Friday, November 1, 2013

AFORISME-AFORISME OKTOBER 2013

AFORISME-AFORISME OKTOBER 2013


1.     Bahasa... adalah jendela untuk menelusuri sistem, sistem berpikir, sistem masyarakat, ideologi, kepribadian, bahkan juga ketidaksadaran.

Secara sederhana, kalau ingin mengetahui kepribadian sejati dari seseorang, suruh dia berdoa! Pelajari diksinya. Pelajari pilihan intonasi-nada-temponya.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang mengaku diri atheis?
Suruh mereka menarasikan ketidakpercayaannya atas Tuhan.

Kuncinya adalah pada bagaimana mengartikulasikan kata, mengeja kata, berbahasa.

2.     terima kasih \m/
malam yang merah
menarasikan cinta yang berdarah

3.     "Mas, kok kowe ora ndang ngrabi aku ta?" ujare Ratmini.
"Aku mung sarjana pengangguran, Dhik. Aku durung bisa ngupaya upa."
"Lha kan wong tuwaku sugih. Aku uga uwis kerja."
"Lha ya justru kuwi, Dhik, justru kuwi!" Parta banjur mbrebes mili.

4.     mooi indie...

hahaha... ada dua gunung... lalu lembah... sawah... basah :P

aih... ini Jouissance Lacanian?

5.     Sejauh ini aku masih menyimpan itu semua pandangan eksistensialisme. Belum juga aku dialektikakan dengan semua yang baru saja aku dapatkan. Belum saatnya.

6.     "Mengapa engkau menulis puisi dan cerita-cerita itu, Wahai Penyair?"

"Sekadar menyalurkan renjana tanpa harus bersanggama."

7.     Kalau cinta itu Langue (Bahasa)... Parole (Wicara)-nya lalu apa?

Semiotika Cinta... huahahahahaha... Ilmu Kajian BU(d)AYA

8.     Langue (Bahasa)-mu itu Cinta...
Sedangkan senyummu adalah Parole (Wicara)-nya.

Sebagaimana kita hanya bisa mendekati, melihat, dan memahami Langue melulu lewat Parole... kudekati, kulihat, dan kupahami cintamu lewat senyummu.

Semiotika Cinta... Ilmu Kajian BU(d)AYA 

9.     Oke, jadi menurut Lacan, Individu itu adalah Subyek yang Lack (baca: kurang, berlubang, terluka batin, kagol, rindu, berhasrat, dsb.). Subyek yang Lack berusaha menutupi/memenuhi Lack-nya tersebut dengan kehadiran Liyan (L'Autre/Other/Obyek). (Sampai pada titik ini, aku jadi teringat pada mitologi cinta Platonis.) Akan tetapi, ternyata Liyan pun juga merupakan Individu yang Lack pula. Sehingga, Subyek senantiasa mencari dan mencari, tak pernah puas... walau kemudian Subyek menyadari bahwa usahanya menutupi Lack ini adalah usaha yang sia-sia. (Sampai pada titik ini, aku jadi teringat Nihilisme Nietzschean). (Dan, mungkin, perjumpaan Subyek Lack dengan Liyan yang juga sama-sama mengalami Lack inilah yang membuat mereka berusaha sama-sama saling mengobyekkan, mereduksi subyek menjadi obyek, lewat tatapan. Sehingga, situasi yang ada adalah situasi konflik. Hell is others. Ah, pengembangan ini membawaku kepada Eksistensialisme Sartrean).

Kemudian, lebih jauh, karena Liyan ternyata juga merupakan Individu yang Lack, Subyek terus berusaha mencari Liyan yang benar-benar utuh, penuh, bulat, total. Subyek merasa menemukan Liyan semacam ini di dalam agama dalam wujud Tuhan. Tuhan adalah Liyan yang absolut, Liyan yang benar-benar lain, yang utuh, penuh, bulat, total. Sehingga, setiap pendekatan kepada Tuhan, Subyek merasa tak lagi memiliki Lack, sebab dia mengambil bagian di dalam kepenuhan Tuhan.

(Akan tetapi, benarkah Tuhan merupakan Liyan yang utuh, penuh, bulat, dan total? Bagi beberapa Subyek, "ya". Bagi beberapa yang lain... ehm... ternyata Tuhan pun juga merupakan Liyan yang Lack. Di mana letak Lack Tuhan sebagai Liyan? Setidaknya Tuhan adalah Liyan yang tak terlihat. Bagaimana mungkin Subyek merengkuh yang tak terlihat? Atau, di dalam beberapa mitologi, Tuhan diceritakan sebagai "yang mati" (walau kemudian diceritakan bahwa Tuhan bangkit kembali) atau sebagai "yang meninggalkan".)

