Friday, February 21, 2014

MENJADI LELAKI


MENJADI LELAKI
Pergulatan Batin Lelaki dalam Menjadi Lelaki di tengah Kebudayaan Jawa
oleh: Yohanes Padmo Adi Nugroho (136322009)

Pengantar
Pada awalnya saya ingin menulis paper mengenai iklan BKKBN di Stasiun Tugu Yogyakarta. Iklan tersebut menganjurkan usia ideal menikah, lelaki 25 tahun sedangkan perempuan 21 tahun. Iklan tersebut disertai pula gambar sepasang muda-mudi tengah sama-sama membawa tulisan “sekolah-kerja-nikah”.
dokumen pribadi
Pada awalnya saya tergelitik dengan jargon “sekolah-kerja-nikah” tersebut. Imaji hidup normal yang dipropagandakan pemerintah adalah sangat sederhana, yaitu “sekolah lalu kerja lalu nikah”. Maka, orang yang selibat seperti Frater Alexander Koko, SJ itu bukanlah orang yang “normal” menurut kaca mata iklan tersebut. Selain itu, apakah yang dimaksud dengan “kerja” di sana? Apakah bertani, berdagang di pasar tradisional, atau menjadi seorang seniman (pelukis misalnya) itu termasuk di dalam paradigma “kerja” yang ada di dalam iklan tersebut? Atau, “kerja” yang ada di sana masih berhubungan dengan “sekolah”, yang berarti mengharuskan memiliki ijazah, dan yang berarti pula “kerja” sebagai seorang karyawan (baca: buruh) pada suatu perusahaan?

Ketika saya tengah mengamati dan merenungkan foto di atas, perhatian saya kemudian bergeser pada jargon “lelaki min 25 tahun” dan “perempuan min 21 tahun”. Mengapa harus berbeda empat tahun? Mengapa lelaki harus lebih tua empat tahun? Jadi, ideal menikah itu adalah yang lelaki lebih tua empat tahun dari yang perempuan? Saya kemudian berandai-andai. Katakanlah benar ada seorang lelaki, sebut saja Joko, menjalani hidup normal seperti yang diiklankan itu. Katakanlah dia lulus SMA pada usia 17 tahun, kemudian kuliah S1 selama delapan semester. Maka, dia akan lulus pada usia 21 tahun. Jadi, dia harus bekerja dulu selama empat tahun sehingga pada usia 25 tahun dia bisa menikah.

Akan tetapi, hal yang berbeda terjadi pada seorang perempuan, katakanlah namanya Wati. Misalnya saja si Wati ini teman sekelas Joko di SMA. Dia juga lulus SMA pada usia 17 tahun dan kuliah selama delapan semester. Tentu dia akan lulus pada usia 21 tahun. Belum juga dia sempat bekerja, dia sudah bisa menikah! Apakah ada perandaian bahwa Wati akan menikahi seorang lelaki yang lebih tua empat tahun dari padanya (yang kini berusia 25 tahun dan sudah bekerja (mapan?) selama 4 tahun)?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengantarkan saya pada pertanyaan tentang posisi lelaki dan imaji tentang menjadi lelaki. Saya kemudian curhat kepada Noel Kurniawan. Kami mendapati hal yang sama, bahwa posisi lelaki itu dilematis. Satu sisi dia dituntut untuk menjadi lelaki dengan harus bekerja kurang lebih empat tahun lebih lama (baca: lebih mapan) dari istrinya. Sedangkan di sisi lain, terutama di luar negeri, banyak kritik dari para feminis tentang menjadi lelaki ini. Hal ini terus terang menggelisahkan saya, bahkan sampai-sampai membikin saya susah tidur selama beberapa hari pada hari-hari terakhir perkuliahan semester gasal ini. Posisi dilematis lelaki adalah menjadi benar-benar lelaki dianggap negatif oleh para feminis barat tersebut, tidak menjadi lelaki malah ditinggalkan kekasih hati. Akhirnya, saya memutuskan untuk membuat paper tentang hal ini, tentang “Menjadi Lelaki”.

Dalam paper ini saya hanya mengikuti alur utama, yaitu tentang “Menjadi Lelaki”. Saya membebaskan diri untuk bertanya dan merenung tentang itu tanpa harus merasa terikat dengan propaganda imaji (lelaki) ideal BKKBN tersebut di atas. Walaupun iklan itu merupakan trigger, paper ini tidak akan berakhir dengan sekadar mengkritisi iklan tersebut. Tujuan utama dari paper ini adalah menarasikan ulang tentang “Menjadi Lelaki”, terutama lelaki yang hidup di dalam nuansa kultur Jawa yang kental.

Wawancara dengan Beberapa Orang - Imaji Lelaki yang Dihidupi oleh Orang Yogyakarta dan Surakarta (Indonesia)
Saya pribadi memiliki imaji tentang bagaimana menjadi seorang lelaki. Akan tetapi, kemudian imaji saya tersebut menjadi salah satu yang saya pertanyakan. Maka, saya pun mulai mengadakan wawancara dengan sepuluh orang lelaki dan sepuluh orang perempuan. Pada umumnya, latar belakang mereka adalah orang yang hidup, tinggal, atau sekadar lahir dan besar di Yogyakarta dan Surakarta, serta pernah/tengah mengenyam pendidikan tinggi (kuliah). Tentu kita bisa berasumsi bahwa mereka memiliki latar belakang budaya Jawa yang kental sekaligus memiliki horizon berpikir yang cukup luas. Kepada mereka saya hanya mengajukan tiga pertanyaan sederhana: imaji lelaki ideal yang mereka hidupi/harapkan, realita lelaki yang ternyata mereka hidupi/temui/cintai, dan reaksi/posisi mereka menghadapi dua kutub tersebut. Dua perempuan yang saya wawancarai sangat spesial bagi saya. Perempuan yang satu adalah kekasih saya sendiri. Perempuan yang lain pernah menjadi aktor yang memerankan tokoh utama seorang lelaki dalam sebuah pementasan yang saya sutradarai. Kepada perempuan yang pernah menjadi aktor saya tersebut, saya menanyakan beberapa pertanyaan tambahan, yaitu perihal proses dia memerankan sosok lelaki.

Dari kesepuluh lelaki yang saya wawancarai hanya beberapa yang mementingkan/memberi tekanan pada penampilan fisik. Satu orang ingin memiliki penampilan yang tampan, yaitu lelaki yang rapi dan bersih. Akan tetapi, sembilan sisanya tidak menyukai imaji tersebut. Sembilan lelaki yang lain menolak imaji lelaki metroseksual. Ada yang ingin berpenampilan seperti suku Indian lengkap dengan potongan rambut mohawk dan tato di tubuh. Beberapa lelaki ingin memiliki rambut gondrong dan wajahnya dipenuhi dengan brewok yang dibiarkan tumbuh, sama sekali jauh dari imaji tampan tersebut. Kemudian, ketika saya memperdalam pertanyaan tentang imaji cowok macho, kebanyakan dari mereka justru merasa jijik. Mereka tidak menyukai imaji tubuh besar dan kekar a la Ade Rai (body builder). Mereka tidak memiliki permasalahan dengan tubuh kurus ataupun gemuk. Kalaupun harus kecil (kurus), itu adalah kecil yang berisi. Imaji macho yang ada di dalam benak mereka itu bukanlah macho seperti yang ada di dalam imaji orang-orang Amerika (besar dan kekar), melainkan macho dalam hal mentalitas. Mereka lebih menekankan mentalitas yang lelaki. Lelaki lebih dinilai dari sikapnya, dari pada penampilannya.

Saya kemudian bertanya lebih jauh tentang tokoh/figure yang menjadi ideal lelaki bagi mereka. Saya tidak terkejut dengan jawaban mereka sebab beberapa figure tersebut juga ada di dalam imaji saya. Muncul nama-nama seperti Yesus, Sidharta Gautama[1], Bhisma Dewabrata, Kresna (Wisnu), Batman (bukan Superman!!!)[2], Iron Man alias Tony Stark (versi Robert Downey Jr.)[3], Iwan Fals, Joker (musuh Batman), Wolverine (X-Men), Gambit (X-Men), Night Crawler (X-Men), I Wayan Sadre (seniman musik), dan nama beberapa teman yang secara fisik memiliki penampilan kurang lebih gondrong dan/atau brewokan (Sugeng Utomo, Andi Bramara, Tigana “Ibank” Marbun, dan Abram Widi Wibawa). Figure yang hidup di dalam imaji saya pribadi adalah Yesus (versi The Passion of Christ), Bhisma Dewabrata (versi novel Antara Kabut dan Tanah Basah), Jagal Bilawa (Wrekudara sewaktu muda, sewaktu menyamar selama 12 tahun) dan Bima dalam lakon Dewa Ruci (Wrekudara muda dengan rambut gondrong diore[4] dan belum digelung oleh Dewa Ruci), Antasena (versi novel Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata), Batman (versi trilogi The Dark Knight-nya Christopher Nolan), dan Joker (versi Heath Ledger, trilogi The Dark Knight). Baik saya maupun para lelaki itu memiliki imaji yang kurang lebih sama. Imaji lelaki dari Amerika dan dari Indonesia (Jawa) itu bercampur.

