Friday, March 13, 2015

Sang Suami (versi 2)

Sang Suami

*Naskah ini adalah versi penyempurnaan dari naskah Sang Suami.

Kebahagiaan rumah tangga adalah impian setiap lelaki dan perempuan yang menikah. Hidup berdampingan bahagia bersama selamanya layaknya sebuah dongeng adalah sesuatu yang didamba-dambakan. Lelaki membayangkan istrinya laksana bidadari yang baru saja turun dari kayangan. Sedangkan perempuan membayangkan kekasih pujaan hatinya laksana ksatria berkuda putih yang akan selalu menyelamatkan dirinya. Dan, perpisahan, walau hanya sekejap, hanya akan menyisakan ruang rindu yang semakin hampa.




Para Tokoh:
Istri 1 à hamil, sangat mencintai Sang Suami lebih dari pada istri mana pun, penyayang
Istri 2 à feminis, aktifis, tomboy, metal, revolusioner, radikal, well-educated, doktor
Istri 3 à pintar memasak, kangen pada Sang Suami, takut dicerai karena mandul
Istri 4 à perempuan dengan luka batin oleh karena lelaki, kecewa dengan lelaki, inferior
Istri 5 à perempuan karir, logatnya kental (medhok), lugu, cenderung konservatif, jawa
Istri 6 à bidan, memiliki kekasih gelap, merasa dijebak untuk menikah dengan Sang Suami
Istri 7 à binal, genit, memiliki sex-appeal kuat, manado
Perempuan Muda à istri baru, muda, cantik, enerjik, tukang pamer, cina, baru lulus SMK
Anak 1 à anak dari Istri 1, anak SMA, pemberontak, tidak jujur, slangean, semau sendiri, merokok
Anak 2 à anak dari Istri 2, punya adik, anak SMP, tidak dekat dengan ibu-ibu tirinya
Anak 3 à anak dari Istri 2, punya kakak, anak SD, boneka kesayangannya adalah boneka buaya
Lelaki  à Suaranya saja yang ditampilkan




(Cahaya perlahan menerangi sebuah ruang tamu pada suatu rumah. Tepat di tengah ruangan terdapat satu set tempat duduk dan meja tamu (sofa), di atas meja itu terdapat asbak. Di salah satu sudut terdapat meja dengan telefon, bingkai foto yang menjadi representasi kehadiran Sang Suami, dan asbak di atas meja itu. Di salah satu sudut yang lain terdapat lukisan abstrak/ekspresionis yang juga menjadi representasi kehadiran Sang Suami. Di ruangan itu terdapat dua pintu: satu pintu untuk keluar rumah dan satu pintu untuk masuk ke ruang keluarga. Di dekat pintu keluar rumah terdapat rangka jendela. Nampak seorang wanita hamil berdiri di dekat jendela itu, memandang keluar penuh rindu. Hatinya menerawang kepada Sang Suami.)
Istri 1:    Rembang senja yang dingin. Kuharap Abang segera pulang. Aku rindu. Sudah lama Abang pergi. Sebentar lagi sang jagoan ini akan lahir. Semoga Abang bisa menemani saat-saat kelahirannya. (menghela nafas) Bang, aku sangat mencintai Abang. Dulu sewaktu aku masih muda, aku terpesona pada kharisma Abang. Cara Abang menatap perempuan, cara Abang memperlakukan perempuan, cara Abang berbicara, cara Abang memimpin. Aku terhanyut di dalam hangatnya kelelakianmu. (berjalan ke arah sofa, mengambil sulaman, dan mulai menyulam) Pada senja itu, Abang meminangku. (diam sejenak, membayangkan saat-saat Sang Suami meminang) Abang mengajakku jalan-jalan. Saat itu tanggal 14 Februari. Orang-orang Barat menggunakan tanggal itu sebagai hari kasih sayang. Memang Abang agak kebarat-baratan. Di sebuah rumah makan, mungkin lebih tepat cafe, Abang telah memesan satu meja dengan lilin menyala. Meja itu dihiasi pula dengan setangkai mawar merah. Juga ada red-wine. Pasti mahal sekali, ya Bang? Tapi maaf, aku tidak minum anggur. Kulihat Abang sedikit kecewa. Lalu tersenyum seakan telah mampu memahami. “Itu untuk Abang saja. Saya minum es teh sudah cukup,” kataku. Memang benar ada segelas es teh yang kuminum. Itu hal biasa. Di warung-warung makan biasa pun menyajikan es teh. Namun, es teh kali itu lain dari pada yang lain. Setelah aku meminum habis es teh itu, aku menemukan sebuah cincin di dasar gelasnya. Aku baru menyadarinya dan bertanya padamu. “Marry me,” pintamu lembut. Aku terhenyak, aku tersipu malu. (diam, senyum-senyum sendiri membayangkan saat-saat itu) Jadilah imam bagi kami, Bang (mengelus perut buncitnya).
Anak 1: Eh, Bu (masuk rumah dengan rokok menyelip di jemarinya, seragam SMA berantakan tersamar jaket hitam, terkejut tak menyangka ada Ibunya)
Istri 1:    Hay... . Baru pulang?
Anak 1: Iya. Mmm... anu, Bu, tadi ada les tambahan sampai sore (berbohong).
Istri 1:    (terkejut) Hei, sejak kapan anak ibu yang cantik ini merokok?
Anak 1:  Ah, nggak Bu, hehe... . Cuma latihan aja buat main teater (berbohong lagi).
Istri 1:    Main teater harus merokok, Nak?
Anak 1:  Hehe... nggak sih, hanya kebetulan dapat peran perokok.
Istri 1:    Heran, lelaki merokok akan terlihat maco. Perempuan merokok akan terlihat binal. Kamu dapat peran menjadi perempuan binal?
Anak 1:  Ehm, anu... ehm... itu Bu, begini... . (telefon berdering) Biar aku yang angkat (berlari mendekati telepon). Haloh... sapa neh (jutek, sambil mengulum rokok)? Bapak?! (terkejut mendengar Bapaknya yang menelpon, rokok di bibirnya segera dimatikan di asbak, merapikan baju, seakan-akan Bapaknya ada di hadapannya siap memarahi kalau dia tidak karuan seperti itu). Iya, Pak? (mendengarkan) Ni ada di sini, menyulam.
Istri 1:    Siapa?
Anak 1:  (kepada ibunya) Bapak. (kepada Bapak di seberang telefon) Lama amat sih perginya? Udah tiga bulan nih... . Pokoknya pulang bawa oleh-oleh! (mendengarkan) O... sebentar lagi mau pulang? (mendengarkan) Kapan? (mendengarkan) Iya deh... tapi pokoknya oleh-oleh!!! (mendengarkan)  Ga mau... ga mau yang itu. (mendengarkan) Yes! (girang) Yang warnanya hitam ya. (mendengarkan) Pak, kapan ni ngajak aku pergi sama kamu? (mendengarkan) Ha? Apa? Ga jelas ah... . (mendengarkan) Oh... ya... ya... tapi janji ya. (mendengarkan) Mau bicara sama Ibu? (mendengarkan) Oh, ya udah. (pada Ibunya) Bu, dapat salam dari Bapak. Miss you katanya, hahahahahaha... . (mendengarkan) Ya... ya... dadah Bapak. Cepetan pulang ya. (menutup telefon lalu bicara pada Istri 1) Bu, aku masuk ya, capek nih.
Istri 1:    Bapakmu bilang apa lagi?
Anak 1:  Ada ajah... . Dah... . (keluar panggung)
Istri 1:    Anak ini, paling takut sama Bapaknya (gemas, melanjutkan menyulam).
(hening)