10. Ah... Senin pagi ini... "aku padamu".

Similarity Disorder!

11. Belajar Haiku

Minggu
Stasiun Tugu
"Sumedhot"

Senin
Minggu kurang panjang
"Aku padamu"

12. "Tak semua pria laki-laki."

13. Kalau lelaki menangis?

Kalau lelaki menangis karena terharu menonton film Confusius atau mendengar kisah Bisma Dewabrata?

Bagaimana dengan lelaki yang menangis karena menonton drama Korea?

14. Aku pribadi lebih senang mengidentifikasi diri kepada Bisma Dewabrata, Bratasena, atau Antasena.

Akan tetapi, jangan salah, di sana ada sosok Puntadewa yang lebih kalem.

Selain itu, tidak sedikit lelaki yang mengidentifikasi diri kepada Arjuna yang, meskipun beristri banyak, di dalam cerita pernah menyamar sebagai seorang "wandu" dan di dalam teater tradisional (Wayang Orang) selalu diperankan oleh seorang perempuan.

Ehm... Bisma Dewabrata pun pernah menangis oleh karena haru di saat perang.

15. Kalau kamu mendengar kata "pria", apa imajimu?
Kalau kamu mendengar kata "lelaki", apa imajimu?
Lalu, apa reaksimu melihat imaji Yesus yang begitu mulus, walaupun berbrewok?
Juga, apa reaksimu melihat imaji Yesus yang begitu lusuh, berpeluh, kotor?
Kemudian, apa imajimu mendengar nama "Arjuna" atau "Puntadewa"?
Terakhir, apa imajimu mendengar nama "Bratasena" atau "Gathotkaca"?

Sebentar...
Lalu apa hubungan semua itu dengan...

Begini... ada seorang lelaki yang begitu naksir dan jatuh cinta kepada seorang perempuan. Akan tetapi, gelora itu begitu dahsyat sehingga justru membuat dia tidak mampu mengungkapkannya. Dan... kata yang keluar hanyalah "Aku padamu."

Dan... ada pula seorang lelaki yang juga begitu naksir dan jatuh cinta kepada seorang perempuan. Gelora itu juga begitu dahsyat sehingga hampir-hampir tak terkatakan. Akhirnya, dia pun tetap mencoba mengungkapkannya lewat sebuah puisi yang penuh dengan metafora.

Ah... aku mulai kesulitan memetakan ini semua.

16. Okelah... ini terakhir untuk Senin ini... sebelum aku angslup-ambles bumi, kembali bertapa di Kaki Merapi.

Apa reaksi/imajimu mendengar frasa "lelaki gondrong (berambut panjang)"?

17. "Mengapa kamu tidak segera menikah?" adalah pertanyaan klasik yang selalu kita jawab secara retoris.

Akan tetapi, Marxisme akhirnya telah menyediakan jawaban untuk kita yang laten dan hampir-hampir tidak terkatakan... yaitu... DUITE SAPA?!!!

18. Edmund Husserl memperkenalkan "epoche" (penundaan) ketika Subyek bertemu dengan Fenomena hingga Fenomena itu menelanjangi diri seutuhnya di hadapan Subyek.

Mungkin, ada baiknya seorang Subyek tidak hanya melakukan epoche fenomenologis, tetapi juga menunda judgment... menunda untuk menilai.

(Bisa jadi itu yang dimaksud (mantan) Romo Direktur dulu... .)

19. "Satu-satunya kesalahan kita hanyalah... kita bertemu tatkala segala sesuatu sudah terlambat," kata lelaki itu berat.

"Akan tetapi, bukankah keterlambatan itu masih bisa diperbaiki?" sanggah perempuan itu.

"Untuk beberapa hal iya. Untuk beberapa lainnya... hanya kematian yang bisa. Atau ada hati yang harus disakiti."

"Dan, kautelah menyakiti hatiku!"

"Tidak. Aku telah menyakiti hati kita berdua. Dan, aku tak ingin menyakiti satu hati yang lainnya."

"Aku membencimu!"

"Itu lebih baik."

20. "Manusia memang digerakkan oleh renjana!" kata perempuan itu.

"Akan tetapi, kita tidak terdeterminasi olehnya!" sanggah sang lelaki.

"Tapi renjana itu menyelinap lewat ketidaksadaran kita."

"Kita bebas! Dan, kebebasan kita adalah untuk menidak!"

"Meskipun itu menidaki hati yang mencintaimu?"

