Monday, February 17, 2014

Menganalisa Tulisan “Proses Kreatif Saya” W.S. Rendra


Menganalisa Tulisan “Proses Kreatif Saya” W.S. Rendra[1]
oleh: Yohanes Padmo Adi Nugroho (136322009)

Pengantar - Rangkuman Tulisan Rendra, Proses Kreatif Saya
Saya menggunakan tulisan W.S. Rendra berjudul Proses Kreatif Saya yang dimuat di buku Dua Puluh Sastrawan Bicara. Di dalam tulisan tersebut, Rendra menuliskan pergulatan rohaninya di dalam menulis puisi. Bisa dikatakan, tulisan ini adalah pengantar Rendra untuk menyelami karya-karya puisinya, tulisan ini adalah behind the scene-nya puisi-puisi Rendra.
Dalam tulisan tersebut Rendra menerangkan perjalanannya bereksperimen dengan “bentuk seni” untuk menampung “isi seni”-nya. “Bentuk seni” yang Rendra temui, sejauh yang ditulisnya di dalam tulisan ini, adalah bentuk sajak angkatan 45 yang liris-ekspresif atau realistis-ekspresif dan seni yang terlibat a la Lekra[2] yang mutlak dan didikte oleh keputusan-keputusan sentral partai[3]. Akan tetapi, semua bentuk yang melingkungi Rendra pada saat itu dirasa tidak mampu menampung “isi rohani” yang bergejolak di dalam batinnya.[4]
Alih-alih mengikuti kecenderungan liris-ekspresif a la Chairil Anwar, Rendra membiarkan dirinya hanyut di dalam apa yang disebutnya keadaan stoned, di mana rohani dan pikirannya melebur dengan alam, sehingga dia melahirkan bentuk sajak seperti yang ada pada kumpulan sajak Ballada Orang Tercinta, Nyanyian dari Jalanan, Sajak-sajak Dua Belas Perak, dan Malam Stanza.[5]
Rendra bahkan bersikap reaktif terhadap pandangan-pandangan mutlak yang mengharuskan seni untuk terlibat di dalam masalah sosial-politik.[6] Keadaan rohaninya yang masih asyik stoned membuatnya menolak untuk didikte oleh politik. Lagi pula, Rendra merasa bahwa pengetahuannya dalam bidang ilmu politik, sosial, dan ekonomi masih minim sekali, sehingga dia merasa tidak memiliki perangkat berbicara yang bisa membuatnya menghayati masalah-masalah sosial-politik-ekonomi tersebut secara tuntas. Meskipun begitu, dia tidak pernah anti kepada seni yang “terlibat”.[7]
Baru setelah dia belajar ilmu-ilmu sosial, politik, ekonomi di Amerika selama 3,5 tahun, dia merasa telah memiliki perangkat berbicara. Walau demikian, tidak mudah bagi Rendra untuk menyeberang dari alam stoned ke alam common-sense. Rendra mengalami ketegangan kreatif yang sangat. Dia merasa bahwa “bentuk seni” yang bernuansa mistis, penuh misteri, dan memakai metafora surealis seperti yang ada pada sajak-sajaknya terdahulu, seperti Khotbah dan Nyanyian Angsa itu, tidak lagi mampu menampung “isi rohani” Rendra yang mulai terlibat di dalam perkara-perkara sosial-politik-ekonomi tersebut.[8] Ketegangan itu tidak main-main. Rendra harus memilih antara tetap mempertahankan “bentuk seni” lamanya itu atau harus rela melepaskannya dan mencari bentuk yang baru supaya “isi rohaninya” tersebut dapat tertampung. Akhirnya, dia memilih untuk mengikhlaskan seluruh pesona misteri dan ambiguitas yang menjadi kekuatan Nyanyian Angsa dan Khotbah. Metafora surealis itu Rendra ganti dengan “struktur sajak yang mengandung skema dan metafora yang mempunyai kekuatan grafis”.[9]

