Tuesday, September 2, 2014

EKM SEBAGAI TERIAKAN HISTERIA


EKM SEBAGAI TERIAKAN HISTERIA
Melihat EKM dari Sudut Pandang Psikoanalisa
oleh Yohanes Padmo Adi Nugroho (136322009)

Pengantar
Pada tanggal 21 Mei 2014 yang lalu dalam situs liturgikas.com dimuat sebuah artikel yang mempermasalahkan EKM (Ekaristi Kaum Muda). Artikel itu berjudul “EKM: Emang Kamu Misa?”[1]. Di dalam artikel itu dibahas mengenai Apa itu EKM dari sudut pandang admin liturgikas.com. Selang beberapa waktu kemudian muncul tulisan-tulisan yang menanggapi artikel tersebut di atas. Dua di antaranya adalah tulisan dari Mutiara Andalas, S.J. dengan judul “EKM bukan ‘EKM’!”[2] dan dari A. Setyawan, S.J. dengan judul “Ekaristi Kaum Muda”[3]. Ketiga tulisan di atas sarat dengan muatan teologi dan pastoral. Tulisan saya ini hendak turut serta membahas EKM. Sebagai seorang muda katolik, pembicaraan (untuk tidak mengatakan perdebatan) seputar EKM perlu pula saya masuki. Saya merasa memiliki tanggung jawab iman untuk turut serta membicarakannya. Akan tetapi, tulisan ini tidak saya maksudkan sebagai sebuah tulisan teologis ataupun pastoral. Saya hanya hendak mengkaji fenomena Ekaristi Kaum Muda melalui kaca mata psikoanalisa lacanian.

Apa Itu EKM?
Saya pribadi baru beberapa kali mengikuti apa yang disebut Ekaristi Kaum Muda itu. Walaupun demikian, beberapa teman saya hampir selalu menjadi panitia penyelenggaraan EKM. Beberapa kali mereka meminta saya untuk menulis naskah drama atau puisi yang berkaitan dengan tema dan bacaan misa. Salah satu sahabat baik saya mau menjadi narasumber saya, menceritakan pengalaman eksistensialnya ketika mengikuti EKM bersama dengan kekasihnya. Ada yang khas dari EKM. Sahabat saya itu berkata, “Jika yang dicari adalah misa yang cepat selesai, mereka pasti tidak akan ikut EKM, sebab sering kali EKM jauh lebih lama dari pada misa biasa.” “Misa biasa” di sini saya garis bawahi. Apakah EKM misa yang “luar biasa”? Apa yang membedakan EKM dengan  “misa biasa”? Sejauh yang saya pahami dan alami, EKM adalah misa yang dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan sampai dibentuk panitia. Memang ada performance art di sana: ada tari-tarian, atau teater, atau pembacaan puisi. Namun, sajian seni itu bukanlah sesuatu yang di luar misa. Sajian seni itu disiapkan sedemikian rupa, disesuaikan dengan tema dan bacaan misa. Semuanya dipersiapkan sedemikian rupa sehingga umat memiliki sarana yang kaya untuk sampai kepada pesan Injil dan misteri iman. Mungkin pengetahuan saya ini tidaklah cukup. Maka, mari kita lihat apa pengertian EKM berdasarkan tiga tulisan di atas.

Artikel “EKM: Emang Kamu Misa?” mengatakan bahwa,
EKM biasanya menjadi perayaan Ekaristi yang digemari oleh anak muda (mungkin juga ada orang tua yang suka). Umumnya dalam perayaan Ekaristi Kaum Muda tata perayaannya dibuat berbeda. Katanya menurut selera orang muda:  tarian, musikalisasi puisi, visualisasi cerita kitab suci atau drama hidup sehari-hari, dengan iringan kor maupun band, dengan bintang tamu dan simbol-simbol orang muda. Hal ini ditempuh untuk membantu orang muda berjumpa dengan Yesus dalam perayaan Ekaristi.[4]
EKM digambarkan sebagai perayaan ekaristi yang identik dengan kaum muda (OMK?). Kemudian artikel tersebut mengonfrontasikan EKM dengan Ekaristi yang sesuai dengan TPE (Tata Perayaan Ekaristi). Hanya ada satu ekaristi, yaitu ekaristi yang sesuai dengan TPE. Pada artikel tersebut, penulis (admin liturgikas.com) mencoba mengkritisi (dan menegur) praktek-praktek liturgi yang“menyimpang” semacam EKM.