Anak 1: (dari luar panggung, berteriak) Heh, anak monyet! Siapa yang menyuruh kalian bermain di kamarku!
(Anak 2 dan 3 berlari masuk ke panggung. Melihat Istri 1, mereka berhenti. Mereka bertatap-tatapan, lalu tiba-tiba sepakat untuk bersembunyi di belakang kursi yang diduduki Istri 1.)
Anak 1: (masuk kembali ke panggung) Bu, mana mereka?!
Istri 1:    (menoleh ke belakang sejenak, lalu menatap kembali Anak 1) Ada apa? Sore-sore kok marah-marah? Perasaan baru saja tadi kamu girang... .
Anak 1:  Kamarku diberantakin anak-anak monyet itu! Terus bonekaku diambil!
Istri 1:    Eh, kok gitu ngomongnya sama adik-adik sendiri? Kalau mereka anak monyet, kamu juga donk... . Coba kamu beri mereka pengertian, pasti mereka paham.
Anak 1: Mereka itu nakal, Bu. Tidak seperti adik-adik yang lain. (kepada Anak 2 dan 3) Heh, bandel, sini kalian! Aku tahu kalian sembunyi di sana. Sini... kembalikan bonekaku... terus rapikan kamarku... atau aku jewer... .
(Kepala Anak 2 dan 3 muncul dari balik kursi Istri 1. Anak 2 dan 3 menjulurkan lidah, mengejek Anak 1)
Anak 1:  Eh... kurang ajar kalian ya? Nyolot ya? Berani sama orang yang lebih tua? Nglunjak ya? Memangnya orang tua kalian ngajari kalian begitu? (bermaksud mengejar Anak2 dan 3 di balik kursi, tetapi dicegah oleh Istri 1) Anak siapa sih ini bandel banget!
Istri 1:    Sudah... sudah... . Sama adik sendiri jangan gitu.
Anak 1:  Tapi mereka ini ‘kan... .
Istri 1:    Haish... . (kepada Anak 2 dan 3) Ayo, kalian sini... muncul ke sini.
(Anak 2 dan 3 takut-takut muncul di samping Istri 1)
Istri 1:    Kalian tadi berbuat apa hingga kakakmu ini marah-marah?
Anak 2:  Kami tadi kejar-kejaran. Terus adik masuk ke kamar dia (menunjuk Anak 1). Terus aku kejar ke sana.
Anak 3:  Iya, terus kami main boneka-bonekaan di sana.
Anak 1:  Terus kalian membuat kamarku berantakan seenak hati kalian, gitu? ‘Kan aku sudah bilang, kalian dilarang masuk kamarku.
Anak 2:  Habis adik masuk ke sana duluan. ‘Kan kami lagi kejar-kejaran.
Anak 3:  Aku cuma main boneka saja kok. (memeluk boneka buaya)
Anak 1:  Tapi itu bonekaku!
Anak 3:  Pinjam sebentar... .
Anak 1:  Itu bonekaku! Kembalikan!!!
Istri 1:    Eh... sebagai kakak, kamu mengalah donk dengan adik-adikmu. Tidak apa-apa, biar dipinjam sebentar.
Anak 2:  Iya... pinjam sebentar. Pelit.
Anak 1: (memelototi Anak 2) Apa?!
Anak 3:  Pinjam sebentar ya... nanti aku kembalikan. Aku janji takkan merusakkannya. Aku suka bonekanya. Nanti aku minta Papi beliin boneka yang kayak gini.
Anak 2:  Jangan... tapi lebih bagus dari ini. Lebih gede.
Anak 3:  Tapi pinjam sebentar ya... .
Anak 1:  Ibu... (berharap Istri 1 mencegah Anak2 dan 3 meminjam boneka buayanya)
Istri 1:    Biar dipinjam adik-adikmu sebentar.
Anak 1:  Tapi itu hadiah spesial dari Bapak... .
Istri 1:    Kamu sudah besar. Masak masih mainan boneka semacam itu? Nanti beli sendiri. Ibu kasih uang.
Anak 1: (kepada Anak 2 dan 3, ketus) Sana pinjam! Awas ya... kalau sampai rusak... aku cari kalian... aku jewer. Aku hukum! Dan, jangan sekali-kali kalian berani masuk kamarku! Kali ini kalian kumaafkan.
Anak 3:  Makasih... .
Anak 1:  Aaaaargh... kalian bikin bete! (keluar panggung, menuju ke dalam)
Anak 3:  Buaya... Buaya... sekarang kamu main sama aku ya.
Anak 2:  Pinjam buayanya... .
Anak 3:  Nggak mau!
Anak 2:  Pinjam sebentar... .
Anak 3:  Nggak mau... ini buayaku!
Anak 2:  Buayaku!
Anak 3: Jangan... ini buayaku... (berlari keluar, menuju keluar)
Anak 2:  Iiih... pinjam sebentar... (mengejar)
Istri 1:    Eee... eee... eeeh... (menatap kedua anak-anak itu, berteriak) Sana, main sama adik-adik yang lain ya... . (menghela nafas) Astaga... .
(hening. Istri 1 kembali duduk menyulam)

