Saturday, June 18, 2016

RAHASYA

RAHASYA

Ketika engkau menghadapi persimpangan di dalam perjalananmu, apa yang akan engkau lakukan? Mungkin engkau akan tetap mengambil jalan yang sudah kaurencanakan sebelumnya. Engkau melihat penunjuk arah warna hijau besar itu, mungkin juga melihat peta atau GPS, mengecek rencana perjalananmu, lalu dengan mudahnya berbelok ke arah yang memang sudah kauinginkan, kaurencanakan, dan bahkan kaukenali. Akan tetapi, bisa juga, ketika engkau melihat peta atau GPS itu, kaudapati bahwa arah yang satunya akan membawamu ke suatu tempat yang mungkin belum pernah kaukunjungi sebelumnya, atau bahkan ke tempat yang jarang dilalui oleh orang kebanyakan. Didorong oleh rasa penasaran dan jiwa petualangmu, akhirnya kaupilih jalan yang lain itu, jalan yang sama sekali tidak ada di dalam rencana perjalananmu, jalan yang sama sekali bukan menjadi tujuan awalmu. Para pengendara dual-sport atau motor Adv yang gemar “tersesat” akan lebih mungkin mengambil pilihan ini. Akan tetapi, bisa jadi engkau akan berhenti untuk waktu yang cukup lama, menimbang-nimbang arah mana yang akan kaupilih, menimbang-nimbang untuk sampai ke tempat yang direncanakan sesuai estimasi waktu atau untuk mengalami suatu petualangan yang mungkin tidak akan pernah dapat kauulangi. Kemudian, kauakan dicekam kecemasan. Kaucemas bahwa engkau akan kecewa. Ketika engkau memilih untuk mengambil jalan yang sesuai rencana, engkau cemas akan kecewa melewatkan kesempatan yang mungkin takkan pernah kembali untuk bertualang ke tempat baru, melewati jalan asing. Akan tetapi, ketika engkau memilih untuk mengambil jalan asing yang menantang jiwa petualangmu, engkau cemas akan kecewa, kecewa akan tempat yang ternyata tidak sesuai bayanganmu, kecewa karena telah membuang-buang waktu hingga rencana perjalananmu berantakan. Sebenarnya, apapun pilihanmu, engkau akan kecewa. Bahkan, dengan tidak memilih, berdiam diri di persimpangan itu untuk waktu yang terlalu lama, engkau pun akan kecewa. Maka, engkau hanya perlu memilih. Pilihlah satu arah. Pilihlah satu jalan. Kemudian, carpe diem, nikmatilah perjalananmu.

Pada persimpangan semacam itulah aku berada kini. Jika aku belok ke kiri, aku akan sampai di tempat yang sudah kurencanakan seminggu sebelumnya, Pantai Buyutan, Pacitan. Akan tetapi, tiba-tiba saja hatiku menginginkanku untuk mengambil jalan ke kanan, ke arah Pantai Nampu, Wonogiri. Aku sendiri, mengendarai DTracker150, lengkap dengan peralatan berkemah. Tanpa pikir panjang, segera kuarahkan sepeda motorku ke arah Pantai Nampu. Tentu aku akan kecewa tidak jadi berkemah di Pantai Buyutan, tetapi toh aku juga akan kecewa tidak menuruti kata hatiku untuk mengubah tujuan ke Pantai Nampu.