"Aku sudah beristri."

"Aku pun sudah bersuami."

"Jadi... ?"

"Haruskah berakhir dongeng indah kita ini?"

21. Brewok gondrong penuh peluh dan darah = Yesus
Brewok berambut putih = Karl Marx

keduanya Yahudi...
keduanya menggerakkan orang banyak

22. Tuhan dan segala sesuatu yang belum selesai.
Berawal dari renjana, berakhir di dalam "Kemuliaan".
Walaupun, segalanya direduksi menjadi hubungan-ekonomis.

23. Jujur... hingga saat ini aku masih melakukan "epoche"... penundaan fenomenologis, penundaan filosofis, dan penundaan penilaian (judgement).

Celakanya, sudah harus membahas itu pada Jumatan depan. Baiklah.

Suatu hari nanti, setelah segalanya terang-benderang, aku bisa melakukan dialektika atas dua hal itu dengan lebih lincah.

Hanya saja, apa hubungan ini semua dengan lingkaran-lingkaran yang aku hidupi? Justru lingkaran-lingkaran itu tetap harus menjadi mercusuar berpikir, jika tidak ingin tersesat di dalam samudera pemikiran.

24. Untuk teman-temanku yang tidak berbahasa Jawa sebagai bahasa ibu, maafkan kami, orang-orang yang tinggal di daerah bekas Mataram Islam ini, baik itu orang Jawa maupun orang Cina (maupun juga hibrid dari keduanya), karena tanpa kami sadari ketika kita semua duduk melingkar, kami secara otomatis berbahasa Jawa dan bukan berbahasa Indonesia.

Tegurlah kami jika demikian. Sebab, bukannya kami tidak menghormati Sumpah Pemuda 1928, juga bukannya kami tidak menghormati kalian yang tidak berbahasa Jawa sebagai bahasa ibu... hanya saja... ada unsur bahasa yang "langue/parole" itu tidak bahas... yaitu soal "rasa-bahasa", yaitu bagaimana perasaan dan pikiran dapat jauh lebih mudah diungkapkan dalam bahasa tertentu, yaitu bahasa ibu.

Ya... memang benar... (struktur) bahasa itu mencerminkan logika berpikir seseorang (bahkan masyarakat). Sehingga... bahasa yang satu dapat lebih mudah menjadi media seseorang untuk mengungkapkan sesuatu dari pada bahasa yang lainnya.

25. Itu iklan Pond's harus mengubah jargonnya!
"Bikin kulitmu seputih pemain bola Korea!!!"

Wakakakakakakakakakakaka!!!

26. "Hai, Nak... sepuluh tahun yang lalu kaubegitu rajin mengikuti ekaristi... bahkan selalu duduk di dekat altar suci. Mengapa sekarang engkau selalu menghindar dan lari?" kata seorang lelaki itu kepada seorang pemuda.

"Sudah, jangan tanyakan itu lagi. Kamu punya roti atau tidak? Aku lapar sekali. Belum makan sedari tadi."

"Kalau kamu makan roti ini, kamu tidak akan pernah kelaparan lagi."

"Kamu?"

Lelaki itu hanya tersenyum.

27. Semalam sehabis menonton pertandingan Indonesia vs Korea Selatan, aku senang sekali. Tim Garuda bisa melibas tim boy band itu 3-2.

Selang beberapa menit, aku membuka berita. Aku membatalkan kesenanganku itu. Sebab, Presiden yang hobi bernyanyi itu mengizinkan perusahaan-perusahaan Korea Selatan bebas masuk ke Indonesia.

28. Jadi... seks itu menjadi masalah... justru karena dipermasalahkan.

29. Dan... (dengan sungguh berat hati aku mengatakan ini)... bahwa gondrong adalah kriminal itu suatu konstruksi sosial.

Lalu? Apakah itu semua ada hubungannya dengan paradigma gender kita?
Bisa jadi. Bahwa lelaki harus memiliki rambut pendek yang rapi, sedangkan perempuan diimajinasikan memiliki rambut panjang selembut sutera... dewasa ini adalah konstruksi iklan 

30. (Baiklah... sekarang mari kita mencoba merangkai dialog berdasarkan perspektif Foucault.)

"Dik... aku mencintaimu apa adanya. Kamu tahu, Dik, seperti ujare Wong Jawa, 'tresna jalaran saka kulina'," kata seorang lelaki.

"Mas... menurut Foucault... yang apa adanya itu tidak ada! Kamu mencintaiku karena kamu sudah dikonstruksi demikian! Kamu dikondisikan untuk mencintaiku. Itu, 'kan, yang selama ini kamu maksudkan dengan 'tresna jalaran saka kulina'?" sanggah seorang perempuan mahasiswi sebuah universitas humanis di Jogja.

