Friday, November 18, 2016

ANTARA MARHAENISME SOEKARNO DENGAN MARXISME



ANTARA MARHAENISME SOEKARNO DENGAN MARXISME

Marhaenisme adalah salah satu upaya Soekarno untuk menentang elitisme. Gagasan Marhaenisme Soekarno adalah usaha untuk mengangkat harkat rakyat kecil di dalam proses perjuangan kemerdekaan. Marhaenisme lahir dari pertemuan Bung Karno dengan seorang petani bernama Marhaen. Pertemuannya dengan petani Marhaen bagi Soekarno adalah titik di mana buku (baca: teori) bertemu dengan bumi (baca: kenyataan di lapangan).

Konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lain adalah perjuangan melawan penjajahan (kolonialisme) yang kapitalistik. Para pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk Soekarno, tentu saja membaca dan memakai dalil-dalil filsafat Marxisme yang dirumuskan oleh Karl Marx dan Engels untuk melawan kolonialisme kapitalistik tersebut. Soekarno kemudian membumikan teori Marxisme itu, sehingga pas dan kontekstual dengan keadaan sosial-politik-budaya (masyarakat) Indonesia. Marxisme melihat bahwa sistem kapitalisme adalah sistem di mana kelas atas (pemodal/kapital) yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu menindas kelas proletar. Kapitalisme itu kemudian melahirkan kolonialisme dan imperialisme. Di dalam paradigma Marxisme, kelas proletar adalah kelas pekerja (buruh) yang tidak memiliki modal/kapital, dan hanya memiliki waktu dan tenaga untuk bekerja di perusahaan-perusahaan milik kelas pemodal. Karena hanya memiliki waktu dan tenaga produksi, tetapi sama sekali tidak memiliki alat produksi, kelas proletar menjadi teralienasi (terasing) dari hasil kerjanya. Sehingga, kelas proletar ini tertindas. Di dalam paradigma Marxisme, diharapkan kelas proletar inilah yang kemudian menjadi komponen utama dalam revolusi melawan kolonialisme kapitalistik dan dalam menciptakan suatu tatanan masyarakat baru yang lebih adil.

Akan tetapi, ketika Soekarno bertemu dengan petani Marhaen, Soekarno mendapati bahwa petani Marhaen ini memiliki waktu, tenaga, dan sekaligus memiliki alat produksi. Namun, tetap saja petani Marhaen ini miskin dan tertindas. Berbeda dengan kaum proletar (kelas pekerja/buruh) yang tertindas karena tidak memiliki alat produksi, petani Marhaen ini memiliki alat produksi tapi tetap saja tertindas. Melihat kontekstualitas keadaan di Indonesia tersebut, Soekarno merumuskan Marhaenisme. Dengan Marhaenisme, Soekarno berharap bahwa, sebagaimana kaum proletar, kaum marhaen ini kemudian menjadi komponen utama dalam revolusi melawan penjajahan. Bahkan, Soekarno berkata bahwa Marhaenisme akan berkembang dan menjadi “Sosialisme Indonesia dalam praktik”. Marhaenisme, kata Soekarno, “menolak tiap tindak borjuisme” yang merupakan sumber dari kepincangan yang ada dalam masyarakat. Soekarno berpandangan bahwa orang tidak seharusnya berpandangan rendah terhadap rakyat, sebab bagi Soekarno rakyat merupakan “padanan mesianik dari proletariat dalam pemikiran Marx”. Bagi Soekarno, rakyat adalah “kelompok yang sekarang ini lemah dan terampas hak-haknya, tetapi yang nantinya, ketika digerakkan dalam gelora revolusi, akan mampu mengubah dunia”.

Sebagaimana kaum proletar dalam Marxisme, kaum marhaen dalam Marhaenisme itu miskin, berada di lapisan bawah masyarakat, dan jutaan jumlahnya. Namun, berbeda dengan kaum proletar dalam Marxisme yang bekerja untuk kepentingan pemodal (kaum kapital), kaum marhaen bekerja untuk diri mereka sendiri dan memiliki alat produksinya sendiri (misalnya: cangkul dan tanah garapan). Di mata Soekarno, kaum marhaen itu lebih luas cakupannya dibandingkan dengan kaum proletar. Kaum marhaen itu mencakup buruh dan juga petani serta setiap orang Indonesia yang miskin. Bagi Soekarno, kaum marhaen ini merupakan bagian penting dalam upaya “mengusir setiap bentuk kapitalisme dan imperialisme”

(Baskara T. Wardaya, SJ., 2009, Bung Karno Menggugat!: Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65 hingga G30S, edisi revisi, Yogyakarta: Galangpress, 49-50)
(Franz von Magnis, SJ., 1977, Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme, diktat untuk keperluan mahasiswa STF Driyarkara dalam rangka acara Filsafat Sosial Abad ke-19 dan ke-20, Jakarta: STF Driyarkara, 19, 44-45)

No comments:

Post a Comment