Pantai Nampu sebenarnya merupakan potensi wisata alam milik Wonogiri yang tidak kalah dengan pantai-pantai di Gunung Kidul, Yogyakarta. Akan tetapi, sepertinya Pemerintah Kabupaten Wonogiri tidak sesemangat Pemkab Gunung Kidul. Namun, di sisi lain, aku justru bersyukur dengan keadaan itu, sehingga seorang pengendara adventure macam diriku ini memiliki alternatif yang murah meriah ketika pantai-pantai Gunung Kidul yang mainstream dan mahal itu semakin dipadati manusia-manusia kota yang ingin melepas penat dihajar kapitalisme. Jujur, sebenarnya aku ingin hidup sebagai manusia gunung, seperti yang pernah aku saksikan di channel National Geographic. Mereka hidup di pegunungan, hutan, daerah yang terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari sistem yang semakin menghimpit. Mereka hidup dengan berburu, memakan semuanya... ya, semuanya. Mereka makan babi, rusa, tikus hutan, bajing, ular, kalong, bahkan kalau perlu makan anjing, dan untuk bertahan dari dehidrasi minum darah mamalia. Tidak ada agama, tidak ada halal-haram, tidak ada kelas menengah ngehek yang sok cinta binatang, tidak ada table manner, tidak ada sistem, tidak ada uang. Yang ada hanyalah bagaimana mengatakan “ya” pada hidup, dengan terus-menerus berada di situasi survival, hingga ke titik ekstrim kembali ke alam, menjadi bagian dari rimba raya. Dan, bukan berarti orang-orang (yang mungkin  di mata orang-orang kota dipandang) liar itu tidak memiliki code of life, prinsip hidup. Di channel National Geographic itu aku saksikan, salah satu orang gunung itu berburu rusa. Dia melihat rusa buruannya itu. Direntangkannya busur panahnya. Rusa itu dibidiknya. Akan tetapi, kemudian dia mengendurkan busurnya, membatalkan perburuannya itu. “Rusa itu tua dan sakit. Tidak pantas kita memburu rusa tua yang sakit,” katanya. Sebagai gantinya, dia menyembelih seekor bajing untuk 50% kebutuhan energinya. Aku hanya bisa iri menyaksikan kehidupan bebas semacam itu. Paling banter yang bisa kulakukan hanyalah go ride an adventure, mengendarai DTracker150-ku, lalu berkemah di suatu tempat yang jauh... suatu pelarian yang manis. Pelarian manis inilah usaha tawar-menawar terbaikku. Ya... aku tidak bisa pergi begitu saja dari kota. Ada hal yang membuat hidupku tertambat di sana.

***

Sesampainya di Nampu, segera saja kudirikan tenda dome warna kuning ngejreng yang kumiliki. Waktu menunjukkan pukul 17.00, senja akan segera tiba. Kukeluarkan kompor portabel. Aku hendak merebus tiga paha ayam yang aku bawa dari rumah untuk makan malam. Daging rebus tanpa bumbu, tanpa digoreng, tanpa dibakar, masih berwarna kemerahan, dan dengan rasa amis adalah favoritku. Dulu, sewaktu kecil dan masih tinggal bersama nenek, aku selalu meminta nenek menyisihkan satu atau dua daging rebusan pertama untuk kujadikan lauk, sebelum nenek menggoreng atau membacem atau membakar daging-daging sisanya. Tentu aku merebus daging itu sampai airnya benar-benar mendidih, sampai seluruh daging dan tulangnya matang. Pukul 18.30, ketika aku hendak menyantap makan malam, ada seseorang datang. Dia mendirikan tenda 5-7 meter di sebelah barat tendaku. Aku tidak begitu mempedulikannya, sebab perutku sudah lapar. Sementara, ombak laut selatan menderu dan pecah di bebatuan karang.

Malam pertamaku di Nampu kuhabiskan bersama diriku sendiri. Aku tidak begitu mempedulikan tetangga baru di sebelah barat tendaku tersebut. Dan, segera setelah matahari pecah di timur, aku menyiapkan menu sarapan hari ini. Hanya makan tiga potong paha ayam rebus di malam sebelumnya ternyata membuatku kelaparan pagi itu. Segera aku merebus tiga buah kentang seukuran kepalan tangan, dua butir telur, dan sepotong wortel. Semuanya kurebus jadi satu tanpa bumbu. Sempat kulirik tenda tetangga baruku itu. Masih belum ada tanda-tanda kehidupan. Sementara, ombak laut selatan menderu dan pecah di bebatuan karang.

Pukul 07.53, aku sudah menyelesaikan sarapanku. Sementara, tenda tetanggaku itu pun akhirnya terbuka. Baru bangun? Aku menatap tenda itu. Seseorang keluar dengan enggan, lalu segera menuju bibir pantai. Menguap. Lalu ngolet. Ketika dia menoleh ke timur, sinar keemasan mentari menerpa wajahnya. Bening. Dia melihatku, seakan terkejut menyadari keberadaanku, mengamati sejenak, lalu tersenyum. Manis. Perempuan dengan senyum yang manis. Dia menyapaku, selamat pagi. Dengan kikuk aku menjawab salam itu. Kemudian aku berbasa-basi, bertanya, apakah dia sudah makan. “Nanti,” jawabnya. Lalu, dia tenggelam ke dalam suasana pagi Pantai Nampu. Sementara, ombak laut selatan menderu dan pecah di bebatuan karang.