Figure lelaki yang kami imajinasikan adalah lelaki yang nglanangi[5]. Bukan lanang dalam arti macho secara fisik (besar dan kekar), sebab figure seperti itu menjijikkan bagi kami, tetapi lebih ke lanang (maskulin) yang memiliki mentalitas kuat, tahan banting, berani face to face, bukan seorang pengecut, tidak mlempem (seperti kerupuk kena air), teguh janji (menepati kata-kata, konsekuen), tidak menye-menye (mudah galau, cengeng), dan tidak ngondek (melambai, banci), tetapi juga sekaligus kalem, tidak brangasan (sok jagoan), gentlemen, dan meneb (sudah mengendap). Jadi, meskipun itu adalah figure Super Hero Amerika, yang diidealkan bukan imaji lelaki Amerikanya, melainkan sifat-sifat/watak yang menjadikan mereka pada akhirnya seorang hero.

Para perempuan yang saya wawancarai pun kurang lebih memberikan jawaban yang sama. Jawaban mereka ini sungguh mengejutkan saya. Saya sengaja mewawancarai beberapa perempuan yang, menurut perspektif saya, tomboi atau yang dapat mandiri secara finansial. Dari kesepuluh perempuan tersebut saya dapat menarik benang merah bahwa mereka mendambakan sosok lelaki yang lebih dari pada mereka sehingga dapat mengayomi dan melindungi, bahkan memimpin. Mereka mendambakan sosok lelaki yang secara mentalitas lebih dewasa[6], kebapakan (memiliki figure seorang bapak), bisa dijadikan kakak (memiliki figure seorang kakak), dan bisa diandalkan (sebagai seorang lelaki). Imaji lelaki ideal yang para perempuan itu dambakan kurang lebih sama dengan imaji lelaki yang digambarkan oleh lelaki-lelaki tersebut di atas, walaupun tidak semua dari mereka saling mengenal satu sama lain. Mereka tidak suka lelaki yang sok jagoan atau brangasan, apa lagi banci[7]. Mereka mendambakan sosok lelaki yang justru lebih meneb (dewasa) dari pada mereka, lelaki yang sudah menjadi lelaki (sudah menjadi man, bukan boy).

Kemudian saya bertanya tentang tokoh yang para perempuan itu idamkan sebagai seorang lelaki ideal. Bervariasi jawaban mereka, tetapi ternyata juga tak jauh dari tokoh ideal yang diidamkan para lelaki tersebut di atas. Ada yang menjawab Wolverine (versi Huge Jackman), perpaduan antara Mas Plango dan Mas Ginting (tenang, tidak banyak berbicara, dan sekaligus bijaksana serta mau memahami perempuan), para lelaki di dalam trilogi The Lord of The Ring (gondrong dan brewokan, seperti tokoh Aragorn atau para Riders of Rohan), Bung Karno, Aryo Bayu (pemeran Bung Karno dalam film Soekarno), lelaki berkacamata dan berjambang[8], Rio Dewanto, bahkan ada dua yang mengatakan seperti bapaknya.

Saya memberikan pertanyaan tambahan kepada perempuan yang menjadi aktor saya di dalam pertunjukan teater Pada Malam yang Itu. Namanya Dyah Ayu Perwitasari. Wita panggilannya. Di dalam pertunjukan itu dia menjadi tokoh utama yang memerankan seorang lelaki. Pada Malam yang Itu mengisahkan tentang Lelaki yang berjuang mencari dan bertemu mimpinya (yaitu Dia yang Tak Pernah Tiba), bahkan dia rela menanti lama di suatu taman untuk bertemu mimpinya tersebut, setelah Sang Waktu berhenti semalam demi penantiannya itu. Di dalam penantian itu, dia bertemu dengan  Masa Kecilmu serta bergulat dengan Kegelisahan. Lelaki yang kelelahan bergulat itu pun toh tetap membutuhkan penghiburan dari Angin Sepoi-sepoi[9].

Wita pun menceritakan prosesnya menjadi seorang lelaki. Dia kebingungan, lelaki yang bergulat dengan perasaannya itu seperti apa? Apakah reaksinya sama seperti perempuan? Galau yang lelaki itu yang seperti apa? Apakah sama dengan galau dia sebagai perempuan? Akhirnya dia mengamati para lelaki yang ada di sekitar dirinya. Dia pun berkesimpulan bahwa lelaki dan perempuan itu adalah sama-sama manusia sehingga dapat memiliki kegalauan yang sama. Yang membedakan adalah reaksi atas kegalauan itu. Dari pengamatannya, lelaki yang galau itu lebih banyak diam, dan hanya bercerita kepada orang yang dipercaya saja. Lelaki tidak lebay (berlebihan) dalam mengungkapkan kegalauannya, apa lagi ­menye-menye (cengeng).

Dari banyak model lelaki yang dia amati, dia mengambil beberapa unsur kelelakian mereka tersebut, kemudian dari unsur-unsur yang dipilih itu dia menciptakan sosok Lelaki versinya sendiri. Wita pun menjadi lelaki versi Wita, ciptaan Wita. Dia mengaku memang mengalami kesulitan. Meskipun dia tomboi, karakter laki-laki itu lebih dari sekadar tomboi. Akan tetapi, dari proses tersebut, dia lebih bisa memahami lelaki. Lelaki menjadi lelaki lebih karena pembawaannya, wataknya. Yang membuat seseorang menjadi lelaki adalah ketika dia teguh pada prinsip hidupnya (konsekuen). Akan tetapi, demi kepentingan pertunjukan, dia tetap harus membentuk gesture yang lelaki. Dia pun mengambil beberapa contoh gesture para lelaki yang diamatinya, yang bagi Wita itu adalah gesture yang tegas dan kaku. Dia mengambil stereotype yang dia amati.

Kritik Michael S. Kimmel atas Maskulinitas (di Amerika)
 Michael S. Kimmel merupakan seorang lelaki kulit putih Amerika yang lahir di New York pada 26 Februari 1951. Dia adalah seorang sosiolog Amerika dengan spesialisasi pada Kajian Gender. Pada tahun 1999 dia menerima anugerah dari SWS sebagai “Feminist Lecturer”, dan pada tahun 2010 oleh SWS dia dinamai “Feminist Mentor[10]. Latar belakangnya adalah dunia Amerika di mana di sana terdapat rasisme, neo-nazisme, kapitalisme-liberalisme (persaingan bebas), fanatisme beragama (Protestantisme yang sangat plural) yang acap kali sangat sempit dan mengarah kepada rasisme dan seksisme serta anti-LGBT, juga kebijakan-kebijakan politik yang konservatif[11]. Dari latar belakang seperti itulah saya menyarankan kita sebaiknya memahami kritik Michael S. Kimmel atas maskulinitas.

Di dalam Feminism & Masculinities, terutama di dalam bab berjudul Masculinity as Homophobia: Fear, Shame, and Silence in the Construction of Gender Identity[12], Michael S. Kimmel mengutarakan panjang lebar tentang konstruksi sosial dari gender, dalam hal ini menjadi lelaki, dan kemudian mengkritik konstruksi tersebut. Kimel berkata,
I view masculinity as a constantly changing collection of meanings that we construct through our relationship with ourselves, with each other, and with our world. Manhood is neither static nor timeless; it is historical. Manhood is not the manifestation of an inner essence, it is socially constructed. Manhood does not bubble up to consciousness from our biological makeup; it is created in culture[13] (bold dari saya).”
Kimmel menekankan bahwa gender itu konstruksi sosial, bahwa menjadi lelaki itu tergantung pada kebudayaan. Itulah sebabnya, dia berargumentasi, bahwa definisi tentang kelelakian (manhood) itu selalu berubah, bahkan dipengaruhi pula oleh kondisi sosial-politis. Kimmel menolak gagasan esensialisme, bahwa kelelakian itu sudah ada begitu saja dengan sendirinya.