Sedangkan Romo A. Setyawan, S.J. dalam artikelnya berjudul “Ekaristi Kaum Muda” berkata, kurang lebih, bahwa perayaan Ekaristi Kaum Muda itu bukanlah merupakan sebuah misa yang spontan begitu saja. EKM lahir dari sebuah proses pendampingan dan pastoral yang panjang. Sebuah EKM akan lahir setelah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh bahkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Performance art (visualisasi), tema, bacaan Kitab Suci, rumusan doa-doa, semuanya dipilih dan dipersiapkan. Ada pendampingan dari seorang pastor dalam mempersiapkan sebuah EKM. Proses pendampingan dalam mempersiapkan EKM menjadi hal yang ditekankan oleh Romo A. Setyawan, S.J. Tidak hanya EKM, bahkan ada yang namanya EKR (Ekaristi Kaum Remaja), EKA (Ekaristi Anak), Ekaristi Lansia, dan Ekaristi Kharismatik. Semua itu lahir dari proses pendampingan dan pastoral. Walaupun demikian, pada artikel yang lain, yaitu artikel berjudul “EKM: Emangnya Kamu Misa?”[5] Romo A. Setyawan, S.J. mengkritisi EKM yang hanya berhenti pada kulit luarnya saja, hanya berhenti pada performance art-nya saja. EKM tidak cukup, perlu dibarengi dengan Eucharistic Youth Movement.

Artikel yang terakhir adalah tulisan Romo Mutiara Andalas, S.J. Di dalam artikel berjudul “EKM Bukan ‘EKM’!” tersebut Romo Mutiara Andalas, S.J. menjelaskan bahwa EKM merupakan salah satu bentuk inkulturasi liturgi. “EKM lahir dari dialog yang melibatkan orang muda, budaya populer, dan iman Kristiani,” kata Romo Mutiara Andalas, S.J. Ekaristi Kaum Muda lahir dari dialog antara  para pemuda (OMK?), budaya populer (konsumsi?), dan iman Kristiani. Membicarakan EKM berarti harus membicarakan iman orang-orang muda katolik. Membicarakan orang-orang muda berarti harus membicarakan budaya populer yang mereka hidupi. Romo Mutiara Andalas, S.J. tidak hanya membela EKM, tetapi lebih jauh dia membela para pemuda Katolik yang menghidupinya. Admin liturgikas.com dianggap merendahkan dan menyepelekan pemuda sebagai yang “mengikuti selera sendiri”. Selain itu, admin liturgikas.com juga dianggap tidak memahami “budaya populer”. Di sana para pemuda bisa “[meng]ungkap[k]an iman orang muda dalam bahasa-bahasa yang melampaui verbal, seperti lagu, musikalisasi puisi, tarian, dan drama.[6] Frasa “bahasa-bahasa yang melampaui verbal” saya garis bawahi di sini. Romo Mutiara Andalas, S.J. pun sekata dengan Romo A. Setyawan, S.J. bahwa EKM lahir dari sebuah proses pastoral kaum muda yang menggereja.