***

Rahasya, itu namanya. Bukan Resya, bukan Reza, bukan Raisa... bukan. Melainkan, Rahasya... ya, begitu dia memperkenalkan dirinya. Dia seorang lady biker, katanya. Lady biker adalah sebutan untuk seorang penghobi kendara sepeda motor, tetapi perempuan. Aku heran, jika seorang perempuan penghobi kendara sepeda motor disebut “lady biker”, mengapa seorang lelaki penghobi kendara sepeda motor tidak disebut “gentleman biker”, melainkan semata hanya disebut “biker”? Mengapa lelaki selalu menjadi nilai netral di dalam banyak hal, untuk tidak mengatakan semua, sedangkan perempuan adalah nilai tersendiri? Mungkinkah penyebutan “lady” itu disematkan kepada tiap perempuan yang hidup di dunia lelaki? Tetapi, toh Maria Herera, pembalap moto3 itu, hanya disebut racer atau rider, tanpa embel-embel “lady”. Benarkah ada dikotomi “dunia lelaki” dan “dunia perempuan” itu? Atau, jangan-jangan kita hidup di dunia di mana “nilai lelaki” menjadi nilai netral yang berlaku baik untuk lelaki dan perempuan, sementara “nilai perempuan” menjadi standar nilai yang hanya berlaku di kalangan perempuan? Ketika lelaki mengenakan pakaian lelaki, misalnya, kita anggap biasa. Lalu, seorang perempuan memakai pakaian lelaki, misalnya kemeja kotak-kotak, kita bilang itu seksi. Ketika seorang perempuan mengenakan pakaian perempuan, kita bilang itu pas dan anggun. Akan tetapi, ketika seorang lelaki mengenakan pakaian perempuan, bisa jadi kita akan misuh-misuh jijik, bahkan muntah. Terlepas dari semua pertanyaan itu, aku mendapati diriku merasa senang dan nyaman bisa bertemu seseorang yang memiliki hobi yang sama denganku, terlebih dia seorang perempuan.

Rahasya, itu namanya. Hanya itu yang aku tahu. Dan, nama itu kukira pas betul. Maksudku, perempuan adalah sebuah misteri. Perempuan adalah misteri yang menakutkan, tetapi sekaligus menawan. Di hadapan perempuan yang menawan hati kita, lelaki, kita ingin mendekat, tetapi sekaligus ingin menjaga jarak, takut kalau hati kita remuk dimorat-maritkannya, dan kemudian meratap kalah, lemah di sudut. Kita ingin berada di sampingnya, atau hadapannya, di dekatnya, menatapnya, mungkin menggenggam tangannya, lalu mengatakan, “Aku cinta,” tapi di saat yang sama kita takut kebanggaan dan kekuatan kita sebagai lelaki berantakan di hadapannya, kita takut ditolak olehnya, lalu kemudian lidah kita kelu, gagu, hanya mengeluarkan sapaan basa-basi yang benar-benar basi berulang-ulang, “Hai, apa kabar?” Padahal, ketika kita berhasil memenangkan hati dan cintanya, lalu menikahinya, kita bisa berdiri dengan gagah di hadapan teman-teman dan lawan-lawan kita, walaupun tetap saja kita akan menjadi anak kecil yang manja di hadapannya... entah di saat kita merengek minta bercinta, atau merengek minta izin uang belanja bulanan disisihkan beberapa ratus ribu untuk membeli barang-barang hobi kita. Pernah aku touring ke Pantai Sapenan, Lampung. Di sana aku bertemu dengan seorang biker asal Tangerang, touring sampai Lampung naik Honda Tiger yang legendaris itu, bersama anak lelakinya yang masih SD dan ajudan yang mengawalnya naik Jupiter Z. “Istri saya mengizinkan saya touring ke sini dengan syarat anak lelaki kami ini saya ajak serta. Kalau tidak, mana boleh saya sampai di sini?” Ah... berbahagialah para bujangan, jomblo, dan rohaniwan Katolik serta biksu Buddha yang selibat itu. Mereka benar-benar jiwa bebas!