Dengan mengubah sudut pandang di dalam memahami kelelakian, Kimmel percaya bahwa kami, lelaki, tidak sedang kehilangan kelelakian tersebut, tetapi justru memberi kami suatu hal yang bermakna, sebuah kapasitas untuk bertindak. Kami justru diberi kesempatan untuk mengubah paham kelelakian.

Kimmel pun membongkar apa yang disebutnya maskulinitas hegemonis[14]. Kimmel mengutib kata-kata seorang sosiolog bernama Erving Goffman. Goffman (1963) menulis bahwa di Amerika hanya terdapat ‘one complete, unblushing male’:
[A] young, married, white, urban, northern heterosexual, Protestant father of college education, fully employed, of good complexion, weight and height, and a recent record in sports.”[15]
Setiap lelaki Amerika (kulit putih tentunya, sebab lelaki kulit hitam, cokelat, kuning, ataupun merah sudah tidak termasuk lelaki di dalam persepktif ini) berjuang mati-matian untuk memenuhi kriteria tersebut di atas. Setiap lelaki yang gagal memenuhi kriteria yang sedemikian rumit dan tinggi tersebut akan merasa tidak berharga, tidak lengkap, dan inferior. Kelelakian adalah menjadi kuat, sukses (dalam karier), memiliki kemampuan, dapat dipercaya, dan memegang kendali. Lebih dari pada itu, lelaki yang benar-benar lelaki, menurut perspektif tersebut, adalah lelaki yang mampu menguasai lelaki-lelaki lain dan bahkan mampu menguasai para perempuan.

Kimmel mengatakan bahwa maskulinitas sebagai ‘pelarian dari yang feminin’. Lelaki mana yang tahan dengan ejekan sebagai ‘anak mami’ atau ‘banci’[16]? Dalam persepktif psikoanalisa freudian, pada fase genital, ketika terjadi Oedipus Complex, di mana si bocah lelaki menaruh hasrat seksual kepada ibunya sendiri, hadirlah sang ayah (figur lelaki) yang mengkastrasi/melarang hasrat tersebut. Kastrasi/pelarangan tersebut oleh Kimmel digambarkan sebagai suatu penindasan[17]. Si anak lelaki itu kemudian, demi melepas “pelukan” ibunya, mengidentifikasi dirinya sebagai si penindas (figur ayah sebagai lelaki) tersebut. Kini, si anak lelaki tersebut adalah si penindas itu sendiri. Kemudian, Kimmel menjelaskan, seumur hidupnya, si anak lelaki itu akan terus-menerus mencoba membuktikan diri bahwa dia bisa lepas dari “pelukan” ibunya tersebut dengan senantiasa menindas. Apakah yang ditindas? Yang ditindas sebenarnya tidak lain adalah hasratnya untuk kembali ke dalam “pelukan” ibunya, sebab itu dipandang sebagai sebuah kegagalan menjadi lelaki. Yang ditindas adalah nilai-nilai feminin, bahkan dia melakukan devaluasi atas perempuan.

Dari usaha pembuktian di atas, Kimmel melihat adanya suatu persaingan di dalam dunia lelaki. Para lelaki bersaing untuk membuktikan siapa yang lebih mampu. Lelaki selalu memamerkan kemampuan dan keberhasilannya meraih sesuatu kepada lelaki lain. Yang dibutuhkan lelaki adalah penerimaan dan penghargaan dari lelaki lain. Dengan demikian, menurut Kimmel, hal tersebut mengantar kepada lahirnya seksisme, yaitu penilaian perempuan dipandang kurang berharga untuk diperhatikan.

Itu semua terjadi jika si anak lelaki mengidentifikasi diri dengan ayahnya, melihat dunia dari sudut pandang ayahnya. Akan tetapi, bagaimana jika si anak lelaki tersebut justru melihat dunia dari sudut pandang ibunya? Bagaimana jika si anak lelaki tersebut mengidentifikasi diri sebagai ibu? Dia akan melihat ayahnya dengan penuh keterpesonaan, kekaguman, kengerian, dan hasrat. Dia akan menaruh hasrat seksual kepada sesama lelaki. Akan tetapi, untuk benar-benar menjadi lelaki, dia harus menekan homoerotik tersebut. Homofobia, Kimmel menerangkan, adalah segenap usaha untuk menekan hasrat tersebut, untuk memurnikan segenap relasi dengan lelaki-lelaki lain, bahwa dirinya bukan seorang homoseksual. Homofobia adalah segenap usaha lelaki untuk membuktikan bahwa mereka bukan seorang banci dan bukan seorang homoseksual. Kimmel di dalam tulisan ini menulis bagian Masculinity as Homophobia jauh lebih panjang lebar dari pada bagian-bagian lain seperti misalnya Masculinity as The Flight from The Feminine.

Akan tetapi, yang perlu saya hadirkan dalam paper ini adalah analisis Kimmel tentang lelaki Amerika[18] yang gagal menjadi lelaki tersebut. Para feminis Amerika mengkritik maskulinitas, bahwa lelaki itu memiliki kuasa penuh. Tentu saja para lelaki Amerika tidak terima dengan tuduhan itu. “What do you mean, men have all the power? What are you talking about? My wife bosses me around. My kids boss me around. My boss bosses me around. I have no power at all! I’m completely powerless![19] Mengapa lelaki Amerika justru merasa powerless? Negara mereka Adikuasa! Namun, para lelakinya merasa tak berkuasa sama sekali. Ternyata, ini yang hendak saya garis bawahi, standar kelelakian Amerika begitu tinggi sehingga hanya segelintir lelaki tertentu sajalah yang berhasil meraihnya.

Siapa sajakah lelaki Amerika yang mampu meraihnya? Saya pikir, mungkin Barack Obama, presiden Amerika itu salah satunya. Benarkah demikian? Dia berkulit hitam, tentu tidak sesuai dengan kriteria tersebut di atas. Lagi pula, ini kejadian yang menarik dan lucu bagi saya, ketika menghadiri pemakaman Nelson Mandela, Barack Obama duduk di tengah-tengah antara istrinya di sebelah kiri dan seorang Perdana Menteri perempuan berkulit putih (saya lupa dari negara mana) di sebelah kanan. Barack Obama ternyata asyik mengobrol dengan Perdana Menteri perempuan kulit putih itu, bahkan mereka melakukan selfie (foto narsis) bertiga (bersama dengan seorang pejabat, lelaki kulit putih lain). Wajah istri Obama yang biasa dihias dengan senyum itu menampakkan wajah kesal dan tidak senang dengan kelakuan suaminya itu. Perempuan kulit hitam itu hanya cemberut. Sampai pada suatu saat di mana istri Obama itu meminta, mungkin memerintahkan, bertukar tempat duduk dengan suaminya. Apa yang dilakukan lelaki nomor satu di Amerika tersebut? Dia menurut. Dia berganti tempat duduk dengan istrinya. Senyum ceria di wajah Obama ketika mengobrol dengan Perdana Menteri perempuan itu lenyap seketika. “Whoever you are, no matter you are The President of The United States, when your wife says, ‘Change the seat!’ you’ll just change the seat,” ejek sebuah meme di facebook.

Menarasikan Kembali ‘Menjadi Lelaki’
Perlu waktu bagi saya sehingga saya dapat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kimmel bahwa maskulinitas itu bukanlah suatu esensi yang kita manifestasikan begitu saja sehingga kelelakian kita sama sekali tidak berubah sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Saya setuju dengan Kimmel, bahwa gender itu konstruksi sosial, bahwa menjadi lelaki itu tergantung pada kebudayaan. Itulah sebabnya saya menekankan kata “Amerika” di belakang kata “lelaki” ketika membahas Kimmel tersebut di atas. Perjumpaan saya dengan dua puluh orang (sepuluh lelaki dan sepuluh perempuan) yang menjadi responden saya tersebut di atas menghadirkan suatu realita yang lain dari pada realita yang ditemui Kimmel di Amerika.