Istri 7:    (dari luar) Kakak... .
Istri 1:    Iya, Dik?
Istri 7:    (berjalan mendekat) Wah... kandunganmu semakin besar. Kapan anakmu lahir?
Istri 1:    Anak kita! Dalam waktu dekat ini. Kalau Abang belum pulang juga, tolong antar aku ke bidan.
Istri 7:    Jadi Papa belum pulang? Duh... tumben banget sih Papa perginya lama banget. Mama udah kangen ni.
Istri 1:    Sama, aku juga. Aku berharap Abang ada ketika dia lahir.
Istri 7:    Kenapa tidak minta tolong kepada istri Papa yang bidan itu?
Istri 1:    Sebenarnya aku ingin ditunggui Abang. Hanya itu. Lagi pula, tenaga medis tidak boleh memeriksa keluarga dekatnya, bukan?
Istri 7:    Iya, sih. Ah... Papa memang lelaki hebat. Kakak tau ga, dulu pertama kali aku dekat dengan dia, duuuuuuuuuh... seperti dekat dengan bintang film. Sensasinya itu lho... seperti dekat dengan Leonardo diCaprio. Ketika aku dipeluk dadanya yang bidang itu, seakan-akan aku dipeluk Antonio Banderas. Bulu-bulu di dadanya itu lho, Kak, yang bikin merinding, hihihihi... . Aduh... aduh... hmmh (gemes). Kakinya yang berotot seperti kaki Christiano Ronaldo. Pernah ni, mBak, aku lihat Papa lagi main bola sama teman-temannya. Wah... tendangannya melengkung seperti pisang. Ga kalah dengan pisangnya David Beckham. Wajahnya cool, ngangenin seperti wajah Christian Bale. Kata-katanya seromantis Rendra. Berjuta-juta puisi dia buat untukku... pamflet cinta yang indah. Namun, yang takkan pernah kulupa adalah senyum Papa. Pada pertemuan pertama kami, dia menatapku tajam. Lalu, melesatkan senyuman. Gila! Senyuman yang sepanas senyuman Tom Cruise.
Istri 1:    Kapan kamu bertemu Abang pertama kali?
Istri 7:    Dua tahun lalu.
Istri 1:    Dua tahun lalu?
Istri 7:    Ya, saat itu Kakak hamil anak kedua. Kami bertemu di Kuta, Bali. Sungguh senja yang indah.
Istri 1:    Oh, ya. Saat itu seperti saat ini. Sama persis seperti saat ini. Abang... .
Istri 7:    Kenapa, Kak?
Istri 1:    Eh, oh, ga pa-pa kok.
Istri 7:    Eh, Kak...
Istri 1:    Apa?
Istri 7:    Semalam aku mimpi... .
Istri 1:    Mimpi apa?
Istri 7:    Bercinta sama Papa. Sudah lama sejak terakhir kali kami bercinta. Aku udah pengen lagi.
Istri 1:    Ya nantilah kalau Abang pulang.
Istri 7:    Kakak kapan terakhir kali bercinta?
Istri 1:    Hahahahahahaha... pertanyaanmu itu lho... ada-ada saja. Ya sebelum hamil yang inilah. Kenapa?
Istri 7:    Terakhir kali aku bercinta sama Papa itu sebelum Papa pergi. Huft... ternyata udah tiga bulan. Jablay nih. Eh, Kak... .
Istri 1:    Ya?
Istri 7:    Papa pernah ngajak main Kakak sama istri Papa yang lain?
Istri 1:    Haish, kamu ini... . Aku yang nggak mau. Nanti seperti kompetisi.
Istri 7:    Hihihihihi... ‘kan kerja sama, Kak. Hahahahahaha... (mereka tertawa) Eh, Kak... mmm... Papa suka di mana kalau lagi sama Kakak? Atas atau bawah?
Istri 1:    Maksudmu? (pura-pura bodoh)
Istri 7:    Hahahahaha... ah, enggak kok, Kak. (menghela nafas) Kak, aku masuk dulu ya. Capek nih seharian kerja. (mengendus) Hm... sedap. Kakak masak ya? Masak apa?
Istri 1:    Bukan, bukan aku yang memasak. Lihat saja di dapur.
Istri 7:    (keluar panggung) oke... (berdendang)
(hening)
Istri 3:    (dari dalam) Eh, jangan di makan dulu. Jam makan malam belum tiba.
Istri 7:    Sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiit saja... pliiiiiiiis... .
Istri 3:    Huh... (sewot) tapi jangan dihabisin ya. (mengomel) belum-belum sudah mau di makan.
Istri 1:    Ada apa?
Istri 3:    Itu lho, belum-belum sudah dimakan. Jam makan malam belum tiba. Siapa tahu Bapak pulang. (menyadari sesuatu) Eh, Bapak sudah pulang?
Istri 1:    Abang belum pulang.
Istri 3:    Kira-kira pulang kapan? Sudah lama aku tidak bertemu dengan Bapak. Nanti malam pulang? Aku sudah memasak makanan favorit Bapak.
Istri 1:    Entahlah apakah nanti malam Abang akan pulang. Memangnya apa makanan favoritnya?
Istri 3:    Aneh, sudah lama menikah dengan Bapak, kenapa tidak mengerti juga masakan kesukaannya? Bapak suka oseng-oseng terong.
Istri 1:    Oh, Abang bilang padamu kalau dia suka oseng-oseng terong?
Istri 3:    Memang Bapak bilang apa pada mBak?
Istri 1:    Capcay dan Puyunghay
Istri 3:    Masakan cina?
Istri 1:    Mengingatkannya pada leluhurnya.
Istri 3:    Bapak cina?
Istri 1:    Bukan.
Istri 3:    Lalu?
Istri 1:    Ayah Abang keturunan Cina-Arab. Sedangkan neneknya dari garis ibu Belanda-Yahudi yang diperistri seorang ningrat Jawa.
Istri 3:    Pantas Bapak tampan. Di dalam tubuhnya mengalir darah dari berbagai bangsa dan sejarah. Kamu tahu kapan Bapak pulang?