Rahasya, itu namanya. Baru beberapa jam sejak senyumnya di pagi hari itu, kami sudah ngobrol banyak. Usianya dua puluh empat, lebih muda lima tahun dari padaku. Dia asli Kediri, tetapi bekerja di Malang, Jawa Timur. Rahasya mengambil cuti dua minggu untuk melakukan perjalanan sendiri ke barat, menyusuri jalur selatan. Mengendarai Vixion, kini dia terdampar di pantai di Wonogiri ini. Dia bercerita bahwa dia melakukan perjalanan ini untuk mengambil waktu sejenak untuk dirinya sendiri, bertemu dirinya sendiri, dan memastikan apa yang dia ingin lakukan, apa yang harus dia lakukan. Ibunya yang janda menginginkan dia segera menikah. Sementara, dia tidak kunjung bisa benar-benar membuka hati terhadap lelaki lain. Seorang lelaki pernah singgah di hatinya. Lelaki itu benar-benar membekas di hatinya, meninggalkan tanda tanya yang tak juga terjawab. Sebenarnya, pertemuannya dengan lelaki itu telah terjadi sepuluh tahun yang lalu, ketika mereka sama-sama masih remaja, masih begitu muda. Namun, kemudian hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Waktu itu, mereka adalah remaja yang penuh energi, ingin melakukan segalanya. Ternyata, “segalanya” itu berarti mereka harus menempuh jalan yang berbeda. Tidak ada kata “selamat jalan” atau “sampai jumpa” sempat mereka ucapkan. Tiba-tiba saja si lelaki melanjutkan sekolah di asrama, di Muntilan, sedangkan Rahasya tetap tinggal di Kediri, menghabiskan masa remajanya dengan keceriaan yang hampa. Dia ceria sebagaimana pada umumnya remaja, tetapi hampa sebab ada tanda tanya yang menganga. Lelaki itu kini tinggal di Jakarta, bekerja di sebuah perusahaan media massa di kawasan Palmerah. Hanya itu yang Rahasya pahami tentangnya, tidak lebih. Itu pun hanya dari keterangan akun facebook yang dibacanya ketika lelaki itu menge-add facebook Rahasya. Butuh waktu hampir setahun bagi Rahasya untuk mengonfirmasi friend request tersebut. Hatinya senantiasa terbelah ketika hendak mengeklik tombol accept. Satu sisi dia girang bukan kepalang, lelaki yang selama ini mengisi hatinya, cinta pertamanya, ingat padanya. Akan tetapi, di sisi lain, dia marah, dia jengkel, sebab dia merasa bahwa lelaki itu telah meninggalkannya, mempermainkannya, memperlakukannya dengan tidak adil, dan sama sekali tidak memberinya penjelasan. Rahasya juga bercerita, bahwa dia baru berani memutuskan untuk mengonfirmasi friend request tersebut dua minggu yang lalu. Lelaki itu memang segera mengirim private message kepada Rahasya, tetapi hanya dengan basa-basi yang menggelikan: “Hai, apa kabar?” Dengan perasaan campur aduk Rahasya menjawab, “Baik.” Lalu, selesai. Tidak ada kelanjutan kisah lagi. Ya, selesai di sana. Lelaki itu tidak me-replay.

Rahasya, itu namanya. Ibunya ingin dia segera menikah, mumpung dia masih muda. Namun, dengan siapa? Tidak ada lelaki lain yang berhasil menyentuh hatinya, kecuali lelaki itu. Sementara lelaki cinta pertamanya itu... hanya sebuah enigma yang memuakkan. Aku terus saja mendengarkan kisah Rahasya. Wajahnya yang ayu membuatku betah duduk berlama-lama, menatapnya. Walau demikian, aku ingin merokok.

“Aku merokok ya,” kataku sembari mengeluarkan bungkus tembakau, cengkeh, dan kertas rokok.
“Rokok lintingan?”
“Iya. Lebih irit.”
“Boleh kulintingkan?”

Tanpa kujawab, kuserahkan kertas rokok, bungkus tembakau, dan cengkeh kepadanya. Tangannya begitu mahir dalam menata tembakau pada kertas rokok, lalu cengkeh itu ditaburkannya secara sporadis, kemudian dilintingnya kertas itu. Angin berhembus membelai rambut Rahasya sewaktu dia membasahi ujung kertas dengan lidahnya untuk merekatkan kertas itu.

“Nih... .”
“Terima kasih.”

Tak kusangka, dia mahir melinting rokok. Mungkin dia tidak berdusta ketika berkata bahwa dia berasal dari Kediri. Mungkin kakek atau ayahnya yang mengajari. Tapi, demi Tuhan, itu rokok ternikmat yang pernah aku hisap! Sementara, ombak laut selatan menderu dan pecah di bebatuan karang.