Analisa Psikoanalitis atas Tulisan Rendra Tersebut di Atas

Tentulah saya selalu membutuhkan graf[10] di atas untuk berbicara suatu hal yang berkaitan dengan psikoanalisa (lacanian), terlebih lagi ketika saya harus menganalisa suatu hal tersebut. Keadaan Rendra yang dituliskannya tersebut di atas sangat menarik, sebab dia tidak hanya sekali mengalami histeria, tetapi bahkan berkali-kali. Bahkan, di dalam tulisannya itu, kita bisa melihat setidaknya dia mengalami tiga kali histeria.[11]
Ketika Rendra remaja, rohani dan pikirannya asyik melebur ke dalam alam.[12] Pada saat-saat itu dia mengalami apa yang disebutnya sebagai keadaan trance atau stoned. Keadaan ini adalah keadaan di mana Rendra mengalami apa yang disebut sebagai suatu persatuan primordial. Inilah fase cermin dalam proses kepenyairan Rendra.[13] Apa yang menjadi cermin / i(o) Rendra? Peleburannya ke dalam alam itulah cermin Rendra. Kemudian, dikatakannya bahwa pada saat itu dia senang sekali menonton wayang kulit, mendalami suluk-suluk sang Dalang, dan juga dekat kepada teknik dan bentuk tembang dolanan anak-anak Jawa yang penuh dengan imajinasi orang yang sedang stoned atau in trance.[14] Wayang kulit, suluk Dalang, dan  tembang dolanan Jawa inilah Wacana Tuan (Nama Bapa) Rendra. Dia mengamati, memeluk, menyetubuhi, dan menghayati alam di luar dan alam di dalam dirinya. Dia pun menemukan ego-nya. Dia harus bersajak! Dan, Rendra bersajak dengan gaya seorang Dalang menggelar sebuah lakon.
Rendra pun disapa/diinterpelasi oleh Liyan (O) sehingga dia dapat berbicara/bersajak. Siapakah Liyan yang dominan pada saat itu? Rendra mengatakan bahwa “bentuk seni” yang dominan dan juga dia kagumi adalah gaya Angkatan 45 yang liris-ekspresif atau realistis-ekspresif. Jadi, treasure of signifier (lumbung penanda) yang disediakan oleh Liyan pada saat itu adalah gaya Angkatan 45. Akan tetapi, Rendra mengalami misrecognition ketika membawa ego-nya ke masyarakat dengan lumbung penanda yang disediakan oleh Liyan tersebut.[15] Rendra ingin bersajak (afirmasi atas ego), tetapi “bentuk seni” yang disediakan masyarakat tidak mampu menampungnya (negasi atas afirmasi tersebut di atas). Rendra mengalami alienasi, dia menjadi subject lack. “Bentuk seni” yang disediakan oleh Liyan (Angkatan 45) tidak bisa dipakai untuk membahasakan keadaan stoned-nya secara paripurna.[16] Liyan (Agkatan 45) dengan gaya bersajaknya itu Rendra dapati sebagai Liyan yang juga lack.
Keadaan stoned-nya itulah desire-nya. Desire-nya ini membawa Rendra kembali kepada keadaan kebertubuhannya ($<>D). Dia meditasi. Dia membiarkan dirinya terlena di dalam keadaan stoned-nya tersebut. Rendra mempertimbangkan master of signifier / S(Ø) / Wacana Tuannya.[17] Rendra menemukan bahwa Liyan pun juga lack.[18] Keadaan ini harus dikastrasi, dia harus bersajak! Tapi dengan “bentuk seni” yang bagaimana? Rendra kemudian menjadi Subyek Lack yang dengan putus asa mencari Obyek yang hilang ($<>a).[19] Keadaan stoned-nya itu, desire-nya itu, membuat Rendra berfantasi, terus mencari cara agar dapat menemukan a kecil (lost object), sehingga akhirnya dia menemukan metafora baru, dia menemukan “bentuk seni” baru, yang berbeda dengan gaya Angkatan 45, seperti yang ada di dalam kumpulan sajak Ballada Orang-orang Tercinta, Nyanyian dari Jalanan, Sajak-sajak Dua Belas Perak, dan Malam Stanza. Fantasi Rendra adalah bahwa dia ingin dapat membahasakan (menyajakkan) keadaan stoned masa remajanya itu.
Agar kita dapat membandingkan sajak Rendra dengan sajak Angkatan 45, pada paper ini akan saya hadirkan sajak Rendra berjudul Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo dan sajak legendaris penyair yang menjadi ikon Angkatan 45, Chairil Anwar, berjudul Aku.

Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo
W.S. Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut burni
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para 
mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu 
surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.

Segenap warga desa mengepung hutan itu
dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo 
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang 
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya 
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal! 
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa. 
Majulah Joko Pandan! Di mana ia? 
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang 
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang.

- Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala.

- Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan 
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam 
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ke tiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka 
pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang 
la telah membunuh bapanya.

Aku
Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Berbeda dengan sajak Aku Chairil Anwar yang ekspresif[20], Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo Rendra tersebut di atas dekat sekali dengan bentuk yang ditontonnya, dan yang pertama kali menginterpelasinya, sewaktu remaja, yaitu wayang kulit, suluk dalang, dll. Dengan puisi, Rendra ingin menarasikan suatu cerita/kisah/lakon, mirip seperti para pujangga Mataram yang mengisahkan suatu cerita dengan bentuk Tembang Macapat. Bentuk puisi semacam Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo itu adalah cara Rendra menarasikan Nama Bapanya.
Akan tetapi, perjalanan rohani (kalau boleh saya katakan demikian) Rendra belum selesai. Pada era Lekra, kesenian (juga termasuk puisi) mutlak harus terlibat di dalam masalah sosial-politik. “Politik adalah panglima” demikianlah jargonnya. Rendra sebenarnya tidak anti kepada seni yang terlibat. Yang dipermasalahkan Rendra adalah pemutlakkan yang dilakukan Lekra, bahwa seni harus, tidak boleh tidak, terlibat! Bagaimana mungkin Rendra bisa terlibat ketika rohaninya masih dalam keadaan stoned dan dia pun belum juga mampu menguasai alat-alat bicaranya (ilmu sosial, politik, dan ekonomi)? Rendra kembali menjadi subyek lack ($), Rendra kembali teralienasi. Pada era itu Rendra tidak pernah sampai pada apa yang dimutlakkan oleh para seniman Lekra. “Jadi paling banter sentuhan saya dengan masalah-masalah tersebut (sosial-politik-ekonomi) hanya mendorong saya untuk melakukan introspeksi sebagai langkah pertama saya (bold dari saya) untuk melihat letak diri saya dalam peradaban sehari-hari,” kata Rendra.[21]
Untuk dapat lebih memahaminya, saya hadirkan salah satu puisi Rendra pada era itu yang ada pada Sajak-sajak Sepatu Tua dan sebuah sajak dari salah satu pendiri Lekra.

Moranbong, Pyongyang
W.S. Rendra

Aku akan tidur
di rumputan
di tepi kolam.
Sementara undan
dan belibis
berenangan.
Lihatlah, aku berdosa.

Aku akan tidur
di bawah pohon liu
yang rindang.

Dalam waktu yang mewah
tapi hampa
aku berjalan dalam taman
mengintip pasangan bersembunyi
di dalam hutan.
Sambil makan
jagung bakar
dan apel Korea
mendengarkan lagu rakyat
dinyanyikan orang.
Kantongkupun penuh dosa.

Lalu kupilihlah tempat ini
tempat tidurku di rumputan
dekat tembok pagar yang tua
memandang kuil beratap merah
dan angin lewat
untuk pergi ke lembah yang jauh.
Mencuri dosa.

Aku akan tidur
di tepi kolam
di bawah pohon liu
yang rindang.
Aku payah oleh dosa.

Catatan Peking
Njoto

Awas gelisah
lari-berlari mengandung mendung
tiba-tiba
matahari menyala tidak semena-mena

hari ini bulan sepuluh
tanggal satu
tahun datang kali sepuluh
Tiongkok Rakyat sudah negara kelas Saturday

Alangkah hebat
dihati alangkah dekat!
kaum tani mengolah besi
kaum buruh disawah berpeluh
bajak dan baja tukar-bertukar
mahasiswa pada pekerja
kaum pekerja menjadi siswa
berjuta milisia angkut senjata
siapa berani serang Sosialisme?