Imaji Maskulinitas yang Berbeda
Kalau boleh saya mengatakan, berdasarkan imaji lelaki yang diceritakan oleh keduapuluh responden saya tersebut di atas, baik lelaki maupun perempuan, maskulinitas hegemonis yang ada di Indonesia, khususnya di Surakarta-Yogyakarta (Jawa) ini sangat berbeda dengan yang dibongkar Kimmel di atas. Tidak ada keharusan untuk menjadi seorang kulit putih. Ketika menyebutkan tokoh Wolverine dan Batman, yang pertama dihadirkan bukan bahwa Wolverine dan Batman digambarkan sebagai seorang lelaki kulit putih Amerika Utara (Wolverine seorang Kanada sedangkan Bruce Wayne seorang warga Gotham, metafora New York), melainkan pertama bahwa mereka sebagai lelaki mengalami sebuah pergulatan batin, perjalanan batin, dan akhirnya berhasil melampaui pergulatan tersebut, sehingga mereka hadir sebagai sosok pahlawan. Hal yang sama hadir ketika mereka menyebutkan tokoh Dewabrata (dua lelaki, selain saya tentunya, menyebut figur ini) atau ketika saya menyebutkan tokoh Bima dalam lakon Dewa Ruci. Yang pertama hadir adalah pergulatan mereka, perjalanan batin mereka, pengalaman rohani-spiritual mereka yang membuat mereka pada akhirnya hadir sebagai seorang sosok pahlawan. Ega Mesita Purba atau yang sering dipanggil Gaplek dan AEN (yang bersangkutan tidak bersedia disebutkan namanya) sama-sama menekankan keteguhan hati Bisma Dewabrata yang setia kepada sumpah (apa yag diucapkannya). Inilah yang menjadikan dia lelaki, melakukan apa yang dikatakannya. Dalam novel Antara Kabut dan Tanah Basah dikisahkan bagaimana Bisma Dewabrata mengalami pergulatan batin yang cukup serius, dan perjalanan hidupnya membuat dia menjadi lelaki yang meneb. Lelaki yang meneb ini rupanya juga menjadi gambaran ideal Yohanes Jatmiko Yuwono, atau yang sering disapa Miko. Meskipun dia mengidolakan Wolverine dan dua tokoh komik Marvel lainnya, dia tidak memiliki imaji lelaki yang sok jagoan. Dia mengimajikan lelaki yang family-man yang bertanggung jawab dan tidak cemen. Bahkan, dia mengatakan bahwa wandu itu, walaupun gemulai, tetap bisa dikatakan lelaki, karena dia tidak cemen[20]. Miko sendiri adalah pendekar pencak silat. Walaupun demikian, postur tubuhnya jauh dari ideal lelaki Amerika yang suka bela diri. Dia tidak ingin menjadi sok jagoan.

Maskulinitas hegemonis yang dihidupi dan didambakan oleh baik lelaki dan perempuan Surakarta-Yogyakarta itu justru lelaki yang kalem, meneb (karena dengan demikian dia lebih dewasa dan bijaksana), serta dapat diandalkan. Dia memiliki kemampuan, tetapi tidak mengumbar atau menyombongkan kemampuannya tersebut. Ibaratnya adalah air sungai yang dalam, tenang menghanyutkan. Lebih dari pada fisik, maskulinitas hegemonis yang dihidupi dan didambakan itu lebih kepada watak. Kita bisa memahaminya dengan memahami latar belakang spiritualitas Jawa (Kejawen) yang menekankan ketenangan batin, kedamaian jiwa, dan harmoni.

Lelaki yang Lembut, Bukan Lembek
Kimmel mengatakan bahwa maskulinitas (Amerika) adalah ‘pelarian dari yang feminin’. Apakah itu berlaku juga di Jawa? Memang benar bahwa lelaki Jawa (bukan hanya lelaki sebenarnya, perempuan pun juga) diharapkan untuk lepas dari ibu. Lelaki diharapkan lepas dari orang tua. Mentas[21] istilahnya. Bisa menghidupi dirinya sendiri, mandiri. Masih ingat di dalam ingatan saya ketika saya kecil saya dilatih untuk menjadi mandiri. Mandi sendiri, makan sendiri, bahkan disuruh mengambil barang yang letaknya ada di atas almari sendiri. Suatu bentuk kemanjaan dan ketergantungan adalah sebuah kegagalan. Akan tetapi, apakah usaha mandiri tersebut disertai dengan usaha menindas nilai-nilai feminin seperti yang diutarakan Kimmel di atas? Jika benar bahwa nilai-nilai maskulinitas itu identik dengan kekerasan dan perjuangan, sedangkan nilai-nilai femininitas itu identik dengan kelembutan dan kesabaran, orang-orang Amerika itu bisa saja dengan mudah mengatakan bahwa kami, orang Jawa ini, tidak sepenuhnya lelaki. Hanya mereka yang brangasan (sok jagoan) sajalah yang kemudian dapat dikatakan lelaki jika demikian. Ternyata kami tidak menghidupi konsep itu. Raden Hanung Satrio Pitono, salah seorang responden saya, masih keturunan ningrat, mengatakan bahwa lelaki yang benar-benar lelaki itu adalah lelaki yang mampu memadukan unsur-unsur maskulinitas dan femininitas. Yang dipadukan adalah nilai-nilainya, sebab Itok, demikian R. Hanung Satrio Pitono disapa, menolak imaji banci yang cengeng dan melambai. Walaupun ada harmonisasi antara unsur-unsur maskulinitas dan feminitas, Itok tetap mengidealkan lelaki yang wani atos[22], mentalnya kuat[23]. Ketika tiba saatnya harus berjuang dan ‘berperang’, dia berani ‘mengangkat senjata’. Dia[24] mencontohkan tokoh Yesus. Kita bisa membayangkan ketika Yesus memberanikan diri mengatakan ‘ya’ pada panggilan hidupnya, walaupun sempat mengalami pergulatan batin yang dahsyat di Taman Getsemani. Apakah Yesus harus berkelahi untuk menjadi berani?

Menjadi lelaki bukan berarti harus menolak nilai-nilai femininitas. Akan tetapi, menerima nilai-nilai femininitas, tidak berarti memandang yang maskulin itu buruk atau jahat. Lelaki yang meneb itu tidak sama dengan lelaki yang pasif. Diamnya lelaki yang meneb itu adalah diam yang mencoba memahami, menelaah dengan bijak, untuk kemudian bertindak. Dewabrata itu diam ketika pada mulanya Kurawa dan Pandawa bertikai. Dia mencoba memahami pertikaian dua kubu yang masih saudara sepupu tersebut di dalam konteks sumpah wadatnya dahulu kala. Andai dia tidak bersumpah wadat dan seumur hidup tidak menuntut takhta, tentu pertikaian yang berujung pada perang Baratayudha itu tidak akan pernah terjadi, sebab dialah pewaris paling sah takhta Hastinapura. Setelah dia memahami, Dewabrata bertindak. Menjadi lelaki yang baik bukan berarti menjadi lelaki yang manis, pasif, diam, dan takut bertindak. Deshi Ramadhani, dalam bukunya Adam Harus Bicara, mengatakan, “Lelaki yang pasif, diam, takut bertindak bukanlah lelaki baik. Ia bahkan bisa melukai banyak perempuan.”[25]

Hanya Lelaki yang Dapat Mengafirmasi Kelelakian Lelaki Lain di dalam Solidaritas
Kimmel melihat adanya suatu persaingan di dalam dunia lelaki Amerika. Mereka saling bersaing untuk membuktikan bahwa mereka lelaki. Yang dibutuhkan lelaki adalah penerimaan dari lelaki lain. Apakah hal yang sama terjadi pula di dalam dunia lelaki Surakarta-Yogyakarta? Benar. Apa yang dilihat Kimmel itu pun terjadi di Surakarta-Yogyakarta ini. Hario Adi Nugroho, seorang responden saya, bahkan menghadirkan nama-nama teman lelakinya ketika saya tanyai. Dia ingin seperti mereka, para lelaki yang dekat dengannya itu. ‘Ingin seperti’ dapat saya ganti dengan ‘ingin menyaingi’, bukan? Dia ‘ingin menyamai’ apa yang sudah diraih oleh nama-nama lelaki yang dia sebutkan tersebut. Apa yang telah diraih para lelaki itu menjadi patokan keberhasilan. Memang benar bahwa lelaki selalu menjadikan raihan lelaki lain sebagai tolok ukur dirinya. Saya pribadi, sebagai peyair, selalu membandingkan diri dengan para lelaki lain, yang juga penyair, untuk mengukur seberapa jauh capaian estetis dan akademis saya. Dan pengakuan dari satu orang lelaki, apa lagi lelaki yang seprofesi, itu jauh lebih berharga dari pada pengakuan banyak perempuan. Bukan berarti bahwa penilaian perempuan itu tidak penting, penilaian seorang ibu atau pertimbangan lain dari seorang kekasih itu penting, melainkan bahwa seakan-akan kami hendak berkata, “Lihat, bahkan rivalku, yang bergulat bersama-sama denganku di dalam dunia yang sama itu, pun mengakuinya.”