***

Malam ini adalah malam kedua kami di Pantai Nampu. Aku sendiri berencana untuk tinggal semalam ini lagi, lalu besok melanjutkan perjalanan, mungkin pulang, mungkin akan mampir di Gua Maria Ratu Kenya - Danan, mungkin akan ikut misa Hari Minggu di Baturetno, mungkin akan berkunjung ke rumah teman di Tirtomoyo, mungkin... . Entahlah.

“Mas, aku punya sekaleng sarden,” suara sopran Rahasya mengejutkanku.
“Mau masak bareng? Sini... .”

Aku terima kaleng sarden yang Rahasya berikan. Diterangi cahaya lentera, kulihat wajah Rahasya tidak sesegar tadi pagi. Pucat. Mungkin dia kelelahan setelah seharian bercerita kepadaku. Kutawarkan air minumku kepadanya. Dia menolak.

“Kalau teh panas mau?”
“Nanti saja, Mas.”
“Kamu sepertinya sakit?”
“Mungkin setelah makan, lebih baik.”

Kami makan sarden, abon sapi, kentang, telur, mie goreng instan yang kucampur jadi satu. Kami makan kembulan. Melingkari satu nesting, kami bergantian menyendok. Kupikir dia tidak akan suka dengan seleraku ini, ternyata dia tetap makan tanpa komplain. Tapi, dia makan tidak banyak. Setelah kurang lebih sepuluh suapan, dia pamit untuk tidur di tendanya. Kepalanya berat. Pusing.

Pukul 23.03, aku mendengar suara igauan dari tenda Rahasya. Kudatangi tendanya. Dia menggigil kedinginan di balik sleeping bag. Aku beranikan diri memasuki tendanya. Kupegang keningnya, panas. Dia demam.

“Pulang... pulang... pulanglah...” Rahasya terus mengigau.

Celaka! Sakit demam tinggi di tempat terpencil seperti ini. Segera aku mengingat seseorang, teman kuliahku dulu, orang Baturetno. Kuambil handphone outdoor-ku. Di tempat terpencil itu, handphone-ku masih sanggup menangkap jaringan yang tak lagi mampu ditangkap smartphone jutaan rupiah.

Halo, Bro... Bro... halo... . Iki aku... . Ya? Bro, wis turu durung kowe? Aku meh ngrepoti, meh njaluk tulung bengi iki uga. Iya. Darurat iki.

Sementara, ombak laut selatan menderu dan pecah di bebatuan karang.

***

Dheweke kepiye, Kang?” kata temanku sembari mengenakan hem batik.
Isih turu. Ning isih semlenget.” kataku.
Ya wis, dakmangkat misa sik. Ngko daktukokke sarapan sisan.
Nuwun ya... . Sorry ngrepoti.
Halah... biyasa wae. Kaya karo sapa wae lho kowe ki, Kang. Digawa neng Puskesmas pa piye?
Ngko wae, Bro, yen dina iki ra ndang mari.
Ya wis nek ngono. Aja dinakali lho, gek lara, ben leren sik.
Asu... .

Temanku menyetarter Honda Blade-nya sembari ngakak, lalu pergi... misa. Aku sendiri mengurungkan niatku untuk misa di Baturetno. Aku harus menjaga Rahasya. Dia tidak memiliki siapa-siapa di tempat ini. Mungkin, hanya aku, lelaki yang baru saja dikenalnya, yang dia miliki. Kuseka keringat di keningnya. Dia terbangun. Aku tersenyum. Kuminumkan padanya teh manis hangat untuk mengganti cairan tubuhnya yang hilang lewat keringat. Rahasya hanya meminum sedikit saja. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa iba terhadap perempuan ini. Aku iba terhadap pengalaman hidupnya. Aku iba karena tuntutan yang diberikan ibunya. Aku iba karena cinta pertamanya menjelma menjadi enigma. Aku iba karena perempuan di hadapanku ini berjalan sendiri hampa tanpa cinta, dari satu pelarian ke pelarian lain. Dan, celakanya, rasa ibaku itu segera berubah menjadi sayang. Aku mendapati diriku tiba-tiba saja begitu menyayangi perempuan yang baru aku kenal ini.