Ekaristi Kaum Muda menjadi fenomena di dalam tubuh Gereja Katolik, terutama, sejauh yang saya tahu, di Keuskupan Agung Semarang. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman, EKM pertama kali lahir di Paroki Santo Antonius Kota Baru, Yogyakarta. Dari sana kemudian mulai menyebar. Paroki Keluarga Kudus Banteng pun pernah menyelenggarakannya. Akan tetapi, saya tidak mendapatkan informasi apakah paroki asal saya, Santo Paulus Kleco, Solo, juga pernah menyelenggarakannya atau tidak. Mungkin model dan penekanan pendampingan kaum mudanya berbeda. Walaupun demikian, di beberapa paroki (termasuk paroki saya), inkulturasi liturgi[7] terjadi. Para pemuda diberi kesempatan yang sangat luas, bahkan didukung pihak-pihak paroki (pastor paroki dan dewan paroki), untuk mengekspresikan iman mereka. Penulis “EKM: Emang Kamu Misa?” yang rubrikisme melihat dan menilai bahwa EKM adalah sebuah “penyelewengan”[8]. Artikel ini sempat memanaskan suasana. Artikel ini dibicarakan di mana-mana, dibagikan di dinding-dinding facebook, ditanggapi oleh sedikitnya dua orang pastor, dan bahkan teman sekelas saya di IRB mengaku turut serta memberikan pandangan pada kolom komentar. Saya pribadi melihat bahwa jauh sebelum perdebatan teologis ini dipanaskan oleh artikel tersebut, pro-kontra seputar EKM sudah menjadi bisik-bisik seru di antara para teolog, imam, dan umat di Keuskupan Agung Semarang.

Melihat Fenomena EKM dari Luar Ranah Teologi
Dalam bukunya berjudul “Arguing Sainthood: Modernity, Psychoanalysis and Islam” Katherine Ewing menjelaskan tentang teori hegemoni oleh Antonio Gramsci dan teori psikoanalisa Jacques Lacan (terutama tentang tema “decentered subject”). Seorang individu tidak begitu saja menjadi subyek. Subyektivitas dan kesadaran individu itu dibentuk. Apa yang membentuk subyektivitas dan kesadaran ini? Yang membentuknya adalah “hegemoni”. Apa itu “hegemoni”? Hegemoni adalah kebenaran-kebenaran yang dipercayai dan diyakini sebagai benar. Hegemoni itu menyejarah lewat habitus. Dan, setiap individu mau tidak mau harus menggunakan premis-premis kebenaran tersebut. Hegemoni adalah penanda-penanda yang mau tidak mau harus digunakan oleh seorang individu jika dia ingin masuk ke dalam yang sosial. Dengan kata lain yang lebih sederhana, “hegemoni” adalah sebuah persetujuan (akan kebenaran) yang dianggap dan dipercaya sebagai esensi dari kenyataan. Para ahli liturgi merumuskan TPE. TPE itu kemudian dianggap sebagai kebenaran mutlak yang harus diikuti dengan seksama sehingga tidak terjadi penyelewengan. Seseorang yang hegemonik akan mempercayai apa yang dikatakannya, dan bahkan kepercayaannya itu konsisten dengan praktek hidupnya sehari-hari.[9]

Beberapa akademisi berargumentasi bahwa terminologi “budaya” harus diganti dengan terminologi “hegemoni”, sebab hegemoni menekankan hubungan kekuasaan di mana makna dibuat dan dipaksakan kepada liyan sehingga seakan-akan itu adalah hal yang alamiah.[10] Sistem tanda itu tidak alami, tetapi dibuat, direkayasa, dan bahkan dipaksakan. Antonio Gramsci mengatakan bahwa konsep hegemoni adalah sebuah cara pembentukan karakter kekuatan dari sebuah kelompok untuk menciptakan wacana publik.[11] Tata Perayaan Ekaristi adalah kesepakatan para ahli liturgi berdasarkan teologi Gereja. Rubrik dan segala aturan yang mengatur di dalamnya adalah sistem tanda yang dibuat. Sebagaimana sistem tanda hegemonik lainnya, sifatnya tentu saja arbitrer. Seorang individu harus mematuhi aturannya, dengan penghayatan akan teologi-teologi tertentu, sehingga dia bisa masuk ke dalam tatanan simbolik Gereja Katolik, supaya individu itu menjadi subyek, seorang beriman Katolik. Artikel yang ditulis oleh admin liturgikas.com tersebut di atas adalah hegemonik, karena seakan-akan tengah menekankan kembali hubungan kekuasaan antara klerus (hierarki) dengan umat. Apa lagi, artikel tersebut diunggah pada situs yang memakai kata “liturgi” dan “KAS”, sehingga membuatnya seolah-olah pernyataan resmi dari Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang. Dengan menekankan kembali hubungan kekuasaan, artikel yang ditulis oleh admin liturgikas.com itu tengah mengangkat sebuah wacana ke ranah publik.