Memang benar bahwa suatu persaingan bisa saja mengarah kepada konfrontasi dan perselisihan. Akan tetapi, tidak selalu persaingan itu mengarah ke sana. Saya dan teman-teman lelaki sesama penyair, meskipun dalam pengertian tertentu saling bersaing sekadar untuk mendapatkan pengakuan dari sesama lelaki, toh tidak sampai kepada suatu konfrontasi dan perselisihan. Kalaupun ada perbedaan pendapat di antara kami para lelaki ini, dengan berani kami akan mengutarakannya dan dengan terbuka kami pun akan menerima serta memahaminya. Saya dan teman-teman penyair lelaki[26] itu memiliki perjuangan yang sama. Dan, di dalam kebersamaan itulah kami saling mengafirmasi kelelakian kami. Kimmel melupakan apa yang disebut kesetiakawanan/solidaritas. Kesetiakawanan/solidaritas ini menjadi nilai yang penting di dalam menjadi lelaki. Saya bisa memaklumi mengapa Kimmel tidak menghadirkan hal tersebut. Latar belakang Amerika yang menjunjung tinggi persaingan bebas cukup menjawab.

Seorang lelaki akan dipersatukan dengan lelaki-lelaki lain di dalam suatu perjuangan/misi/panggilan hidup yang sama. Ikatan antara lelaki-lelaki di dalam perjuangan yang sama itu adalah ikatan yang ‘sebelah-menyebelah’ (side by side). Dengan ikatan ‘sebelah-menyebelah’ inilah para lelaki dapat berjuang bersama, saling melindungi dan mendukung, bahkan saling mengafirmasi kelelakian masing-masing. Ikatan itu tidak sengaja ditimbulkan oleh lelaki, tetapi ikatan itu muncul dengan sendirinya oleh karena perjuangan bersama itu tadi, apa lagi jika perjuangan itu melibatkan suatu pengalaman mencekam bersama. Dan, itu semua membutuhkan waktu.[27]

Contoh yang saya alami dalam menjadi lelaki adalah ketika saya dan teman-teman lelaki saya touring. Motor-motor sudah kami siapkan jauh-jauh hari. Kemudian kami berangkat dengan berbaris rapi.[28] Awalnya dua baris. Lalu kemudian menjadi satu baris yang zig-zag. Dalam formasi zig-zag ini, kami tengah membentuk ikatan ‘sebelah-menyebelah’, yang depan melindungi yang belakang dan yang belakang melindungi yang depan. Paling depan sendiri memimpin barisan, sedangkan yang paling belakang sendiri menyapu barisan. Ada dua belas sepeda motor. Saya di depan sendiri memimpin barisan. Ketika harus melewati truck atau bus besar, kami harus saling melindungi supaya tidak terjadi kecelakaan dan semua pengguna jalan dapat selamat. Yang depan selalu harus memberi tahu yang di belakang apa saja yang dilihatnya dengan kode-kode tangan, sebab yang di belakang tentu akan kesulitan melihat jika berada di dalam situasi melewati truck ini. Yang paling depan berusaha memberi tahu sopir truck untuk menepikan kendaraannya supaya barisan bisa lewat. Akan tetapi, pernah pada suatu kali formasi itu kacau. Saya menepikan truck ke kiri, dua lelaki di belakang saya pun turut serta mendahului truck tersebut dari sebelah kanan. Namun, salah seorang teman kami yang berada di urutan keempat mengambil jalur sendiri. Dia hendak melalui truck tersebut dari sebelah kiri. Mengetahui truck menepi ke kiri, dia mengerem mendadak, lalu terjatuh. Kecelakaan. Dua orang sweeper mengejar kami, lalu memberi tahu bahwa one man down. One man down is just too much!!! Kami pun berbalik arah menuju ke lokasi kejadian. Dia tidak mengalami cedera yang serius. Rem sepeda motornya ngancing[29]. Dia bermaksud hendak melanjutkan perjalanan. Setelah kami yakin bahwa dia bisa melanjutkan perjalanan, kami berangkat kembali. Di tempat tujuan kami beristirahat sembari tertawa mengenang peristiwa tersebut. Ikatan itu tumbuh seiring dengan waktu berjalan.

Hubungan Emosional yang Kuat Antarlelaki
Kimmel menerangkan bahwa homofobia adalah segenap usaha lelaki untuk membuktikan bahwa mereka bukan seorang banci dan bukan seorang homoseksual. Definisi homofobia yang diterangkan oleh Kimmel lebih pada homofobia kepada diri sendiri, bahwa seorang lelaki akan merasa tidak nyaman (takut) ketika mendapati dirinya sendiri menjadi seorang banci, bahkan seorang homoseksual. Seumur hidupnya dipenuhi dengan perjuangan pembuktian ini. Akan tetapi, lebih dari pada sebuah perjuangan pembuktian bahwa dia bukan seorang banci ataupun homoseksual, seorang lelaki akan lebih digelisahkan dengan pertanyaan lain yang lebih mendasar. Kimmel sebenarnya sudah melihat hal ini, akan tetapi di dalam artikel Masculinity as Homophobia: Fear, Shame, and Silence in the Construction of Gender Identity dia tidak menelusurinya lebih jauh. Sebenarnya, pertanyaan mendasar yang selalu menggelisahkan setiap lelaki adalah “Apakah aku mampu?”[30] Apakah aku mampu menguasai apa yang menjadi duniaku? Apakah aku mampu menguasai jalan hidup yang aku pilih?

Pengalaman saya di seminari dan novisiat MSF di Salatiga dulu dapat menjadi contoh yang eksistensial. Saya hidup bersama para lelaki. Memang ada beberapa perempuan di sana. Para perempuan itu adalah Bu Parmo dan Bu Semi yang menjadi juru masak, serta empat orang biarawati yang sekali seminggu belajar bersama kami. Akan tetapi, perjumpaan yang intens terjadi antara saya dengan kedelapan belas frater lainnya. Sebuah perjumpaan yang sangat intens dengan para lelaki! Maka, pertanyaan “Apakah saya mampu?” tersebut semakin menghantui. Afirmasi dari sesama konfrater (yang laki-laki) itu menjadi sangat dirindukan, bahwa aku mampu. Mulai dari berkebun dan mengolah tanah (menanam sayur-sayuran seperti kacang panjang, terong, buncis, cabai, dan sebagainya), memasak (menanak nasi, merencanakan dan membuat sayuran dan lauk untuk lebih dari dua puluh lelaki lainnya)[31], membuat teh/susu/sirup dalam jumlah yang sangat besar, menyapu, mencuci piring dan alat-alat dapur, membersihkan kandang (kambing, unggas, anjing), olah raga (sepak bola atau voli), menyiapkan misa, memimpin ibadat, membaca lantang Kitab Suci, bernyanyi atau mendaraskan mazmur, dan lain sebagainya. Saya hampir belum pernah melakukan itu semua sebelum itu. Pengalaman seminari itu adalah pengalaman ketika kelelakian saya ditantang, “Apakah saya mampu melakukan itu semua?” Belajar mususi[32], menanak nasi, berkebun, membuat minuman, dan lain sebagainya. Pujian dari sesama konfrater terlebih dari pastor itu adalah afirmasi bagi kelelakian kami, bahwa kami bisa. Pernah kami mengambil terong yang kami tanam, lalu bersama-sama menggorengnya. Kemudian ada seorang pastor yang turut makan terong itu sambil bercanda bersama kami. Peristiwa sederhana itu tak terlupakan!

Seiring berjalannya waktu, ikatan di antara kami menjadi kuat, sebab kami selalu menjalankan “petualangan” bersama[33]. Kami saling mengafirmasi kelelakian kami. Akan tetapi, bukan berarti bahwa menangis adalah tabu. Kami menangis. Namun, kami menangis pada saat ikatan antarlelaki yang kuat itu harus putus, yaitu ketika ada salah seorang konfrater kami mengundurkan diri. One man down is just too much!!! Pada malam itu kami menangis bersama. “Bajingan! Kenapa kamu keluar? Kenapa kamu meninggalkan kami?” kata kami sambil menangis. Kami berpelukan. Dan, keesokan harinya orang itu sudah tidak lagi ada bersama-sama dengan kami. Itu menyakitkan. Hanya saja, solidaritas itu tetap kami bawa. Beberapa tahun kemudian saya memutuskan keluar dari biara. Beberapa teman pun juga demikian. Kami berjumpa lagi di Jogja. Kami reuni. Ikatan itu masih ada, kuat, bahkan di saat saya menulis paper ini. Salah seorang dari kami bekerja di Malang. Ketika saya pergi ke Bromo November lalu, Jonathan, teman saya itu, menyambut saya dengan kehangatan dua botol bir. Semalam saya menginap di kosnya di Malang.