Istri 1:    Abang tidak bilang apa-apa padamu?
Istri 3:    Tidak. Pada mBak?
Istri 1:    Tidak.
Istri 3:    Aku rindu pada Bapak. Sudah lama Bapak pergi. Kemarin sewaktu berangkat, aku tidak dipamiti. Bapak, cepatlah pulang. Aku bosan di sini tanpa hadirmu. Hanya memasak atau menonton sinetron. Tidak ada kegiatan lain. Kalau ada Bapak di sini, hari-hariku pasti akan menjadi lain. Bapak, pulanglah segera.
Istri 1:    Kamu ini merengek saja seperti anak-anak.
Istri 3:    Karena aku sangat rindu pada Bapak. mBak enak, sudah punya anak. Kini mengandung pula. Semua istri Bapak sudah punya anak, kecuali aku. Aku juga ingin punya anak. Aku ingin merasakan benih Bapak tumbuh di dalam rahimku. Aku ingin merawat anak Bapak yang dari rahimku sendiri. Selama ini aku merawat anak-anak kalian.
Istri 1:    Anak-anak kita!
Istri 3:    Tapi aku belum pernah mengandung dan melahirkan seperti kalian! Aku ingin menimang anakku sendiri dari Bapak sehingga nanti jika Bapak pergi lama lagi seperti ini, aku takkan kesepian karena ada Bapak kecil di pelukanku. (menangis)
Istri 1:    (mendekat) Sudahlah... jangan menangis.
Istri 3:    Aku takut Bapak tak lagi mencintaiku karena aku mandul.
Istri 1:    Abang mencintai kita semua. Mungkin ada baiknya kalau sekali-sekali kamu periksa ke dokter.
Istri 3:    Namun, Bapak tidak pernah ada di rumah.
Istri 1:    Walau Abang jarang ada di rumah, Abang selalu hadir di sini, di dalam kerinduan kita, di dalam kenangan kita, di dalam harapan kita, di dalam cinta kita. Sudahlah, nanti kita ke dokter sama-sama, sekalian aku memeriksakan kandunganku.
Istri 3:    Kapan lahir?
(Anak 2 dan Anak 3 berkejar-kejaran, berkeliling panggung, saling berebut boneka buaya yang dibawa lari oleh Anak 2.)
Anak 3:  Bonekaku!!! (sambil mengejar)
Anak 2: Pinjam sebentar... . (terus berlari)
Anak 3:  Aaaaaa... jangan... nanti rusak... .
Anak 2:  Pelit ah... .
Istri 3:    Eh, ayo mainan di luar saja. Jangan di dalam rumah. (ikut heboh... ikut mengejar... melerai)
Istri 1:    Lho, aku pikir tadi kalian pergi ke luar bermain bersama adik-adik yang lain. Di mana adik-adik kalian?
Anak 3:  Ga tahu... aku dari tadi main sama Kakak. Eh, tapi bonekaku malah diambil.
Anak 2:  Tadi aku lihat yang lain lagi main di taman sana, Tante.
Istri 1:    Kok manggilnya “Tante”? “Ibu”... .
Istri 3:    Eh, ayo... bonekanya kembalikan pada adikmu. (Anak 2 terpaksa mengembalikan boneka buaya itu kepada Anak 3.) Kenapa tidak main sama mereka?
Anak 2:  Kami ga boleh main sama mereka.
Istri 3:    Siapa yang melarang?
Anak 3:  Mama... (Sambil memeluk erat boneka buayanya.)
Anak 2:  Iya Mama...
Istri 3:    Ya ampun, segitunya sih?
Anak 2:  Tante... eh, Ibu, tadi aku lihat Papi di taman.
Istri 3:    Bapak pulang? (girang)
Anak 3: (masih memeluk erat boneka buayanya) Iya, Tante.
Anak 2: (kepada Anak 3) Ibu!
Anak 3: Iya... maaf... Ibu... .
Istri 3:    Hmmh... ya ampun... kalian ini. Bikin gemes deh. Sini aku peluk (memeluk mereka) Aku ini juga ibu kalian.
Anak 3:  Tapi Mama nggak bilang gitu. Katanya kalian bukan ibu kami.
Anak 2:  Katanya cuma ibu tiri. Dan, ibu tiri itu katanya kejam.
Istri 3:    Apakah aku pernah kejam kepada kalian? Kepada adik-adik kalian? Aku juga sayang kepada kalian, walaupun kalian tidak lahir dari rahimku sendiri. Buktinya, aku selalu memasakkan sarapan, makan siang, dan makan malam untuk kalian. Kalian selalu sekolah membawa bekal yang aku buatkan, ‘kan?
Anak 3:  Iya.
Anak 2:  Iya... enak. Apa lagi yang nasi goreng keju telur itu.
Istri 3:    Kamu suka?
Anak 3:  Kakak sangat suka, Bu... saking sukanya, punyaku juga dihabiskan.
Anak 2:  Ih... pakai laporan segala.
Istri 3:    Hahahaha... besok aku buatkan ya... dan kubawakan yang lebih banyak khusus untuk kamu (kepada Anak 2), supaya kamu tidak mengambil jatah adikmu yang imut ini. (mencium sayang pipi Anak 2 dan 3 seakan-akan mereka itu buah rahimnya sendiri yang sudah lama dirindukan).
Istri 1:    Eh, ibu mau ke taman mencari adik-adik dan menyambut ayah kalian. Kita main sama-sama yuk sama mereka.
(Anak 2 dan Anak 3 saling memandang)
Anak 2:  Ga pa-pa ah, sekali-sekali.
Anak 3:  Tapi nanti Mama marah.
Anak 2:  Kalau ga tahu, pasti ga marah.
Anak 3:  Yuk... . Tapi jangan bilang Mama ya... (berjalan keluar panggung tanpa menaruh curiga)
Anak 2:  (mendekati Anak 3, masih di dalam panggung merebut kembali boneka buaya itu, lalu berlari mengelilingi panggung, sebelum akhirnya keluar panggung)
Anak 3:  Bonekaku!!! (mengejar keluar panggung)
Istri 3:  Dasar anak-anak... hmmh (gemas)
Istri 1: Yuk antar aku... .