31. Cinta itu adalah hasrat menguasai.

Ketika kita mencinta, kita ingin mengetahui segala sesuatu tentang yang kita cintai. Kita ingin mengenalnya secara lebih dan lebih.
Pengetahuan, menurut Michel Foucault, itu bergandengan erat dengan kekuasaan.
Maka, dengan mencintai kita berhasrat untuk menguasai.
(Juga ketika kita mengatakan bahwa kita pecinta Tuhan (amator Dei), kita ingin menguasai Tuhan, memasukkan segenap ketuhanan ke dalam kepala kita.)

Sehingga, benar kata Haryatmoko itu, bahwa "mencintai tak harus memiliki" adalah ungkapan orang-orang yang kalah.

32. Ketika perbincangan mengenai seksualitas itu dilokalisasi, disensor, bahkan dilarang, kapitalisme akan mengambilnya sebagai komoditas... di dalam pornografi. Sehingga, orang harus membayar untuk sekadar membicarakannya.

Ini sate kambing sudah habis rupanya.

33. Jadi... orang Jerman dulu itu pernah "menjajah" Nusantara juga ya? Walau cuma nebeng Belanda? Baru tahu aku. Selama ini tahunya cuma Landa... hehehe... .

34. Oh... jadi "sekolah" itu berasal dari kata Yunani "skhole" yang berarti "waktu luang".

Jadi, mereka yang sekolah itu adalah orang-orang yang memiliki waktu luang... alias 'sela'!!!

Hidupnya begitu 'sela'... tidak disibukkan dengan keharusan mencari sesuap nasi.

35. Sewaktu aku kecil, aku membaca Kitab Wahyu. Imaji anak-anakku menghadirkan suatu gambaran yang sungguh mengerikan. Hingga... pernah... juga waktu masih aku kecil... aku bertanya... "Lalu untuk apa hidup ini?"

Mungkin, seiring dengan bertambahnya usia, pertanyaan itu aku represi. Bukannya hilang, melainkan menjadi ketidaksadaran... yang... ternyata berpengaruh terhadap pandangan hidupku.

Manusia adalah renjana yang sia-sia... walau renjana itu tetap layak disalurkan.

36. se
ko
lah

ker
ja

ka
win

ber
a
nak

mam
pus




37. Apa itu manusia?
Manusia adalah makhluk yang sekolah, kerja, kawin, beranak, lalu mampus.

38. Baru awal Agustus lalu aku memaki hujan yang tak kunjung berhenti. Kini aku sudah merindukan kedatangannya kembali. Dan... gerimis malam ini belum memuaskan dahagaku. Udana sing deres... nyambela sing pedhes... .

39. Kebenaran itu lebih pada apa yang dipercaya, dari pada apa yang dipahami.

Sesuatu yang dipahami bisa mudah dinegasi, sedangkan yang dipercayai... bahkan membutuhkan pertumpahan darah dan genosida untuk menegasinya.

40. Aku tidak selalu merokok...
Tapi jika merokok,
kupastikan itu tembakau lokal bercengkeh!!!

41. Negation a la Zizek

"Duh, Dek... apa yang terjadi di dunia batinku pasti akan menyakiti perasaanmu jika kunarasikan dengan jujur apa adanya tanpa distorsi metafora," batin seorang lelaki ketika mengatakan kepada kekasihnya bahwa tidak ada apa-apa di antara dia dan seseorang di sana.

42. "Aku tidak lahir sebagai seorang Katolik. Bapak dan Mamahkulah yang mengatolikkan diriku. Pada usia beberapa bulan itu, mereka membawaku ke depan altar sehingga pastor itu dapat memberiku "stempel-abadi", sakramen baptis, yang menjadikan aku Katolik. Akan tetapi, apakah faktisitas tersebut serta-merta membuat imanku Katolik? Ternyata tidak. Aku memerlukan petualangan iman yang eksistensial untuk mengafirmasi (atau bahkan menegasi)-nya. Iman pun, kemudian, harus menjadi sesuatu yang eksistensial, tidak melulu selalu sosial."

"Lalu, mengapa aku 'perlu' untuk mengatakan hal tersebut di atas? Apakah 'pesan ganda' dari ungkapan di atas?"