Toleransi atas Kehadiran Sosok Banci Tidak Mengurangi Kelelakian
Responden saya, baik lelaki maupun perempuan, mendambakan lelaki yang tidak menye-menye, tidak cemen, bukan pengecut, bahkan mereka menolak figur banci sebagai lelaki. Dalam paradigma yang hidup di dalam masyarakat (Surakarta-Yogyakarta, Indonesia), banci itu bukan lelaki juga bukan perempuan. Para responden tersebut menerima eksistensi banci, tetapi banci bukanlah lelaki[34]. Penerimaan eksistensi banci ini memang dibarengi dengan perasaan gilo[35], itu diakui oleh mereka. Namun, mereka masih bisa menoleransi perasaan itu sehingga masih bisa memberi ruang bagi kehadiran para banci, bahkan juga kehadiran para lelaki homoseksual[36]. Akan tetapi, rasa gilo yang bisa saja berujung pada kemarahan itu akan muncul ketika seorang banci atau seorang gay (lelaki homoseksual) itu mulai resek. Miko, salah seorang responden saya tersebut di atas, menceritakan kemarahannya kepada seorang lelaki homoseksual. Pada malam hari itu ada reuni sekolah di suatu rumah makan waralaba di Jogja. Miko menghadiri undangan reuni tersebut. Beberapa teman mengajak pasangannya. Salah seorang teman Miko adalah seorang lelaki yang kewanita-wanitaan (banci?). Lelaki yang kewanita-wanitaan itu pun mengajak pasangannya, seorang lelaki (yang homoseksual). Semua orang tentu bisa menerima kehadiran lelaki yang kewanita-wanitaan tersebut, mereka menoleransi kehadirannya juga kehadiran kekasihnya. Kemudian, kekasih si lelaki yang kewanita-wanitaan itu duduk di sebelah Miko. Lelaki, kekasih teman Miko itu, mulai resek. Dia menggerayangi Miko. Awalnya Miko, seorang lelaki heteroseksual, memberi peringatan, “Sekali lagi kamu melakukan itu, asbak ini mendarat di wajahmu.” Namun, lelaki (homoseksual) itu tetap saja nekat menggerayangi Miko. Apa yang terjadi selanjutnya? Miko yang dipenuhi dengan rasa gilo dan amarah berdiri lalu memukul wajah lelaki itu hingga berdarah. Kita bisa membayangkan betapa keras pukulan yang diberikan Miko, seorang atlet pencak silat, yang dipenuhi dengan amarah tersebut. Lelaki homoseksual itu sampai secara harafiah tidak mampu berkata-kata sebab mulutnya bonyok. Teman Miko, kekasih lelaki homoseksual itu, segera mengajak lelaki yang bonyok itu pulang. Setelah mengantarkan kekasihnya itu pulang, teman Miko itu kembali ke acara reuni. Lelaki yang kewanita-wanitaan itu pun meminta maaf kepada Miko. Dia merasa malu atas kelakuan kekasihnya tersebut. Ketika Miko bertanya bagaimana keadaan kekasih temannya itu, lelaki yang kewanita-wanitaan itu hanya berkata, “Kami sudah putus. Setelah kuantar pulang tadi, aku memutuskannya.”

Memang benar bahwa imaji maskulinitas yang dihidupi oleh masyarakat Surakarta-Yogyakarta adalah imaji lelaki yang macho dalam arti bahwa lelaki itu tidak menye-menye, tidak cengeng (sedikit-sedikit mudah mengeluh dan mudah menangis), tidak cemen (memiliki kemampuan), dan bukan seorang pengecut. Akan tetapi, di saat yang sama mereka bisa menoleransi keberadaan dan kehadiran sosok banci atau lelaki homoseksual, sejauh mereka tidak resek. Lagi pula, banyak sosok banci atau lelaki homoseksual yang baik, tidak resek. Saya mengenal beberapa dari mereka. Salah satu dari kenalan itu bahkan adalah tetangga rumah dan dulu teman satu SMA, bahkan pernah satu panggung teater dengan saya. Perjumpaan dan pertemanan kami dengan orang-orang semacam itu tidak membuat kami merasa kurang lelaki. Struktur masyarakat di sini berbeda dengan struktur masyarakat yang ditemui oleh Kimmel.

Imaji Lelaki Macho a la Amerika yang Menjijikkan
Dalam buku What Men Want, Why Men Think, Feel, & Act The Way They Do, yang ditulis oleh H. Norman Wright kepada para lelaki Kristen Amerika, dikatakan bahwa imaji lelaki macho itu justru adalah musuh terbesar bagi setiap lelaki. Kata macho dalam masyarakat Amerika dijelaskan Wright dengan empat kriteria yang kurang lebih senada dengan apa yang dikutip Kimmel atas Goffman tersebut di atas, yaitu: (1) Apapun taruhannya, hindari segala sesuatu yang bahkan sedikit saja menyerupai sesuatu yang feminin, seperti hal-hal yang berkait dengan perasaan, kata-kata yang menyangkut perasaan, air mata, kelemahan, dll.; (2) Apapun taruhannya, raihlah status yang mempunyai suatu arti bagi lelaki lain; (3) Pastikan bahwa Anda tampil keras, kuat, dan bahkan tidak bergantung pada apapun. (4) Jadilah seagresif mungkin[37]. Macho dipandang Wright sebagai topeng. Wright tidak mempermasalahkan persaingan antarlelaki. Yang dipermasalahkan Wright adalah “apapun taruhannya”. “Seorang lelaki macho adalah seseorang yang berusaha terlalu keras untuk menyamai standar yang keliru yang dibuat oleh masyarakat kita (Amerika) untuk sebuah kejantanan,” kata Wright[38]. Lelaki macho adalah lelaki yang tak tersentuh, jauh, dan tidak realis. Imaji macho a la Amerika yang digambarkan Wright dan dikritik oleh Kimmel tersebut jauh dari realita yang saya alami secara eksistensial dan saya temui dari perjumpaan saya bersama sepuluh responden lelaki saya, bahkan jauh dari yang diharapkan sepuluh responden perempuan saya tersebut.

Memang beberapa responden memakai kata macho, tetapi kata itu lebih untuk menggambarkan maskulinitas. Sama sekali berbeda dengan imaji macho a la Amerika tersebut di atas. Figur lelaki yang lakik banget yang dihidupi para responden saya tersebut adalah figur seorang bapak dan/atau kakak, pengayom, pelindung. Bukan sekadar pemimpin (diktator), tetapi pengayom (yang mengayomi dengan kelembutan dan kedewasaan). Yang macho adalah yang berhasil mengharmonikan nilai-nilai maskulin dan feminin. Seperti Yesus historis, seperti Sidharta Gautama, seperti tokoh Dewabrata (yang selain berani teguh memenuhi janji untuk wadat, juga dengan bijaksana memomong anak-turun dinasti Kuru, yaitu Pandawa dan Kurawa), dan mungkin seperti Paus Fransiskus yang sekarang. Wright berkata, “Bukankah amat menarik bahwa justru seorang Lelaki yang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang Lelaki paling berkuasa di dunia justru memilih untuk menjadi lembut, untuk menjadi seorang hamba, dan untuk melayani mereka yang disakiti?”[39]

Mengembalikan Kembali kepada Lelaki (Kesadaran Lelaki atas) Kuasa
Deshi Ramadhani mengutip salah satu dialog dalam film berjudul Disclosure yang dibintangi oleh Demi Moore dan Michael Douglas, “Sexual abuse is not about sex! It’s about power![40] Sexual abuse adalah abuse of power. Orang dengan status tertentu memiliki kuasa tertentu atas orang lain. Lelaki tertentu memiliki kuasa tertentu atas lelaki lain dan atas perempuan. Saya sebagai pemimpin rombongan touring memiliki kuasa tertentu atas riders yang lain. Frater yang menjadi bidel umum[41] memiliki kuasa tertentu atas para frater yang lain. Istri Barack Obama memiliki kuasa tertentu atas suaminya yang adalah Presiden Amerika Serikat tersebut.

