Sunday, November 10, 2013

STRUKTURALISME

STRUKTURALISME

Saya pribadi merupakan seseorang yang berada di dalam tradisi eksistensialis. Perjumpaan saya dengan strukturalisme mengakibatkan gegar budaya. Strukturalisme merupakan fenomena yang baru bagi saya, maka saya melakukan epoche, penundaan. Akan tetapi, pada kesempatan ini, penundaan itu harus saya akhiri.
Tidak ada negara selain Perancis yang menjadikan filsafat sebagai suatu mode seperti mode pakaian atau musik. Setelah Perang Dunia II, Perancis dilanda demam eksistensialisme. Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang berbicara tentang Ada (eksis), tentang manusia sebagai individu (subyek), dan tentang kebebasan. Eksistensialisme begitu menekankan subyektivitas individu, bahkan Kierkegaard, bapak eksistensialisme dari Denmark, pernah berkata bawah kebenaran itu subyektif. Di Perancis sendiri eksistensialisme dikembangkan oleh Jean-Paul Sartre dan kawan-kawannya. Eksistensialisme-Sartrean merupakan pengembangan dari Fenomenologi Husserl.
Pada tahun 1960-an yang menjadi mode berfilsafat di Perancis adalah strukturalisme. Aliran filsafat ini merupakan bentuk perlawanan terhadap eksistensialisme dan fenomenologi. Jika eksistensialisme mengajak kita untuk terlebih dahulu memandang individu sebagai subyek di dalam pembicaraan mengenai manusia, strukturalisme mengajak kita untuk terlebih dulu melihat struktur/sistem di mana individu itu berada. Individu tidak pernah terlepas dari struktur yang membentuknya. Aliran filsafat ini menggunakan dasar-dasar ilmu linguistik modern dari Ferdinand de Saussure. Ketika orang berbicara mengenai “strukturalisme”, dia harus kembali kepada linguistik Saussurean.

Linguistik Saussurean
Beberapa prinsip dasar yang digunakan oleh tokoh-tokoh strukturalisme berasal dari buku Cours de Linguistique Generale (1916) yang diterbitkan setelah Saussure meninggal. Saussure menggunakan beberapa istilah yang khas, yaitu sinkroni-diakroni, signifiant-signifie, dan langage-langue-parole. Linguistik-saussurean menempatkan bahasa sebagai ilmu yang otonom sehingga tidak perlu lagi menghiraukan realitas di luar bahasa (termasuk subyek yang berbicara).
Pendekatan Bahasa oleh Saussure (Pendekatan Sinkronis Mendahului Diakronis)
Pada umumnya orang mempelajari etimologi suatu kata. Hal ini mengandaikan sebuah pendekatan yang historis. Bahasa diyakini sebagai sebuah proses panjang penamaan atas benda-benda (nomenklatur), sehingga arti suatu kata selalu berkaitan erat dengan obyek di luar kata itu. Pendekatan ini adalah sebuah pendekatan diakronis. “Diakronis” berasal dari kata ‘dia’ yang berarti ‘melalui’ dan ‘khronos’ yang berarti ‘waktu’. Pendekatan diakronis adalah sebuah pendekatan yang ‘menelusuri waktu’, sehingga disebut suatu pendekatan historis.
Saussure mengajak mendekati bahasa dengan melihat unsur intrinsik bahasa terlebih dahulu. Pendekatan diakronis menjadi tidak begitu berarti sebelum melakukan pendekatan sinkronis. Kata “sinkronis” sendiri berasal dari kata ‘syn’ yang berarti ‘bersama’ dan ‘khronos’. Pendekatan sinkronis adalah sebuah pendekatan yang “bertepatan dengan waktu”, sehingga disebut suatu pendekatan yang ahistoris. Linguistik-Saussurean melepaskan bahasa dari segala sesuatu di luar bahasa. Bahasa itu merupakan suatu struktur/sistem yang tertata dengan cara tertentu. Saussure mengajak kita untuk melihat hubungan antarunsur bahasa di dalam suatu struktur/sistem bahasa itu dalam suatu totalitas (keseluruhan). Kita harus mengkaji bahasa sebagai suatu struktur/sistem pada waktu tertentu terlebih dahulu sebelum melihat perkembangannya di dalam sejarah. Penyelidikan sinkronis harus mendahului penyelidikan diakronis.
Penanda (Signifiant / Signifier) dan Petanda (Signifie / Signified)
Berdasarkan perspektif pendekatan diakronis, makna suatu kata selalu berkaitan dengan suatu obyek di dalam realitas (nomenklatur). Akan tetapi, Saussure berpendapat bahwa makna suatu kata itu justru berkaitan dengan konsep tentang benda, bukan benda itu sendiri. Makna suatu kata berkaitan erat dengan kata. Kata (tanda bahasa) tidak lain adalah sebuah bunyi atau coretan ditambah makna. Menurut Saussure tanda bahasa terdiri atas dua unsur yaitu penanda (yang menandai) dan petanda (yang ditandakan).
Penanda adalah aspek material dari bahasa (apa yang diucapkan/didengar atau apa yang ditulis/dibaca). Petanda adalah aspek mental dari bahasa, yaitu gambaran mental, pikiran, konsep, imaji. Tanda bahasa selalu memiliki penanda dan petanda. Kedua unsur itu tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Penanda tanpa petanda itu tidak berarti apa-apa karena bukan tanda bahasa. Petanda tidak mungkin disampaikan tanpa penanda. Penanda dan petanda berhubungan secara arbitrer (sewenang-wenang/harus) dan bukan secara natural.
Langage, Langue (Bahasa), dan Parole (Wicara)
Istilah langage merupakan istilah untuk menunjukkan fenomena bahasa secara umum. Bahasa secara umum (langage) ini di dalam persepktif Saussure terdiri dari dua unsur yaitu langue (bahasa) dan parole (wicara). Langue merupakan bahasa sejauh merupakan milik bersama suatu golongan bahasa tertentu. Langue dipandang sebagai suatu struktur/sistem. Bahasa adalah ‘aturan bermain’ dan yang penting di dalam bahasa adalah aturan-aturan tersebut. Langue merupakan unsur sosial dari bahasa. Individu tidak bisa mengubah langue sendirian.
Parole merupakan pemakaian bahasa yang individual. Parole merupakan peristiwa “berbicara”. Parole merupakan unsur individual dari bahasa. Akan tetapi, seseorang hanya dapat mendekati parole melulu melalui langue, sebab kajian linguistik tidak mempelajari bagaimana individu-individu tertentu menggunakan bahasa.
Tidak ada bahasa tanpa wicara dan tidak ada wicara tanpa bahasa. Individu dibentuk oleh bahasa sebagaimana individu-individu itu membentuk bahasa. Bahasa tidak dapat berubah kecuali berevolusi melalui proses historis wicara. Bahasa merupakan instrumen dan sekaligus produk wicara.
Bahasa merupakan totalitas yang terdiri dari unsur-unsur yang berbeda dan mempunyai fungsi masing-masing. Unsur-unsur itu hanya dapat dibandingkan atau ditukarkan di dalam sistem bahasa yang sama.
Semiologi (Semiotika)
Prinsip-prinsip dasar linguistik di atas dapat diterapkan ke dalam ilmu-ilmu lain di luar bahasa. Penerapan dasar-dasar linguistik ke dalam bidang-bidang lain di luar bahasa ini disebut semiologi. Linguistik sendiri akhirnya menjadi salah satu cabang dari semiologi ini. Metode studi bahasa bisa diterapkan pada bidang studi lain sejauh bidang studi lain itu memuat tanda.

