Friday, November 18, 2016

ANTHROPOLOGI-METAFISIS PANCASILA: Pancasila dari Sudut Pandang Eksistensialisme Drijarkara



ANTHROPOLOGI-METAFISIS PANCASILA
Pancasila dari Sudut Pandang Eksistensialisme Drijarkara

Drijarkara bertanya tentang apa dan bagaimana itu Pancasila berangkat dari pertanyaan tentang apa dan bagaimana itu manusia. Drijarkara mengutip pertanyaan Max Scheller, “Apakah manusia itu dan bagaimanakah kedudukannya dalam realitas?” (sebagaimana dikutip oleh P.J. Suwarno, 2015, 89). Subyek manusia berangkat dari pertanyaan mengenai dirinya sendiri, tentang keberadaannya, tentang kehadirannya, tentang being-nya. Di manakah sekarang aku berada? Saya tengah berada di ruang kuliah Akademi Bahasa Asing St. Pignatelli. Di manakah ABA St. Pignatelli itu? Di ujung barat Kota Surakarta. Di manakah Surakarta itu? Di Pulau Jawa bagian tengah. Di manakah Pulau Jawa itu? Di gugusan kepulauan yang bernama Indonesia. Di manakah Indonesia itu? Di Asia. Di manakah Asia itu? Di Planet Bumi. Ada dimensi ruang dan waktu di mana aku mengada. Jadi, aku itu mengada di dunia secara jasmaniah. Aku memasuki dunia jasmani (material) itu dan menjadikannya bagian dari diriku. Aku memanusia dan memanusiakan dunia jasmani tersebut. Proses aku menjadikan yang jasmani (material) menjadi bagian diriku itulah yang disebut proses membudaya. Proses membudaya inilah yang kemudian melahirkan kebudayaan. Hanya dengan cara membudayakan yang jasmani (material), manusia bisa membudayakan dirinya sendiri. Sila-sila Pancasila itu sebenarnya tidak lain adalah hasil pembudayaan manusia (khususnya manusia Indonesia), hasil manusia (Indonesia) memanusiakan diri, dan hasil dari manusia (Indonesia) memanusiakan dunia jasmani tersebut.

Kesadaran akan eksistensiku (kehadiranku di tengah dunia jasmani) di dalam ruang dan waktu tersebut ternyata membawaku kepada kesadaran akan eksistensi liyan (others). Ada subyek lain selain aku yang juga ada dan hadir bersama-sama dengan kehadiranku di dunia jasmani ini. Sebab, kesadaran itu selalu kesadaran intensional, kesadaran itu selalu kesadaran keluar diri. Maka, kesadaran akan adanya aku mengandaikan bahwa aku memiliki kesadaran akan adanya kamu. Misalnya, aku tahu bahwa aku Jawa justru setelah bertemu dengan kamu yang adalah Cina. Tidak pernah akan ada aku tanpa adanya kamu. Yang menghubungkan aku dan kamu adalah bahasa. Maka, Drijarkara berpendapat, bahwa meng-aku sekaligus meng-kamu dalam situasi dialog. Di dalam situasi dialog tersebut meng-aku dan meng-kamu menjadi meng-kita. Jadi, adaku itu ada bersama ada liyan yang didasarkan pada hubungan cinta-kasih. Aku dan kamu ada bersama di dalam cinta-kasih (liebendes Miteinandersein). Lalu bagaimana dengan benci? Menurut Drijarkara, benci adalah bentuk negatif dari cinta-kasih. Cinta-kasih inilah yang disebut Drijarkara sebagai kemanusiaan. Ketika perikemanusiaan (baca: cinta-kasih) ini menjiwai seluruh bidang kehidupan manusia, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, keadilan sosial akan tercipta. Ketika perikemanusiaan ini menjiwai kehidupan sosial-politik, di mana setiap subjek dihargai, demokrasi lahir. Ketika perikemanusiaan ini menjiwai kehidupan komunitas, bahkan menjiwai komunitas besar, rasa kebangsaan (nasionalisme) akan lahir. Di dalam perikemanusiaan (cinta-kasih) tersebut, aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Adaku bergantung dengan adamu. Begitu juga sebaliknya, adamu bergantung dengan adaku. Kita sama-sama saling bergantung. Dan, akhirnya adaku yang tak mungkin berdiri sendiri dan menjadi penyebab bagi dirinya sendiri itu tergantung kepada apa yang disebut Liyan Besar, Kamu Besar, Tuhan. Jadi, cinta-kasih (perikemanusiaan) yang terbatas antara aku dan kamu itu berasal Tuhan, yang tak terbatas.

(P.J. Suwarno, 2015, Pancasila Budaya Bangsa Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 89-90)

No comments:

Post a Comment