43. "Skripsi ini merupakan sebuah paradoks. Eksistensialisme merupakan suatu filsafat yang memberontak terhadap sistematisasi filsafat untuk memberi ruang kepada perasaan dan segala sesuatu yang bersifat pribadi. Akan tetapi, penulis harus membahasakan filsafat yang menolak sistematisasi filsafat tersebut secara sistematis, bahkan harus menyingkirkan nuansa intim filsafat ini dengan meminimalisasi kata “aku”, “kamu”, dan “kita”. "
Di atas merupakan kutipan Kata Pengantar dari Skripsi saya.

Menulis SKRIPSI itu merupakan suatu bentuk alienasi terhadap seorang individu. Bagaimana tidak, individu tersebut harus menyingkirkan kata ganti orang pertama tunggal (aku/saya) yang secara eksistensial mewakili dirinya, dan menggantinya dengan kata ganti orang ketiga tunggal (Penulis). Meskipun "Penulis" itu tidak lain adalah si individu yang menulis skripsi tersebut, kediriannya (yaitu subyektivitasnya) disingkirkan dari ruang pembicaraan dengan kehadiran kata ganti orang ketiga tunggal tersebut. Bukan 'aku' sebagai individu, melainkan 'dia' si penulis itulah yang berbicara, menarasikan, dan mengartikulasikan.

Akan tetapi, SKRIPSI yang merupakan alienasi itu mau tidak mau harus tetap diselesaikan dan dilampaui, justru supaya si individu itu dapat mengafirmasi diri... sebagai seorang SARJANA. Di sinilah letak paradoksnya. Di sinilah letak lingkaran jahanamnya. Si individu harus mengalienasi diri untuk mengafirmasi kediriannya dan sekaligus menyalurkan serta membahasakan renjananya!

Dan... tepat itulah inti dari kehidupan itu... penyaluran renjana yang sia-sia... tetapi tetap layak untuk dilakukan!

Akhir kata... selamat mengerjakan Skripsi atau Tugas Akhirmu

44. Fenomenologi Husserl menawarkan 'epoche'... penundaan.
Kita menunda asumsi ketika berhadapan dengan suatu fenomena.
Kita bahkan menunda 'judgement'.
Hingga fenomena itu menelanjangi diri sepenuhnya di hadapan kita.

Maka, ketika kamu melihat suatu fenemona kejahatan, kesemrawutan, kebrutalan, pelecehan seksual, korupsi, dan segala sesuatu yang dikatakan dosa... seperti semisal Jakarta (Pelacur Tua itu)... jangan buru-buru lari kepada segala sesuatu yang moral... jangan buru-buru lari kepada segala sesuatu yang agama... jangan. Tunda dulu segala asumsi moral dan agama.

Sebab... ada itu yang dinamakan eksterioritas dosa/kejahatan. Bisa jadi memang individu-individu di sana dikondisikan untuk, mau tidak mau, melakukan hal itu.

Segala asumsi moral dan agama itu harus menjadi yang terakhir... sebagaimana subyektivitas.

45. Hati dan dompet ini proletar...
Pikiran ini borjuis...
Sedangkan asal-usul ini feodal...

duh dek...

46. kita ini bangsa yang pernah dijajah...
dan kita merepresi kenyataan pahit itu
celakanya... apa yang kita represi itu muncul lewat ketidak sadaran...
itulah sebab kita lebih suka Jepang, Korea Selatan, Arab, ataupun US :P
(mungkin itulah mengapa presiden kita berkata akan memopulerkan K-Pop)

47. Pada sebuah kampus humanis di kota gudheg di suatu week end akan diadakan 'Korean Day'.

Kubayangkan cowok-cowok akan pergi ke sana setelah sebelumnya bedakan dulu... .
Lalu tiba-tiba datang hujan lebat...
Dan bedak itu pun luntur.

48. boyband-mu Korea
smartphone-mu made in China
filmmu Hollywood America
agamamu Arabia
pikiranmu Eropa
mitologimu India

ah welcome to Indonesia

49. "Le... mbok awake dipersudi. Aja tuku buku wae, duwite dinggo tuku maem," ngendikane Simbah.

Hadhuh Mbah...

50. Kata Pak Sunardi, "Marx, Freud, dan Nietzsche mengajak kita harus mencurigai kata-kata."

Jadi... uhuk... kalau ada yang mengatakan kepadamu, "Aku cinta kepadamu," kita perlu mencurigai kata "cinta" tersebut!!! Uhuk... uhuk... .

51. Penyair yang tidak mengakar pada masyarakatnya tak ubahnya penyabun. Sebab, tugas seorang penyair adalah menarasikan hidup, terutama menyuarakan yang tak terperikan.


Oktober 2013
Padmo Adi (@KalongGedhe)

No comments:

Post a Comment