Pro-kontra EKM memang sudah menjadi bisik-bisik mulai dari yang setingkat gosip hingga kepada perdebatan teologis-pastoral, tetapi selama ini itu terjadi di ranah akademis, sampai akhirnya admin liturgikas.com membangun wacana itu di ranah publik (baca: di tengah-tengah umat). Wacana yang digulirkan oleh admin liturgikas.com menggemakan “pengawasan” dan “pembatasan” atas praktek-praktek ekaristi, khususnya yang ada di Keuskupan Agung Semarang.[12] Hegemoni dapat dipahami ke dalam dua makna yang berbeda, yaitu: (1.) praktek-praktek dan ide-ide terpisah yang membentuk dan mengangkat situasi kehidupan sehari-hari yang tak terbantahkan dan sempit, dan (2.) kontrol atas ruang wacana publik - sebuah kontrol yang mungkin dibatasi pada konteks yang spesifik sedangkan konteks lain mungkin diorganisasikan menurut prinsip-prinsip yang berbeda.[13] Ruang wacana publik Keuskupan Agung Semarang atas penyelenggaraan EKM hendak dikontrol dan diawasi.

Di sisi lain, perayaan ekaristi yang “tekstual” (terlalu patuh dengan rubrik) memang telah menjadi hegemoni, atau, menurut terminologi psikoanalisa lacanian, telah menjadi Wacana Tuan. Wacana Tuan adalah wacana pertama yang harus dialami oleh seorang individu sehingga dia dapat menjadi subyek. Akan tetapi, ternyata Wacana Tuan itu tidak mencukupi untuk membahasakan secara paripurna seorang individu. Seorang individu mengalami misrecognition. Keadaan itu membuat seorang individu beralih dari Wacana Tuan ke Wacana Histeria. Dengan Wacana Histeria itu, dia hendak mencoba melampaui Wacana Tuan, untuk kemudian membahasakan dirinya secara baru. Seseorang tidak bisa langsung menggunakan Wacana Histeria begitu saja. Dia harus terlebih dahulu, mau tidak mau, menggunakan Wacana Tuan. Wacana Tuan inilah yang, menurut bahasa Althusser, menginterpelasi individu menjadi subyek. Wacana Tuan ini tidak lain adalah ISA (Ideological State Apparatus). Salah satu ISA adalah agama dengan segala dogma dan aturan di dalamnya.

Setelah diinterpelasi oleh ISA (agama), seorang individu menjadi subyek. Akan tetapi, subyek yang bagaimanakah akan dihasilkan oleh interpelasi ISA? Subyek di dalam perspektif lacanian adalah subyek yang terlepas dari pusatnya (decentered subject). Berbeda dari subyek menurut perspektif cartesian. Di dalam perspektif cartesian, subyek dipahami sebagai yang utuh dan penuh di dalam dirinya sendiri. “Aku berpikir maka aku ada”, subyek cogito, kesadaran. Akan tetapi, dalam perspektif lacanian, kesadaran itu adalah kesadaran palsu. Kita “ditipu”, salah melihat, misrecognition. Yang real adalah ketidaksadaran. Apa yang menginterpelasi kita, yaitu penanda-penanda yang mau tidak mau harus kita pakai untuk berbahasa, ternyata mengalienasi kita. Tatanan simbolik (penanda-penanda/bahasa) itu menjauhkan kita dari kondisi real kita. Kita menjadi subyek terbelah (split), pecah, ambyar. Tata Perayaan Ekaristi sebagai bahasa (tatanan simbolik) ternyata menciptakan subyek Katolik yang terbelah. Keterbelahan subyek (antara kesadaran dengan ketidaksadaran ataupun antara ego dengan the self) di dalam perspektif lacanian itu bukanlah merupakan suatu kondisi yang dihasilkan dari keadaan-keadaan modernitas tertentu di era masyarakat kapitalis dewasa ini (sebagaimana argumentasi Adorno and Marcuse) ataupun dari kondisi pascakolonialitas tertentu (sebagaimana argumentasi para teoretis pascakolonial), melainkan semata oleh karena sesuatu yang lebih mendasar bagi kondisi manusia, yaitu bahasa.[14]