Di Tien An Men gadis-gadis berbaris
pipinya merahmerah
citacitanya merah-merah
pionirpionir pipinya seperti tomat
tekadnya ketatketat
dan bungabunga masih ketawa, biar musimrontok
menyalami buruh tani pemuda yang montokmontok
dan tiga angkatan yang bersenjata
siap revans -- kalau perlu -- lawan Amerika

Ah, haru ini begini seru
menyelam dalamdalam
kesandi hati --
haru dunia baru
manusia baru

Tiongkok Baru mengubah wajah Asia
Tiongkok Baru mengubah wajah dunia
langit pagi memerah sudah
dan magrib siap
menelan kapitalisme mentahmentah
Siapa itu.
ditanahair masih kepalabatu?
kelam malam
juga tersedia buat mereka-!

Peking, Yenan 6.10.59

Meskipun sama-sama dibuat di Tiongkok, meskipun sama-sama memandang realita yang sama, karena Nama Bapa Rendra berbeda, dan dia belum menguasai treasure of signifier yang dimutlakkan oleh Lekra, Rendra hanya mampu berlitani “aku berdosa... aku payah oleh dosa”.
Sebenarnya Rendra sudah berhasrat untuk terlibat di dalam masalah-masalah sosial-politik-ekonomi.[22] Namun, dia harus menguasai dulu alat bicaranya, ilmu sosial-politik-ekonomi. Di dalam proses tersebut, Rendra mengalami ketegangan yang luar biasa. Nama Bapa/Wacana Tuannya tidak lagi bisa dia pakai untuk menata penanda-penanda yang disediakan oleh perjumpaannya dengan Liyan. Rendra sekali lagi terbelah. Rendra sebagai ($<>a), subyek lack yang dengan putus asa mencari lost object, ingin menjadi seorang penyair yang “terlibat”, tetapi sekaligus juga terlibat dengan “bentuk seni” yang bermutu, tidak seperti mayoritas sajak-sajak Lekra yang kering (karena hanya berisi jargon-jargon “ganyang Kapitalisme” yang senantiasa diulang-ulang). Fantasi Rendra adalah menjadi subyek politik (seniman) yang, meskipun tidak ikut berkuasa, sah dan wajar kalau menyuarakan hasrat dan pendapat mengenai keadilan sosial, ekonomi, dan politik di dalam karyanya.[23] Wacana Tuan Rendra berubah menjadi Wacana Histeria. Wacana Histeria Rendra pun berubah menjadi Wanaca Analitik, Rendra menganalisa keadaannya sendiri. Jika Rendra hendak mengikuti fantasi/($<>a)-nya, dia harus meninggalkan “bentuk seni” lamanya yang penuh dengan nuansa mistis dan ambiguitas. Rendra membutuhkan sarana (bahasa) yang konkret dan lugas untuk dapat menarasikan hasratnya tersebut. Rendra pun menemukan metafora baru, metafora yang mempunyai kekuatan grafis.[24] Lahirlah sajak-sajak pamflet Rendra.
Inilah salah satu contoh dari sajak pamflet Rendra.
Sajak Anak Muda
W.S. Rendra
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.
Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?
inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.
Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.
Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara
Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.
Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977

Ketika saya mencoba membandingkan metafora yang dipakai Rendra di dalam Sajak Anak Muda ini dengan Moranbong, Pyongyang, dan dengan Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo, saya menemukan metafora yang sangat lain. Di dalam Moranbong, Pyongyang dan di dalam Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo, metafora yang dipakai membawa kita berkhayal mengenai kisah, yaitu kisah seorang muda yang justru merasa berdosa di tengah realita yang dihadapinya dan kisah epik pertempuran sengit semacam kisah wayang Mahabarata antara ayah dan anak lelakinya. Sedangkan di dalam Sajak Anak Muda, metafora yang kita temui adalah gugatan-gugatan. Kepala kita seakan-akan dihantamkan kepada realita yang dihadapi. Rendra tidak lagi memposisikan diri sebagai “seseorang yang berdosa oleh karena suatu realita” (moralistis), tetapi sebagai “orang yang berorasi menggugat realita yang ada” (struktural). Ketika saya membandingkan dengan sajak Njoto di atas, sajak Rendra dapat dikatakan jauh lebih menggelegar; tidak semata-mata mengulang-ulang jargon “lawan Amerika”, sajak Rendra dengan berani mengkritik pemerintahan Orde Baru yang otoriter itu dan yang kurang lebih telah sepuluh tahun berkuasa.