Dulu sewaktu aku remaja, aku mempercayai cinta pada pandangan pertama. Di dunia ini memang ada begitu banyak perempuan, tetapi menemukan satu yang spesial pada pandangan pertama itu adalah sesuatu yang istimewa. Tidak semua perempuan cantik bisa membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan, Rahasya adalah satu dari yang jarang itu. Seakan-akan aku ingin selalu menjaganya, ingin selalu menemani perjalanan-perjalanannya, bahkan saat ini aku ingin mengenalnya lebih dalam. Akan tetapi, aku tidak bisa. Aku tidak bisa. Ya... aku tidak bisa menyayangi Rahasya begitu saja. Ada hal yang membuat hidupku tertambat di sana.

***

Pagi ini aku masih di rumah temanku di Baturetno. Sudah tiga hari kami di sana. Rahasya sudah mendingan. Dia merengek ingin pulang. Aku bilang, tubuhnya masih belum kuat untuk mengendarai motor sendiri ke Malang. Dia bersikeras minta pulang. Aku menawarkan kepadanya, aku akan memboncengkannya hingga ke Malang naik motornya. Aku tak ingin dia kenapa-kenapa di jalan. Rahasya menyetujui rencana itu. Kami akan berangkat nanti pk 13.00 setelah makan siang, supaya pagi ini Rahasya dapat melanjutkan istirahat. Sementara itu, motorku akan kutitipkan di rumah temanku ini.

Setelah makan siang, aku dan Rahasya berangkat. Yamaha Vixion itu menderu ke arah Solo untuk kemudian ke Sragen, Ngawi, Nganjuk, Kediri, Batu, lalu ke Malang. Aku sengaja mengajak Rahasya melalui jalur tengah yang lebih bersahabat dari pada jalur selatan. Jalur selatan Jawa memang menggemaskan, tetapi jalur selatan Jawa Timur bukanlah jalur yang bersahabat di malam hari. Kanan-kiri engkau hanya akan melihat hutan, jarang sekali ada desa. SPBU dan swalayan waralaba itu pun jarang, sehingga masjid kecil adalah oasis bagi mata yang mengantuk. Jalannya relatif sempit, walau mulus. Di beberapa titik masih rawan pencoleng. Itu belum termasuk kisah mistis yang diceritakan dari mulut ke mulut oleh para biker yang pernah melewati jalur itu di malam hari.

Aku memacu Vixion itu pada batas kecepatan touring. Menurut teori touring yang pernah aku baca di salah satu blog klub motor Nasional, batas kecepatan di luar kota adalah 80 kph, sementara di dalam kota 60 kph. Namun, sebenarnya aku membatasi kecepatan di 80 kph semata agar Rahasya merasa nyaman saja. Sore hari, kami baru sampai di Jembatan Jurug, Solo. Setelah menyeberangi jembatan, aku bersiap mengambil lajur kiri, untuk belok kiri, ke arah Sragen. Akan tetapi, Rahasya ingin lewat Tawangmangu. Dia menginginkan perjalanan yang lebih sejuk. Aku menurut. Jujur, aku ingin memanjakannya, supaya dia bisa tersenyum... bening dan manis... sama seperti ketika pertama kali kami bertemu. Motor itu terus menderu. Kami belum beristirahat sejak dari Baturetno. Aku menawarkan untuk beristirahat di Karanganyar kota. Rahasya menawar untuk istirahat di Pasar Tawangmangu saja sekalian makan malam di sana. Aku mengiyakan. Perempuan itu terlihat bersemangat dengan perjalanan ini. Entah mengapa. Padahal dia sakit. Selepas Karanganyar kota, jalan mulai menanjak. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang melingkar dan mengikat erat di perutku. Kulirik... ternyata tangan Rahasya.

Rahasya terus melingkarkan tangannya di perutku hingga kami tiba di Pasar Tawangmangu. Aku memelankan sepeda motor itu, lalu memarkirkannya di tepi jalan, di dekat warung makan. Rahasya memesan sepiring bubur lemu, sementara aku memesan nasi jangan tumpang. Sebelum menyantap buburnya, Rahasya membuat tanda salib.