Kimmel menerangkan bahwa banyak lelaki Amerika merasa powerless, justru karena kriteria macho (menjadi lelaki) di Amerika begitu tinggi sehingga hanya sedikit sekali lelaki Amerika yang mampu meraihnya. Lelaki yang merasa powerless akan menjadi lelaki yang lembek (berbeda dengan ‘lembut’). Dia tidak akan mampu mengaum ataupun ‘mengangkat pedang’ ketika hidup menuntut demikian. Dia bahkan menjadi sosok yang berbahaya bagi dirinya sendiri, bahkan bagi perempuan di sekitarnya. Ketika tidak mampu melindungi, dia akan menyakiti, atau malah menelantarkan siapapun. KDRT dan pelecehan seksual (pemerkosaan) biasanya dilakukan oleh lelaki yang powerless semacam ini justru untuk mencari pengakuan bahwa dia masih memiliki power yang tersisa. Dia tidak akan memiliki hasrat dan daya hidup. Atau, dia akan menjadi sosok yang tak berdaya, diinjak oleh sesama lelaki, bahkan diinjak oleh perempuan, tidak memiliki integritas.

Sedangkan dengan kriteria yang ada di Surakarta dan Yogyakarta tersebut di atas, lelaki manapun dapat dengan mudah meraihnya. Seorang lelaki dapat dengan mudah menemukan komunitas, tempat perjuangan bersama, di sini. Seorang lelaki dapat memutuskan untuk menghayati hidup selibat atau berkeluarga, dan tetap dapat menjadi pribadi yang meneb, kebapakan (seorang pastor selibat pun dipanggil romo/bapa), dapat menjadi kakak[42], bahkan dapat menepati janji (kaul kemurnian atau janji perkawinan). Menjadi lelaki yang meneb itu dekat sekali dengan kebudayaan Jawa dan ideal lelaki Jawa. Banyak cara bahkan disediakan, meditasi misalnya. Banyak lelaki Jawa melakukan perjalanan spiritual (berjalan kaki dalam diam ke tempat-tempat peziarahan, masuk biara/pondok pesantren, menekuni bela diri pencak silat, berlatih teater dengan teknik-teknik tradisional, dsb.). Dengan menjadi lelaki yang meneb, seorang lelaki itu akan terlihat lebih berkharisma, berwibawa, dengan demikian dia akan memiliki kuasa tertentu. Kita bisa membayangkan sosok Jokowi (Joko Widodo, mantan Walikota Surakarta yang kini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta). Dia jauh dari lelaki macho a la Amerika, tetapi siapa yang meragukan kharismanya, wibawanya, pesonanya, dan kuasanya?

Akan tetapi, seorang lelaki harus menyadari kuasa ini. Perjalanannya menghayati hidup akan memberinya kuasa tertentu yang harus diterimanya dengan penuh kesadaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Menolak kuasa ini adalah ekstrim yang satu, sedangkan menyalahgunakan kuasa adalah ekstrim yang lain. Baik menolak maupun menyalahgunakan kuasa menjadikan dirinya gagal menjadi seorang lelaki. Seorang lelaki harus selalu ingat bahwa hanya sesama lelakilah yang dapat mengafirmasi kelelakiannya lewat suatu perjuangan bersama. Ketika lelaki itu mencari afirmasi kepada seorang perempuan, yang dia dapatkan hanyalah kehampaan, dia akan selalu merasa kekurangan, dan bahkan akan tergoda untuk melakukan abuse of power. Contoh kasus adalah penyair SS. Sebagai seorang penyair lelaki, tidak sedikit sesama lelaki yang telah mengafirmasi kelelakiannya, bahwa dia benar-benar seorang penyair. Mengetahui bahwa dia punya kuasa sebagai seorang penyair, dia justru menggunakannya untuk mencari afirmasi lagi kepada (banyak) perempuan yang bahkan tidak memiliki kuasa apapun terhadapnya. Apa yang terjadi? Sexual abuse. Setiap lelaki yang memiliki kuasa selalu terancam melakukan abuse of power. Sebagai seorang sutradara, saya memiliki kuasa tertentu terhadap keenam aktor perempuan saya itu. Sangat mungkin saya menyalahgunakan kekuasaan dengan memacari aktor utamanya, misalnya. Akan tetapi, apakah dengan demikian kelelakian saya, ke-sutradara-an saya, diafirmasi? Kelelakian dan ke-sutradara-an saya akan diafirmasi ketika saya mampu mengantarkan keenam aktor perempuan itu mementaskan lakon Pada Malam yang Itu dengan baik, sehingga senior-senior saya di Teater Seriboe Djendela (yang mayoritas lelaki) mengapresiasi dan para penonton memberikan applause yang meriah.

Penutup
Kritik Kimmel atas maskulinitas di Amerika sangat layak untuk dibaca oleh lelaki. Akan tetapi, ketika kritik tersebut kita pertemukan dengan konteks Jawa (Surakarta-Yogyakarta), dengan pribadi-pribadi konkret di sana, kita perlu melakukan adaptasi. Kita perlu mengindonesiakan, bahkan menjawakan, kritik Kimmel tersebut. Maskulinitas hegemonis (Amerika) yang dikritik oleh Kimmel dan juga Wright tersebut harus kita lihat ulang, sebab maskulinitas hegemonis yang hidup di masyarakat Surakarta-Yogyakarta berbeda dengan yang ada di Amerika. Imaji yang macho di Amerika berbeda dengan di Surakarta-Yogyakarta.

Sampai pada titik ini saya mulai memahami bagaimana harus mengkritisi iklan BKKBN di atas. Akan tetapi, melihat bahwa saya sudah berbicara panjang lebar, dan bahwa saya merasa membutuhkan landasan teori yang lain untuk dapat mengkritisinya, niat itu saya urungkan. Saat menuliskan penutup ini, saya ingat cerita Anne Shakka tentang buku yang dibacanya, tentang Perempuan Jawa, bahwa di luar rumah bolehlah lelaki itu berkuasa, tetapi begitu sudah di dalam rumah perempuanlah yang berkuasa.

Akhir kata, saya merasa harus mengutip salah satu dialog di dalam lakon Pada Malam yang Itu,
Lelaki                                   : Sebatang penis, sebatang rokok, dan secangkir kopi kental tak cukup untuk membuat seseorang menjadi lelaki. Tetapi, cinta dan harapan, kepercayaan, loyaitas, rasa memiliki satu sama lain, kesetiaan pada cita-cita, keberanian bertanggung jawab atas segala keputusan, harga diri, dan kerelaan berkorban demi mimpi... itu yang membuat laki-laki menjadi Lelaki. Kalau lelaki tak lagi memiliki semua itu, apa lagi yang dapat dia banggakan di dalam hidup?[43]




Bibliografi
Buku
Dede Oetomo, “Gender and Sexual Orientation in Indonesia”, dalam Laurie J. Sears (ed.), Fantasizing the Feminine in Indonesia, Duke University Press, 1996
Deshi Ramadhani, Adam Harus Bicara, Sebuah Buku Lelaki, Yogyakarta: Kanisius, 2010
H. Norman Wright, What Men Want, Why Men Think, Feel, & Act The Way They Do, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Tim Dabara, Surakarta: Dabara Publisher, 2000
Michael S. Kimmel, “Masculinity as Homophobia: Fear, Shame, and Silence in the Construction of Gender Identity”, dalam Peter F. Murphy (ed.), Feminism & Masculinities, Oxford University Press: Oxford & New York, 2004


Internet                                                                        



Lampiran
Daftar responden
A.    Lelaki
1.      Yohanes Eko Budiyanto, “Kribo”, FKIP-PGSD, Universitas Sanata Dharma
2.      Hario Adi Nugroho, Universitas Sanata Dharma
3.      Jati Pradipta, Universitas Sanata Dharma
4.      Ega Meista Purba, “Gaplek”, FKIP-PBI, Universitas Sanata Dharma
5.      Emmanuel Kurniawan, “Noel”, IRB, Universitas Sanata Dharma
6.      N.N., Universitas Sanata Dharma
7.      Yohannes Jatmiko Yuwono, “Miko”, IRB, Universitas Sanata Dharma
8.      Respati Galang Swastika Adji, ISI Solo
9.      Johnfisher Fahri Ferbian, “Aik”, Diskomvis, UNS Solo
10.  Raden Hanung Satrio Pitono, Fakultas Hukum, UNS Solo
B.     Perempuan
1.      Widhiana Martiningsih, Universitas Sanata Dharma
2.      Maria Anindita, Universitas Sanata Dharma
3.      Fenty Vianarika, FKIP-PBI, Universitas Sanata Dharma
4.      Elisabeth Oseanita Pukan, American Studies, UGM
5.      Dyah Ayu Perwitasari, Psikologi, Universitas Sanata Dharma
6.      N.N., UGM
7.      Elisabeth Lesprita Veani, Universitas Sanata Dharma
8.      Ratri Kartika Sari, Teater Garasi
9.      Galuh Asti Wulandari, Teater Garasi
10.  Kartika Indah Prativi, UKSW Salatiga, BIP Jakarta, lahir dan besar di Sukoharjo (Surakarta) - Jawa Tengah