Bahasa menyisakan residu-residu simptomatik. Ada residu-residu simptomatik yang tak mampu ditampung/dibahasakan oleh tatanan simbolik yang ada. Tata Perayaan Ekaristi dengan segala peraturan dan rubriknya adalah tatanan simbolik, Wacana Tuan, ISA, yang mau tidak mau harus dipakai oleh seorang individu agar menjadi subyek Katolik yang merayakan ekaristi. Akan tetapi, dilemanya, tatanan simbolik itu tidak mampu secara paripurna dan utuh menampung/membahasakan seseorang. Ada residu-residu simptomatik. Di dalam tatanan simbolik Gereja Katolik, para pemuda dengan segala dinamika dan budaya populernya menjadi residu simptomatik tersebut. Romo Mutiara Andalas melihat hal ini dengan jelas,
EKM lahir dari dialog yang melibatkan orang muda, budaya populer, dan iman Kristiani. Tanpa mengebawahkan ketegangan yang berlangsung dalam perjumpaan-perjumpaan itu, dialog antar-ketiganya berlangsung dinamis. Menyaksikan kaum muda melibati dialog ini, saya sampai pada keyakinan akan EKM sebagai sebuah inkulturasi liturgi.[15]
Para pemuda yang penuh hasrat dan gejolak itu merasa bahwa perayaan ekaristi yang “biasa” belum cukup untuk menampung/membahasakan diri mereka. Hasrat mereka tidak terpenuhi. Mereka akan terus berulah, melakukan sesuatu, gelisah hingga akhirnya orang bertanya “Che vuoi?” (Apa maumu?). Admin liturgikas.com tidak melihat hal ini, sebab dia hanya berbicara menggunakan Wacana Tuan, yang mekanismenya menggunakan oposisi binner, yaitu boleh/tidak, baik/buruk, setia/menyeleweng.

Manusia sebagai subyek, dalam perspektif psikoanalisa (baik Freud maupun Lacan), adalah subyek yang digerakkan oleh hasrat (libido). Sebagai subyek yang terbelah, didorong oleh hasrat, manusia dengan putus asa mencari objet petit a (fantasi) agar mengalami jouissance/persatuan primordial (subyek sebelum disubyektivikasi). Akan tetapi, untuk dapat masuk ke dalam masyarakat, seseorang harus menyesuaikan hasratnya dengan norma-norma yang ada dan membahasakan hasratnya dengan penanda-penanda yang sudah disediakan. Ketika hasrat alam bawah sadar itu tidak mampu dibahasakan menggunakan penanda-penanda yang ada, dan ketika kemudian hasrat itu direpresi, hasrat itu tidak akan hilang. Hasrat akan mencari celah dan jalan keluar untuk mengungkapkan dirinya. Ketika represi dilakukan dengan begitu ketat sehingga hasrat benar-benar ditekan, hasrat tidak akan melemah, tetapi malah justru akan meledak. Ledakan hasrat alam bawah sadar, yang tidak mampu dibahasakan dengan tatanan simbolik yang ada, itu adalah histeria. Subyek yang histeris tidak lagi memakai Wacana Tuan, tetapi Wacana Histeris. Para pemuda dengan segala dinamikanya di dalam alam kontemporer ini, adalah residu-residu simptomatik Gereja Katolik. Para pemuda ini adalah subyek terbelah yang memiliki fantasi. Karena perayaan ekaristi yang “biasa” tidak mampu menampung hasrat mereka, memenuhi fantasi mereka, dan tidak mampu membahasakan kondisi real mereka, akhirnya mereka “berteriak” histeris. Histeria mereka itu terwujud di dalam bentuk Ekaristi Kaum Muda. Di dalam EKM, hasrat muda mereka tumpah-ruah. EKM adalah teriakan histeria para pemuda ini. Bahasa (sistem tanda) yang mereka pakai adalah bahasa yang dekat dan mampu menyentuh kondisi real mereka. Lewat performance art (visualisasi, drama, pembacaan puisi, tari-tarian, aransemen lagu), pesan-pesan injil mampu mendarat pada kondisi real mereka dan di saat yang sama mereka mengungkapkan iman. Di dalam EKM, para pemuda, sebagaimana yang digambarkan oleh Romo Mutiara Andalas, S.J., [meng]ungkap[k]an iman orang muda dalam bahasa-bahasa yang melampaui verbal, seperti lagu, musikalisasi puisi, tarian, dan drama.[16] Kondisi histeria ini bisa membuka jalan bagi mereka untuk sampai kepada fantasi, sehingga mereka mengalami jouissance (enjoyment). Tentu saja tatanan simbolis/bahasa hegemonik tidak mampu memahami/membahasakan hal ini sebab para pemuda itu memakai bahasa/metafora yang lain/baru.