Psikoanalisa Rasa Strukturalisme a la Jacques Lacan
Lacan adalah seorang freudian. Freud telah menggeser cogito cartesian ke dalam ketidaksadaran. Filsafat sejak Rene Descartes hingga fenomenologi dan eksistensialisme begitu menekankan kesadaran ego. Imannuel Kant dan Hegel pun berfilsafat di dalam tradisi ini. Akan tetapi, menurut psikoanalisa, bukan kesadaran ego yang penting, melainkan ketidaksadaran. Ketidaksadaran inilah yang menggerakkan ego.
Lacan mengikuti tradisi Freud. “Kembalilah kepada Freud,” kata Lacan. Namun, dia membaca Freud di dalam perspektif strukturalisme. Lacan menciptakan suatu psikoanalisa yang merupakan “suatu antropologi otentik” dengan mengambil ilmu bahasa “sebagai pedoman”.
Bahasa merupakan suatu sistem. Manusia tidak merancang sistem tersebut, tetapi tunduk kepadanya, sehingga manusia mungkin untuk berbicara. Hal yang sama juga terjadi atas ketidaksadaran. Ketidaksadaran mendahului ego. Ego digerakkan oleh ketidaksadaran. Dan, ketidaksadaran itu terstruktur, sama seperti bahasa. Ketidaksadaran mengungkapkan diri melalui bahasa. Bahasa berperan penting di dalam proses psikoanalisa. Analisan mengungkapkan segalanya kepada analis melalui bahasa. Ketidaksadaran yang diungkapkan melalui bahasa tersebut kemudian menjadi penanda. Akan tetapi, Lacan, mengikuti perspektif Freud bahwa ego telah tergeser, mengatakan bahwa yang berkata itu bukan subyek. Subyek itu dibicarakan. Ada yang lain yang berbicara di dalam diri subyek (it speaks in me). Ketidaksadaran merupakan “wacana dari liyan”.