(Saat Istri 1 dan Istri 3 hendak berjalan ke luar, Istri 2 dan Istri 4 masuk dari luar, berpapasan.)
Istri 2:    (sinis memandangi perut buncit Istri 1) Mau ke mana?
Istri 3:    Mau mencari anak-anak di luar.
Istri 2:    Aku tidak bertanya kepadamu.
Istri 1:    Kalian melihat anak-anak di taman?
Istri 2:    Entahlah. Aku tidak memperhatikan.
Istri 1:    Oh... . (Istri 3 menarik tangan Istri 1, Istri 1 berhenti sejenak.) Mari... .

(hening, Istri 1 dan Istri 3 keluar panggung)

Istri 4:    Anak keberapa, sih, itu?
Istri 2:    Ketiga dari rahimnya. Kamu punya anak berapa dari Mas?
Istri 4:    Aku baru satu. Kamu?
Istri 2:    Aku sudah dua.
Istri 4:    mBak...
Istri 2:    Ya?
Istri 4:    Aku sudah bosan dimadu seperti ini. Mas sudah beranjak tua. Sebentar atau lama Mas akan mati. Akankah aku mendapat warisan yang besar? Mas punya 7 istri dan 10 anak.
Istri 2:    Maksudmu kamu ingin menyingkirkan 6 istri Mas yang lain termasuk aku agar mendapatkan warisan yang lebih banyak?
Istri 4:    Bukan itu, mBak.
Istri 2:    Lalu?
Istri 4:    Aku sudah muak dimadu. Lama-kelamaan aku jadi benci lelaki. Mereka sama saja. Dulu sewaktu aku masih remaja, banyak lelaki datang dan pergi di hatiku. Mereka hanya ingin menikmati kecantikanku. Itu saja. Mereka tidak peduli dengan perasaanku sebagai seorang perempuan. Aku hanya ingin dimengerti, mBak. Namun, sepertinya lelaki hanya menginginkan kecantikanku saja. Aku jadi merasa seperti barang properti. Berkali-kali aku ganti pacar. Sampai-sampai aku hampir kehilangan perasaan. Pacar sama saja dengan teman biasa. Dari semua lelaki yang aku jumpai, tak ada yang mampu mengerti aku. Lelaki itu egois. Maunya menang sendiri. Tidak mau mendengarkan jerit tangis hatiku. Tidak mampu memandangku sebagai seorang manusia yang utuh.
Istri 2:    Termasuk Mas?
Istri 4:    Mas lain, mBak.
Istri 2:    Kok?
Istri 4:    Ketika aku sudah putus asa dengan lelaki, Mas hadir di dalam hidupku. Mas bukan lelaki biasa. Mas lembut dan pengertian. Mas itu kebapakan. Mungkin karena usianya yang terpaut jauh denganku. Hanya dengan tatapan matanya, aku merasa telah dimengerti, aku merasa telah didengarkan. Aku dimanusiakan. Tidak seperti mantan-mantan pacarku yang membuatku merasa seperti barang properti yang indah. Mas berhasil menyelimuti dan menghangatkan perasaanku yang dingin dan hampa. Saat itulah pertama kalinya aku benar-benar merasakan jatuh cinta.
Istri 2:    Saat itu kamu tahu bahwa Mas sudah memiliki tiga istri?
Istri 4:    Awalnya aku tidak mengetahuinya. Dan, ketika mengetahuinya, aku sempat ragu. Namun, cinta membutakan mataku. Saat itu aku berpikir bahwa aku akan menjadi istri terakhirnya, cinta terakhirnya, pelabuhan hati terakhirnya. Hatiku semakin luluh. Aku bersedia dipinang. Namun, aku salah, mBak. Mas kemudian masih menikahi perempuan lain. Aku merasa dikhianati.
Istri 2:    Kenapa tidak minta cerai?!
Istri 4:    Aku tak berani, mBak. Memikirkan saja aku tak berani.
Istri 2:    Kenapa?
Istri 4:    mBak tahu, kan, aku tidak bekerja. Sebenarnya sudah lama aku merasa kesepian di rumah ini. Aku merasa dikhianati. Aku pun tak memiliki pekerjaan yang dapat menghiburku. Hanya mBak yang mampu membuatku sedikit santai dan damai.
(Istri 2 memegang tangan Istri 4, memandang matanya, lalu memeluknya)
Istri 2:    (mengecup kening Istri 4) Kamu tahu, aku sebenarnya ingin cerai dari Mas.
Istri 4:    Maksud mBak?
Istri 2:    Aku sebenarnya sangat benci terhadap lelaki. Tidak seharusnya lelaki ada di muka bumi ini. Hanya sampah dunia. Aku memimpikan dunia yang dipenuhi oleh perempuan. Pasti akan indah. Sudah lama perempuan diperbudak oleh lelaki. Kini saatnya untuk membalik keadaan.
Istri 4:    Lalu kenapa mBak mau dinikahi Mas?
Istri 2:    Mengalah untuk menang. Mas kaya. Aku butuh dana untuk kuliah. Aku butuh dana untuk bisa mewujudkan impianku. Perjuangan hak-hak perempuan. Aku mau dia nikahi asalkan dia menguliahkanku. Gelar Doktor kini ada di tanganku. Inilah saatnya untuk menggugat cerai. Kamu mau ikut?
Istri 4:    Lalu bagaimana dengan anak-anak kita?
Istri 2:    Aku punya pekerjaan yang cukup layak. Aku memiliki rumah atas namaku pribadi. Aku telah merencanakan ini sejak lama. Kita gugat cerai!
Istri 4:    Tapi aku takut, mBak... .
Istri 2:    Kamu percaya aku sayang kamu, ‘kan?
Istri 4:    (mengangguk-angguk)
Istri 2:    Kamu juga sayang aku, ‘kan?
Istri 4:    (mengangguk-angguk kembali)
Istri 2:    Kamu nanti bisa tinggal bersamaku. Kamu dan anak-anakmu... . Kita bisa tinggal serumah. Kamu nanti mengurus anak-anak kita. Aku yang akan bekerja mencari uang.
Istri 4:    Tapi apa kata orang nanti, mBak?
Istri 2:    Persetan apa kata orang. Mereka toh tidak mengalami yang kita alami! Mereka tidak pernah mengalami pahitnya dimadu. Mereka tidak pernah digagahi lelaki keparat. Jangan dengarkan apa kata orang. Mana yang lebih kaupercayai, kata orang atau kataku?
Istri 4:    Aku lebih percaya kamu, mBak... . (menyembunyikan wajahnya pada pundak Istri 2, seakan-akan ingin bersembunyi dari dunia) Aku sayang mBak.
Istri 2:    Aku juga sayang kamu. (menghela nafas, lalu mengangkat wajah Istri 4, menatapnya dengan yakin) Nah, sekarang, kamu harus menyiapkan mentalmu. Kita harus bersatu. Kita tidak bisa melawan lelaki tua itu sendirian. Lelaki itu punya kuasa. Jika kita ingin memberontak terhadap kuasa itu, kita harus melakukannya bersama-sama. Atau, kita akan kembali terjatuh pada perangkap pesonanya. Pertama-tama, kita akan mencari seorang pengacara yang bisa membantu gugatan kita ini. Kurasa, aku mengenal seorang nama yang bisa memudahkan kita untuk segera cerai dari Mas.

