Friday, November 18, 2016

PIDATO SOEKARNO 1 JUNI 1945 (PANCASILA)



PIDATO SOEKARNO 1 JUNI 1945 (PANCASILA)

Soekarno berpidato tentang usulan dasar Negara Indonesia. Soekarno mencoba merumuskan Philosophische Gronslag (Weltanschauung / World-view / Filosofi Dasar) dari Indonesia Merdeka. Kita mau mendirikan Negara Indonesia Merdeka di atas dasar Weltanschauung apa?

a.       Kebangsaan (Nasionalisme)
Kebangsaan dalam arti suatu nationale staat (nation state). Sebuah kehendak/hasrat untuk bersatu, bersatu menjadi satu bangsa. Bukan semata hasrat bersatu orang-orangnya saja, melainkan juga persatuan orang dan tempat, manusia dan tanah airnya. Tanah air Indonesia itu yang mana? Gugusan kesatuan kepulauan antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik; antara Benua Asia dan Benua Australia. Kepulauan itu dari ujung utara Sumatera sampai ke Irian (Papua). Kita hanya mengalami dua kali nationale staat di masa kuna: Sriwijaya dan Majapahit.
b.      Internasionalisme (Perikemanusiaan)
Nasionalisme kita bukanlah suatu nasionalisme yang mengarah kepada chauvinisme. Kita tidak akan berkata bahwa “Indonesia ├╝ber Alles.” Kita juga harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Internasionalisme tidak sama dengan kosmopolitisme. Internasionalisme itu berakar pada nasionalisme. Di sisi lain, nasionalisme hanya dapat tumbuh subur di dalam internasionalisme. “My nationalism is humanity,” kata [Mahatma] Gandhi.
c.       Mufakat, Perwakilan, Permusyawaratan (Demokrasi)
Kita mendirikan negara “semua buat semua, “satu buat semua, semua buat satu”. Kita perbaiki segala hal dengan cara mufakat, dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Di dalam Badan Perwakilan Rakyat itu, paham-paham yang ada duduk bersama, bermusyawarah, dan beradu.
d.      Kesejahteraan, Keadilan Sosial
Prinsip “kesejahteraan” berarti kita mencita-citakan tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Kita tidak mau mendirikan Indonesia Merdeka di mana kaum kapitalnya merajalela, tetapi yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan merasa dipangku oleh ibu pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya. Pada prinsip ketiga, kita sudah memiliki demokrasi politik. Akan tetapi, itu tidak cukup, kita juga perlu memiliki demokrasi ekonomi. Kita tidak sedang menuju Demokrasi Barat, melainkan Demokrasi Politik Ekonomi yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial.
e.       Indonesia Merdeka dengan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ketuhanan)
Bukan saja ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan, Tuhannya sendiri. Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama”. Marilah kita menjalankan agama dengan cara berkeadaban, yaitu hormat-menghormati satu sama lain.

Inilah lima dasar Negara Indonesia Merdeka yang diusulkan Soekarno. Dengan petunjuk seorang ahli bahasa, lima dasar itu dinamakan Pancasila. Panca berarti lima, sila berarti asas atau dasar. Di atas dasar itulah kita akan mendirikan Negara Indonesia kekal dan abadi.

Kelima dasar itu bisa diperas menjadi tiga, trisila. (1) Kebangsaan (nasionalisme) dan internasionalisme (perikemanusiaan) menjadi sosio-nasionalisme. (2) Demokrasi dan Kesejahteraan-keadilan Sosial, yaitu demokrasi-sosial-politik (sosio-demokrasi). Dan, yang terakhir Ketuhanan yang menghormati satu sama lain.

Trisila itu pun diperas lagi menjadi ekasila, yaitu “gotong royong”. Kita mendirikan Negara Indonesia semua buat semua. Kita semua harus mendukungnya. Negara Indonesia yang kita dirikan ini haruslah negara gotong royong. Gotong royong itu dinamis, menggambarkan suatu usaha, suatu karya, dan  gawe. Prinsip gotong royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara Islam dan yang Kristen, antara yang Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

(Floriberta Aning (ed.), 2006, Pidato Soekarno 1 Juni 1945, dalam buku Lahirnya Pancasila, Kumpulan Pidato BPUPKI, Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo, 115-155)

No comments:

Post a Comment