“Kamu Katolik?”
“Iya. Kenapa?”
“Tahu begitu, kemarin aku bilang temanku, memintakanmu komuni.”
“Gak pa-pa, Mas... . Kalau Mas apa?”
“Aku juga Katolik. Tapi, jarang ke gereja. Males.”
“Kenapa?”
“Dulu aku ingin masuk seminari. Tapi batal. Bapakku mati. Sejak bapak mati, aku jarang ke gereja. Lagi pula, romo kepala paroki di tempatku brengsek.”
“Kok brengsek? ‘Kan dia romo?”
“Iya... brengsek dan keparat. Romo itu ‘kan seharusnya melayani umatnya. Ini malah minta dilayani. Umatnya makan pakai bandeng sudah syukur, dia maunya makan pakai salmon. Alasannya kesehatan. Dhaharan romo gak enak dikit, marah-marah. Pas keuskupan mau memindahnya, dia menolak, alasannya sedang pembangunan gereja. Padahal gereja di tempatku itu sudah besar, aulanya juga cukup luas. Bilang saja mau morotin duit umat. Padahal ‘kan umat tiap Hari Minggu sudah kolekte dua kali. Masih dimintai uang... buat mbangun inilah itulah. Emangnya dia pikir umatnya itu kaya semua? Yang pusing mikirin gimana nyekolahin anaknya juga banyak! Saking brengseknya, malah konon katanya dia pernah menikahkan anaknya sendiri... anak jadahnya... dari perempuan yang tidak pernah dia nikahi. Konon, mereka sudah pacaran sejak dia masih jadi frater.”
“Ih... malah nggosipin romo... .”
“Biar. Aku pingin marah tiap kali ingat parokiku itu.”
“Mas... habis ini ke Gua Maria Tawangmangu yuk... . Temani aku berdoa.”
“Tapi ini sudah malam, Sya... . Kamu sakit.”
“Gak pa-pa... mampir sebentar saja. Malam ini kita menginap di Tawangmangu saja. Nanti kita sewa penginapan atau ke hotel di atas sana.”
“Jalurnya ekstrim lho... .”

***

Pukul 22.40, sudah sepuluh menit kami meninggalkan Gua Maria Tawangmangu, kembali merangkak naik menuju ke Pasar Tawangmangu. Lampu depan Vixion tidak mampu membelah kabut tebal di hadapan kami. Motor Rahasya masih standard, hanya ditambahi side box dan top box. Selebihnya, standard. Tidak ada lampu jahat yang bisa dipakai untuk membantu membelah kabut. Kuputuskan untuk berjalan pelan, sejauh mata bisa memandang. Kabut tebal, hawa dingin, jalan menanjak curam. Hampir-hampir aku tidak menyadari ada tikungan. Untung aku masih bisa melihat garis putih tanpa putus itu. Masih sakit dan kedinginan, Rahasya semakin erat memelukku.

Untunglah kabut itu lenyap ketika kami berhasil mencapai Pasar Tawangmangu. Segera kupacu motor 150cc itu mendaki ke atas, mencari penginapan.

“Mau kamar yang bagaimana, Bu?”
“Yang bisa untuk dua orang,” kata Rahasya. Aku diam.
“Bisa lihat KTP, Bu?”
“Ini, pakai KTP saya saja, Pak,” kataku sembari mencegah Rahasya mengeluarkan KTP-nya. Kuserahkan KTP-ku kepada petugas front desk jaga malam itu.

Petugas itu diam. Mengamati KTP-ku, membaca sesuatu di sana, lalu dia memandangku, memandang Rahasya, lalu kembali memandangku sembari tersenyum. Dia menyimpan KTP-ku pada suatu kotak khusus lalu mengambil kunci kamar. Aku yakin, reaksinya akan berbeda ketika dia melihat KTP Rahasya.

“Baik, silakan. Mari saya antar.”

Kami berdua mengikuti lelaki berjaket dan mengenakan kethu itu. Kami menaiki anak tangga yang sempit. Di tangan kanan dan kiriku terdapat side box, di punggungku terdapat tas ranselku. Menaiki anak tangga ini menjadi semakin melelahkan oleh karenanya. Lantai tiga, kamar 307, petugas itu berhenti, membukakan pintu, dan dengan keramahan yang sangat text book mempersilakan kami masuk. Di dalam kamar, di atas ranjang, sudah terdapat sepasang handuk putih, sabun, sampo, serta sikat dan pasta gigi. Semua sepasang. Setelah kami masuk, petugas itu segera meninggalkan kami. Rahasya segera menutup pintu dan menguncinya.