[1] Orang yang menyebutkan figure Yesus dan Sidharta Gautama sebagai sosok lelaki idealnya tersebut secara legal merupakan seorang Muslim. Dia, kalau boleh saya bilang, penganut Islam Jawa.
[2] Batman adalah manusia biasa yang kemudian oleh karena usahanya sendiri dapat menjadi sosok hero, berbeda dengan Superman yang sudah memiliki kekuatan super itu dari sananya. Ada unsur “perjuangan” di dalam cerita Bruce Wayne menjadi seorang Batman.
[3] Robert Downey Jr. menyuguhkan sosok Tony Stark (Iron Man) sebagai lelaki cerdas yang kocak.
[4] Dibiarkan tergerai, tak dikucir atau diikat.
[5] Dari kata lanang (artinya laki-laki, kata benda) yang mendapat awalan ng- sehingga menjadi kata sifat. Secara harafiah berarti melaki-laki. Imaji nglanangi di sini cukup berbeda dengan imaji macho a la Amerika. Dalam imaji nglanangi, gambaran lelaki besar dan kekar berotot itu tidak ada. Yang ada adalah imaji yang dekat dengan watak-watak seorang ksatria (misalnya Pandawa, Karna, Bhisma, Wibisana, bahkan Kumbakarna), sehingga benang merah dengan tokoh-tokoh superhero Amerika tersebut di atas lebih kepada watak yang ksatria, bukan pada sok jagoan.
[6] Dewasa di sini dekat dengan istilah meneb (mengendap) itu tadi.
[7] Banci di sini adalah entah banci dalam pengertian sebenarnya, banci dalam pengertian “lelaki melambai” (ngondek/lelaki kemayu), lelaki menye-menye (cengeng, mudah galau), atau bahkan pengecut.
[8] Masih berkaitan dengan rambut di wajah (brewok, kumis, jambang).
[11] Mungkin apa yang saya tulis ini tidak sama dengan apa yang dihadirkan di dalam film-film Hollywood. Akan tetapi, bagi Anda yang memiliki akun facebook, cobalah mengunjungi fan-page “Go Home, You Are Drunk”, “The God Article”, “Anonymous ART of Revolution”, dan “The Christian Left”. Anda akan menemukan realita Amerika yang lain dari pada yang sering Anda saksikan di film-film Hollywood.
[12] Michael S. Kimmel, “Masculinity as Homophobia: Fear, Shame, and Silence in the Construction of Gender Identity”, dalam Peter F. Murphy (ed.), Feminism & Masculinities, Oxford University Press: Oxford & New York, 2004, 182-199
[13] Michael S. Kimmel, “Masculinity as Homophobia: Fear, Shame, and Silence in the Construction of Gender Identity”, dalam Peter F. Murphy (ed.), Feminism & Masculinities, 182
[14] hegemonic masculinity
[15] Michael S. Kimmel, “Masculinity as Homophobia: Fear, Shame, and Silence in the Construction of Gender Identity”, dalam Peter F. Murphy (ed.), Feminism & Masculinities, 184
[16] Kimmel memakai istilah ‘sissy’.
[17] Ayah hadir sebagai seorang oppressor (penindas).
[18] Saya kembali harus menekankan kata Amerika ini untuk mengingatkan konteks tulisan dan kritik Kimmel ini.
[19] Michael S. Kimmel, “Masculinity as Homophobia: Fear, Shame, and Silence in the Construction of Gender Identity”, dalam Peter F. Murphy (ed.), Feminism & Masculinities, 194
[20] Misalnya tokoh Arjuna, yang di dalam Wayang Orang, hampir selalu diperankan oleh seorang perempuan.
[21] Arti harafiahnya adalah keluar dari kolam air.
[22] berani keras
[23] bukan pengecut
[24] R. Hanung Satrio Pitono bukan seorang Kristiani.
[25] Deshi Ramadhani, Adam Harus Bicara, Sebuah Buku Lelaki, Yogyakarta: Kanisius, 2010, 223
[26] Di Jogja (Yogyakarta) saya bergabung dengan komunitas Malam Ngopinyastro, sedangkan di Solo (Surakarta) saya bersama beberapa orang lelaki mendirikan komunitas Malam Sastra Solo (MaSastrO). Saya merasa harus menekankan kata “lelaki” di sini. Baik di Malam Ngopinyastro dan MaSastro mayoritas penyair yang menjadi pengurus/admin adalah lelaki. Hanya ada satu perempuan yang menjadi pengurus di Malam Ngopinyastro dan hanya ada satu perempuan yang menjadi admin di MaSastrO. Perempuan pengurus Malam Ngopinyastro itu bergabung bersama kami setelah Malam Ngopinyastro memiliki struktur kepengurusan yang jelas. Sedangkan, perempuan yang menjadi salah satu admin MaSastrO itu bergabung bersama kami setelah MaSastrO dapat berjalan dan melingkar secara rutin. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya sebenarnya sungguh bersyukur atas kehadiran mereka di tengah-tengah kami (sungguh susah mencari penyair perempuan, apa lagi yang bersedia duduk melingkar bersama), saya harus mengatakan bahwa, sebagai seorang penyair lelaki, yang paling membekas adalah perjuangan dan suka-duka kami, para lelaki ini, sehingga Malam Ngopinyastro dapat berdiri dengan struktur yang jelas dan MaSastrO dapat secara rutin hadir dan melingkar serta dapat diterima oleh masyarakat.
[27] Deshi Ramadhani, Adam Harus Bicara, Sebuah Buku Lelaki, 151-159
[28] Memang ada dua orang perempuan di sana, tetapi mereka hanya membonceng, tidak mau mengendarai sendiri. Seorang lelaki lain juga hanya membonceng. Biasanya orang yang membonceng itu berperan sebagai co-pilot.
[29] mengunci
[30] Do I have what it takes? -- Deshi Ramadhani, Adam Harus Bicara, Sebuah Buku Lelaki, 114
[31] Pada Hari Minggu kami bergantian mendapatkan jatah belanja ke pasar dan memasak.
[32] membersihkan nasi untuk kemudian ditanak
[33] Dari Salatiga, kami berjalan kaki bersama ke Gua Maria Kerep Ambarawa. Atau kami berjalan kaki bersama selama lebih dari satu jam ke Muncul untuk berenang. Bahkan, kami colut (pergi keluar diam-diam tanpa izin) bersama-sama.
[34] Dede Oetomo, “Gender and Sexual Orientation in Indonesia”, dalam Laurie J. Sears (ed.), Fantasizing the Feminine in Indonesia, Duke University Press, 1996, 266.
[35] Bahasa Jawa. Bisa diartikan “jijik”.
[36] Banci dan homoseksual dipandang sebagai realita yang berbeda. -- Dede Oetomo, “Gender and Sexual Orientation in Indonesia”, dalam Laurie J. Sears (ed.), Fantasizing the Feminine in Indonesia, 260-264.
[37] H. Norman Wright, What Men Want, Why Men Think, Feel, & Act The Way They Do, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Tim Dabara, Surakarta: Dabara Publisher, 2000, 47 -- dengan sedikit saya bahasakan ulang.
[38] H. Norman Wright, What Men Want, Why Men Think, Feel, & Act The Way They Do, 48
[39] H. Norman Wright, What Men Want, Why Men Think, Feel, & Act The Way They Do, 48
[40] Deshi Ramadhani, Adam Harus Bicara, Sebuah Buku Lelaki, 257
[41] semacam koordinator umum atau ketua kelas
[42] Kekasih saya lebih tua dari pada saya, tetapi tetap saja dia berkata bahwa saya jauh lebih dewasa dari pada dirinya. Dia mengaku menemukan figur seorang kakak yang dia dambakan dalam diri saya.

No comments:

Post a Comment