Bagi para pemuda Katolik, Ekaristi Kaum Muda dapat menjadi hegemoni tandingan dari ekaristi “biasa”. Ekaristi Kaum Muda bahkan dapat menjadi ideologi. Menurut Althusser, hegemoni adalah ideologi dominan yang diterima sebagai benar, bukan karena pertimbangan kesadaran rasional, atau karena kebijaksanaan, atau karena lahir dari habitus, melainkan karena ideologi tersebut berhasil menjamah wilayah ketidaksadaran (yang real), hasrat yang tidak dapat direalisasikan yang menempatkan subyek ke dalam sebuah sistem representasi, yaitu Symbolic Order lacanian.[17] Dari sudut pandang ini, kita bisa memahami ajakan Romo A. Setyawan, S.J. untuk menarik lebih jauh EKM kepada Eucharistic Youth Movement, yaitu sebuah gerakan yang hendak menarik kaum muda untuk menjadi rasul ketigabelas. Romo A. Setyawan, S.J. mengatakan,
“Lebih tepatnya, EKM itu bakal jos kalau diletakkan dalam konteks gerakan Ekaristi kaum muda ekaristis: kaum muda yang menghidupi semangat Ekaristi, yaitu memecah-mecah roti, berbagi rahmat dengan sesama orang muda dengan aneka macam bentuk dan kegiatannya.”[18]

Kesimpulan dan Penutup
Di dalam tatanan simbolik Gereja Katolik, para pemuda adalah residu-residu simptomatik. Para pemuda dengan segala dunia dan dinamikanya hampir-hampir tak terbahasakan dengan penanda-penanda yang ada di dalam Gereja Katolik. Mereka adalah subyek-subyek terbelah yang dengan putus asa mencari fantasi. Karena keterbatasan bahasa Wacana Tuan yang dimiliki oleh Gereja Katolik, akhirnya para pemuda ini menggunakan Wacana Histeria. EKM sebagai Wacana Histeria ini mengantarkan mereka kepada jouissance (enjoyment), yaitu keadaan subyek sebelum disubyektivikasi (keadaan sebelum diinterpelasi dan mengalami keterbelahan/keambyaran/keterpecahan, atau keadaan persatuan/keutuhan primordial). EKM adalah hegemoni tandingan dari hegemoni ekaristi yang “rubrikis”. EKM itu ideologis karena mampu menyentuh, menyapa, mengangkat, dan mewadahi kondisi real (ketidaksadaran) para pemuda Katolik yang selama ini termarjinalkan.