Penutup - Membaca Rendra
Membaca puisi-puisi Rendra muda (yang salah satunya berbentuk balada) tersebut, kita bisa menjadi subyek mistis, sebab kita senantiasa diajak oleh Rendra untuk kembali ke alam kebatinan kita, kita selalu diajak untuk bersama-sama dengannya memasuki keadaan stoned di mana kita mengalami, meminjam istilah Rendra, “kesadaran alam”. Kita diajak untuk menjadi pribadi yang meditatif, tenang merenungkan. Pada sajak-sajak semacam ini Rendra muda memakai metafora surealis.
Membaca Proses Kreatif Saya, kita dibantu untuk memahami puisi-puisi Rendra tua (yang mayoritas berbentuk sajak pamflet), sehingga ketika kita membaca sajak-sajak pamflet tersebut, kita tidak sekadar terbakar amarah kita oleh kekecewaan (berputar-putar di ‘yang simbolik’), kita diantarkan untuk menjadi subyek politis yang secara sadar, walau tidak ikut berkuasa, turut serta menyuarakan hasrat dan pendapat mengenai keadilan sosial, ekonomi, dan politik. Kita diantarkan untuk menyadari ketimpangan sosial-politik-ekonomi secara struktural, menggugatnya, dan melampauinya (mengubahnya). Pada sajak-sajak pamflet Rendra memakai bahasa yang konkret dan lugas.


Bibliografi
Boucher, Geoff, The Charmed Circle of Ideology, A Critique of Laclau & Mouffe, Butler & Zizek, Melbourne: Re.Press, 2008
DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1984
Stavrakakis, Yannis, Lacan and the Political, London and New York.: Routledge, 1999
Verhaeghe, Paul, From Impossibility to Inability, Lon’s Theory on the Four Discourses


[1] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1984, 32-41
[2] realisme-sosialis
[3] politik adalah panglima
[4] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 33-35
[5] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 34
[6] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 34
[7] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 35
[8] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 35, 39-40
[9] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 40
[10] Geoff Boucher, The Charmed Circle of Ideology, A Critique of Laclau & Mouffe, Butler & Zizek, Melbourne: Re.Press, 2008, 195
[11] Tulisan Rendra tersebut diakhiri dengan satu paragraf singkat yang menceritakan bagaimana dirinya, yang berlatar belakang Jawa Mataram Baru itu, mengalami gegar budaya ketika mengunjungi Tana Toraja dan Tana Bugis. Peristiwa itu bahkan membuatnya mengkeret.
[12] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 33
[13] “In Lacan’s view, the ego can only be described as a sedimentation of idealised images which are internalised during the period Lacan names the ‘mirror stage’. -- Yannis Stavrakakis, Lacan and the Political, London and New York.: Routledge, 1999, 17
[14] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 33
[15]This interpellation primordially wounds the subject, permanently dividing the subject between an ineffable singular existence and an anticipatory social identity that is structurally incomplete.” -- Geoff Boucher, The Charmed Circle of Ideology, A Critique of Laclau & Mouffe, Butler & Zizek, 191-192
[16] Barang kali Rendra hendak berkata, “Aku penyair. Akan tetapi, gaya puisi Angkatan 45 itu bukan gayaku!”
[17]We start with the first discourse, that of the Master. [...] The agent is  the master-signifier, pretending to be one and undivided.” -- Paul Verhaeghe, From Impossibility to Inability, Lon’s Theory on the Four Discourses, 9
[18] Liyan yang lack dilambangkan dengan S(Ø). -- Geoff Boucher, The Charmed Circle of Ideology, A Critique of Laclau & Mouffe, Butler & Zizek, 200
[19] Rendra memiliki “isi puisi” tetapi tidak puas dengan “bentuk puisi” yang ada. “[T]he two levels of Lacan’s graph represent the permanent gap between the enunciation and the statement (enunciated).” (Lacan, 1998: 138-139) -- Geoff Boucher, The Charmed Circle of Ideology, A Critique of Laclau & Mouffe, Butler & Zizek, 198
[20] Kemungkinan besar sajak Chairil Anwar ini eksistensialis. Akan tetapi, saya belum menyelidikinya lebih dalam.
[21] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 34
[22] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 35
[23] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 33
[24] W.S. Rendra, “Proses Kreatif Saya”, dalam DKJ, Dua Puluh Sastrawan Bicara, 40

No comments:

Post a Comment