(sekonyong-konyong masuklah Istri 5)
Istri 5:    (berlari mendekat) Cerai?
(hening)
Istri 2:    Ya, cerai.
Istri 5:    Aku tidak setuju.
Istri 2:    Tidak setuju? Jadi, kamu mau diperbudak seperti ini seumur hidupmu?
Istri 5:    Diperbudak bagaimana maksud mBak?
Istri 2:    Dinikahi seorang lelaki yang sudah beranak-beristri!
Istri 5:    Tapi, perkawinan itu suci, mBak.
Istri 2:    Suci?! Dapatkah ada hal yang suci dari buaya tua itu?
Istri 4:    Perkawinan itu suci kalau hanya ada satu suami dan satu istri.
Istri 5:    Namun, kita sudah dipersatukan dengan Ayah. Tidak mungkin kita minta cerai. Apa kata orang nanti? Kita menjadi janda cerai. Aib, mBak... aib. Kita hanya perempuan.
Istri 2:    Kalau semua perempuan di dunia ini berpikir seperti kamu, pantas jika perempuan menjadi budak.
Istri 4:    (melirik lukisan wajah Sang Suami) Kesan pertama bertemu Mas, memang seakan mas lelaki sejati. (berjalan ke arah lukisan itu) Mampu meluluhkan hati perempuan. Mas mampu menaklukkan hati perempuan. Mas mampu memahami perempuan.
(Istri 6 masuk dari dalam rumah, dia hendak pergi ke Rumah Sakit, bekerja, tapi kemudian terkejut dengan pembicaraan Istri 2, Istri 4, dan Istri 5, lalu menguping)
Istri 2:    Lelaki sejati itu adalah yang mampu menghormati perempuan. Lelaki semacam itu mampu mempertahankan hubungannya dengan satu orang perempuan, bukan menginjak-injak perempuan seperti ini. Lelaki seperti inilah yang menciptakan perempuan-perempuan radikal sepertiku dan sekaligus menciptakan perempuan-perempuan lemah seperti kalian.
Istri 6:    Aku setuju.
Istri 5:    Dik?
Istri 6:    Ya, mBak, lelaki sejati itu adalah ketika dia mampu mempertahankan satu-satunya cinta sejatinya. Bukan seperti Mas yang mengawini banyak perempuan seperti ini. Konsep lelaki sejati macam apa itu? Apakah lelaki rela jika harus berbagi istri dengan lelaki lainnya? Tentu tidak, bukan? Itu juga yang kita rasakan, setidaknya aku rasakan. Lelaki sejati itu adalah yang mampu mencintai satu orang perempuan hingga ajal menjemputnya. Walaupun di dalam perjalanan dia naksir dengan perempuan yang lain, dia tetap mampu mempertahankan satu-satunya istrinya.
Istri 5:    Munafik! Lalu mengapa kamu sudi dinikahi Ayah?
Istri 6:    Aku dijebak. Orang tuaku dijebak. Orang tuaku memiliki hutang kepada Mas. Jika orang tuaku tak mampu membayar hutang itu, rumah kami akan disita oleh Mas. Dan, dengan mengawiniku, hutang orang tuaku dianggap lunas. Gila! Padahal saat itu aku telah memiliki kekasih. Hampir saja aku bunuh diri karena putus asa. Untung kekasihku mencegahku dan masih memberiku harapan?
Istri 5:    Kamu masih selingkuh dengan kekasihmu?
Istri 6:    Aku tidak selingkuh! Kekasihku itulah sebenar-benarnya lelaki sejati. Dia mampu memaafkan kesalahan orang tuaku. Tidak bermain licik seperti Mas.
Istri 2:    Kamu masih mencintai kekasihmu?
Istri 6:    Ya. Dan, jika mBak hendak menggugat cerai Mas, aku ikut. Sehingga, aku bisa menikah dengan kekasihku, cinta sejatiku. Berdua hingga ajal menjemput kami.
Istri 5:    (kepada Istri 6) Bagaimana mungkin kamu berkata bahwa kamu tidak selingkuh? Kamu ini istri sah seseorang! Tapi main serong dengan lelaki lain tanpa sepengetahuan suaminya. Istri macam apa kamu?
Istri 6:    Ragaku ini memang secara hukum dan agama merupakan milik Mas. Akan tetapi, hati dan jiwaku ini... cintaku ini... semua adalah milik kekasihku. Mas memang berhasil memenangkan tubuhku, tetapi takkan pernah dia memenangkan cintaku. Aku tidak pernah cinta kepada Mas. Cara-cara liciknya untuk menikahiku sangat menjijikkan. Namun, tentu saja dia memakai cara licik seperti itu. Tentu aku takkan sudi menikah dengan lelaki yang sudah beristri dan beranak! Tentu aku akan lebih memilih menikah dengan kekasihku, lelaki sejatiku, cinta matiku. Sayang, kekasihku itu tak punya harta... . Dia tak bisa berbuat banyak untuk membebaskan aku dari jerat yang dipasang oleh suamimu itu!
Istri 5:    Dia juga suamimu!!! Suami sahmu!
Istri 6:    Ya... suami kita... kita!!! Aku, (menunjuk kepada Istri 5) mBak, (menunjuk kepada Istri 2) dia, (menunjuk kepada Istri 4) dia, dan (menunjuk keluar) mereka!
Istri 5:    Kausudah tahu bahwa kau memiliki suami sah, dan kaumasih berhubungan dengan lelaki tidak jelas itu? Lalu, kini hendak bersekongkol dengan mereka (menunjuk Istri 2 dan 4) untuk menggugat cerai Mas, supaya kaubisa kawin dengan lelaki tak jelas itu? Perempuan murahan!
Istri 6:    (menghela nafas) mBak memakiku munafik, mengataiku perempuan murahan, menuduhku selingkuh dengan cinta sejatiku... lalu mBak kira yang dilakukan Mas ini apa? Dia berhubungan dengan banyak perempuan, dia menikahi banyak perempuan! Dan, mungkin... di saat istri-istrinya menanti dia di rumah, dia tengah bermain dengan perempuan muda di luar sana! mBak sebut apa itu? Standar ganda, mBak! mBak memaki-maki cinta tulusku terhadap kekasihku... mBak marah karena aku hendak monogami dengan kekasih sejatiku... namun, mBak diam saja ketika suami mBak sendiri asyik mengawini perempuan lain di depan hidung mBak.
Istri 5:    (terdiam)

