Monday, February 17, 2014

Metafora dan Metonimia Roman Jakobson dan Hubungannya dengan Afasia

Teori metafora-metonimia menurut Roman Jakobson bisa dipakai untuk menjelaskan orang yang menderita afasia sebagai berikut...*

Tanda-tanda bahasa itu berhubungan satu sama lain. Tanda-tanda bahasa itu harus berhubungan satu dengan yang lain supaya dapat bermakna. Hubungan antartanda ini ada dua jenis, yaitu metafora dan metonimia.

Roman Jakobson menjelaskan METONIMIA sebagai hubungan antartanda secara sintagmatik. Analoginya adalah seperti “hubungan tetangga”. Tanda dihubungkan dengan tanda lain di sekitarnya sehingga menghasilkan rangkaian sintagma. Hubungannya ibarat sebuah gerendel rantai yang saling terkait satu dengan yang lain; bergandengan dengan kanan-kirinya. Hubungannya pun berurutan/berangkaian, yang satu mengikuti yang lain.

Beberapa tanda pokok membentuk suatu tanda. Tanda tersebut kemudian dikombinasikan dengan tanda-tanda yang lain sehingga menjadi suatu unit tanda yang sederhana. Unit tanda yang sederhana itu menemukan makna/konteksnya ketika dihubungkan dengan (atau bersama unit tanda sederhana lain membentuk suatu) unit tanda yang lebih rumit. Secara sederhana, saya mengkombinasikan tanda-tanda menjadi suatu unit tanda, misalnya “Saya lapar.” Kemudian, unit tanda sederhana itu saya kombinasikan dengan unit tanda sederhana lain, misalnya “Saya lapar dan tepat di tepi jalan ada Warung Makan Tegal. Maka saya menepikan sepeda motor, masuk ke warung tersebut, dan memesan nasi opor ayam serta es teh manis.” Saya dinilai dari gabungan tanda yang saya buat, yaitu bahwa “saya lapar” dan kemudian “saya makan”. Gabungan tanda yang saya buat itu pun menjadi konteks, yaitu “peristiwa saya lapar dan makan di Warung Makan Tegal”.

METAFORA dijelaskan Roman Jakobson sebagai hubungan antartanda secara paradigmatik. Analoginya adalah seperti hubungan saudara. Jadi, suatu tanda memiliki kesamaan (similarity) dengan tanda-tanda yang lain. Hubungannya adalah kesamaan tersebut. Maka, menggunakan metafora, seseorang berarti harus melakukan seleksi; dia harus memilih salah satu dari antara tanda-tanda yang sama tersebut. Sehingga, suatu tanda berhubungan dengan tanda-tanda lain yang mirip (similar) dengannya, dan tanda-tanda lain tersebut hadir secara laten (in absentia).

Makna akan muncul dari hubungan tanda satu dengan tanda-tanda lain yang hadir secara laten tersebut. Semakin kuat suatu tanda menghadirkan tanda-tanda lain yang laten tersebut, semakin kuat pula tanda tersebut menghadirkan makna. Misalnya, kata “lapar” seperti dalam contoh di atas, dapat diganti dengan “perut keroncongan” (perut kok bisa main keroncong?); dan frasa “sepeda motor” dalam contoh di atas dapat diganti dengan frasa “kuda besi” (kuda yang terbuat dari besi?). Sehingga, contoh kalimat di atas dapat saya ubah seperti berikut, “Perut saya keroncongan dan tepat di tepi jalan ada Warung Makan Tegal. Maka saya menepikan kuda besi, masuk ke warung tersebut, dan memesan nasi opor ayam serta es teh manis.” Contoh lain, misalnya kita pakai kata “manis”. “Wajah gadis itu manis.” Wajah kok “manis”? Yang manis itu es teh atau permen atau gula. Wajah itu “cantik”. Akan tetapi, kata “manis” dalam “Wajah gadis itu manis,” menghadirkan kata “cantik”. Frase “perut keroncongan” menghadirkan kata “lapar”. Dan, frasa “kuda besi” menghadirkan frasa “sepeda motor”.

AFASIA merupakan suatu ketidakmampuan untuk mengungkapkan atau memahami bahasa. Ada dua jenis afasia, yaitu Similarity Disorder dan Contiguity Disorder.

Similarity Disorder adalah afasia di mana seorang individu tidak mampu memaknai suatu kata. Dia tidak mampu mencari padanan kata. Dia tidak mampu membuat definisi atas suatu kata. Dia tidak mampu secara abstrak menghadirkan tanda-tanda lain yang laten, yang sama dengan tanda yang sedang dia ucapkan/dengarkan. Individu tersebut tidak mampu menggunakan metafora. Dia tidak mampu melakukan seleksi (substitusi). Dia hanya mampu mengombinasikan suatu tanda (komposisi) dengan baik (SPOK-nya benar), tetapi akan kesulitan ketika diminta untuk menjelaskan maknanya. Ketika dia berkata (atau mendengar orang berkata), “Di tepi jalan ada Warung Makan Tegal,” penderita afasia similarity disorder tersebut akan kesulitan menerangkan/mengabstraksikan apa itu “Warung Makan Tegal”. Dia hanya bisa menerangkan/mengabstraksikan “Warung Makan Tegal” jika warung makan tersebut ada/hadir secara konkret di hadapannya. Dia pun akan kesulitan menjelaskan bahwa “sepeda motor adalah kuda besi, sehingga kuda besi adalah sepeda motor”. Biasanya penderita afasia similarity disorder ini sangat realis dan lebih mampu menggunakan metonimia (rangkaian sintagma).

Contiguity Disorder adalah afasia di mana seorang individu tidak mampu merangkai kata-kata, tidak mampu membuat kalimat sempurna (SPOK benar). Dia tidak mampu merangkai kata/tanda menjadi suatu unit tanda yang lebih rumit. Dia mengalami agrammatism. Yang dapat dia lakukan adalah menumpuk kata-kata yang sama (word heap). Ketika penderita afasia contiguity disorder ini berbicara, kata-kata yang dia ucapkan akan menjadi kacau (chaos). Seluruh kalimat yang hendak dia ucapkan direduksi menjadi satu kata saja (one word sentence), dan itu biasanya merupakan suatu kata pokok (kernel subject word) yang hendak dia utarakan. Dia lebih mampu menggunakan metafora dan kesulitan untuk menggunakan metonimia. Dia bisa melakukan seleksi (substitusi), tetapi kesulitan melakukan kombinasi (komposisi). Ketika harus berkata “Di tepi jalan ada Warung Makan Tegal”, penderita afasia contiguity disorder ini hanya akan mengulang-ulang kata utama (yang menjadi inti pesan) tersebut, atau dengan kata-kata lain yang mirip (similar / sinonim), dan mengandaikan lawan bicara sudah paham. Dia hanya akan berkata, “Warung...” atau “Restoran... .”


*Tulisan ini pada mulanya adalah jawaban ujian akhir Mata Kuliah Kajian Budaya yang diolah dari buku catatan kuliah dan reader (St. Sunardi dan A. Supratiknya) oleh Padmo Adi.

No comments:

Post a Comment