Berangkat dari perspektif psikoanalisa lacanian, kita bisa memahami (dan menerima) kehadiran EKM dengan lebih baik. Proses interpelasi individu muda menjadi subyek Katolik perlu kita lihat dengan lebih baik. Benar kata Romo Mutiara Andalas, bahwa membicarakan EKM harus membicarakan pemuda, budaya pop, dan iman Kristiani. Saya setuju, sejauh bahwa pemuda itu memiliki bahasanya sendiri dalam mengungkapkan hasratnya, memiliki cara (budaya) sendiri dalam mengungkapkan hasratnya (mencari objet petit a), dan memiliki dinamika yang khas dalam menghidupi iman Kristiani. Teriakan-teriakan histeria para pemuda Katolik itu perlu kita beri tempat dan dengarkan dengan seksama. Dan, akhirnya “anak manusia adalah tuan atas Hari Sabat” (Luk 6:5).


Daftar Pustaka
A. Setyawan, S.J. Ekaristi Kaum Muda. http://versodio.com/prayers/ekaristi-kaum-muda/
A. Setyawan, S.J. EKM: Emangnya Kamu Misa? http://versodio.com/2014/04/27/ekm-emangnya-kamu-misa/
Admin liturgikas.com. EKM: Emang Kamu Misa? http://liturgikas.com/?p=296
Althusser, L. Lenin and Philosophy and Other Essays. Edward Miner Gallaudet Memorial Library Gallaudet College
Ewing, Katherine. Arguing Sainthood: Modernity, Psychoanalysis and Islam. Duke University Press, 1997
Mutiara Andalas, S.J.. EKM Bukan “EKM”
Verhaeghe, P. From Impossibility to Inability. Lon’s Theory on the Four Discourses


[1] http://liturgikas.com/?p=296 (situs ini kini tidak lagi bisa diakses oleh karena kedaluwarsa pada 12 Juni 2014 pk. 13.06 (01:06pm))
[2] Saya mendapatkan artikel ini dari Romo Mutiara Andalas, S.J. sendiri. Romo Mutiara Andalas, S.J. mengirimkannya lewat private message facebook.
[5] Judul artikel ini sama dengan judul artikel yang dimuat pada situs liturgikas.com. Walaupun demikian, isinya sangat berbeda. http://versodio.com/2014/04/27/ekm-emangnya-kamu-misa/
[6] Mutiara Andalas, S.J., “EKM Bukan ‘EKM’
[7]  Saya memakai istilah Romo Mutiara Andalas, S.J.
[8] Penulis (admin liturgikas.com) menggunakan kata ini sebanyak dua kali di dalam kolom komentar ketika menanggapi para pembaca. Di kolom komentar lain penulis menggunakan frasa lain, yaitu “praktek-praktek (dan kadang pemahaman teologis) liturgi yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh gereja”.
[9] Katherine Ewing, “Arguing Sainthood: Modernity, Psychoanalysis and Islam”, Duke University Press, 1997, 15.
[10] Katherine Ewing, “Arguing Sainthood: Modernity, Psychoanalysis and Islam”, 16.
[11] Katherine Ewing, “Arguing Sainthood: Modernity, Psychoanalysis and Islam”, 22.
[12] Kekhususan ini saya pikir harus saya sebutkan sebab, mengutip kata-kata Romo A. Setyawan, S.J., “Yang di Roma saja malah tidak segalak di Indonesia… [.]” (http://versodio.com/prayers/ekaristi-kaum-muda/)
[13] Katherine Ewing, “Arguing Sainthood: Modernity, Psychoanalysis and Islam”, 25.
[14] Katherine Ewing, “Arguing Sainthood: Modernity, Psychoanalysis and Islam”, 27.
[15] Mutiara Andalas, S.J., “EKM Bukan ‘EKM’
[16] Mutiara Andalas, S.J., “EKM Bukan ‘EKM’”.
[17] Katherine Ewing, “Arguing Sainthood: Modernity, Psychoanalysis and Islam”, 30.

No comments:

Post a Comment