(hening)
(seorang Perempuan Muda masuk memecah kesunyian)

Perempuan Muda: Permisi. Maaf, saya masuk sembarangan, pintu tidak dikunci.
Istri 2:    Siapa kamu?
Perempuan Muda: Saya istri Koko.
(Istri 4 terkejut mendengar hal itu, Istri 1 masuk)
Istri 1:    Eh, kalian sudah kenalan? Ini istri baru Abang. Cantik ya? Memang Abang lelaki yang pintar memilih istri.
Perempuan Muda: Perkenalkan, nama saya... .
Istri 4:    Mas menikah lagi?!
Istri 1:    Iya, Dik... .
Istri 4:    (segala kecewa, sedih, marah, muak terakumulasi hingga akhirnya meledak) Gila! Ini gila, mBak. Apa yang dicari lelaki tua itu? Aku semakin muak saja.
Istri 1:    Dik, kamu bicara apa?
Istri 2:    Kami sepakat ingin menggugat cerai Mas!
Istri 1:    (terkejut, merasakan sakit pada perutnya, hampir terjatuh, memegangi perut buncitnya)
Istri 5:    mBak... (memegangi Istri 1)
Istri 1:    (menahan sakit di perut, mungkin karena terkejut)
Istri 6:    mBak, belum saatnya, bukan? (lalu mencarikan kursi untuk duduk Istri 1 yang kesakitan)
Istri 1:    Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Bayi di dalam rahimku hanya melonjak saja.
Istri 5:    (kepada Istri 6) Kamu ‘kan bidan. Kalau ada apa-apa, tolong mBakmu ini ya.
Istri 6:    Iya. (diam sejenak, lalu bicara kepada Istri 1) Mmm... anu mBak, setelah mBak melahirkan, aku juga akan mengguggat cerai Mas.
Istri 1:    Kamu juga ingin cerai dari Abang?
Istri 5:    Mereka bertiga ingin cerai dari Mas, mBak.
Istri 2:    Ya, kami ingin cerai. Apa?! (so what?!)
Istri 1:    (menangis) Setelah semua yang Abang berikan kepada kita?
Perempuan Muda:       Maaf, bukan karena Koko mengawini saya, bukan?
Istri 2:    Kamu pikir siapa kamu sehingga mampu memengaruhi keputusan kami? Kami ingin cerai karena kami muak dengan kelakuan lelaki tua itu yang terus saja mempermainkan kita perempuan. Kawin melulu kerjaannya.
Istri 4:    Kamu istri baru Mas? (memastikan, semakin inferior)
Perempuan Muda: Iya. Kami baru saja pulang dari bulan madu. (pamer, menyombong) Awalnya kami pergi mohon restu orang tua di kampung. Lalu kami ke Thailand. Pulangnya naik pesawat. Turun di Ibu Kota. Lalu, Koko sengaja mengajak saya pulang ke sini naik Kereta Api. Saya sebenarnya tidak sabar untuk segera ke rumah ini, memberi salam hormat kepada Kakak-kakak sekalian. Tapi, Koko malah mengajak pergi ke Bandung. Di sana kami menghabiskan malam-malam yang indah. Baru pertama kali itu saya ke luar negeri... dan baru pertama kali itu saya ke Bandung. Ternyata kotanya indah... banyak tamannya. Waktu saya ingatkan Koko untuk segera pulang ke sini, eh... Koko malah bilang kalau kami nikmati dulu saja saat-saat berdua di Bandung. Terus, begitu sampai di sini, Koko menyuruh saya masuk duluan, sebab dia ingin menemui anak-anak di taman.
Istri 2:    Hemh (ketus) pantas ga pernah di rumah, keluyuran saja kerjaannya. Ngawini perawan desa rupanya.
Istri 5:    mBak!!!
Istri 4:    (kepada Perempuan Muda) Berapa umurmu?
Perempuan Muda: Saya delapan belas... .
Istri 4:    Delapan belas?
Perempuan Muda: Saya baru lulus SMK.
Istri 4:    Jadi, begitu lulus, kamu langsung dikawin sama Mas?
Perempuan Muda: Koko menunggu hingga saya genap delapan belas tahun.
Istri 4:    Kapan?
Perempuan Muda: Tiga bulan yang lalu.
Istri 4:    Jadi dia pergi selama ini khusus untuk mengawinimu?!
Perempuan Muda: Koko sudah janji.
Istri 4:    Jadi kamu sudah lama mengenal Mas?
Perempuan Muda: Koko yang membiayai saya sekolah di kota hingga lulus. Koko begitu baik kepada saya dan kedua orang tua saya. Koko berjanji kepada kedua orang tua saya untuk menyekolahkan saya dan menjamin masa depan saya. Awalnya Koko hendak menikahi saya tiga tahun lalu. Namun, waktu itu secara hukum saya masih anak-anak. Sehingga, Koko menunggu saya genap berumur delapan belas tahun. Saat saya sekolah di kota dulu, Koko sering mengunjungi saya dan mengajak saya pergi jalan-jalan. Mulanya Koko menawari saya kuliah, tapi saya tidak mau. Saya hanya mau bersama Koko. Saya tidak bisa hidup tanpa Koko.