Rahasya segera berbaring melepas lelah. Aku meletakkan side box dan tas ranselku di sudut. Kusetel AC kamar pada suhu 21 derajat celsius. Di luar 17 derajat celsius, begitu informasi yang ada di smartphone-ku.

“Kamu tidak apa-apa kita sekamar?” kataku.
“Tidak apa-apa. Biar ngirit,” jawab Rahasya.

Aku diam. Aku ingin mandi air hangat. Kuambil handuk dan peralatan mandi lainnya yang ada di atas ranjang. Aku berjalan mendekati pintu kamar mandi, saat itu Rahasya menoleh kepadaku dan berkata,

“Sebenarnya aku ingin berdua bersamamu, Mas.”
“Kenapa? Kita baru kenal, ‘kan?” jawabku sembari menoleh kepadanya.
“Kamu... kamu mengingatkanku padanya, Mas,” Rahasya bangun lalu duduk di ranjang, bersandar di tembok.

Aku diam. Kini aku benar-benar menatap Rahasya, tidak sekadar menoleh. Kutatap dengan cara demikian, matanya berkaca-kaca, menangis.

“Aku terkejut ketika pertama kali melihatmu pagi hari itu, Mas. Kukira kamu adalah dia. Syukurlah bukan. Tapi, aku nyaman bersamamu, Mas.”
“Itu sebabnya kamu mau aku antar sampai Malang?” aku duduk di tepi ranjang, mengurungkan niatku untuk mandi.
“Mas... .”
“Ya?”

Rahasya diam. Tidak berani melanjutkan kata-katanya.

“Aku sebenarnya suka kamu, Sya... . Aku ingin menyayangimu, seandainya mungkin.”

Mendengar itu dia memelukku. Aku mendekapnya. Pecahlah tangisnya di pundakku. Ternyata aku pun juga menangis, menyesali kalimat yang baru saja aku ucapkan. Seharusnya kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutku.

***

Pukul 02.58, handphone outdoor-ku berdering. Aku terbangun. Rahasya masih terlelap di sebelahku. Wajahnya tenteram. Segera kuambil handphone outdoor itu, kubaca siapa yang menelepon. Aku terkejut.

“Ya... halo?” kataku sambil masuk ke kamar mandi. Kututup pintunya supaya pembicaraan kami tidak mengganggu Rahasya yang tidur.
“Iya, smartphone-ku hampir-hampir gak ada sinyal. Iya? Ada apa jam segini? Ini aku masih touring. Gak... . Sama teman kok. Pulang? Malam ini? Kenapa? Ma... Mama... tarik nafas yang dalam. Ngomong yang tenang. Ada apa? Ssssst... jangan nangis... Papa di sini. Ngomong, ada apa. Apa?! Bayi kita sakit? Demam tinggi? Sejak kapan? Mama minta tolong adik mama dulu untuk mengantarkan ke Brayat. Iya... hari ini aku pulang. Sendiri... mungkin. Gak tahu temanku mau ikut atau tidak, dia juga sakit. Namanya? Mama gak kenal. Namanya Rahasya. Iya, Rahasya.”

Ketika engkau menghadapi persimpangan di dalam perjalananmu, apa yang akan engkau lakukan? Mungkin engkau akan tetap mengambil jalan yang sudah kaurencanakan sebelumnya. Mungkin, engkau akan mengambil jalan berdasarkan situasi kondisional yang terjadi. Pada persimpangan semacam itulah aku berada kini. Meneruskan perjalanan ke Malang, mengantar kekasihku, Rahasya, yang sakit, dengan asumsi bahwa sudah ada istriku dan adiknya merawat bayi kami di sana. Atau, pulang ke Solo, segera menuju ke Rumah Sakit Brayat Minulyo, di sana, melihat dan menjaga bayi kami, menyemangati istriku, dan mengatakan statusku yang sebenarnya kepada Rahasya, kekasihku. Masih terlalu dini hari untuk memutuskan. Di sana, di Solo, istriku kebingungan bayi kami demam tinggi. Di sini, Rahasya terbangun, mencariku, demamnya kambuh. Sementara, ombak di dalam dadaku menderu dan pecah di bebatuan karang egoku.

*kepada Gembul dan Brewok
tepi Jakal, 18 Juni 2016

Padmo Adi (@KalongGedhe)

2 comments:

  1. Hahahaha ceritane penuh dengan teka teki dan imajinasi 🙊🙊🙊

    ReplyDelete