Monday, February 17, 2014

Freud dan Teori "Mimpi sebagai Pintu Gerbang Menuju Ketidaksadaran"

Kedudukan teori mimpi Freud dalam psikoanalisa sebagai ilmu tentang ketidaksadaran adalah sebagai berikut...*

Ketidaksadaran itu terkait dengan motif-motif seksual. Freud meneliti perkembangan psikoseksual anak. Fase-fase tersebut antara lain adalah fase pragenital, fase oral, fase anal, dan fase genital/falik. Pada fase genital ini muncullah apa yang disebut sebagai Oedipus Complex. Oedipus Complex adalah keadaan ketika anak lelaki mengingini ibunya sendiri sebagai hasrat seksual, atau ketika anak perempuan mengingini ayahnya sebagai hasrat seksual. Akan tetapi, tiba-tiba hasrat ini dikastrasi/ditetak/dilarang. Hasrat ini pun direpresi. Hasrat-hasrat seksual tersebut dimarjinalkan dari kesadaran, diseret keluar dari kesadaran, direpresi sedemikian rupa, sehingga menghasilkan ketidaksadaran.

Ketidaksadaran ini tidak tinggal diam saja di sana melainkan selalu mencari celah untuk keluar. Ketidaksadaran bahkan mampu menggerakkan! Ketidaksadaran memanifestasikan dirinya di dalam wujud simptom, guyonan (joke), lapsus (slip of tongue), mimpi, serta neurosis.

Kesadaran tidak lain adalah bahasa, ketika seseorang berbahasa. Maka, ketidaksadaran adalah ketika hal itu tidak mampu dibahasakan. Itulah sebabnya Freud selalu meminta pasiennya untuk bercerita apa saja. Ketika berbicara inilah ketidaksadaran akan menyelinap lewat simptom. Biasanya hal itu berupa sesuatu (kata/hal/peristiwa) yang terus menerus diulang-ulang. Hanya berputar-putar di sana. Seorang psikoanalis akan menganalisa simptom-simptom semacam ini untuk membantu pasien menelusuri ketidaksadarannya.

Freud memandang (tafsir) mimpi penting karena ketika para pasiennya diminta berbicara, mereka malah membicarakan mimpi-mimpi mereka. Ketidaksadaran adalah sesuatu yang sulit/tidak mampu dibahasakan, berada di luar konsep bahasa kita. Maka, ketika ketidaksadaran menjelma menjadi mimpi, ketidaksadaran mengambil bahasa-bahasa/konsep-konsep yang mampu kita pahami. Mimpi itu tidak lain adalah ketidaksadaran yang telah mengalami distorsi (Entstellung). Ketidaksadaran mengambil metafora dan metonimia agar dapat memanifestasikan diri menjadi mimpi.

Mimpi memang sebuah wish-fulfillment. Akan tetapi, mimpi bukan sekadar wish-fulfillment. Yang penting adalah bagaimana mimpi itu bekerja dan bagaimana seseorang membahasakan mimpinya tersebut. Di dalam mimpi terdapat dua kegiatan mental, yaitu dream-thoughts dan dream-content. Dream-thoughts bersifat masif. Dream-thoughts tidak lahir ex-nihilo, tetapi diolah dari bahan-bahan yang ada pada prasadar. Dream-thoughts ini menghasilkan dream-content. Dream-content (isi mimpi) terdiri dari dua, yaitu isi mimpi manifest dan isi mimpi laten. Isi mimpi manifest adalah mimpi yang masih bisa diingat dan diceritakan. Sedangkan isi mimpi laten adalah mimpi yang tidak lagi bisa diingat dan diceritakan, tetapi terkait erat dengan ketidaksadaran.

Mimpi itu ibarat suatu susunan huruf hieroglif, suatu susunan gambar yang masih harus ditafsirkan. Mimpi adalah semacam transkrip ketidaksadaran. “Dunia” mimpi itu surealis. Kita tidak bisa menyalahkan suatu susunan gambaran mimpi yang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam alam real. Misalnya saja seseorang bermimpi bahwa dia hidup/tinggal di attic (loteng) orang lain tanpa orang lain itu menyadari, dan ketika orang lain itu naik ke loteng tersebut orang itu jadi ketakutan dan bisa menghilang di balik kegelapan. Secara real tinggal di attic rumah orang tanpa pemilik rumah itu mengetahuinya adalah ilegal. Akan tetapi, kita tidak bisa menolak keanehan itu begitu saja, misalnya dengan menanyakan pertanyaan naif, “Lalu bagaimana orang itu mendapatkan makanan kalau tidak turun dari loteng? Bagaimana mungkin pemilik rumah tersebut tidak pernah bertemu dengan seseorang yang tinggal di attic-nya tanpa pernah mencuriga ada suara di sana?” Atau, bahkan mempertanyakan bahwa ternyata orang yang tinggal di attic rumah orang lain itu seukuran liliput. Kita tidak bisa menempatkan konsep-konsep realis begitu saja ke dalam “dunia” mimpi sebab mimpi adalah “dunia” surealis dan merupakan semacam picture-puzzle.

Kita tidak bisa menilai gambaran-gambaran yang ada dalam mimpi (sebagai salah atau benar, layak atau tak layak, good atau evil). Yang bisa kita lakukan adalah mencari hubungan simboliknya agar bisa sampai kepada ketidaksadaran. Mimpi adalah ketidaksadaran yang mengalami kondensasi/pemadatan/verdichtung (metonimia) dan displacement/penggeseran/verschietung (metafora). Yang ada di dalam isi mimpi laten dipadatkan, diringkas di dalam isi mimpi manifest. Atau, yang dimimpikan itu diganti dengan sesuatu (gambaran) yang tidak penting/ringan/bisa dibayangkan/bisa ditanggung/ada dalam konsep bahasa.

Dan, akhirnya, bagaimana seseorang menceritakan mimpinya. Misalnya seorang lelaki bermimpi bertemu dengan seorang perempuan. Kemudian tiba-tiba saja dia berkata, “Tidak... perempuan itu bukan mantan kekasihku.” Seorang psikoanalis dapat menelusurinya dari sini. Mengapa lelaki itu tiba-tiba menegasi mimpinya sendiri, padahal sang analis tidak bertanya apakah perempuan di dalam mimpinya itu adalah mantan kekasihnya? Mungkinkah ada masalah yang belum selesai antara lelaki itu dengan mantan kekasihnya yang kemudian direpresi menjadi ketidaksadaran?

Maka, mimpi adalah pintu gerbang menuju kepada ketidaksadaran!

*Tulisan ini pada mulanya adalah jawaban ujian akhir Mata Kuliah Kajian Budaya yang diolah dari buku catatan kuliah dan reader (St. Sunardi dan A. Supratiknya) oleh Padmo Adi.

No comments:

Post a Comment