Istri 4:    Tetapi Mas sudah punya istri! Kamu tidak tahu itu?
Perempuan Muda: Saya tahu. Tapi, saya hanya mau bersama Koko. Saya tidak bisa lepas dari Koko. Saya tidak bisa hidup tanpa Koko. (memegangi perutnya) Kebahagiaan saya semakin lengkap... saya mengandung anak Koko... sudah jalan dua bulan.
Istri 4:    (semakin merasa dikhianati) Mas itu tidak pernah mengerti perasaanku. Ternyata semua lelaki itu sama saja. Ga beda mantan-mantanku, ga beda Mas. Sama saja. Hanya mau tubuh perempuan tanpa sudi memahami perasaan perempuan. Bisa-bisanya lelaki tua itu menikahi gadis kemarin sore ini?! Padahal dia punya tujuh istri di rumah yang menantinya... . Aku kira aku akan jadi cinta terakhirnya. Ternyata aku salah... aku salah... . Aku hanyalah salah satu barang koleksinya saja!!! (menangis... berlari ke luar panggung... dari luar panggung berteriak dan memecahkan perabotan)
Istri 6:    mBak!!! (berlari mengejar Istri 4)
(hening)
Istri 2:    (menziarahi raga Si Perempuan Muda dengan mata) Cantik... tapi tolol.
Perempuan Muda: Iya, maaf, saya hanya lulusan SMK.
Istri 2:    Pantas! Mau dimangsa buaya berkarat itu.
Istri 1:    Dik, hormatilah Abang. Oke kamu hendak bercerai dari dia, tapi hormatilah dia setidaknya sebagai orang yang menyekolahkanmu hingga bergelar Doktor.
Perempuan Muda: Kakak Doktor ya?
Istri 2:    Ya. Saya S3. Apa?!
Perempuan Muda: Mengapa perempuan sepintar Kakak mau... mmm... mau juga dinikahi Koko? Kakak istri ke berapa?
Istri 2:    (tersinggung) Bukan urusanmu! Heh... perawan bau kencur, eh, sudah tidak perawan lagi ya? Sudah dikadali buaya berkarat ya? Heh... asal kamu tahu ya, kamu ini adalah tipe perempuan desa yang silau dengan harta. Kamu pikir mengapa kamu mau dinikahi dia?
Perempuan Muda: Saya cinta.
Istri 2:    (semakin membara) Tai kucing cinta!!! Kamu pikir siapa yang kamu cintai? Lelaki dengan tujuh... TUJUH istri!!! Kamu tahu? Tolol kamu mau dijadikan yang ke delapan. Saya saja mau cerai dari dia. Muak rasanya hidup serumah dengan buaya itu. Apa lagi hidup serumah dengan istri-istrinya yang lain.
Istri 1:    (berusaha sabar demi kandungannya) Sudah... sudah... . Sudahlah... . Kalau kamu memang tidak ingin terus menjadi istri Abang, mintalah cerai baik-baik. Tapi tetap hormati dia, hormati kami istri-istri yang masih mencintai dan menanti selalu kepulangannya.
Istri 2:    Istri-istri yang dengan tolol menanti? Jadi apa dunia ini kalau semua perempuan lembek seperti kalian? Ini saatnya perempuan angkat bicara. Perempuan itu sederajat dengan lelaki, kau tahu!
Istri 5:    Tapi tetap berbeda.
Istri 2:    Apa yang membuat kita perempuan dan lelaki berbeda? Kita bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Selama Mas pergi, aku yang membetulkan segala perabot rumah ini. Aku bisa berperan sebagi lelaki kalau aku mau. Aku tak membutuhkan lelaki.
Istri 1:    Namun, anak-anak kita membutuhkan figur seorang ayah yang tidak mampu kita berikan.
Istri 5:    Iya mBak. Kita hanya perempuan... . Dia lelaki.

(Istri 7 masuk dengan jengkel)

Istri 7:    (mengomel) Apa-apaan sih? Berisik tau ga? Ganggu orang lagi istirahat aja. (terkejut) Eh, ada tamu ya? Kalian ini gimana sih? Malu donk ribut di depan tamu! (kepada Perempuan Muda, tersenyum) Siapa namamu?
Perempuan Muda: Salam, Kakak. Perkenalkan, nama saya... .
Lelaki:   (suara dari luar menyapa rindu) Istri-istriku... .
(Semua pemain tablo. Lampu fade-out)
***

Tepi Jakal, 18 Februari 2011 (disempurnakan pada 13 Maret 2015)

Padmo Adi (@KalongGedhe)

No comments:

Post a Comment