Jon? Link please ;) Biar greget :D

      Delete
  4. pas maca iki, kok sing terlintas nang pikiranku ki Dewi Sukesi ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weh... kok bisa?
      Dewi Sukesi?

      gugel... mana gugel?

      Delete
    2. Ah... ya... ya... seorang Reshi menyetubuhi Dewi Sukesi saat seharusnya mengajarkan Sastra Jendra.

      Delete
  5. Replies
    1. ampun, ndaaaaan....
      huahahahahahaha...

      aku tidak pernah memaksudkannya demikian :P
      itu catatan kaki sekadar alat bantu bagi pembaca yang bukan berlatar belakang katolik...
      huahahahahahaha... catatan kaki itu kutambahkan setelah ada seorang teman menyarankan demikian :D

      Delete