Marxisme Strukturalis - Althusser
Althusser adalah seorang marxis Perancis. Dia memperkenalkan cara membaca Marx yang menolak pandangan humanistis. Ilmu-ilmu linguistik, psikoanalisa, dan antropologi telah menyatakan bahwa “manusia telah digeser dari pusatnya”, sehingga dalam cahaya itulah kita seharusnya membaca Marx. Althusser menentang gagasan bahwa Marxisme adalah humanisme. Ada diskontinuitas antara Marx muda dengan Marx tua. Memang Marx muda itu bersifat humanis (menempatkan manusia berada di pusat alam semesta seturut tradisi feuerbachian). Akan tetapi, Marx yang sejati adalah Marx tua yang memisahkan diri dari Hegel dan Feuerbach. Marx muda adalah Marx yang ideologis sedangkan Marx tua adalah Marx yang ilmiah.
Meskipun Althusser menentang pandangan humanistis akan Marx yang seakan-akan lebih menekankan Marx muda yang humanis dan ideologis, dia tidak menyingkirkan pembahasan ideologi sama sekali. Di dalam ideologi manusia justru menjadi sadar akan pertentangan kelas dan berjuang untuk menghapuskannya. Althusser justru menawarkan ideologi yang bersifat marxis. Negara terdiri atas aparat-aparat ideologis (gereja, sekolah, sistem hukum, keluarga, komunikasi, parpol, dsb.) dan atas aparat-aparat represif (polisi, tentara, penjara, dsb.). Ideologi adalah alat kaum borjuis untuk melanggengkan status quo. Melalui ideologi dominasi suatu kelas direproduksi.
Manusia bukanlah subyek yang otonom dari ekonomi dan sejarahnya. Manusia adalah produk dari struktur-struktur sosio-ekonomis. Unsur-unsur sosio-ekonomis (infrastruktur) itu nampak di dalam ideologi (suprastruktur). Akan tetapi, ideologi itu menurut Althusser memiliki otonominya sendiri. Ideologi membentuk subyek-subyek dengan meletakkan mereka di dalam sistem hubungan yang diperlukan sehingga hubungan antarkelas yang ada dapat langgeng. Ideologi memberi identitas kepada individu sehingga situasi yang ada bisa berjalan. Ideologi justru bekerja melalui praktek-praktek ritual yang praktis dan spontan, yang seakan-akan lumrah dilakukan oleh seorang individu. Ketika individu-individu itu berdoa, berjabat tangan, memilih barang belanjaan, sekolah, dan tindakan-tindakan lumrah lainnya, mereka tidak bebas nilai, sebab berada di bawah pengaruh ideologi.

Memberanikan diri untuk Mengajukan Kritik
Oleh karena strukturalisme menempatkan diri sebagai aliran filsafat yang antihumanisme, filsafat ini mengesampingkan subyek. Subyek dipandang sebagai yang tidak bebas dan terdeterminasi oleh sistem/struktur, baik itu struktur bahasa, masyarakat, maupun ketidaksadaran. Peran manusia sebagai subyek bebas yang menjadi agen sejarah juga direduksi. Kaum strukturalis mengulang apa yang pernah Nietzsche sampaikan bahwa alih-alih ada yang disebut sejarah linear, yang ada adalah “terulangnya segala sesuatu secara abadi”.
Sebagai suatu metode berfilsafat, kita bisa dengan bebas dan lincah menggunakan strukturalisme (linguistik saussurean). Strukturalisme akan memberi kita pisau bedah baru di dalam mendedah dan mengartikulasikan kehidupan. Strukturalisme juga membuat kita tidak terlampau optimis terhadap humanisme. Akan tetapi, jika segala sesuatu direduksi ke dalam struktur dan hanya strukturlah yang nyata sehingga subyek yang bebas itu disangkal, saya pribadi perlu mendekatkan diri kepada Sartre untuk menolak hal tersebut. Ketika strukturalisme berani mengatakan bahwa yang nyata hanyalah struktur dan subyek manusiawi hanyalah ilusi semata, strukturalisme telah melampaui batas-batas metodenya.
Pembicaraan mengenai struktur dan sistem mengandaikan adanya individu bebas yang berbicara. Struktur/sistem sendiri tidak berbicara! Langue memang adalah sistem/struktur bahasa, tetapi ada parole di sana, tempat individu mengartikulasikan bahasa. Memang sering kali individu digerakkan oleh renjana bawah sadar, tetapi individu yang bebaslah yang mengartikulasikan ketidaksadaran itu ke dalam bahasa untuk kemudian menelaahnya. Sartre mengatakan bahwa manusia itu tidak terkurung di dalam struktur! Manusia melampaui struktur. Subyektivitas bagi Sartre selalu menjadi hal yang terakhir. Penolakan subyektivitas itu merupakan usaha yang sia-sia dan penuh ironi sebab penolakan itu sendiri sudah mengandaikan suatu subyektivitas dari suatu subyek. “Yang penting bukan apa yang diperbuat atas manusia, melainkan apa yang manusia perbuat atas apa yang diperbuat atasnya,” kata Sartre.

Bahan Bacaan
K. Bertens, 2006, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
John Lechte, 2007, 50 Filsuf Kontemporer, dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, terj. Bahasa Indonesia oleh A. Gunawan Admiranto, Yogyakarta: Kanisius
St. Sunardi dan A. Supratikna (ed.), Dasar-dasar Kajian Budaya, Bahan Bacaan Kuliah, Yogyakarta: IRB - USD

Padmo Adi
untuk tambahan Jumat di Palma 18 Oktober 2013

No comments:

Post a Comment